"Gue tiba-tiba PMS setiap ngeliat lo. Hormon gue jadi gak terkendali," ucap Chilla.
Karena sebuah tragedi berdarah pada masa pengenalan lingkungan sekolah, Achilla jadi sangat membeci Arnas dan menyukai Jonas yang notabenenya saudara kembar. Hormonnya seketika kacau balau saat melihat Arnas, dan berbunga-bunga bila di dekat Jonas. Namun sebuah ide menghampiri Chilla, sebuah ide untuk memanfaatkan Arnas mendekati Jonas.
Maka dengan sebuah kesepakatan, Arnas dan Chilla berkomplot melakukan banyak usaha pendekatan. Perlahan mereka mulai akrab meski pertengkaran tetap tak terelakan. Hingga Arnas menjadi tempat favorit Chilla untuk singgah dalam segala kesulitannya.
Akankah pada akhirnya Chilla lebih memilih menetap di tempat favoritnya? Atau ia tetap konsisten menuju tempat tujuannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @l_uci_ous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 : Es Krim
Arnas melihat mobil ayahnya sudah terpakir rapi di pelataran rumah. Ia menghela napas dalam. Baru beberapa saat yang lalu ia merasa bahagia. Tapi saat tiba di rumah, menatap bangunan itu juga kendaraan yang menghiasinya, gembira itu seolah luruh. Rumah yang seyogianya menjadi tempat ternyaman setelah sehari berlarian, malah membuatnya tertekan.
Arnas melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, tepat ketika pintu mobil Ayah menjeblak terbuka. Kembali perjalanan Arnas ditunda. Ia dan ayahnya itu pun bertatap mata.
"Baru pulang?" tanya Ayah. Ada beberapa kantung plastik menggantung di ujung jari tangannya.
Mengangguk Arnas, menjawab tanya Ayah.
"Ayah bawa apa? Martabak?" Arnas mendekat.
"Buku."
Sudah ku-guess.
Ayah mengulurkan kantung-kantung plastik itu pada Arnas yang menerimanya ogah-ogahan dengan tangan kirinya. Ia terkejut dengan beratnya yang tak main-main. "Buat Jonas latihan soal olimpiade. Ayah dengar dia lolos seleksi."
Alhamdulilah. Senang sekali Arnas bahwa hanya Jonas yang akan menerima segambreng buku berat itu.
"Sama ada buku SBMPTN buat kamu. Ayah beliin yang Soshum."
Arnas melongo. "Yah, aku baru kelas sepuluh," ia mengungatkan.
"Terus kenapa? Lebih cepat memulai kan lebih baik."
Lebih baik? Lebih pusing yang ada pala gue, ****, Arnas menggerutu dalam hati.
"Tapi kamu dari mana sebenernya jam segini baru pulang? Udah mau magrib."
"Dari main basket," jawab Arnas asal.
"Buang-buang waktu. Mending kamu belajar. Nilai matematika kamu semester kemaren kan hancur, kamu lupa? Seharusnya kamu contoh Jonas. Belajar, gak main-main terus. Mau jadi apa kamu? Sampah?"
Ayah berlalu meninggalkan Arnas yang terpaku. Darahnya menggelegak. Emosinya naik ke ubun-ubun.
Jonas terus. Belajar terus. Dan siapa yang sampah? Ayahnya lupa berkaca?
Arnas mengepalkan tangannya kuat-kuat. Lalu secara mendadak mengempaskan kantung plastik di tangannya ke lantai dengan kencang, lantas menendangnya ke bawah mobil.
Bunyi yang timbul membuat Ayah kembali berbalik. Untuk sejenak beliau tercengang. Baru saja beliau membuka mulut hendak bicara, Arnas sudah berlalu. Meninggalkan ayahnya berteriak-teriak memanggilnya dengan marah.
Persetan, pikir Arnas. Ia mulai muak dibandingkan dengan Jonas. Ia dan Jonas itu memang kembar, tapi mereka dua individu berbeda. Dua otak. Dua pribadi yang berlainan. Selain itu, ia juga tak mau seperti Jonas yang menjadi boneka ayahnya. Ia tak mau menjadi alat untuk ayahnya mewujudkan ego yang tak mampi diwujudkannya sendiri.
Bila hidup ayahnya gagal dan dia tak bisa secemerlang saudaranya yang lain, itu bukan sama sekali kewajibannya untuk memenuhi ketidakpuasaan ayahnya. Ini hidupnya, bukan hidup ayahnya. Ia akan melakukan apa yang dia suka, ayahnya sama sekali tak berhak ikut campur.
ΔΔΔ
Chilla keluar dari minimarket dengan menjinjing kantong plastik yang disesaki lima es krim—selain dari yang sedang dinikmatinya—berbagai rasa dan merk, lima roti isi coklat, dua pak stik salut coklat, setengah lusin coklat telur, dua bungkus keripik kentang, dua wafer coklat dan stroberi bungkus besar, sebotol soda ukuran sedang, dan seabrek jajanan tinggi gula lainnya. Ia berjalan santai, menikmati udara segar dan jalan sepi komplek. Namun seketika ia menjadi waspada saat melihat sosok yang dikenalnya berjalan cepat dikejauhan. Ia pun memicingkan matanya, mengikuti sosok itu menghilang ditelan sederet tumbuhan yang memagari taman bermain kecil yang minim pengunjung.
Maka ia pun melangkah lebih cepat, menggoyangkan rambutnya yang diikat ekor kuda ke kiri dan ke kanan. Kantong belanjaannya pun berkeresek terlempar ke depan dan ke belakang.
Chilla berbelok, memasuki taman yang hening. Seingatnya ia belum pernah memasuki area ini setelah bertahun-tahun tinggal di sini. Ia betul-betul anak rumahan—anak yang dikurung di rumah lebih tepatnya.
Jelaslah kenapa taman itu sepi. Penampilannya sungguh menyedihkan. Wanaha-wahana sederhana seperti ayunan dan jungkat-jungkitnya sudah berkarat. Bahkan salah satu ayunan yang dimainkan orang yang diikutinya menjerit protes. Mungkin kurang oli.
Makin jauh Chilla melangkah, sosok berseragam SMA lengkap dengan ransel yang masih tersampir di kedua bahunya itu menoleh, kakinya pun berhenti mengayun.
Keduanya hanya saling memandangi hingga Chilla menempatkan dirinya di ayunan yang tersisa.
"Ngapain lo di sini?" tanya Chilla.
"Lo ngapain?" Arnas balik bertanya.
"Gue abis belanja, terus lihat lo, belok ke sini. Kan gue penasaran ngapain lo ke sini udah mau magrib gini," Chilla mengalah dengan menjawab lebih dahulu. Kemudian ia menyimpan stik es krim yang sudah bersih ke dalam kantung hoodie-nya. "Lo?"
"Cuma... cari angin."
"Angin di cari," cibir Chilla.
"Gue dipenasarin," Arnas ikut mencibir. Memperolok alasan Chilla berada di sana.
Ia mengambil es krim baru dan mulai menikmatinya. "Lo mau?" Chilla mengoper belanjaannya ke arah Arnas.
Arnas menerimanya dan mengambil sebotol soda dari dasar kantong plastik.
"Buset." Arnas meletakan plastik itu ke tanah, di antar dirinya dan Chilla. "Terjawab sih kenapa lo bantet banget," ujarnya santai, seraya membuka botol dengan satu tangan kirinya.
"Apa lo bilang?" Chilla menoleh dengan mendadak.
Arnas menyesap sodanya sepertiga botol sebelum berkata santai, "Bantet."
"Eh tinggi gue 155 cm, berat 48 kg. Itu cukup ideal," balas Chilla pedas.
Arnas menggeser ayunannya ke arah Chilla. Diletakannya minumannya kembali ke dalam plastik sebelum meraih wajah Chilla dan menekan kedua belah pipinya dengan satu tangan kiri.
"Terus kenapa pipi ini kayak bapao kalo berat lo ideal?"
"Ciri khas." Chilla menepis tangan Arnas. "Biar orang gemes, kayak lo gini."
"Dih!" Arnas bergidik. Ia pun membiarkan ayunan membawanya kembali ke tempat seharusnya. Dengan ujung jari kakinya ia mendorong ayunan pelan.
"Kalo lo gak gemes kenapa pegang-pegang?" Chilla memandang Arnas yang sudah menjauh itu. "Atau lo memang mesum?"
"Heh!" bentak Arnas, membuat Chilla tertawa.
Ia memperhatikan Arnas yang tampaknya baik-baik saja. Syukurlah. Ia sudah khawatir laki-laki itu akan tewas. Sebab betul-betul akan merepotkan untuk menjelasnya pada orang-orang yang berkepentingan.
"Gue lihat lo masih utuh," Chilla menyuarakan pikirannya. Memandang Arnas dari kepala sampai kaki. "Kirain bakal ada yang hilang-hilang dikit dari badan lo abis di kejar segerombolan barbarian."
"Kan gue udah bilang gue jago melarikan diri. Lo aja yang kelewat khawatir."
"Gue khawatir karena kalo lo mati gue yang repot harus ngejelasin."
"Enteng banget mulut lo bilang gue mati." Sekali lagi Arnas meraih botol soda dengan tangan kiri. Menyesapnya hingga tinggal setengah dan meletakkannya lagi.
"Tapi sebenarnya lo punya masalah apa sih sama mereka?" Chilla mengabaikan keluhan Arnas.
"Gue gak punya masalah sama mereka."
"Terus kenapa mereka ngejar-ngejar lo kayak punya dendam kesumat gitu? Ish..." Chilla bergidik, menggigit cone es krimnya, "udah kayak gengster mereka itu, padahal masih sekolah juga."
"Mereka yang punya masalah sama gue. Cuma gara-gara gue bikin gagal mereka malak cewek, dua kali."
Chilla menatap Arnas yang sedang asik berayun pelan. Laki-laki itu kelihatan santai, seolah menyelamatkan orang dua kali hingga ia mendapat musuh adalah hal biasa yang tak patut dibanggakan, padahal menurut Chilla itu keren. Ia sama sekali tak mengira bahwa Arnas si sosok menyebalkan bisa berubah menjadi sosok yang mengagumkan dengan caranya sendiri, cara yang berbeda dengan Jonas.
"Lo—" Arnas menoleh, mendapati Chilla yang tengah memandanginya, membuatnya berhenti berucap dan ganti terkekeh.
"Jangan ngeliatin gitu banget, nanti suka lagi," goda Arnas.
Kalimat itu membuat Chilla memalingkan wajah, tersipu. Tertangkap menatap lekat lawan jenis itu memang selalu berakhir memalukan. Walau bukan sama sekali ada unsur romansa. Tetap saja....
"Kasihan nanti Jonas kehilangan bucin number one-nya."
Chilla menelan potongan terakhir cone es krimnya sebelum kembali memandang Arnas. Ekspresinya sekarang menantang.
"Eh gue ngeliatin lo karena gue perhatiin kepala lo menggelembung."
"Mana ada," bantah Arnas.
Chilla bergerak mendekati Arnas bersama ayunannya. Meraih tangan kanan Arnas dan mengangkatnya ke arah kepala laki-laki itu.
"A—a—aw!" jerit Arnas, membuat Chilla menghentikan gerakkannya di tengah jalan.
"Tangan gue sakit," Arnas mendesis.
Brukk!
Chilla menjatuhkan tangan Arnas begitu saja karena terkejut. Siapa coba yang tidak terkejut jika melihat wajah pucat berhias ekspresi ngeri Arnas ketika mengatakan tangannya sakit, seolah ia sekarat. Jelaslah sekarang kenapa sejak tadi Arnas selalu menggunakan tangan kirinya.
Arnas menggertakan giginya. "Chil... la..."
"Sorry, sorry," ucap Chilla panik. Ia sudah mau membenarkan posisi tangan Arnas yang terkulai lemas, namun urung karena teriakan laki-laki itu.
"Jangan!"
"Oke, oke." Chilla menarik tangannya yang mengambang. Tampaknya Arnas paranoid terhadap jemarinya sekarang.
Netra Chilla berlarian antara wajah pias Arnas dan tangan laki-laki itu yang terbaring tanpa daya. Ingin membantu tapi tak terlalu yakin harus diapakan.
"Lo bilang lo tadi berhasil melarikan diri, terus kok ini tangan lo bisa jadi gini, gimana ceritanya?" tuntut Chilla.
"Gue nyungsep waktu manjat pagar pembatas komplek perumahan deket sana waktu kabur dari sampah-sampah itu."
"Jangan-jangan tangan lo patah lagi!"
Jika tangan Arnas patah bagaimana mereka mngerjakan tugas matematika yang bejibun itu? Ia tak rela mengerjakannya sendiri, bahkan bila ditemani Jonas sekalipun. Takutnya Arnas nanti malah ngelunjak.
"Lo doain tangan gue patah?"
"Enggak! Gue—"
"Tangan gue cuma keseleo doang," kata Arnas kalem.
"Terus kenapa gak diobatin?"
"Belum sempet," Arnas membalas, cuek.
Chilla diam sejenak. Memandangin tangan Arnas dengan was-was, masih kurang percaya jika hanya keseleo.
"Kenapa lo gak pulang aja, sih?"
Seraya menggertakan giginya, Arnas menggeser tangannya perlahan ke tengah pahanya.
"Kan udah gue bilang, gue lagi cari angin. Di rumah panas."
Chilla masih memperhatikan tangan Arnas. Ia tak punya pengalaman menghadapi orang keseleo. Jadi ia merasa agak tertarik dan prihatin di saat bersamaan.
"Sakit banget ya, Ar?"
"Lo cobain aja sendiri. Coba nyungsep dari atas ketinggian lebih dari dua meter."
"Ish... gue nanya serius juga."
"Sakit Chilla... Sakit banget, sampe rasanya gue mau mati aja."
Chilla mendelik. Susah memang mengajak Arnas bicara baik-baik. Arnas itu bawaannya sinis saja.
"Emang gak ada obat buat ngurangin rasa sakitnya gitu? Dikasih minyak kayu putih misalnya."
Tertawa Arnas. "Lo kira gue digigit nyamuk."
"Gue serius tahu, Ar, mau bantuin. Kasihan gue kayaknya sakit banget," ujar Chilla, memandang Arnas terluka.
Arnas balik memandang Chilla.
"Biasanya gue kompres pakek es," ujar Arnas sambil lalu. "Nanti di rum—"
Gerakan berisik Chilla yang tengah merogoh plastik belanjaannya menyela kata-kata Arnas.
Dengan sebuah es krim di tangannya, Chilla bertanya, "Bagian mana yang sakit?"
Sejenak Arnas memandang es krim di tangan Chilla, kelihatannya mempertimbangkan apakah tepat menempelkan es krim pada cederanya.
"Di sini." Arnas menunjuk sepanjang lengan bawahnya.
Pelan, berhati-hati sekali Chilla menempelkan es krim rasa mangga itu pada permukaan lengan Arnas, membuat laki-laki itu mendesah puas.
"Oke?" Chilla bertanya dan balas diangguki oleh Arnas.
Beberapa detik sekali Chilla memindahkan es krim yang mulai cair itu ke sedikit bagian lain dari lengan di hadapannya. Sampai cukup lama, hingga kakinya mulai lelah menahan ayunan agar tak bergerak dan menjauh.
Dan benar saja. Rantai ayunan Chilla mulai bergerak melerai diri hingga membuat Chilla hampir menjauh jika saja Arnas tak meraih satu rantai ayunan menggunakan tangannya yang sehat, menahannya.
Chilla menengadah, beradu pandang sekejap dengan sepasang iris kelabu gelap sebelum kembali pada pekerjaannya. Jarak wajah mereka begitu dekat. Dan entah hanya perasaannya atau memang adanya, pandangan Arnas terhadapnya agak berbeda kali ini. Seolah lebih lembut.
Menggelengkan kepalanya sedikit, Chilla mengenyahkan pikiran itu. Ia pasti salah lihat.
"Chilla?" panggil Arnas.
"Mm?"
"Gue aja sini yang ngompres." Arnas meminta es krim dari tangan Chilla.
"Biar gue aja." Chilla menepis tangan kanan Arnas yang tengadah. "Anggap aja bayaran karena lo udah ngajarin gue bolos hari ini."
Tertawa Arnas. "Jadi gimana reaksi kakak lo tahu adek kecilnya tersayang bolos sekolah?"
"Dia marah banget," ungkap Chilla. "Belum pernah gue lihat dia semarah itu. Banting es jeruk kelapa yang lo pesen itu—padahal dia sendiri yang ngepel lantai ujung-ujungnya karena Mbak udah pulang. Handphone gue aja hampir dibanting gara-gara gue gak bisa dihubungi. Terus dia ngunci gue dikamar—lupa kali kalo gue punya kunci cadangan. Dia bahkan ngancem buat laporin ke Papa. Masa bodolah."
"Terus lo bilang soal ekskul?" tanya Arnas, terdengar senang.
Chilla mengangguk. "Tapi dia masih keukeuh gak ngebolehin."
"Jadi?"
Chilla mengangkat wajahnya. "Jadi gue bakal bolos lagi sampe dia nyerah. Sekarang gue sama dia lagi adu ke-keukeuh-an."
Ternyata Chilla tak salah lihat. Cara Arnas memandangnya memang lain. Membuatnya tak nyaman.
"Ar?"
"Apa?"
"Jangan ngeliatin gue kayak gitu. Ngeri."
Arnas mengernyit. "Kayak mana?"
"Kayak gitu." Chilla menunjuk di antara mata Arnas. "Kayak lo suka sama gue."
"Dih!" bantah Arnas tak terima. "Halu lo!"
ΔΔΔ
S2 yuk kak....
kenapa baru sekarang nemunya....
sungguh