Lanjutan dari Dokter Cantik Milik Ceo
Namanya Sahara Putri Baskara, ia adalah seorang dokter muda, memiliki paras cantik dan pesona yang begitu luar biasa. Namun sayang ia terpaksa harus menikah dengan mantan suami wanita yang sangat ia benci, demi membebaskan dirinya dari jerat hukum yang akan ia jalani.
"Kalau kau masih mau hidup bebas dan memakai jas putih mu itu maka kau harus menikah dengan ku!" ucap Brian dengan tegas pada wanita yang sudah menabrak dirinya.
"Tapi kita tidak saling mengenal tuan," kata Sasa berusaha bernegosiasi.
"Kalau begitu mari kita berkenalan," jawab Brian dengan santai.
Lalu bagaimanakah nasip pernikahan keduanya, Sasa setuju menikah dengan Brian karena takut di penjara. Sementara Brian menikahi Sasa hanya untuk menyelamatkan pernikahan mantan istrinya, karena Sasa menyukai suami dari mantan istrinya itu.
Hanya demi menebus kesalahannya, Brian mengambil resiko menikahi Sasa, wanita licik dan angkuh bahkan keduanya tak pernah saling mengenal.
---
21+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Sasa terus saja memarahi Brian, dan meminta untuk di ceraikan. Namun apa kata Brian? Brian sama sekali tidak perduli dengan apa pun yang di katakan oleh Sasa, Brian mendadak tuli seolah tak mendengar apa pun perkataan Sasa.
"Ayo tidur," Brian menarik selimut berniat menutupi tubuh Sasa, namun Sasa tak mau ia malah melempas selimut itu.
Brian tak perduli ia ikut naik ke ranjang dan memeluk Sasa, setelah itu ia menarik selimut membaringkan tubuhnya dengan mau tidak mau Sasa juga ikut berbaring.
"Lepas," Sasa berusaha melepaskan diri dari pelukan Brian, tapi Brian sama sekali tidak perduli malahan ia semakin mempererat pelukannya pada tubuh Sasa.
Sasa yang lelah meronta-ronta dengan kesal membuang pandangannya ke arah yang berlawanan, agar tak menatap wajah Brian. Sadar atau tidak perlahan Sasa mulai kehilangan kesadaran ia tertidur di pelukan Brian, mungkin karena pengaruh obat di tambah rasa lelahnya selama ini yang selalu bekerja tanpa jeda. Hingga tak butuh waktu lama untuk membuatnya tertidur dengan lelap.
Brian yang melihat Sasa sudah terlelap, dengan napas perlahan beraturan mulai merenggangkan pelukannya. Matanya menatap wajah Sasa, ada rasa bersalah yang ia rasakan saat mencaci dan memaki Sasa. Ia juga bingung dengan dirinya mengapa ia menganggap semua wanita itu sama, mengapa sakit hati saat hidup bersama dengan Jesie masih ia rasakan. Mengapa semua wanita ia samakan seperti wanita yang pernah ia cintai dan ia perjuangkan setengah mati namun ternyata berhiyanat dengan sahabatnya sendiri.
Beberapa jam kemudian Brian sudah pergi ke kantor, meninggalkan Sasa yang tertidur dengan lelap. Brian sebenarnya tak ingin pergi namun banyak pekerjaan yang menantinya, dan ia tak ingin sampai terjadi hal-hal yang akan menyulitkan dirinya nantinya.
Sasa yang mulai terbangun dari tidurnya merasa tubuhnya tak lagi terhimpit, dengan gerakan cepat ia menatap ke sebelah kanan di mana tadi Brian berbaring di sana. Ada perasaan lega saat melihat Brian tak ada di sana, bahkan Sasa tak perduli kemana perginya Brian. Ia menatap jam dinding yang menunjukan pukul empat dini hari, kemudian mengambil ponselnya dan melihat banyak pesan yang di kirimkan Daniel.
"Yaampun, aku lupa lagi hari ini....." Sasa bergegas turun dari ranjang untuk memasuki kamar mandi, tak butuh waktu lama ia selesai dengan mandinya dan memakai kemeja putih dengan dipadu rok berwana hitam dengan jas putih yang ia letakan pada lengannya, lalu bergegas pergi sambil menenteng tas tangan kesayangannya yang berwarna merah maron itu.
CLEK.
Sasa membuka pintu, namun di luar ada dua orang pria bertubuh kekar yang menjaganya. Dan berusaha menghalangi langkah kakinya, Sasa tentu saja bingung dan menatap kesal kedua pria bertubuh kekar itu.
"Hey....kalian siapa? Kenapa berani menghalangi saya?" tanya Sasa dengan nada cukup tinggi sebab ia sangat kesal pada dua pria yang terus mencoba menghalangi jalannya, sementara ia harus cepat-cepat sampai untuk melihat keadaan pasiennya.
"Maaf nyonya muda, kami di perintahkan boss untuk menjaga anda. Dan big boss bilang anda harus tetap di rumah saja, tidak boleh pergi kemana-mana kecuali sudah dengan ijin boss," ucap seorang pria bertubuh kekar itu.
Sasa tentu saja bingung, mendengar apa yang di katakan pria itu, "Bos kalian siapa? Atau mungkin kalian salah orang jangan-jangan," tutur Sasa menunjuk wajah kedua pria itu secara bergantian, karena ia yakin Baskara sudah tak lagi mengurusi setiap urusannya.
"Boss Brian yang memerintahkan kami tetap di sini nyonya muda, Boss minta kami untuk menjaga anda agar tak pergi kemana pun," jelas pria itu lagi.
"Brian?" Sasa tak percaya dengan apa yang di katakan dua pria itu, "Buat apa coba di lakuin ini," gumam Sasa sambil memijat kepala karena bingung dengan tingkah Brian yang mendadak berubah.
"Nyonya muda, sebaiknya anda masuk saja kedalam dan menunggu bos di dalam," pria tersebut membuka pintu kembali dan mempersilahkan Sasa masuk.
"Enak aja...." tolak Sasa dengan kesal, "Minggir," Sasa berusa menyingkirkan dua pria itu dari hadapannya, namun tidak bisa tubuh mereka terlalu besar.
"Maaf nyonya, ini perintah. Sebaiknya anda masuk saja kembali," ucap pria itu yang lagi-lagi memaksa Sasa untuk masuk.
"Bentar," Sasa mengambil ponsel dari tasnya, "Saya telpon dulu boss gila kalian itu," kata Sasa lagi sambil terus menatap layar ponselnya dengan bingung sebab ia tak memiliki nomor ponsel Brian. Lalu bagaimana cara menghubungi Brian, "Sial," gumam Sasa memukuli udara di hadapannya, "Kenapa dia itu sekarang membuat aku merasa di penjara, bukannya dia benci sama aku terus kenapa sekarang aku udah mau cerai dan siap masuk penjara dia malah begini," kata Sasa yang kembali bergumam menatap kesal kedua orang suruhan Brian.
"Ayo masuk nyonya."
"Minggir, saya ada pasien dan saya harus cepat sampai di tempat," tegas Sasa lalu bergegas melangkah pergi, namun tetap saja ia tak bisa pergi karena dua orang pria itu masih setia menghalanginya.
DRET.....DRET.....DRET.....
Terdengar suara ponsel Sasa berbunyi dan tertulis nama, "My Husband," Sasa tentu saja bingung dan lama ia menatap layar ponselnya, hingga kemudia ia menerima panggilan itu setelah untuk yang kesekian kalinya berdering.
"Halo....." jawab Sasa setelah panggilan itu tersambung.
"Masuk," kata seorang pria di sebrang sana, yang melihat Sasa dari cctv yang terhubung pada laptop nya.
"Ini siapa?" tanya Sasa dengan bingung, dan ia juga merasa aneh mengapa orang tersebut memintanya masuk.
"Suami mu, tidak boleh pergi kecuali ada ijin dari saya," kata Brian.
Ya orang yang menghubungi Sasa adalah Brian, Brian menyimpan nomor ponselnya di ponsel Sasa dan menyimpan nomor ponsel Sasa di ponselnya. Bahkan sebelum ia pergi ia menghubungkan cctv yang terpasang di apartement Sasa pada laptopnya agar lebih mudah melihat apa yang di lakukan Sasa.
"Mas, kamu kenapa sih. Jangan gila dong aku ini punya pasien yang butuh aku," jawab Sasa dengan tegas.
"Masuk!"
"Udah," bohong Sasa.
"Masuk."
"Udah," kata Sasa yang masih berbohong.
"Saya lihat dari cctv, jangan bohong," kata Brian dari sebrang sana.
Sasa menatap cctv yang terpasang tepat di depan pintu apartemennya, dan meremas tangannya ke kamara dengan kesal.
"Ayo masuk, tidak ada ijin dari suami tidak boleh pergi," kata Brian sambil menatap wajah Sasa di layar laptopnya bahkan Sasa menjulurkan lidahnya beberapa kali, untuk meluapkan bertapa kesalnya dirinya saat ini.
"Mas, aku punya pasien. Kamu ngerti nggak, aku udah telat banget!"
"Saya akan pulang, tunggu saya kalau mau pergi," Brian mematikan sambungan telponnya dengan sepihak tanpa meminta persetujuan Sasa.
"Kurang ajar," kata Sasa dengan kesal, sambil menjunjuk kamera cctv, "Maunya apa sih ini orang, udah gila mungkin," kata Sasa.
BRAK....
Sasa masuk dan membanting pintu dengan kencang.
***
Jangan lupa like, VOTE dan komen. Makasih Kaka pembaca baik hati yang udah kasih hadian dan Like, serta VOTE. Saya sangat terharu.