NovelToon NovelToon
Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:25.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Linda manik

Seorang istri yang dijadikan hanya sebagai pemuas nafsu oleh suaminya. Dia adalah Sinta seorang mahasiswa di sebuah universitas swasta. Kesulitan ekonomi membuat dia menjadi istri simpanan
dosennya.

Hingga Sinta hamil, suaminya menolak kehamilan Sinta dan menceraikannya di saat Sinta hamil muda.

Sinta tetap mempertahankan kehamilannya. Dengan perut membuncit, Sinta harus bekerja dan kuliah. Beruntung, Sinta mempunyai sahabat yang mendukungnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda manik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Curiga

Sinta melihat gulungan uang yang di tangannya. Sinta berniat memberikan uang itu kepada orangtuanya, tetapi Sinta belum menemukan alasan yang tepat jika orangtuanya bertanya asal uang tersebut. Walaupun Papa Panji dan mama Ria orang miskin mereka selalu mengajarkan akhlak baik untuk ketiga anak anaknya.

Tidak sengaja, Sinta mendengar pembicaraan kedua orangtuanya tadi malam. Dion yang mau masuk SMP butuh seragam baru dan juga perlengkapan sekolah lainnya. Hasil panenan hanya cukup untuk makan saja sedangkan upah bekerja di kebun orang belum cukup untuk membeli seragam baru untuk Dion. Itu masih untuk keperluan Dion, Belum lagi untuk keperluan sekolah Lina yang tidak kalah mendesak harus dipenuhi.

Dirasa sudah mendapatkan alasan, Sinta menemui kedua orangtuanya di ruang tamu. Hari ini mereka di rumah saja karena hujan tak kunjung berhenti. Sinta mengamati sekeliling rumahnya. Di beberapa tempat sudah terdapat ember untuk menampung air hujan yang menetes dari atap yang bocor. Dari lantai yang retak juga sudah memancar mata air musiman. Mata air itu hanya ada di saat ada hujan. Lantai rumah Sinta yang sudah rendah membuat air merembes dari celah celah lantai yang retak.

"Ada ubi goreng, makin enak kalau ada kopi.

Lina, buatkan kopi untuk papa dan mama!. Kakak juga mau ya!" kata Sinta sambil makan ubi goreng. Ubi adalah jenis makanan yang tersedia di dalam rumah Sinta. Ubi itu adalah hasil tanaman mereka yang di tanam di ceka celah kopi.

"Gula dan kopi habis kak," sahut Lina dari dapur. Sinta masuk ke kamar dan mengambil uang lima puluhan kemudian menyerahkannya nya ke Dion.

"Dion, belikan gula sekilo dan kopi seperempat!.

"Tidak usah sin, begini aja udah enak kog," kata mama Ria. Sinta tetap menyuruhnya Dion untuk pergi ke warung terdekat.

"Ga apa ma, hujan begini enak minum kopi apalagi ada ubi goreng. Cepat Dion, buruan beli!"

"Iya kak, sama jajan juga ya," kata anak itu senang. Jarang jarang dia bisa jajan. Sinta mengangguk.

"Dion, ini ada ubi goreng. Ngapain beli jajan lagi. Pemborosan," kata mama lagi. Dia merasa membeli jajanan hanya untuk membuang duit.

"Bosan mama," kata Dion sambil keluar dari rumah.

Tak lama kemudian, Kopi panas sudah terhidang. Sinta mencari waktu yang tepat untuk memberikan uang itu ke orangtuanya.

"Mama, ubi goreng nya enak ya. Pasti mama punya resep khusus."

"Bukan resep khusus sin, cuma pengolahan yang agak rumit. Kalau campurannya hanya garam."

"Mamamu kalau urusan masak kan memang jago sin," kata papa yang sedari tadi menonton tv.

"Mama, kalau mama buka warung gimana ma?" kata Sinta untuk memancing pembicaraan supaya mengarah ke arah duit.

"Mama ga ada modal nak untuk minjam ke rentenir bunganya tinggi."

"Mama sebenarnya aku ada pegang uang, ini ma pakai saja. Terserah dipake untuk apa." Sinta menyodorkan gulungan uang yang di simpannya dari tadi di saku. Mama Ria terkejut tidak menyangka Sinta mempunyai uang sebanyak itu. Begitu juga papa Panji. Pria itu memandang tidak percaya pada gulungan uang yang terlihat banyak di genggaman Sinta.

"Sinta... bagaimana kamu mendapatkan uang sebanyak itu?. Atau jangan-jangan kamu selama di kota jadi..."

"Mama jangan berpikiran yang tidak-tidak. Sebenarnya uang ini aku kumpulkan untuk uang kuliah semester ganjil. Aku juga berencana selama libur hampir dua bulan akan di kampung ini. Karena uang ini akan aku beri ke mama, maka Minggu depan aku balik ke kota. Bekerja full time selama hampir dua bulan, aku pasti bisa mengumpulkan uang lagi." Sinta memotong ucapan mama Ria, Sinta tahu bila mama Ria meneruskan ucapannya. Lagi lagi Sinta berbohong untuk menutupi asal uang tersebut.

"Papa tetap aja curiga Sinta, memang gaji kamu berapa banyak langsung bisa mengumpulkan uang sebanyak ini dalam waktu hampir dua bulan. Kamu hanya kerja di warung, lepas makan aja udah syukur. Sinta, jangan buat keluargamu malu. Kita memang orang miskin tapi kita harus punya harga diri."

"Pa, percaya padaku!. Aku memang kerja di warung makan tapi yang kuterima sudah gaji bersih. Aku bahkan menahan selera hanya untuk makan bakso demi menabung. Tapi kalian tidak percaya. Apa mama dan papa melihat aku seperti wanita penggoda?. Lagi lagi Sinta berusaha meyakinkan orangtuanya.

"Bukan begitu Sinta, kami tidak mau kamu mengambil jalan yang salah. Kamu ingat si Wulan? dia dulu berangkat ke kota untuk kuliah. Tapi karena orangtuanya sama seperti kita orang tak mampu si Wulan jadi simpanan om om dan lihat apa hasilnya?. Punya anak tapi tidak punya suami. Lebih baik kamu tidak usah kuliah kalau jalanmu salah di kota sana." Papa Panji menasehati Sinta. Dia mengetahui jelas jika Wulan tetangga mereka terpaksa menjadi simpanan om om. Papa Panji tidak ingin jika itu terjadi pada putrinya.

"Jangan samakan aku dengan Mbak Wulan pa, jelas kami berbeda. Setiap orang sudah punya takdir masing masing."

"Sinta, lebih baik kamu jujur dari mana uang sebanyak itu," desak papa Panji masih tidak percaya dengan semua kata kata Sinta.

"Pa, Ma. Aku serius, uang itu dari hasil kerja aku. Percaya samaku Pa, Ma. Aku bekerja sampai larut malam."

Kedua orang tua itu melihat Sinta yang serius berbicara. Kata kata Sinta sangat meyakinkan hingga akhirnya kedua orangtuanya percaya.

"Sinta, simpanlah uangmu!. Pergunakan untuk keperluan mu sendiri. Kami masih bisa mengusahakan uang dengan cara lain," kata papa Panji menolak uang yang diberikan Sinta. Papa Panji merasa orang tua yang tidak bertanggung jawab jika menerima pemberian Sinta, padahal jelas jelas Sinta sangat membutuhkannya. Mama Ria mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan papa Panji. Mereka tidak tahu bahwa berkali lipat dari uang itu, Sinta juga sudah memilikinya di rekening bank. Apa jadinya kalau mereka mengetahui Sinta sudah punya rumah di kota. Rumah yang jauh lebih bagus dari rumah mereka bahkan Sinta juga punya motor matic.

"Pa, Ma tidak usah khawatir. Dengan bekerja hampir dua bulan aku pasti bisa mengumpulkan uang sebanyak itu. Apalagi untuk semester ini uang kuliahku di kurangi sebanyak 30 persen. Aku juga nanti akan mengurus surat keterangan dari kepala desa. Surat keterangan tidak mampu untuk mengurus bea siswa." Sinta kembali berbohong dan membujuk orangtuanya untuk menerima uang tersebut. Sinta pun heran entah darimana dia bisa mendapatkan jawaban jawaban itu. Ternyata berbohong itu sangat mudah dan lancar jika keadaannya mendesak.

"Baiklah nak, tapi ibu mohon jangan sampai salah langkah ya!. Lebih baik mengorbankan cita cita daripada mengorbankan harga diri," kata mama Ria menerima uang dari tangan Sinta. Sinta merasa lega tetapi juga merasa bersalah karena membohongi orangtuanya.

"Iya mama, aku pasti ingat nasehat mama dan papa. Terima kasih juga karena percaya padaku." Sinta memeluk mamanya.

"Ma, Pa. Maaf aku harus berbohong tentang uang itu. Itu bukan haram. Uang itu pemberian suamiku," batin Sinta.

"Terima kasih nak, kami akan pergunakan uang ini sebaik mungkin. Raihlah cita citamu nak dan jangan lupa berdoa." Sinta mengangguk, seketika dia teringat akan Andre. Jauh di lubuk hatinya Sinta bersyukur menikah dengan Andre.

Apa jadinya kalau dia tidak mau menikah dengan Andre. Mungkin saat ini dia tidak bisa bertemu kedua orangtuanya. Benar kata papa Panji bekerja di warung lepas makan aja sudah syukur.

Mama Ria mengutarakan rencananya untuk menggunakan uang pemberian Sinta. Sinta dan papa Panji setuju. Untuk saat ini, keperluan sekolah Lina dan Dion yang paling penting. Karena uang itu juga masih cukup untuk mengganti seng yang bocor, mereka berencana secepatnya mengganti atap rumah. Sinta merasa lega. Akhirnya uang pemberian Andre berguna juga untuk keluarganya.

1
TongTji Tea
dia juga bukan jejaka..mau nya dapet perawaaan ajaaa
.huuuuu dasar pellet lele
fiyol jelek
bagus
fiyol jelek
suka
Mice Maizarni
Luar biasa
Sativa Kyu
👍👍
Rubiyanti
Luar biasa
Rosmiati 52
saya udh ngulang nya beberapa x walau sedih tp tdk membosankan
Daryanti
kok bisa y udah nikah lupa ma pasangan
Cis Siu
karma
Ros Sitorus
ketololan hakiki. yang salah andre mau macam mana tingkah cindy tapi sebagainiatrinya kecewa berat. di.sukung pula oleh mertua
Ros Sitorus
andi 🤣🤣🤣🤣🤣😂
anggita minarsih
Buruk
Alika Setiawan
mantap Sinta.. lanjutkan 🫰
Alika Setiawan
sukurin loh andre 😂😂😂
Alika Setiawan
ih geuleuh kitu kalakuan si Andre 🤮🤮
Indah
lucu sekali dan sangat bermotivasi bagi remaja yg berpasangan
Indah
😂😂 jalan cepat
Mesra Turnip
waww, Tini luar biasa,,, perbendaharaan otak dan katanya selalu full, jadi gmeess. mantap Thor ! kamu emang paling top !
Mesra Turnip
sangat, sangat suka dengan karakter Andi setiap membalas Cindy. sehat dan bahagia terus ya Thor !
Mesra Turnip
kyaaa dosen apaan tuh, knp berubah jadi pejantan ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!