Siapa sangka peristiwa yang terjadi selama dua minggu, membuat hidup Salsa berubah total. Dorongan yang kuat untuk mengungkap tabir kematian seorang gadis yang menyangkut dosen Salsa. Ia punya beban moril untuk mengungkap kasus ini, agar citra pendidikan tetap terjaga dan tidak ada korban lainnya.
Bersama Syailendra, Salsa berhasil mengungkap kematian Karina hingga memperoleh ketenangan di dunia lain.
Happy Reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HAMIL
Syailendra bukan penasaran dengan nasib Sandrina, hanya saja ekspresi Salsa tampak kaget dan bengong saja. "Hei," sapa Syailendra menggoyang tangan Salsa.
"Eh iya, Kak!" Salsa baru sadar kalau ada Syailendra di depannya.
"Gimana?" tanya Syailendra.
"Oh, siapa?" Salsa masih belum fokus, dia masih belum percaya dengan pengakuan Karin, setega itu, terlebih dia sudah meninggalkan alam manusia. Lalu nanti kalau ada apa-apa dengan Sandrina bagaimana. Tentu saja Salsa merasa bersalah sekali.
"Si hantu ataupun Sandrina," tuntut Syailendra. Salsa hanya menatap saja, ia menoleh ke kanan dan kiri khawatir ada yang dengar, karena ini masalah sensitif.
Salsa berdehem, "Kak, bisa gak kalau bahas itu nanti saja."
"Kenapa?" tanya Syailendra.
"Menyangkut orang lain, aku khawatir ada yang salah paham," ujar Salsa masih menghormati Sandrina. Ia tak mau ada prasangka meski kenyataannya Sandrina sendiri juga agak lain.
Syailendra mengangguk, dan meneruskan makan siangnya, begitu juga dengan Salsa. Ia harus menahan agar tak keceplosan saat berdua dengan pemuda ini di kantin.
Setelah keduanya membayar, Syailendra mengajak Salsa ke mobilnya, cukup kaget namun pemuda ini tak mau dibantah. Ia mau tahu kabar Sandrina, karena yang memberi saran agar si hantu bertemu dengan Sandrina adalah dirinya juga.
"Jadi?" tanya Syailendra sembari menatap Salsa dengan tatapan seksama. Salsa ditatap begitu dengan pemuda ganteng ini deg-deg an juga.
"Ehem," Salsa menetralkan irama jantungnya dulu. Kemudian menceritakan apa yang terjadi saat Karin masuk ke tubuh Sandrina, dan soal hubungan dengan Pak Amar, si Karin sudah lega karena ibu Karin sudah sedikit bisa bernafas setelah mendapat uang pelicin dari Pak Amar.
"Yang jadi masalah itu," duh Salsa bingung menjelaskan bagaimana berhubungan dengan Sandrina ini. Ia tidak dekat dengan Syailendra, ya kali leluasa bercerita hubungan intim.
"Kenapa?" tanya Syailendra dengan nada menuntut. Salsa menelan ludah kasar.
"Karin mengaku kalau dia mengajak tidur Pak Amar dengan tubuh Sandrina tanpa pengaman," ucap Salsa sedikit terbata. Syailendra langsung meletakkan kepalanya di bantalan jok mobil.
"Karin khawatir Sandrina hamil dan bernasib sama dengannya," ujar Salsa prihatin. "Sekarang Karin juga sudah pergi ke alamnya."
"Apa yang terjadi tentu di luar nalar manusia, Salsa. Itu sudah bukan tugas kamu untuk menghandle masalah Sandrina kalau sampai hamil. Toh Pak Amar sendiri bilang ke aku, jangan pernah mendekati Sandrina karena beliau sudah tidur dengannya."
"Pasti kakak sakit hati, pacar kakak tidur sama laki-laki lain," ujar Salsa tak enak hati, namun Syailendra justru tertawa.
"Dia bukan pacar saya, dia yang nge-fans sama saya," Salsa mengalihkan wajahnya ke arah kaca mobil, ternyata narsis juga.
Salsa pikir urusan Karin berakhir di sini, sehingga ia mengucapkan terimakasih dan minta maaf telah melibatkan Syailendra. Pemuda itu hanya mengangguk, dan mempersilahkan Salsa untuk keluar mobil.
Sejak hari itu, Salsa dan Syailendra sudah tidak pernah berkomunikasi. Memang keduanya tak dekat, hanya terpaksa kenal karena Karin.
Sandrina sendiri masih sering riwa-riwi di area kampus dengan temannya, bahkan pernah bersisipan dengan Salsa. Wajahnya masih songong dan menyindir Salsa kalau dia adalah gadis malang yang menjadi korban cueknya Syailendra.
"Dih, dia angkuh banget sih," omel Rindu yang tak suka dengan kelakukan Sandrina itu. Coba kalau yang disenggol Rindu, pasti bakal diladeni tak peduli di depan umum atau area kampus.
"Udahlah, biarin!" ujar Salsa malas ada gara-gara.
Sandrina sendiri memilih makan di kantin fakultas, beberapa kali menatap ke arah meja Salsa dan teman-temannya.
"Kenapa sih, lo natap anak itu terus?" tanya Lusi, teman Sandrina.
"Gak pa-pa, lagi kesal saja karena dia pernah gandengan sama Syailendra," ujar Sandrina jutek.
Lusi yang baru saja menelan sebuah pil, tertawa seketika, merasa sang teman kalah saing dengan mahasiswi itu. "Kalah saing dong!" sindir Lusi disambut tawa teman lain, dan Sandrina berdecak sebal.
"Lo minum obat apa sih?" tanya Sandrina heran melihat Lusi buru-buru minum obat sepagi ini, padahal katanya dia belum makan.
"Pos**r," ceplos Lusi.
"Obat apa itu?" tanya Sandrina sembari mengerutkan dahi. Ia belum pernah mendengar, sedangkan Lusi dan teman yang duduk di depan Sandrina tertawa cekikikan.
"Sandrina mah mana tahu obat itu," ucap teman lain. Kemudian Lusi menjelaskan, bahwa obat yang baru ia minum adalah obat pencegah kehamilan, bukan KB tapi obat agar tidak terjadi pembuahan, dan bisa diminum sebelum 72 jam.
"Kenapa lo minum?" tanya Sandrina pura-pura menunjukkan kepolosan.
"Tadi malam gak sengaja keluar dalam, karena pengaman habis," ujar Lusi, bercerita sangat santai karena temannya tahu kebiasaan dia main dengan pacarnya.
"Keren ya lo Sandrina, masih gadis!" lanjut Lusi, dan Sandrina hanya tersenyum kikuk. Dia malah merutuki dirinya kenapa setelah kejadian itu tidak langsung cari tahu agar tidak hamil. Hufh, hari-hari Sandrina sedang deg-deg an menunggu datang bulan untuk periode selanjutnya. Ia tak bisa membayangkan kalau sampai hamil bagaimana, sedangkan branding dia adalah gadis yang baik, bagaimana juga reaksi papa kalau tahu laki-laki yang menghamilinya adalah seorang dosen yang sudah beristri, kepala Sandrina mendadak pening.
Fokus untuk garap skripsi pun buyar, ia tiap hari makan nanas muda, berharap kalau memang hamil biar tak jadi. Sang mama heran saja, mbak ART sering menyisakan nanas potong di dalam kulkas. "Sandrina yang minta?" tanya mama Sandrina memastikan.
Beliau pun menuju kamar Sandrina, dan menanyakan soal konsumsi nanas, "Kamu gak hamil kan?" tanya mama to the point. Selama ini memang putrinya suka semua buah, tapi heran saja kalau sampai nyetok nanas potong tiap hari.
"Enggak, Ma. Kondisi penelitianku butuh bonggol nanas, jadi mau tak mau aku harus nyetok, gak mungkin kan aku beli bonggolnya saja," ucap Sandrina sangat pintar menutupi.
Mama yang berlatar belakang akuntansi tentu percaya saja, alhasil beliau tak pernah menanyakan lagi, hingga masa periode Sandrina tak kunjung datang, kalau dari biasanya sudah lewat 4 hari. Dia bingung setengah mati, memberanikan diri untuk beli tespack.
Ia langsung mencoba saat itu juga, tanpa menunggu pipis pertama setelah bangun tidur.
"Sumpah!" Sandrina melotot melihat hasilnya, dua garis jelas. Ia memejamkan mata, tangannya gemetar memegang alat itu. "Gimana ini?" gusarnya.
Berniat menghubungi Pak Amar dengan memotret hasil tes tersebut. Pak saya hamil, saya minta bapak bertanggung jawab.
Pesan Sandrina masuk centang dua abu dan tak lama centang biru. Sandrina lega karena sudah dibaca Pak Amar.
Bukan anak saya, dan saya tidak mau bertanggung jawab.
Pikir Amar, awal dia tidur dengan Sandrina pakai pengaman, dan saat tidur selanjutnya yang berhubungan dengan dia adalah Karin meski menyentuh tubuh Sandrina.