Harap bijak memilih bacaan.
Perhatikan bacaanmu❗️
Opsesi dan cinta. Dua kata yang tampak sederhana tetapi mengandung pengertian yang begitu dalam.
Sakia Shen, atau kerap kali dipanggil Kia. Hari itu suasana sangat cerah. Wanita cantik itu dengan gembira mendatangi rumah sang pacar untuk bertemu calon mertua. Namun, ekspetasi tak seindah realita.
Kia yang jengkel datang ke Bar untuk menghilangkan penat. Tanpa disangka, ia mengalami hal yang tak terduga.
Ikuti terus kisahnya
Jangan lupa untuk tingalkan jejak berupa Like
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KAY_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
...🐾🐾🐾🐾🐾🐾...
Kia pov
“Aku, dimana?”
Saat terbangun, hal yang pertama aku lihat adalah ruangan dengan dekorasi mewah, ranjang empuk dan tangan yang sedang terinfus. Baru saat itu tertuju pada seorang pria, sedang terbaring di sofa dengan mata tertutup dan dua tangan yang melipat.
Dia, Kenneth!
Perlahan memory terakhir muncul, pecahannya berkumpul menjadi satu. Aku ingat dengan betul, saat itu penyakit lamaku kambuh dan akhirnya pingsan. Sama-samar mendengar seseorang memanggil namaku, juga mengedor kaca mobil. Aku mengira jika itu hanya mimpi, tapi ternyata ....
“Semuanya nyata.”
Hal yang tidak pernah ku kira, lelaki ini yang menolongku. Jelas-jelas tadi sedang balas dendam dan mempermalukan aku. Bagaimana bisa?
Suara ketukan pintu membuat lelaki itu mengerjapkan mata. Seorang dokter dengan dua orang suster masuk ke dalam ruangan. “Oh, Nyonya sudah bangun,” ucap dokter itu dengan senyum mengembang.
Apa? Nyonya?
“Kamu sudah sadar?” seru Kennt yang langsung terperanjat dari sofa dan mendatangiku. Wajah dengan lingkar mata yang sedikit samar. Aku bisa menebak saat itu, lelaki ini kelelahan.
“Karena Nyonya sudah sadar, kita bisa melakukan pemeriksaan Endoskopi.” Ucapan dokter membuatku hilang fokus sesaat. Dengan cepat mengalihkan pandanganku pada Kennt dan melihatnya.
“Ngak! Itu ngak perlu! Aku cuma maag biasa!” seruku menolak. Dokter tak merespon apapun, mimik wajahnya justru lebih mirip orang yang linglung tidak tahu harus berbuat apa. Namun Kennt ....
“Harus!” seru Kennt dengan wajah serius.
“Ngak! Aku belum buat perhitungan dengan mu tentang ‘Nyonya’, ya! Jadi jangan macam-macam!” Aku menunjuk ke arahnya dengan nada yang sedikit mengancam. Namun apa yang dilakukannya?
Dia mengigit jari telunjukku, membuatku menjerit karena sakit juga terkejut. “Apa kamu gila! Shio an-jing, ya!” Bentakku dengan nada sarkas.
“Iya! Jenis Rottweilers!” jawabnya dengan nada santai yang menyimpan sedikit keangkuhan.
“Gila! Aku ingin pulang!” seruku yang perlahan turun. Namun belum sempan kaki ku menyentuh lantai, lelaki ini mengangkat kakiku dan menaruhnya kembali ke ranjang.
“Tetap disini! Kondisi tubuhmu belum pulih!”
“Anakku sendirian! Minggir!” Aku hendak mendorongnya, tapi tanganku ditahan seketika. Dia meraih pergelangan tanganku dengan cepat. Sikapnya yang seperti ini jelas saja membuatku memberontak.
“Ehmm. Tuan, Nyonya ....”
“Aku bukan Nyonya!” seruku lantang menghentikan kalimat dokter itu.
Saat itu aku baru menyadari, jika sejak tadi, mereka masih berdiri di sana dan menonton kami. Segera aku menarik tanganku dari gengamannya.
“Ma-maf, Dok. Aku ....”
“Tidak masalah.” Dokter itu tersenyum dengan ramah, padahal aku tadi membentaknya dengan lantang.
“Tubuh Anda masih lemah. Saya menyarankan Anda menginap satu hari untuk observasi.”
Pandanganku jatuh, melihat dua tanganku yang saling berpaut. Cemas, juga dilema. Bagaimana jika kambuh lagi saat di rumah? Namun aku juga gak bisa ninggalin Jenny lagi.
“Aku, aku akan jemput anakmu dan membawanya kesini!”
Suara itu berasal dari lelaki yang berdiri di samping ranjang. Perkataannya membuatku menoleh, menatap ke dua matanya yang terlihat bersungguh-sungguh.
Haruskah aku menyetujuinya? Bagaimana jika dia seorang penculik?
“Anda dapat memikirkannya. Kalau begitu kami pamit dulu,” ucap Dokter itu dengan sedikit membukkukan badannya.
“Terimakasih, Dok!”
“Jadi bagaimana? Setuju?”
Kepergian dokter dan perawat membuat konsentrasiku terpecah sesaat. Jika bukan karena pria ini bertanya lagi, mungkin aku sudah lupa dengan tawaran tadi.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
Jadi gimana enaknya?
Setuju gak sama tawaran si kennt?
ke rumah sakit sekalian tes DNA 🙈
Sampai disini dulu, jangan lupa, pokok ya jangan lupa. Othor selalu mengingatkan untuk : Like, komen, vote, hadiah.
😘😘😘 terima kasih
Kebijaksanaan orang yg sdh berumur jgn di banding Kan ma anak muda berangasan model kenneth
Berikan Jenny ke pemilik sahnya.. Toh Ayahnya Jenny jg korban
Sesuatu klo di mulai dari ke tidak jujur an jalan ya biasanya g bener
Klo ken ingusan Kia bocil donk
Racun saja nenek lampir kyk gitu