"Di kantor kita adalah rekan kerja, di rumah kita adalah orang asing, dan di ranjang... kita hanyalah dua raga yang tak punya jiwa."
Alsava Emily Claretta punya segalanya: jabatan tinggi sebagai COO Skyline Group, kecantikan yang memabukkan, dan status sebagai istri dari Garvi Darwin—sang "Dewa Yunani" sekaligus CEO perusahaan tempat ia bekerja. Namun, di balik kemewahan mansion Darwin, Sava hanyalah seorang wanita yang terkurung dalam kesepian.
Saat Garvi sibuk menjelajahi dunianya, Sava melarikan penatnya ke lantai dansa nightclub. Ia mengira hubungan mereka akan selamanya seperti itu—dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Hingga suatu saat, rasa jenuh itu memuncak.
"Aku butuh hiburan, Win. Butuh kebebasan," ucap Sava.
Sava tidak tahu bahwa setiap langkahnya selalu dipantau oleh mata tajam Garvi dari kejauhan. Garvi tak ingin melepaskannya, namun ia juga tak berhenti menyakitinya. Saat satu kata perceraian terucap—permainan kekuasaan pun dimulai. Siapa yang akan lebih dulu berlutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Matahari pagi Kota Medan baru saja menyentuh puncak gedung Skyline Group yang berkilau perak, namun di dalam ruangan COO, suasananya jauh lebih dingin dari kutub mana pun. Bau kopi hitam yang pekat menguar, berusaha menutupi aroma ketegangan yang memenuhi setiap sudut ruangan.
Sava duduk di kursi kebesarannya yang terbuat dari kulit Italia, tubuhnya yang tinggi semampai tampak tegak meskipun keletihan jelas terpahat di wajah cantiknya yang mempesona. Rambut brunette curly-nya tersampir di bahu, membingkai sepasang mata yang kini setajam belati.
Di depannya, Roy dan Winata berdiri tegak bak prajurit yang siap menerima titah.
"Lupakan basa-basi," suara Sava memecah keheningan, rendah namun penuh otoritas. "Roy, katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi di jalanan. Jangan kurangi satu detail pun."
Roy berdehem, ia membuka sebuah map berisi foto-foto lokasi kejadian yang tampak mengerikan.
"Ini bukan kecelakaan biasa, Miss Sava. Setelah tim forensik internal kita memeriksa bangkai Bentley milik Mr. Garvi, kami menemukan sesuatu yang sangat spesifik. Ban belakang sebelah kiri pecah bukan karena gesekan aspal, tapi karena peluru kaliber 7.62mm."
Sava menyipitkan mata. "Penembak jitu?"
"Tepat, Miss. Tembakannya sangat akurat. Membuat mobil oleng seketika. Dan berdasarkan rekaman dashcam mobil yang sempat kami selamatkan, sebuah truk tanpa plat nomor menabrak sisi kanan mobil Tuan dari arah berlawanan, mendorongnya tepat ke arah bibir jurang," Roy menjeda, napasnya terdengar berat. "Tuan Muda menyetir sendiri dalam keadaan emosional setelah mencari Anda semalaman dan menerima pesan provokasi dari Shila. Konsentrasinya pecah, dan itulah yang mereka manfaatkan."
"Siapa pelakunya?" desis Sava, jemarinya mengepal di bawah meja hingga buku jarinya memutih.
"Analisis kami mengarah pada satu nama, Miss. Sosok dari masa lalu Tuan Muda saat beliau masih menempuh pendidikan di Swiss. Seorang pria bernama Victor Lindholm. Dia baru tiba dari Swedia seminggu yang lalu. Victor menyimpan dendam lama—masalah perebutan kekuasaan di organisasi mahasiswa elit dan beberapa kontrak bisnis di Eropa yang digagalkan oleh Mr. Garvi sepuluh tahun lalu."
Sava menyandarkan punggungnya, sebuah tawa getir lolos dari bibirnya. "Jadi, Mas Garvi dikejar oleh hantu masa lalunya di saat dia sedang mencoba mengejarku? Ironis."
Sava kemudian mengalihkan tatapannya yang menghunus kepada Winata. Sahabatnya itu tampak memegang tablet dengan wajah yang menunjukkan rasa tidak nyaman.
"Wina, bagaimana dengan perempuan itu?" tanya Sava.
Winata menarik napas panjang. "Shila... dia adalah definisi dari obsesi yang sakit, Miss Sava. Dia bukan mantan kekasih yang resmi. Dia hanyalah perempuan yang dulu terus mengejar Mr. Garvi di Swiss. Mr. Garvi pernah menolongnya saat Shila terlibat masalah hukum di sana, dan sejak itu, dia menganggap dirinya adalah milik Mr. Garvi."
"Dan kehamilannya?"
"Untuk rekam medis, Shila sudah tiga kali melakukan aborsi di klinik ilegal di Swiss dalam lima tahun terakhir. Dia adalah pemain, Sava. Dia tidur dengan banyak pria untuk mempertahankan gaya hidup mewahnya," Winata ragu sejenak sebelum melanjutkan. "Untuk kehamilannya kali ini... memang benar dia sedang mengandung dua bulan. Tapi untuk siapa ayah biologisnya, itu masih menjadi misteri besar. Shila tercatat berhubungan dengan tiga pria berbeda dalam waktu yang berdekatan."
Winata menjeda lagi, matanya menatap Sava dengan sorot yang penuh simpati.
"Dan... aku sudah melakukan apa yang kamu perintahkan semalam."
Sava menaikkan sebelah alisnya. "Lanjutkan."
"Aku sudah mengambil sampel DNA Mr. Garvi dari bank darah rumah sakit dan mengirimkannya ke laboratorium untuk dicocokkan dengan sampel Shila. Kita butuh waktu untuk hasilnya, tapi..." Winata menggantungkan kalimatnya, seolah ada duri yang mengganjal di tenggorokannya.
"Tapi apa, Wina? Katakan saja. Aku sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Apakah aku akan diceraikan oleh suami yang koma, atau dikhianati oleh suami yang punya anak dari wanita lain, aku sudah tidak peduli," ucap Sava dengan suara yang bergetar namun tetap teguh.
"Aku juga menyuruh tim IT untuk melacak pesan ancaman yang masuk ke ponsel Mr. Garvi semalam. Pesan itu... berasal dari nomor yang sama dengan orang yang menyewa truk untuk menabrak mobil Tuan Muda. Sepertinya, Shila dan Victor bekerja sama. Shila bertugas memecah fokus emosional Mr. Garvi, dan Victor melakukan eksekusi fisiknya."
Sava terdiam. Ia merasa seperti berada di tengah jaring laba-laba yang sangat besar.
"Mereka ingin menghancurkan Skyline Group dengan melenyapkan puncaknya. Sangat klasik."
Sava bangkit dari kursinya, berjalan menuju jendela kaca besar yang menghadap langsung ke hamparan gedung-gedung di Medan. Dari ketinggian ini, manusia di bawah sana tampak seperti semut.
"Roy, Winata, dengarkan aku baik-baik," ucap Sava tanpa berbalik. "Pastikan Victor Lindholm tidak meninggalkan Indonesia. Gunakan segala cara, legal maupun ilegal. Aku ingin dia merasakan apa yang Garvi rasakan di dasar jurang itu. Dan untuk Shila... awasi dia. Jangan biarkan dia mendekati rumah sakit satu inci pun. Jika dia mencoba berulah di media, hancurkan dia dengan catatan aborsinya."
"Baik, Miss Sava," sahut keduanya serempak.
"Satu lagi," tambah Sava, suaranya kini kembali dingin. "Mr. Garvi menerima pesan ancaman baru di rumah sakit semalam. Seseorang tahu dia selamat. Itu artinya, ada pengkhianat di dalam tim keamanan kita atau di lingkungan rumah sakit. Roy, bersihkan timmu. Aku tidak butuh anjing yang menggigit tangan tuannya sendiri."
Roy menunduk dalam, wajahnya memerah karena malu dan marah. "Akan saya laksanakan, Miss."
Setelah Roy dan Winata pamit pergi, keheningan kembali merajai ruangan itu. Begitu pintu tertutup rapat, seluruh kekuatan yang Sava bangun sejak tadi seolah menguap.
Sava membanting punggungnya di sandaran kursi kulitnya. Ia menutup mata, membiarkan kepalanya bersandar pada sandaran kursi yang dingin. Beban seberat gunung seolah menghimpit dadanya. Ia ingin berteriak, ia ingin lari kembali ke pantai yang sunyi itu, namun ia tidak bisa. Ia adalah COO Skyline Group. Ia adalah benteng terakhir bagi suaminya yang masih berjuang antara hidup dan mati.
"Kamu benar-benar pria manipulatif, Garvi," gumam Sava pada ruangan yang kosong. "Bahkan saat kamu sedang tidak sadar, kamu masih saja memberiku beban seberat ini."
**
Hujan deras yang mengguyur Kota Medan sejak sore tadi kini menyisakan aroma tanah basah dan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Di lantai VVIP yang sunyi, hanya suara detak jarum jam dinding dan bunyi ritmik mesin electrocardiogram (EKG) yang menemani Alsava.
Sava menghela napas panjang, sebuah helaan yang sarat akan beban yang tak kasat mata. Seharian ini, energinya terkuras habis. Ia harus memimpin rapat darurat, menenangkan investor yang mulai curiga, hingga memalsukan tanda tangan digital Garvi demi kelancaran proyek pelabuhan di Belawan.
Tubuhnya yang tinggi semampai kini terasa remuk. Dengan gerakan lemas, ia merebahkan diri di ranjang fasilitas keluarga yang terletak persis di samping ranjang Garvi. Ia melepaskan blazer hitamnya, menyisakan blus sutra yang membungkus siluet tubuhnya yang body goals. Rambut brunette curly-nya yang biasanya tertata rapi kini berantakan, tersebar di atas bantal putih rumah sakit.
Sava memposisikan tubuhnya menyamping, menghadap ke arah Garvi. Dalam temaram lampu tidur yang kuning redup, wajah Garvi Darwin tampak sangat tenang—jauh berbeda dengan Garvi yang biasanya penuh tipu daya dan aura dominan. Pria itu tampak seperti dewa Yunani yang sedang tertidur di tengah reruntuhan perangnya sendiri.
"Seberapa banyak lagi yang kamu sembunyikan dariku, Mas?" bisik Sava parau. Suaranya pecah di tengah keheningan malam.
Matanya menatap lekat selang infus yang menusuk kulit pucat tangan Garvi. "Kenapa aku harus menanggung semua beban ini sendirian? Kamu yang bermain api dengan masa lalumu, tapi kenapa aku yang harus terbakar?"
Ada rasa sakit yang mencubit ulu hatinya. Di satu sisi, ia membenci pria ini karena sikap posesifnya yang gila kontrol, namun di sisi lain, melihat Garvi tak berdaya seperti ini menciptakan lubang hampa di jiwanya. Perasaan "cinta seiring waktu" itu tumbuh di tempat yang salah, di tengah badai manipulasi yang mereka bangun sendiri.
Tepat saat mata Sava mulai memberat karena kantuk yang luar biasa, ponsel pribadinya di atas nakas bergetar hebat. Layarnya menyala terang, menampilkan nama 'Roy'.
Sava tersentak bangkit. Firasatnya memburuk. Ia segera menekan tombol hijau.
"Ya, Roy? Ada apa malam-malam begini?"
"Gawat! Nyonya Muda!" Suara Roy di seberang sana terdengar panik, sesuatu yang sangat jarang terjadi pada asisten kepercayaan yang biasanya setenang batu karang itu.
"Foto Tuan Muda yang sedang kritis di ICU bocor ke publik! Akun gosip bisnis terbesar di Medan baru saja mengunggahnya sepuluh menit yang lalu."
Darah Sava seolah berhenti mengalir. Ia merasa dunianya berputar. "Apa?! Bagaimana bisa?! Aku sudah memerintahkan keamanan ketat di lantai ini!"
"Saya sedang menyelidikinya, Nyonya Muda. Tapi dampaknya luar biasa cepat. Berita itu menyebar seperti api di tengah bensin. Sekarang, grup WhatsApp dewan direksi Skyline Group sedang meledak. Mereka menuntut kejelasan pagi ini juga. Dan yang paling parah... saham Skyline di bursa efek luar negeri baru saja anjlok 15 persen dalam pembukaan sesi malam ini."
Sava bangkit dari ranjangnya, berdiri tegak meskipun kakinya terasa gemetar. Ia berjalan menuju jendela kaca besar yang menghadap kerlap-kerlip lampu Kota Medan. Di luar sana, predator-predator bisnis pasti sedang bersiap untuk mengoyak Skyline Group.
"Roy, dengarkan aku," perintah Sava, suaranya kembali ke mode COO yang dingin dan tegas. "Selidiki siapa yang mengambil foto itu. Cek semua CCTV lorong dan staf medis yang bertugas dalam tiga jam terakhir. Dan satu lagi... cari tahu apakah ada hubungannya dengan pesan ancaman yang masuk ke ponsel Garvi semalam."
"Baik, Nyonya Muda. Saya akan segera melakukannya."
"Pastikan juga Winata menyiapkan press release resmi. Katakan bahwa foto itu hoax atau foto lama saat Mr. Garvi melakukan medical check-up. Kita harus menunda kepanikan ini setidaknya sampai bursa pagi dibuka," tambah Sava sebelum memutus sambungan telepon.
Sava membuang napas kasar, melempar ponselnya kembali ke ranjang. Ia menyugar rambutnya dengan frustrasi. Lagi dan lagi, ia dipaksa berdiri di tepi jurang. Hidupnya bersama Garvi tidak pernah benar-benar aman; itu adalah tarian di atas benang tipis.
Ia kembali menatap Garvi. Kemarahan mulai merayap di hatinya.
"Bangun, Mas! Bangun dan lihat kekacauan yang kamu buat!" desisnya, kali ini dengan nada yang lebih tajam. "Jangan biarkan aku jatuh sendirian ke dalam jurang ini. Jika kamu ingin aku tetap menjadi istrimu, maka berjuanglah untuk kembali!"
Sava menyadari satu hal: kebocoran foto ini bukan kecelakaan. Ini adalah serangan terencana. Seseorang ingin melihatnya bertekuk lutut, seseorang ingin melihat Skyline Group hancur berkeping-keping.
***