Calvin Arson hanyalah pemuda miskin yang hidup dari berjualan di pinggir jalan. Suatu hari, ia menemukan sebongkah batu giok aneh yang mengubah seluruh takdirnya. Dari situlah ia memperoleh kemampuan untuk melihat menembus segala hal, serta "bonus" tak terduga: seorang iblis wanita legendaris yang bersemayam di dalam tubuhnya.
Sejak saat itu, dunia tidak lagi memiliki rahasia di mata Calvin Arson.
Menilai batu giok? Cukup satu lirikan.
Membaca lawan dan kecantikan wanita? Tidak ada yang bisa disembunyikan.
Dari penjaja kaki lima, ia naik kelas menjadi pengawal para wanita bangsawan dan sosialita. Namun, di tengah kemewahan dan godaan, Calvin Arson tetap bersikap santai dan blak-blakan:
"Aku dibayar untuk melindungi, bukan untuk menjadi pelayan pribadi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blue79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
Kabupaten D, kawasan jalan pasar malam.
Malam itu, di mulut jalan terparkir sebuah Mini BMW berwarna hijau gelap. Di atas kap mobil tersebut dibuka sebuah lapak kecil yang menjual aksesori kristal dan batu hias. Pemilik lapak adalah seorang gadis berusia awal dua puluhan, dengan paras yang sangat cantik hingga langsung menarik perhatian banyak orang di sekitarnya.
Orang-orang berhenti untuk menonton, disertai berbagai bisik-bisik. Beberapa pemuda yang melihat mobil mewah dan gadis cantik itu seolah terpacu semangatnya, lalu berhenti untuk mengambil foto. Hanya mereka yang cukup berani yang maju bertanya harga, meskipun jelas perhatian mereka lebih tertuju pada wajah dan tubuh sang gadis daripada barang dagangannya.
Ia mengenakan rok putih ketat, stoking berwarna kulit, dan sepatu hak tinggi biru. Posturnya ramping dan anggun, dengan lekuk tubuh yang mencolok serta kaki jenjang yang menarik perhatian.
“Calvin, apa kau tertarik?” ujar seorang pria paruh baya berkulit gelap kepada pemuda di sampingnya, dari jarak sekitar tiga meter. “Gadis secantik ini, seumur hidup aku baru pertama kali melihatnya.”
“Lumayan,” jawab pemuda itu sambil tersenyum, memperlihatkan deretan gigi putihnya. “Tapi masih sedikit di bawah adikku.”
Pemuda itu bernama Calvin Arson. Ia berjualan martabak gulung di pasar malam tersebut. Tingginya sekitar 175 sentimeter, usianya masih muda, wajahnya cukup tampan, meskipun rautnya memperlihatkan pengalaman hidup keras di lingkungan jalanan.
Sementara itu, pria paruh baya tersebut adalah pemilik lapak sandal bernama Agung.
Agung tertawa dan berkata, “Di matamu, memang tak ada wanita yang bisa mengalahkan adikmu. Tapi wanita seperti itu, kaya dan secantik selebritas, jelas hidup di dunia yang berbeda dengan kita. Kita hanya bisa melihatnya dari jauh. Putri penjual bakso ikan di seberang tampaknya cukup tertarik padamu. Bagaimana kalau Kak Agung bantu menjodohkan?”
Calvin Arson melirik ke arah lapak bakso ikan. Seorang gadis bertubuh gemuk dengan wajah berminyak sedang memasukkan bakso ke mulutnya tanpa henti. Calvin Arson langsung bergidik.
“Sudahlah, Kak Agung,” katanya cepat. “Kenapa tidak sekalian kau jodohkan aku dengan putrimu yang katanya mantan ratu sekolah itu?”
“Dasar bocah kurang ajar” Agung mengangkat sandal, berpura-pura hendak memukul.
Namun pada saat itu, beberapa pria bertato dengan penampilan urakan mendekat dari kejauhan, langsung menuju ke arah gadis pemilik lapak.
“Hei, Nona,” bentak seorang pria bertubuh besar sambil menunjuk. “Siapa yang mengizinkanmu berjualan di sini? Sudah bayar uang keamanan belum?”
Pria itu bernama Henri, berjuluk Harimau Hitam. Ia adalah preman terkenal di daerah tersebut, bersifat arogan dan sangat ditakuti. Ia memiliki sejumlah anak buah yang kejam, sehingga orang-orang hanya bisa menahan amarah dan tidak berani melawannya.
“Uang keamanan apa?” jawab gadis itu dingin. “Aku tidak kenal kalian. Kenapa harus membayar? Aku tidak punya uang.”
“Tidak punya uang?” Henri menyeringai. “Mobil sebagus itu, mana mungkin tidak punya uang. Begini saja, kalau kamu tidak mau bayar, kita bisa bicara di tempat lain. Setelah itu, kamu mau berjualan selama apa pun, tidak masalah.”
Tatapan Henri terus menyapu kaki dan tubuh gadis itu dengan penuh niat buruk.
Orang-orang di sekitar merasa marah dan geram, diam-diam mengutuk kelakuan Henri.
Tanpa diduga, gadis itu langsung menampar wajah Henri dengan keras.
“Pergi!”
Tamparan itu membuat Henri tertegun. Separuh wajahnya langsung membengkak. Kerumunan pun terkejut dan mulai berbisik-bisik.
“Wah, ini gawat. Dia berani memukul Henri.” “Sayang sekali, gadis secantik itu.” “Lapornya juga percuma. Bukankah kita tahu siapa Henri?”
Salah satu anak buah Henri segera menarik lapak di atas kap mobil. Perhiasan batu dan gelang jatuh berserakan ke tanah. Sebuah liontin batu bundar menggelinding hingga ke kaki Calvin Arson.
Saat Calvin Arson membungkuk untuk mengambil liontin itu, gadis tersebut sudah berkelahi dengan para preman. Dengan cepat, ia mencengkeram rambut salah satu dari mereka dan memukulnya bertubi-tubi menggunakan ponsel di tangannya.
Setiap pukulan disertai teriakan marah, sementara sang preman menjerit kesakitan hingga wajah dan hidungnya berdarah.
Kerumunan terdiam, terkejut melihat keberanian dan kekerasan sang gadis, namun di dalam hati mereka merasa puas.
Ketika gadis itu menendang lawannya hingga jatuh, Henri tiba-tiba mendorongnya dengan keras dari samping.
Ia kehilangan keseimbangan. Hak sepatu tingginya patah, dan tubuhnya terhuyung ke belakang, tepat jatuh ke dalam pelukan Calvin Arson.
Calvin Arson refleks menopangnya.
“Kau tidak apa-apa?” tanyanya spontan.
Namun kerumunan langsung berseru kaget.
Gadis itu gemetar sejenak, lalu menatap Calvin Arson dengan mata penuh amarah dan rasa malu.
“Kurang ajar! Lepaskan aku sekarang juga! Mau pegang sampai kapan?”
Calvin Arson tertegun. Tangannya refleks bergerak.
Kerumunan kembali gaduh. Bahkan Henri pun menatap Calvin Arson dengan mata terbelalak, lalu dipenuhi amarah.
Calvin Arson akhirnya menyadari ada yang tidak beres. Ia segera melepaskan tangannya dan mundur setengah langkah. Namun gadis itu belum sepenuhnya stabil dan kembali terhuyung. Calvin Arson refleks mengulurkan tangan lagi untuk menahannya.
Kerumunan pun kembali bersorak ribut.
Wajah Calvin Arson memerah. Ia benar-benar kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa.
“Kak… maaf,” katanya dengan senyum pahit. “Aku sungguh tidak sengaja.”