NovelToon NovelToon
Gema Di Langit Verona

Gema Di Langit Verona

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / Duniahiburan / Mafia / Cintapertama
Popularitas:112
Nilai: 5
Nama Author: SHEENA My

Sepuluh tahun yang lalu, sebuah ledakan di tepi Sungai Adige menghancurkan kejayaan keluarga Moretti dan meninggalkan Elena Moretti sebagai satu-satunya pewaris yang menanggung noda pengkhianatan. Kini, Elena kembali ke Verona bukan untuk menuntut warisan, melainkan untuk mengubur masa lalunya selamanya.
​Namun, Verona tidak pernah melupakan.
​Langkah Elena terhenti oleh Matteo Valenti, pria yang kini merajai langit Verona. Matteo bukan lagi pemuda yang dulu pernah memberikan mawar di balkon rumahnya; ia telah berubah menjadi sosok berdarah dingin yang memimpin bisnis gelap di balik kemegahan kota kuno itu. Bagi Matteo, kembalinya Elena adalah kesempatan untuk menuntaskan dendam keluarganya.
​Elena dipaksa masuk ke dalam kehidupan Matteo—sebuah dunia yang penuh dengan aturan tanpa ampun, pertemuan rahasia di gedung opera, dan darah yang tumpah di atas batu jalanan yang licin. Namun, saat "gema" dari masa lalu mulai mengungkap kebenaran yang berbeda tentang kematian orang tua mereka,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHEENA My, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Detak Jantung di Bawah Kubah San Pietro

​BAB 17: Detak Jantung di Bawah Kubah San Pietro

​Suara baku tembak di aula atas gereja terdengar meredup, teredam oleh dinding batu tebal ruang bawah tanah tempat Donato sedang menjahit luka Matteo. Elena berdiri di dekat pintu kayu berat, tangannya masih menggenggam Beretta, namun matanya tak lepas dari wajah Matteo yang pucat.

​Donato akhirnya mengikat perban terakhir dan menghela napas panjang. "Pelurunya tidak mengenai organ vital, tapi dia kehilangan banyak cairan. Dia butuh istirahat total, Elena. Jika dia dipaksa bergerak lagi dalam dua jam ke depan, jahitannya akan robek."

​Donato kemudian naik ke atas untuk membantu Luca mengamankan jalur pelarian, meninggalkan Elena berdua saja dengan Matteo di ruangan yang hanya diterangi cahaya lilin yang menari.

​Elena mendekat, menyimpan senjatanya di atas meja kayu tua. Ia duduk di pinggir tempat tidur darurat itu. Dalam keheningan yang mencekam, suara napas Matteo yang berat terasa sangat intim. Elena meraih sehelai kain basah dan dengan lembut menyeka keringat dingin di dahi Matteo.

​Tiba-tiba, tangan Matteo yang besar dan kasar menangkap jemari Elena. Pria itu membuka matanya perlahan, tatapannya yang biasanya tajam dan berbahaya kini tampak sayu dan penuh kerentanan.

​"Kau masih di sini?" bisik Matteo, suaranya parau.

​"Aku tidak akan pergi ke mana-mana, kau bodoh," Elena membalas dengan bisikan yang sama, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang.

​Matteo menarik tangan Elena, membawanya ke bibirnya dan mencium telapak tangan wanita itu dengan lembut. Sentuhan kumis tipis dan napas hangat Matteo di kulitnya membuat Elena merinding. Rasa takut akan kehilangan pria ini jauh lebih besar daripada rasa takutnya pada pasukan Roma di luar sana.

​"Elena... jika aku tidak berhasil keluar dari Venesia..."

​"Jangan berani-berani mengatakannya," Elena memotong, ia membungkuk, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Matteo. "Kau sudah menjagaku selama sepuluh tahun dari jauh. Sekarang giliranku menjagamu dari dekat."

​Matteo tersenyum lemah, tangannya naik untuk membelai pipi Elena, jemarinya menyelipkan anak rambut Elena ke belakang telinga. "Kau tahu... di malam pertama aku melihatmu di Verona setelah sepuluh tahun, aku ingin sekali memelukmu dan mengatakan semuanya. Tapi aku harus berperan sebagai monster agar kau tetap hidup."

​"Kau aktor yang buruk, Matteo," Elena berbisik, bibirnya kini nyaris menyentuh bibir Matteo. "Karena hatimu selalu mengkhianatimu setiap kali kau menatapku."

​Matteo menarik tengkuk Elena pelan, menghapus jarak di antara mereka. Mereka berciuman di tengah remang cahaya lilin—sebuah ciuman yang terasa seperti campuran antara rasa sakit, kerinduan, dan janji yang tak terucapkan. Di ruangan bawah tanah yang dingin itu, hanya ada kehangatan dari tubuh mereka yang saling mendekap.

​Matteo melepaskan ciumannya sejenak, menatap mata Elena dengan dalam. "Aku mencintaimu, Elena Moretti. Bukan sebagai Moretti terakhir, tapi sebagai wanita yang membuatku ingin berhenti menjadi seorang Valenti."

​Elena menyandarkan dahinya ke dahi Matteo, memejamkan mata sambil menghirup aroma maskulin Matteo yang bercampur bau antiseptik. "Dan aku mencintaimu, Matteo Valenti. Si pencuri yang mencuri hatiku sebelum aku sempat membencinya."

​Momen mesra itu pecah saat suara ledakan besar terdengar dari atas. Debu jatuh dari langit-langit gereja. Luca berteriak dari tangga, "Signorina! Mereka menggunakan granat! Kita harus pindah ke terowongan bawah air sekarang!"

​Matteo mencoba bangun, meringis kesakitan, namun Elena dengan sigap memapahnya. Matteo melingkarkan lengannya di bahu Elena, menarik wanita itu rapat ke tubuhnya. Walaupun luka fisiknya sangat sakit, berada sedekat itu dengan Elena memberinya kekuatan yang tidak masuk akal.

​"Siap untuk berdansa di bawah kanal, Bellissima?" bisik Matteo di telinga Elena, memberikan satu kecupan singkat di pelipisnya sebelum mereka memasuki kegelapan terowongan.

​Elena tersenyum, mengokang senjatanya. "Selama kau yang memimpin dansanya, Matteo."

​Air kanal yang merembes melalui celah-celah dinding terowongan bawah tanah gereja San Pietro terasa sedingin es. Elena memapah Matteo, satu tangannya melingkar kuat di pinggang pria itu, sementara tangan lainnya memegang senter yang sinarnya membelah kegelapan yang lembap. Luca berada di depan, bergerak dengan waspada sambil memegang senapan serbu.

​"Tahan sebentar lagi, Matteo," bisik Elena. Ia merasakan tubuh Matteo menggigil, namun pria itu tetap memaksakan kakinya melangkah.

​Di lorong yang sempit itu, wajah mereka seringkali bersentuhan. Setiap kali Matteo kehilangan keseimbangan, Elena akan menariknya lebih rapat, membiarkan napas Matteo yang memburu terasa di lehernya. Dalam kondisi terjepit seperti ini, ada sebuah keintiman yang aneh—seolah dunia hanya terdiri dari mereka berdua di bawah tekanan ribuan ton air Venesia.

​"Elena..." Matteo berhenti sejenak, bersandar pada dinding yang berlumut. Cahaya senter Elena menangkap butiran keringat di wajahnya. "Jika kita sampai di L'Orologio di Pietra... kau harus tahu sesuatu."

​"Bicara nanti saja, simpan tenagamu," Elena mencoba menariknya lagi.

​Tapi Matteo menahan tangan Elena. Ia menarik Elena mendekat hingga tubuh mereka menempel sepenuhnya di ruang sempit itu. Di tengah kegelapan dan suara air yang menetes, Matteo menatap Elena dengan tatapan yang sangat dalam. "Aku sudah memindahkan aset pribadiku atas namamu. Semuanya. Jika terjadi sesuatu padaku di Roma nanti... kau bukan lagi Moretti yang kehilangan segalanya. Kau akan memiliki kekuatan untuk menghancurkan mereka semua."

​Elena menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Aku tidak butuh hartamu, Matteo. Aku butuh kau tetap hidup untuk melihat ibu kembali ke rumah yang sebenarnya."

​Matteo tersenyum lemah, ia mencondongkan tubuhnya dan mencium dahi Elena dengan lembut dan lama. "Kau adalah rumahku, Elena. Ke mana pun kau pergi, aku sudah pulang."

​Momen itu terputus saat Luca memberikan sinyal cahaya dari depan. "Signorina, kita sampai. Pintu airnya ada di sini."

​Di depan mereka terdapat sebuah pintu besi bundar yang sudah berkarat, setengah terendam air. Elena mengeluarkan liontin kuncinya. Ia baru menyadari bahwa bentuk ujung kunci itu sangat spesifik, cocok dengan lubang di tengah pintu besi tersebut.

​Klik.

​Pintu itu terbuka dengan suara decitan logam yang berat. Di dalamnya bukan sekadar ruangan, melainkan sebuah ruang kerja bawah air yang sangat canggih—kantor rahasia ayah Elena yang selama ini dianggap legenda. Ruangan itu kedap air dan memiliki oksigen sendiri. Di tengah ruangan, terdapat sebuah jam mekanik raksasa dari batu yang terus berdetak meskipun sudah puluhan tahun ditinggalkan.

​"Ini dia... L'Orologio di Pietra," bisik Elena takjub.

​Namun, kejutan sebenarnya bukan pada jamnya. Di atas meja kerja, terdapat sebuah bingkai foto tua. Foto Marcella, Elena kecil, dan seorang pria lain yang bukan ayah Elena, melainkan... ayah Matteo. Mereka tampak sedang tertawa bersama dalam sebuah pesta kebun.

​"Keluarga kita... mereka dulu lebih dari sekadar sekutu?" tanya Elena sambil mengambil foto itu.

​Matteo mendekat, ia tampak terpukul melihat foto itu. "Ayahku dan ayahmu... mereka mencoba menghancurkan Dewan Tujuh sejak sepuluh tahun lalu. Itulah sebabnya mereka berdua harus dilenyapkan. Perseteruan Valenti dan Moretti... itu semua adalah sandiwara yang diciptakan oleh Isabella dan Pietro untuk menutupi jejak persahabatan ayah kita."

​Tiba-tiba, monitor di ruangan itu menyala secara otomatis. Sebuah sistem pengenal wajah mendeteksi kehadiran Elena.

​"Selamat datang kembali, Elena," suara rekaman ayahnya menggema di ruangan itu. "Jika kau mendengar ini, berarti kau sudah cukup besar dan cukup berani. Rahasia yang sebenarnya bukan pada apa yang mereka ambil dari kita, tapi pada apa yang mereka takutkan dari persatuan kita."

​Layar menampilkan sebuah peta lokasi. Bukan di Roma, melainkan sebuah pulau pribadi di lepas pantai Venesia yang merupakan markas pertemuan rahasia Dewan Tujuh yang akan diadakan besok malam.

​"Mereka semua akan ada di sana," ucap Matteo, tangannya menggenggam tangan Elena erat. "Seluruh anggota Dewan Tujuh."

​Elena menoleh ke Matteo, ia menarik kerah kemeja Matteo dan menciumnya dengan penuh gairah—sebuah ciuman yang menjadi simbol bahwa persatuan mereka adalah senjata yang paling ditakuti musuh.

​"Malam ini kita istirahat di sini," Elena berbisik di bibir Matteo. "Besok, kita akan membuat mereka menyesal pernah menyentuh keluarga kita."

​Di dalam ruangan bawah air yang sunyi dan aman itu, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Elena dan Matteo merasa mereka memiliki sedikit waktu untuk menjadi diri mereka sendiri, sebelum badai terakhir melanda.

1
May Tales
waw
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!