NovelToon NovelToon
TELEKINESIS ASCENDANT: THE EDITOR'S GATE ODYSSEY

TELEKINESIS ASCENDANT: THE EDITOR'S GATE ODYSSEY

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Fantasi Timur / Fantasi Isekai
Popularitas:98
Nilai: 5
Nama Author: Karma Danum

Kang Ji-hoon, seorang editor webnovel yang hidupnya biasa-biasa saja, tewas dalam sebuah kecelakaan. Namun, alih-alih mati, ia terbangun di tubuh Kang Min-jae, seorang pemuda di dunia paralel di mana "Gerbang" ke dimensi lain telah muncul, dan "Hunter" dengan kekuatan khusus bertugas menghadapi monster di dalamnya.

Terjebak dalam identitas baru dengan misteri ayah yang hilang dan tekanan untuk menjadi Hunter, Ji-hoon harus beradaptasi dengan dunia yang berbahaya. Dibantu oleh "sistem" misterius di dalam benaknya dan kekuatan telekinesis yang mulai terbangun, ia memasuki Hunter Academy sebagai underdog. Dengan pengetahuan editornya yang memahami alur cerita dan karakter, Ji-hoon harus menguasai kekuatannya, mengungkap konspirasi di balik transmigrasinya, dan bertahan di dunia di mana setiap Gerbang menyimpan ancaman—dan rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karma Danum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: PELATIHAN DASAR

Kelas Reguler D-5 ternyata berbeda jauh dari suasana Remedial. Di sini, setiap siswa memiliki setidaknya satu kemampuan yang sudah bisa diandalkan dalam pertempuran. Suasana kompetitif terasa, namun juga ada semangat untuk berkembang bersama. Min-jae menyadari bahwa untuk bertahan di kelas ini, ia tidak bisa hanya mengandalkan kemampuannya yang masih terbatas. Ia harus mengasahnya dengan sistematis.

Pelatihan dasar pertama di kelas D-5 adalah "Kontrol Mana dan Energi Dasar". Bagi Min-jae yang tidak memiliki afinitas elemen atau kapasitas Mana yang signifikan, pelajaran ini awalnya terasa tidak relevan. Tapi Instruktur Kang, dengan pengalamannya, memberikan sudut pandang berbeda.

"Energi psikis adalah bentuk energi yang berbeda dari Mana, tetapi prinsip kontrolnya serupa," jelas Instruktur Kang di depan kelas. "Fokus, pernapasan, dan visualisasi. Kalian yang memiliki kemampuan psikis, gunakan prinsip ini untuk memperkuat kendali. Yang tidak, pelajari untuk memahami lawan yang mungkin menggunakan psikis."

Min-jae duduk bersila di matras, mencoba mengikuti instruksi. Tarik napas, tahan, visualisasi energi mengalir dari pusat tubuh ke ujung jari. Bagi siswa lain, visualisasi itu menghasilkan semburan api kecil, tetesan air, atau angin sepoi-sepoi. Bagi Min-jae, yang muncul adalah sensasi getaran psikis yang lebih terfokus.

Dia berlatih memusatkan energi psikisnya di titik tunggal—ujung jari telunjuk. Awalnya hanya berupa sensasi hangat. Setelah berkali-kali mencoba, sebuah titik cahaya biru pucat, sebesar kepala jarum, muncul selama beberapa detik sebelum menghilang.

"Bagus, Min-jae," puji Instruktur Kang yang lewat. "Kamu sudah bisa memvisualisasikan energi psikismu. Langkah selanjutnya adalah mempertahankannya lebih lama dan menggunakannya untuk hal yang lebih kompleks."

Latihan itu melelahkan secara mental. Tapi Min-jae merasakan manfaatnya. Kemampuannya dalam mengumpulkan energi psikis menjadi lebih cepat dan efisien.

Di waktu luang, Min-jae mulai memanfaatkan fasilitas perpustakaan tingkat D. Aksesnya sekarang lebih luas. Ia bisa membaca laporan misi tingkat menengah, jurnal penelitian yang lebih detail, dan bahkan arsip wawancara dengan Hunter berpengalaman. Salah satu yang menarik perhatiannya adalah wawancara dengan seorang Hunter A-rank yang selamat dari insiden ketidakstabilan Gerbang level tinggi.

Dalam wawancara itu, Hunter tersebut menggambarkan sensasi "realitas bergetar" dan "rasa diri terbelah" sebelum Gerbang itu stabil. Kata-kata itu mengingatkannya pada perasaan saat ia pertama kali transmigrasi. Apakah ada kaitannya?

Ia juga menemukan referensi samar tentang "penelitian resonansi jiwa" yang dilakukan oleh sebuah tim independen sebelum dibeli oleh Ouroboros. Tim itu dipimpin oleh seorang ilmuwan bernama Dr. Kang Min-soo.

*Jadi ayah Min-jae sudah meneliti ini sejak lama*, pikirnya. *Tapi mengapa?*

Pertanyaan itu masih mengambang ketika ia mendapat undangan untuk bergabung dengan "Kelompok Studi Teori Dimensi" yang dibentuk oleh beberapa siswa D-rank dan C-rank. Kelompok ini secara informal membahas perkembangan penelitian dan teori terkini di luar kurikulum.

Pertemuan pertama diadakan di ruang baca kecil di lantai tiga perpustakaan. Ada sekitar delapan orang, termasuk Lee Hana yang memperkenalkannya.

"Teman-teman, ini Kang Min-jae, psikis dari kelas D-5 yang baru naik rank. Min-jae, ini teman-teman kelompok studi."

Salah satu siswa, laki-laki dengan kacamata tebal bernama Kim Do-hyun (C-rank, spesialisasi analisis data), memimpin diskusi. Topik hari itu: "Teori Anchor dalam Stabilisasi Gerbang".

Min-jae langsung menyimak penuh.

"Berdasarkan penelitian terbaru yang bocor—maaf, saya maksud yang dipublikasikan—ada indikasi bahwa Gerbang yang stabil secara alami memiliki 'Anchor' alami, biasanya berupa formasi kristal Mana atau fenomena geologis khusus di dalamnya," jelas Do-hyun. "Namun, Gerbang yang tidak stabil membutuhkan Anchor buatan. Dan itulah yang sedang dikembangkan oleh beberapa lembaga penelitian."

Seorang siswa perempuan bertanya, "Anchor buatan itu seperti apa? Apakah perangkat fisik, atau sesuatu yang energetik?"

"Keduanya mungkin. Tapi yang paling sering dibicarakan adalah perangkat yang menanamkan resonansi energi spesifik ke dalam struktur Gerbang, menyelaraskannya dengan dimensi kita agar tidak kolaps atau meluas tak terkendali."

*Resonansi.* Kata itu lagi.

Min-jae memberanikan diri bertanya. "Apakah ada kaitan antara Anchor dengan kemampuan psikis? Misalnya, seseorang yang resonansi jiwanya selaras dengan Gerbang bisa menjadi Anchor hidup?"

Semua mata tertuju padanya. Do-hyun mengangguk, tertarik. "Teori itu pernah muncul, tapi sangat kontroversial. Beberapa kasus langka menunjukkan Hunter dengan kemampuan psikis kuat bisa menenangkan fluktuasi Gerbang kecil. Tapi itu berisiko tinggi bagi jiwa Hunter tersebut. Dan organisasi mana yang akan mengizinkan praktik seperti itu?"

Perdebatan berlanjut. Min-jae hanya mendengarkan, tapi pikirannya berputar cepat. Jika ayahnya meneliti Dual Resonance, dan Ouroboros tertarik padanya, apakah mereka melihatnya sebagai kandidat Anchor hidup? Atau sesuatu yang lain?

Setelah pertemuan, Lee Hana menghampirinya. "Pertanyaanmu tadi menarik. Kamu punya minat khusus di topik itu?"

"Sedikit. Keluarga saya punya latar belakang penelitian dimensi," jawab Min-jae samar.

"Ah, iya. Ayahmu Dr. Kang, kan? Aku pernah baca paper-paper lama dia. Brilliant." Hana tersenyum. "Kalau mau, kita bisa diskusi lebih lanjut lain waktu. Aku juga tertarik di bidang penelitian, meski sekarang fokus jadi healer."

Min-jae setuju. Memperluas jaringan dengan siswa yang punya minat serupa bisa menguntungkan.

Selain teori, pelatihan fisik juga meningkat intensitasnya. Sebagai siswa D-rank, dia diwajibkan mengikuti latihan ketahanan dan kelincahan dua kali seminggu. Ji-woo, yang masih di kelas Remedial tapi dengan kekuatan fisik setara D-rank, sering ikut latihan bersamanya secara informal.

"Min-jae, coba hindari serangan kayak gini!" teriak Ji-woo sambil menyerang dengan tongkat.

Min-jae menggunakan kombinasi sensing dan gerakan tubuh yang dia pelajari dari Guru Han. Dia tidak sekadar menghindar, tetapi membaca arah serangan dan memposisikan diri di titik buta Ji-woo. Latihan seperti ini melatih insting bertarungnya yang masih hijau.

Di sela-sela kesibukan, Min-jae tidak melupakan tujuan utamanya: menemukan Dr. Seo Ji-hyun. Dia mulai merencanakan. Daerah pelabuhan yang disebut Paman Dae-hyun cukup luas dan berbahaya, terutama bagi seorang siswa akademi. Dia butuh informasi lebih spesifik dan mungkin bantuan.

Dia mendatangi Guru Choi, kali ini dengan alasan yang lebih aman. "Guru, untuk meningkatkan pemahaman lapangan, saya ingin melakukan survei kecil tentang kehidupan masyarakat di daerah yang dekat dengan lokasi Gerbang kelas rendah, seperti daerah pelabuhan. Apakah akademi punya data atau izin untuk itu?"

Guru Choi memandangnya dengan skeptis. "Itu tidak biasa. Biasanya siswa hanya survey di dalam Gerbang, bukan pemukiman."

"Saya percaya memahami kondisi manusia di sekitar Gerbang juga penting untuk taktik dan diplomasi," jawab Min-jae, meminjam argumen yang pernah dia baca di sebuah esai.

Guru Choi menghela napas. "Baik. Aku akan beri kamu rekomendasi untuk izin keluar kampus selama sehari, dengan catatan kamu melapor kembali sebelum magrib dan tidak terlibat masalah. Daerah pelabuhan memang ada beberapa Gerbang F-rank yang sudah tidak aktif, jadi bisa kamu jadikan alasan study trip."

Itu lebih dari yang diharapkan. "Terima kasih, Guru!"

Akhir pekan berikutnya, dengan membawa peta dan foto Dr. Seo, Min-jae pergi ke daerah pelabuhan lama. Daerah ini berbeda dengan bagian kota lainnya—bangunan tua, jalanan sempit, dan penduduknya terlihat lebih waspada terhadap orang asing.

Dia menyamar sebagai siswa yang melakukan penelitian untuk tugas sekolah. Dengan sensing-nya yang aktif, dia mencoba merasakan adanya 'jejak' energi yang tidak biasa—mungkin sisa-sisa eksperimen atau seseorang yang bersembunyi dengan peralatan khusus.

Sepanjang hari, dia bertanya pada pedagang kaki lima, pemilik warung kopi, bahkan gelandangan. Kebanyakan menggeleng, tidak mengenali foto Dr. Seo. Hingga sore hari, seorang penjaga gudang tua yang sedang istirahat merokok melihat fotonya dan mengernyit.

"Wanita ini… mirip sama orang yang numpang tidur di gudang kosong dekat dermaga 3, sekitar beberapa bulan lalu. Tapi dia sudah pergi. Keliatannya sakit-sakitan."

"Apakah Anda tahu ke mana dia pergi?" tanya Min-jae penuh harap.

"Gak tau. Tapi denger-denger dia tanya tentang cara naik kapal barang ke kota Busan. Mungkin kesana."

Busan. Itu petunjuk. Tapi Busan kota besar. Mencari satu orang di sana seperti mencari jarum di tumpukan jerami.

Min-jae berterima kasih dan memberikan sedikit uang sebagai imbalan. Saat dia berbalik pulang, sensing-nya mendeteksi sesuatu—bukan energi, tapi perasaan diawasi. Dia tidak menoleh, tapi mempercepat langkah menuju halte bus.

Di dalam bus, dia melihat pantulan kaca jendela. Seorang laki-laki dengan jas biasa, duduk beberapa baris di belakang, terlihat terlalu biasa untuk daerah pelabuhan. Apakah dia dari Ouroboros? Atau hanya paranoid?

Dia turun di halte yang ramai dan masuk ke sebuah toko swalayan, lalu keluar dari pintu lain. Perasaan diawasi itu hilang. Tapi pelajaran jelas: dia harus lebih hati-hati.

Kembali ke akademi, Min-jae melapor pada Guru Choi. Dia hanya menyebutkan bahwa dia mengamati kondisi Gerbang tidak aktif dan wawancara penduduk. Guru Choi menerima laporannya tanpa banyak tanya.

Malam itu, di kamarnya, Min-jae merenung. Pencarian Dr. Seo masih panjang. Tapi setidaknya ada arah: Busan. Dan untuk pergi ke Busan dengan alasan yang aman, dia butuh misi atau izin resmi dari akademi. Itu berarti dia harus meningkatkan rank lagi, atau mendapatkan prestasi yang cukup.

Fokus untuk sekarang: terus meningkatkan kemampuan dan menyelesaikan tahun pertama akademi dengan baik.

Beberapa hari kemudian, kesempatan datang. Akademi mengumumkan "Kompetisi Taktik Kelas D" yang akan diadakan dalam sebulan. Kompetisi ini berupa simulasi tim melawan skenario Gerbang E-rank dengan variabel tak terduga. Pemenang akan mendapatkan poin prestasi besar dan kesempatan mengikuti pelatihan khusus selama liburan.

Min-jae langsung mendaftar bersama Ji-woo dan Seo-yeon. Mereka masih satu tim solid. Kali ini, mereka akan bersaing dengan tim-tim D-rank lainnya, bukan hanya sesama pemula.

"Ini kesempatan kita," kata Ji-woo dengan semangat. "Kalau menang, kita bisa dapet pelatihan dari Hunter B-rank! Itu bakal ngebantu banget buat naik rank lagi!"

Seo-yeon mengangguk. "Aku akan siapkan ramuan support yang lebih baik. Aku juga belajar teknik pertolongan pertama di medan kasar."

Min-jae bertanggung jawab pada bagian strategi dan pengintaian. Dengan sensing-nya yang semakin tajam dan pengetahuannya tentang teori Gerbang, dia mulai menyusun beberapa rencana kontinjensi.

Pelatihan tim mereka intensif. Setiap akhir pekan, mereka menggunakan fasilitas simulator akademi untuk berlatih skenario berbeda. Min-jae juga mulai mengajari Ji-woo dan Seo-yeon dasar-dasar membaca pola gerakan musuh, berdasarkan apa yang dia rasakan melalui sensing.

"Ji-woo, kalau kamu lihat monster itu agak menunduk dan kaki belakangnya mengencang, itu artinya dia akan lompat. Jangan di depan, geser ke samping."

"Seo-yeon, kalau ada getaran tanah tidak wajar, bisa jadi ada monster yang bersembunyi di bawah. Siapkan langkah menghindar."

Kerja sama mereka semakin solid. Bahkan Guru Choi yang sesekali mengawasi latihan mereka memberikan komentar positif. "Tim kalian memiliki keseimbangan yang bagus. Pertahankan komunikasi dan jangan terlalu bergantung pada satu strategi."

Hari-hari berlalu dengan cepat. Min-jae membagi waktunya antara akademi, latihan tim, penelitian pribadi tentang Anchor dan resonansi, dan sesekali latihan psikis dengan Master Yoon.

Suatu sore di dojang Guru Han, setelah latihan telekinesis yang melelahkan, Guru Han memberinya nasihat.

"Min-jae, kamu berkembang cepat. Tapi aku merasa ada sesuatu yang membebanimu. Sesuatu di luar latihan ini."

Min-jae diam. Dia tidak bisa bercerita tentang segalanya, tapi dia mengangguk. "Ada hal-hal yang harus saya selesaikan, Guru."

"Setiap Hunter punya beban. Tapi jangan biarkan beban itu mengacaukan fokusmu saat bertarung. Di Gerbang, satu detik lengah bisa berarti kematian." Guru Han meletakkan tangan di bahunya. "Jika suatu saat kamu merasa beban itu terlalu berat, ingatlah bahwa kamu punya sekutu. Baik di akademi, maupun di luar."

Nasihat itu menghangatkan hati. Min-jae berterima kasih.

Malam sebelum kompetisi, tim mereka melakukan briefing terakhir di ruang klub kecil yang mereka pinjam.

"Kita sudah latihan keras. Besok, kita tunjukkan bahwa tim dari kelas Remedial pun bisa bersaing dengan yang lain," kata Ji-woo dengan api di mata.

"Kita akan lakukan yang terbaik," tambah Seo-yeon.

Min-jae tersenyum. "Kita punya rencana A sampai D. Tapi yang paling penting: percaya satu sama lain. Aku percaya pada kalian."

Mereka bertepuk tangan bersama, lalu berpisah untuk istirahat.

Saat Min-jae sendiri di kamarnya, dia memeriksa sekali lagi kemampuannya.

**[Kontrol Psikis: 6.5%.]**

**[Penyatuan Jiwa: 97%.]**

**[Kemampuan Terbuka: Sensing (Level 2), Telekinesis (Level 1), Psionic Cloaking (Dasar), Psionic Condensation (Dasar).]**

**[Kemampuan Terkunci: 2 (Persyaratan: Kontrol Psikis 10% dan Penyelesaian Event Penting).]**

Kemajuan stabil. Tapi dia tahu, untuk menghadapi tantangan yang lebih besar—baik dalam kompetisi maupun dalam pencarian kebenaran—dia butuh lebih.

Dia memejamkan mata, bernapas dalam-dalam. Besok adalah hari penting. Bukan hanya untuk prestasi, tapi juga untuk membuktikan pada dirinya sendiri bahwa dia bisa maju dengan kekuatannya sendiri.

Dan setelah kompetisi, apapun hasilnya, dia akan melanjutkan rencananya: meningkatkan rank, mencari Dr. Seo, dan mengungkap misteri di balik semua ini.

Satu langkah demi satu langkah. Seperti yang dia pelajari dari pelatihan dasarnya: konsistensi dan fokus adalah kunci.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!