NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Uncle Noah

Terjerat Cinta Uncle Noah

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni / Si Mujur / Tamat
Popularitas:453
Nilai: 5
Nama Author: Rita Sri Rosita

Ninda adalah Mahasiswi asal Indonesia yang berkuliah di Tu Delft Belanda. Pada hari itu untuk pertama kalinya Ninda harus pergi keluar negri naik pesawat seorang diri, saat akan melakukukan check in Ninda mengalami kecelakkan yang di akibatkan oleh kelalayannya sendiri, saat itu lah dia bertemu dengan seorang pria bernama Noah, pertemuan itu meninggalkan kesan, namun Ninda tak berfikir akan beretemu lagi dengan pria itu, sampai akhirnya di pertemuan keluarga yang di adakan di kediaman Tonny Ayah Tiri Ninda dia bertemu lagi dengan Noah yang ternyata adalah adik sepupu Tonny ayah Tiri Ninda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pinalti Adalah Maut

Sejak pagi, Ninda tak beranjak dari kamarnya. Ia sibuk memilih pakaian untuk pergi ke akademi sepak bola milik Noah.

Saat ia hendak pergi ke kamar mandi, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.

"Ya, ada apa?" tanya Ninda.

"Disuruh Mamah tuh, ke bawah," sahut Asta dingin sambil berlalu dari hadapan Ninda.

Ninda mengurungkan niatnya untuk pergi mandi. Ia memutuskan untuk turun terlebih dahulu menemui mamahnya.

Ninda bergegas secepat mungkin turun ke bawah. Dalam sekejap.

Sepagi ini, Noah sudah sampai di rumahnya. Ninda menyesal sekali tidak mandi terlebih dahulu sebelum turun ke bawah.

"Nah, itu anaknya," Raya menatap Ninda sejenak, "Ninda," panggil Raya sambil melambaikan tangan ke arah Ninda.

Ninda pun segera menghampiri mereka, "Kamu kok nggak bilang, mau pergi sama Noah?"

"Maaf, aku lupa, Mah. Aku pikir Uncle nggak serius ngajak aku," ungkap Ninda mencari alasan.

Selain itu, Ninda nggak kepikiran Noah bakalan datang sepagi ini dan ngobrol sama Mamahnya dan Tonny.

"Katanya kamu nyasar di centrum?" tanya Tonny

Ninda hanya mengangguk pelan mengiyakan.

"Kok Mamah nggak tahu?" ungkap Raya kaget sambil menatap Ninda

"Kapan?" tanya Raya lagi.

"Tiga hari yang lalu, Mah, pas lari pagi," jawab Ninda singkat.

"Aku cuman pengen jalan-jalan ke centrum, tapi HP sama dompet aku ketinggalan," ungkap Ninda menjelaskan.

"Kamu ini, kenapa nggak ajak Mamah atau adikmu sih?" Raya mulai sewot sekarang.

Ninda hanya menghela napas mendengar perkataan Mamahnya.

"Untung kamu ketemu Noah," kata Raya lagi sambil tersenyum ke arah Noah.

"Terima kasih ya, Noah. Anak ini emang nggak bisa diem,"

"waktu kecil aja sering ilang," ungkap Raya lagi

"Iya, aku senang bisa bertemu Ninda saat itu," sahut Noah sambil tersenyum menatap Ninda yang tampak tertekan.

"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Noah sambil tersenyum ke arah Ninda.

"Baik, Uncle," sahut Ninda. Dia bingung harus menjawab apa, terlebih lagi di depan orang tuanya.

"Kalian sering sekali tidak ada di rumah?" Ungkap Noah menatap secara bergantian ke arah Raya dan Tonny.

"Ya, kami sedang kesulitan mencari flat untuk Ninda," ungkap Tonny sedikit mengeluh.

"Susah sekali mendapatkan flat untuk mahasiswa," kata Tonny lagi.

"Kenapa tidak menghubungi ku?" sahut Noah.

"Aku sama sekali tidak ingat untuk meminta bantuanmu," Tonny berhenti sejenak, "Aku lupa punya sepupu kaya," ungkap Tonny tertawa.

Noah hanya menggeleng mendengar ucapan Tonny.

"Apa kau bisa membantu ku, sepupu?" kata Tonny sedikit bercanda.

"Aku punya apartemen kosong, kau bisa menyewanya untuk Ninda," ungkap Noah, membuat Tonny dan Raya tersenyum lebar.

"Apartemen mu mewah, aku tak sanggup membayarnya," sahut Tonny basa-basi.

"Bayar? Kau seperti tidak mengenal ku, Tonny," Tonny tertawa seketika sambil merangkul sepupunya itu saking senangnya.

"Ohh, kau sangat tampan," celetuk Tonny sambil memeluk Noah.

"Hentikan, jangan menyentuh ku," sahut Noah dengan nada serius di ikuti tawa Raya dan Tonny.

"Jam berapa kalian akan pergi?" Tiba-tiba saja Tonny mengganti topik pembicaraan sambil melepaskan pelukannya.

Noah menatap Ninda sejenak. "Jam 10," jawab Noah singkat.

"Baru jam 09.00. Akan kubuatkan sandwich sebelum kalian pergi," ungkap Raya sambil menuju ke arah dapur.

"Kalau begitu, aku mau mandi dulu, Uncle," ucap Ninda pamit dari hadapan Noah.

"Raya, aku pernah dengar kau menyuruh Ninda menikahi ku?" ungkap Noah dengan nada bercanda.

"Apa kau masih menginginkan ku jadi menantu mu?" tanya Noah lagi sedikit tertawa.

"Hmm, untuk sekarang tidak," sahut Raya ikut tertawa sambil memberikan gerakan tangan menyilang.

"Kenapa? Aku kaya, tampan, aku calon suami ideal untuk Ninda," ungkap Noah menggoda Raya dan Tonny.

"Aku tak mau Ninda menjadi pacar mu yang kesekian," Noah pun tertawa mendengar perkataan Raya.

"33 tahun usia yang cukup matang untuk memiliki hubungan yang serius," ungkap Tonny.

"Apa kau tidak pernah memikirkan pernikahan?" kata Tonny lagi.

Noah hanya tersenyum tipis sambil meminum orange juice yang ada di atas meja.

"Aku akan mengenalkan mu dengan adik teman ku, dia seorang dokter," ucap Tonny membuat Noah sedikit tersedak.

"Jika kau tertarik, aku bisa mengatur pertemuan dengan Sarah," ucap Tonny lagi.

Noah hanya tersenyum sambil menatap Tonny.

"Bagaimana penampilannya?" Noah sedikit bereaksi mengeluarkan pertanyaan nakal membuat Raya menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Cantik dan seksi," Kali ini Raya melotot ke arah Tonny.

"Baik lah, aku akan memikirkannya," sahut Noah sambil tersenyum ke arah Tonny.

"Nanti aku akan memberikan nomer Sarah," ungkap Tonny membalas dengan senyuman penuh makna.

30 menit kemudian, Ninda turun dari kamarnya. Dia sudah tampak siap. Ninda terlihat cantik dengan outfit casual.

"Mana sarapan ku?" kata Ninda sambil duduk di samping Noah.

Kemudian, Raya membawakan Ninda sandwich dan segelas orange juice.

"Terima kasih mamah sayang," sahut Ninda dibalas dengan kecupan di kening. Ninda segera menyantap sandwich itu.

"Nanti sepulang dari club, kita lihat apartemen yang akan kau tempati," kata Noah seraya menatap ke arah Ninda.

"Nanti kalian bisa menyusul," kata Noah lagi.

Tonny dan Raya saling bertatapan persekian detik.

"Hari ini aku tidak bisa," ungkap Tonny. "Aku dan istriku akan pergi untuk menjenguk Omah Mariam di Den Haag," kata Tonny lagi.

"Baik lah, hubungi aku ketika kau ingin melihat apartemennya," sahut Noah.

"Aku titip Ninda yaah, sepertinya aku dan Tonny akan pulang malam," ungkap Raya sambil menatap ke arah Ninda dan Noah.

"Asta gimana?" tanya Ninda sedikit kuatir dengan keadaan adiknya.

"Maria, dan Calvin akan menjemput Asta untuk menginap di rumah Aunty Merry," ungkap Raya menjelaskan.

"Bisa pergi sekarang?" ucap Noah pelan sambil berbisik.

"Sebentar," sahut Ninda sambil menghabiskan orange juice-nya dan tak lama kemudian dia beranjak dari tempat duduknya.

"Ok, ayo kita berangkat," kata Ninda lagi sambil menghampiri Raya kemudian menciumnya.

"Kita pergi," kata Noah sambil beranjak dari tempatnya di ikuti Ninda dari arah belakang.

"Terima kasih mau mengajak Ninda," ungkap Raya sambil memeluk Noah.

Mobil BMW tipe xxxx sudah terparkir di depan rumah itu.

Noah terlihat membukakan pintu mobil itu untuk Ninda.

"Mereka sangat serasi," ucap Tonny seketika membuat Raya melotot.

"Aku hanya bilang mereka serasi," kata Tonny lagi sedikit ketakutan melihat raut wajah istrinya yang tampak melotot

"Jangan pernah memikirkan hal itu, usia mereka sangat jauh," sahut Raya sambil melambaikan tangan ke arah mobil yang berlahan melaju meninggalkan tempat itu.

"Iya sayang," sahut Tonny ikut melabaikan tangannya ke arah mobil yang ditumpangi Noah dan Ninda.

"Apa aku terlihat tampan?" tanya Noah dengan nada bercanda sambil menatap Ninda.

"Hah apa?" Ninda menjawab sekenanya saking salah tingkahnya.

"Apa aku tampan?" Noah mepertegas perkataannya.

"Em, ya Uncle sangat tampan," Ninda menjawab dengan nada sedikit tegang.

Noah tertawa seketika mendengar jawaban Ninda.

"Apa ada yang salah dari ucapan ku?" Ninda tampak heran melihat reaksi Noah yang tertawa mendengar ucapannya.

"Kau seperti tertekan mengatakannya," ungkap Noah masih tertawa.

"Enggak kok, Uncle memang tampan," Kali ini Noah yang salah tingkah mendengar ucapan Ninda,

Noah berdehem untuk menyembunyikan saltingnya.

"Kalau kau ingin menikmati wajah tampan ku silahkan, aku suka kau menatap ku seperti itu," ungkap Noah dengan nada menggoda.

"Hah, aku tak bermaksud begitu," sahut Ninda wajahnya berubah bersemu merah.

"Kau serius sekali," ungkap Noah sambil tertawa.

"Gadis seperti kamu, akan mudah sekali di kerjain laki-laki," ungkap Noah lagi membuat Ninda menoleh ke arahnya.

"Aku tak sembarangan berteman sama cowok kok," sahut Ninda ketus.

"Justru karena itu, di kampus nanti pasti banyak laki-laki yang mengincar mu," Kali ini Noah berbicara agak serius.

"Wajah asia seperti ku sepertinya kurang menarik untuk kalian," ungkap Ninda membuat Noah sedikit bedehem.

"Kata siapa? Menurut ku kau cantik," kata Noah pelan sambil berdehem lagi. Ninda tersenyum tipis mendengar hal itu.

"Itu karena Uncle sudah lama di Indonesia, jadi seleranya sedikit menurun," Noah sedikit terkejut mendengar kata-kata Ninda.

"Ini bukan hanya soal fisik, kamu juga pintar," Ninda menunduk malu mendengar ucapan Noah.

"Nanti kamu lihat yah, kamu pasti banyak didekati laki-laki di kampus," ungkap Noah sambil tersenyum.

"Bukan karena suka tampang ku, mungkin karena aku orang asia mereka pikir akan sangat mudah mendapatkan ku,"

"Buruk sekali pikiran mu tentang cowok-cowok holand," Noah benar-benar terkejut kali ini sedikit menaikan nada suaranya.

"Tidak semua kaya gitu sich, kelihatannya Tonny baik," ungkap Ninda sedikit meredakan Noah yang tampak bersemangat ingin berdebat dengan Ninda.

"Aku juga baik," ucap Noah pelan.

"Mamah bilang semua pacar Uncle seksi," Kali ini Noah yang tampak malu, dia ingin menghilangkan image itu.

"Mamah mu banyak melihat berita online murahan, itu semua tidak benar," kata Noah mencoba meyakinkan Ninda.

Tiba-tiba Noah berbelok ke kiri.

Noah berhenti di tempat parkir yang berada di belakang gedung sekolah itu.

Kemudian Noah turun dari mobilnya begitupun Ninda.

L

"Kita akan bertemu anak-anak di sana," bisik Noah sambil menunjuk ke lapangan bola yang tidak terlalu jauh dari gedung sekolah.

"Ooh, ok," Ninda tampak kikuk,

Berlahan Mereka berjalan menuju tempat itu.

Di sana tampak anak-anak sedang berlatih mengikuti intruksi dari pelatih mereka.

Terlihat sangat lihai mengocek bola walau di usia yang masih sangat kecil.

"Hallo Garry," Sapa Noah nampak sudah mengenal anak itu.

"Hallo Noah," Sahut Garry sambil tersenyum.

"Bagaimana latihan mu hari ini?" Garry hanya mesem sambil memperhatikan Noah yang terus tersenyum ke arahnya.

"Aku cukup hebat," Garry menjawab dengan percaya diri.

Tiba-tiba saja salah satu anak bernama Daniel menarik cardigan Ninda, seketika Ninda bereaksi membungkuk mendekati Daniel.

"Hi, kau cantik sekali," Ungkap anak bernama Daniel itu. Ninda tersenyum ke arah Daniel.

"Ini pacar mu Noah," Tanya Daniel melirik ke arah Noah.

"Iya bagaimana menurut mu?" Daniel tertawa di ikuti teman-temannya.

Ninda terkejut sekaligus bingung harus bersikap seperti apa di depan anak-anak balita itu,

"Menurut ku sangat cantik," kata Daniel lagi masih tertawa sambil menujukan gigi ompongnya.

"Kalian mau bermain dengan kami?" tanya Noah kepada anak-anak itu.

"Mau!" mereka menjawab serentak tampak kompak.

"Hah, aku tak bisa bermain bola," Ungkap Ninda mencekram lengan Noah.

"Kau hanya perlu berdiri di depan gawang," Sahut Noah sambil tersenyum meyakinkan Ninda.

Noah mendorong Ninda kemudian untuk pergi kearah gawang.

"Aku berdiri di sana?" tanya Ninda menoleh kearah Noah sambil berjalan kearah gawang.

"Apa yang harus aku lakukan?" Ninda bingung sendiri dia benar-benar tidak tahu apapun tentang sepak bola.

"Cukup diam, kalau kamu bisa tangkap bolanya dengan tangan mu," Sahut Noah.

"Haah, bagaimana?" Ninda semakin bingung dia berteriak kearah Noah.

"Diam saja di situ,"

"Mereka cuman anak Balita," kata Ninda pelan.

"Anak-anak kalian mau melakukan tendangan penalti ?" Ungkap Noah semangat.

"Yaah" mereka berteriak serentak.

"Gawat, walau balita, mereka anak-anak Holand," kata Ninda lagi sambil menyiapkan ancang-ancang dengan gaya yang sangat aneh.

Kemudian, anak-anak itu mulai berbaris dengan rapi. Raut wajah lucu mereka berubah serius, seperti hulk-hulk kecil yang siap menyerang.

"Kiper siap?" Noah sedikit berteriak.

Ninda hanya menganggukkan kepalanya. Lututnya gemetaran saat itu. Secara bergiliran, anak-anak yang rata-rata berusia empat, lima tahun itu melesatkan tendangannya.

Tak ada satu pun bola yang bisa Ninda tangkap, sampai akhirnya giliran anak terakhir.

Dia mengambil ancang-ancang, berlari kencang, dan bola pun melesat dengan kencang, tinggi, tepat menyambar wajah Ninda.

Ninda sedikit ambruk. Noah seketika menyadari hal itu, kemudian dia segera berlari menghampiri Ninda.

"Kamu nggak apa-apa?" Dari nada suaranya, Noah tampak sangat cemas.

"Nggak, nggak apa-apa," kata Ninda sedikit keleyengan. Dia sedikit gengsi, dia berusaha terlihat baik-baik saja.

Dia nggak mau ambruk hanya karena tendangan bola bocah balita empat tahun.

Noah melihat darah segar keluar dari hidung Ninda. Segera, Noah menyeka darah itu dengan tangannya.

Kemudian, Noah memangku tubuh Ninda dengan kedua tangannya.

Tanpa sadar, tangan Ninda melingkar di antara leher dan bahu Noah, mencari pegangan.

"Jarak ini terlalu dekat," ucap Ninda dalam hati.

Akhirnya, Noah mendudukkan Ninda di kursi di samping lapangan. Ia dengan cepat mengambil kotak P3K yang sudah tersedia di sana.

"Maaf, Uncle jadi repot," ucap Ninda memecah keheningan. Suaranya pelan, nyaris tak terdengar.

Noah tersenyum tipis, "Nggak apa-apa. Ini salahku juga, terlalu semangat nyuruh kamu jadi kiper,"

"Salah aku juga nurut," sahut Ninda pelan.

"Lain kali, kalau ada yang nyuruh jadi kiper, tolak aja ya," kata Noah sambil terus membersihkan darah di hidung Ninda.

"Iya, kapok," jawab Ninda sambil meringis.

Noah tertawa kecil, "Masih sakit?" tanyanya.

Ninda menggeleng, "Udah nggak terlalu," jawabnya.

"Beneran?" Noah menatap Ninda dengan khawatir.

"Iya, beneran," Ninda meyakinkan.

"Ya udah, kita obatin dulu biar nggak infeksi," kata Noah sambil melanjutkan membersihkan luka Ninda.

"Makasih ya, Uncle," ucap Ninda tulus.

"Gimana, udah enakan?" tanya Noah.

Ninda mengangguk, "Udah kok," jawabnya.

"Mau pulang sekarang?" tanya Noah lagi.

Ninda menggeleng, "Nggak mau. Nanti diketawain anak-anak," jawabnya sambil tersenyum.

Noah tertawa, "Ya udah, kalau gitu kita lanjutin aja ya. Tapi, kamu nggak usah jadi kiper lagi," kata Noah.

"Aku mau jadi penonton aja," jawab Ninda sambil tertawa.

Noah mengulurkan tangannya, "Ayo," ajaknya.

"Siap, Uncle," jawabnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!