NovelToon NovelToon
Merawat Anak Dari Calon Suamiku

Merawat Anak Dari Calon Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Single Mom / Anak Genius / Duda / Cintapertama
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ega Sanjana

Bagaimana jika kita tiba-tiba menjadi ibu dari anak calon suami kita sendiri ,apa yang akan kita lakukan ?Memutuskan hubungan begitu saja ?atau tetap lanjut . Aku akan berusaha menjadi ibu yang baik untuk nya ,Rara Aletta Bimantara . Akan ku usahakan semua nya untuk mu ,Terimakasih Sudah mau menjadi istri dan ibu dari anak Ku _Rama Alexandra Gottardo.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Sanjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Piramida

Matahari belum mulai bersinar ketika mereka berangkat dari penginapan kecil di dekat Jalan Al-Azhar. Rencananya adalah mengunjungi Piramida Giza sebelum keramaian datang, untuk merasakan kedamaian yang mengelilingi monumen kuno tersebut.

“Kita akan melewati tepi gurun untuk sampai ke sana,” jelas Amira, sambil menyesuaikan syal di lehernya menghadapi embun pagi yang segar. “Banyak orang hanya melihat piramida sebagai monumen megah, tapi bagi kita, mereka adalah jembatan antara dunia ini dan alam gaib—tempat di mana makanan dan doa disajikan untuk leluhur kita selama ribuan tahun.”

Perjalanan melalui jalan yang menjauhi pusat kota membawa mereka melewati hamparan pasir keemasan yang luas. Saat piramida perlahan muncul di cakrawala, Rian merasakan getaran yang sama seperti ketika melihat Menara Pisa di Florence atau Kuil Kiyomizu di Kyoto—rasa kagum akan kehebatan manusia dalam menghubungkan masa kini dengan masa lalu. Rama langsung mengambil kamera, mengatur lensanya untuk menangkap cahaya pagi yang menyinari puncak struktur batu raksasa tersebut.

“Pada zaman kuno, sebelum membangun piramida, para pekerja akan diberi makan dengan hidangan khusus yang dibuat dari gandum lokal, kacang-kacangan, dan daging sapi,” cerita Karim yang ikut menemani mereka. “Resepnya dirancang agar memberikan energi yang cukup untuk bekerja, tapi juga memiliki makna spiritual—setiap suapan dianggap sebagai persembahan untuk memastikan proyek berjalan lancar.”

Di kaki Piramida Khufu, mereka bertemu dengan Zainab, seorang pemandu wisata yang juga merupakan seniman lokal. Dia membawa sebuah baskom kecil berisi roti tradisional eish baladi dan kurma yang dibungkus dengan daun palem. “Ini adalah cara kita menyambut tamu di tempat yang sakral ini,” katanya dengan senyum hangat. “Roti ini dibuat dengan cara yang sama seperti nenek moyang kita, dan kurma adalah buah yang selalu ada di setiap upacara penting.”

Saat mereka duduk di bawah naungan batu besar yang dingin, sambil menikmati roti hangat dan kurma manis, Zainab menceritakan bagaimana neneknya dulu sering bercerita tentang bagaimana makanan menjadi bagian dari ritual pemujaan di tempat ini. “Mereka akan membuat hidangan dari bahan yang dikumpulkan bersama oleh seluruh komunitas,” ujarnya. “Setiap keluarga memberikan sesuatu—entah gandum, rempah, atau buah—sehingga hidangan yang dihasilkan menjadi simbol persatuan kita sebagai bangsa Mesir.”

Setelah menjelajahi piramida dan melihat Sphinx yang megah, mereka kembali ke kota untuk mengunjungi sebuah sekolah memasak kecil yang didirikan oleh Amira untuk membantu anak-anak muda dari daerah kurang mampu. Di sana, puluhan anak sedang belajar membuat hidangan tradisional Mesir sambil mendengarkan cerita tentang sejarah masing-masing makanan.

“Saya ingin mereka tahu bahwa budaya kita ada di setiap suapan yang kita makan,” jelas Amira sambil menunjukkan kepada seorang anak perempuan yang sedang belajar membuat basbousa. “Anak-anak ini datang dari berbagai daerah di Mesir—beberapa dari kota, beberapa dari desa di gurun. Melalui makanan, mereka belajar bahwa meskipun ada perbedaan dalam cara kita hidup, kita memiliki akar yang sama.”

Seorang anak laki-laki bernama Amir yang berasal dari sebuah desa dekat Aswan mengangkat tangannya. “Bu Amira bilang, ketika kita membuat ful medames, kita harus berpikir tentang semua orang yang telah membuatnya sebelum kita,” katanya dengan suara yang jelas. “Seperti bagaimana nenek moyang kita berpikir tentang kita yang akan datang setelahnya.”

Sore harinya, mereka menghadiri pertemuan dengan komunitas penulis Mesir di sebuah kedai kopi tua di daerah Al-Darb Al-Ahmar. Kedai tersebut telah menjadi tempat berkumpulnya seniman dan penulis selama beberapa dekade, dengan dinding yang dipenuhi lukisan dan catatan tangan dari pengunjung sebelumnya. Di sana, mereka bertukar cerita dengan para penulis lokal tentang bagaimana makanan menjadi tema utama dalam banyak karya sastra Mesir—dari puisi kuno hingga novel modern.

“Makanan adalah cara kita menceritakan tentang kehidupan kita—tentang suka dan duka, tentang keluarga dan komunitas,” kata Layla, seorang penulis muda yang sedang menyelesaikan buku pertamanya tentang sejarah kuliner Mesir. “Ketika saya menulis tentang kushari, saya tidak hanya menceritakan tentang bahan-bahannya, tapi juga tentang bagaimana hidangan ini menjadi simbol perjuangan dan harapan bagi banyak orang di kota-kota kita.”

Malam itu, sebelum mereka berangkat ke bandara untuk kembali ke Semarang, Amira mengumpulkan semua teman yang telah mereka temui selama perjalanan tersebut—Karim, Zainab, Hassan, dan anak-anak dari sekolah memasak. Di halaman penginapan yang sama tempat mereka mengadakan pertemuan sebelumnya, mereka menyajikan hidangan terakhir yang dibuat bersama: sebuah platter besar yang berisi berbagai hidangan khas dari seluruh Mesir, ditambah hidangan dari teman-teman di seluruh dunia yang mereka bawa dalam bentuk resep dan cerita.

“Setiap kali kita berbagi makanan, kita membuat hubungan baru yang tidak akan pernah putus,” ujar Amira sambil memberikan kepada Rian sebuah buku kecil berisi resep tradisional Mesir beserta cerita di baliknya. “Ini adalah kontribusi kita untuk buku kalian—semoga cerita-cerita ini bisa menghubungkan lebih banyak orang di seluruh dunia.”

Saat pesawat mereka lepas landas dari Bandara Kairo, Rian, Rama, dan Siti duduk berdampingan, melihat ke luar jendela ke arah kota yang semakin jauh di bawahnya. Layar ponsel mereka masih penuh dengan pesan dari teman-teman baru di Mesir dan teman lama di seluruh dunia.

“Meksiko City menunggu kita,” kata Rian dengan senyum. “Siapa tahu cerita apa yang akan kita temukan di sana—tentang cacao yang dianggap sebagai makanan para dewa, atau jagung yang menjadi tulang punggung budaya mereka.”

Rama sedang melihat foto-foto yang telah dia ambil selama perjalanan—wajah-wajah yang penuh senyum, hidangan yang menggugah selera, dan pemandangan yang memukau. “Setiap gambar ini adalah bukti bahwa kita tidak sendirian di dunia ini,” katanya. “Kita semua terhubung melalui makanan, musik, dan cerita kita.”

Siti membuka buku catatannya yang semakin tebal, menulis beberapa kalimat terakhir tentang perjalanan di Mesir sebelum mulai merencanakan catatan untuk perjalanan berikutnya. “Cerita kita benar-benar tidak akan pernah berakhir,” bisiknya. “Setiap tempat yang kita kunjungi hanya membuat kita menyadari bahwa dunia ini lebih kecil dan lebih erat hubungannya daripada yang kita kira.”

Di layar ponsel mereka, sebuah pesan baru muncul dari penerbit di Meksiko: “Kita telah mulai menyiapkan acara untuk kedatangan kalian. Ada sebuah keluarga yang telah membuat coklat tradisional selama lima generasi—mereka sangat ingin berbagi cerita mereka dengan kalian semua.”

Tanpa berpikir dua kali, Rian mengetik balasan yang telah menjadi bagian dari identitas mereka: “Kita tidak sabar untuk mulai cerita baru ini bersama kalian.”

1
Sri Peni
thanks cerita edukasinya🙏🙏
Sri Peni
bikin yg bc puyeng serasa dipaksa sehinhha logika
Sri Peni
kok lila sm siti umurnya berubah jd terpaut 1 thn. inicerita hsl fc ya
Sri Peni
logika itu hrs jg dipakai wl hny cerita. sang tokoh lila kok jaraknya dgn adiknya terpauh 7th
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!