"Ya Allah ... tolong izinkan abah lebaran sekali lagi."
Doa seorang anak di tengah kesunyian malam. Tak banyak yang dia inginkan untuk lebaran kali ini, hanya kebersamaan dengan Abah saja yang dipintanya.
Nur, seorang anak kecil dari keluarga sederhana yang tak banyak mengeluh. Kehidupan yang sulit tak menjadikan Nur menjadi anak yang murung. Ia tetap percaya diri pergi ke sekolah meksipun sepatunya telah rusak.
Kisah sebuah keluarga sederhana di era 90-an. Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepatuku Lapar
Sepulangnya dari kubu, aku bergegas membersihkan diri di sumur, mengambil wudu lalu shalat Dzuhur. Dan setelah itu, tidur. Lelah dan juga haus.
Kulihat Aceng pun tertidur pulas di depan televisi. Bukannya tv yang dia tonton justru dia yang ditonton tv. Dasar!
Kumatikan televisi itu karena sayang akinya. Jauh dan berat mengisinya, juga mahal menurutku.
Kubaringkan tubuh lelahku di atas kasur kapuk yang sudah lepek. Tidak empuk lagi, malah terasa keras dan akan mengepul saat ditepuk. Duh ....
Tidak butuh waktu lama untukku melayang masuk ke alam mimpi.
_________*
"Teh ... Teteh ... bangun! Udah ashar!" Suara Aceng dan guncangan di lengan menggugah tidurku. Aku menggeliat malas.
Telingaku mendengar, tapi mataku enggan terbuka. Aku masih ingin bermain di alam mimpi.
"Teteh!" teriaknya tepat di telingaku. Kututup dengan cepat telinga, bisa-bisa pecah gendang telingaku ini karena teriakannya.
Mataku merapat menahan sakit pada telinga, aku bangkit dengan cepat dan menatapnya dengan mata yang membesar hampir keluar.
Aceng justru tersenyum lebar tanpa merasa berdosa sama sekali. Aku mendekatkan wajahku padanya dan mencubit pipinya yang gembil hingga memerah.
Kulepas saat terdengar desisan dari bibirnya. Aku tertawa puas dan berlari menuju sumur. Mak sedang menimba air di sana.
Sudah ada dua bak besar penuh air untuk mandi. Lekas kusambar handuk dan melepas pakaianku. Mandi dengan air yang begitu menyegarkan.
"Mak!" rengek Aceng sudah memasang wajah menyedihkan di hadapan mak. Dia menangis.
"Kenapa?" tanya mak sembari terus menimba air untuk mengisi bak dan ember yang masih kosong.
"Dicubit Teteh!" adunya pada mak. Aku mendengus kesal. Beraninya dia mengadukannya pada mak.
Mak menoleh padaku dengan tatapan menyelidik. Aku menjadi gugup. Apa terlalu keras aku mencubitnya? Lihat pipinya memang merah.
"Aceng duluan teriak di telinga Nur," sergahku membela diri. Mak memandangku dan Aceng bergantian. Lalu menghela napas. Diam tak ingin memarahi kedua anaknya yang selalu berselisih.
Kusudahi mandiku, kemudian berwudhu dan melaksanakan shalat ashar. Lalu duduk di depan televisi menunggu ksatria muncul beraksi.
_______*
"Sahur ... sahur ...!" Suara riuh anak-anak yang membangunkan sahur mengusik tidurku yang nyaman.
Bau harum tumis sayur membuat mataku terbuka lebar. Aku beranjak dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi. Kulirik jam dinding masih pukul tiga dini hari, tapi mak sudah menyelesaikan masakannya.
"Antar Mak ke pondok, yuk!" pinta mak, aku mengangguk. Kuraup air dalam gayung yang dibawa mak untuk membasuh wajah.
Nasi untuk teteh di pondok sudah dibungkus mak. Sengaja Aceng belum dibangunkan karena aku dan mak harus ke pondok terlebih dahulu untuk mengantar makan sahur teteh.
"Teteh!" Kupanggil teteh dari luar pagar. Beruntung, asrama yang ditempati teteh berada di pinggir jalan. Jadi, tak perlu repot menunggu gerbang dibuka hanya untuk mengantar makanan.
Teteh keluar dari kamar menggunakan mukena. Sepertinya, semua santri sudah terbangun dan sedang melaksanakan shalat malam sebelum sahur.
"Mak!" panggil teteh memastikan. Ia melangkah mendekati pagar setelah memastikan bahwa yang berdiri di luar pagar adalah mak dan aku.
"Ini makan sahurnya," ucap mak mengangkat bungkusan ke atas pagar. Teteh menerimanya seperti biasa.
"Makasih, Mak, Nur," ucapnya.
"Ya udah, Mak pulang mau sahur juga." Mak dan aku bergegas meninggalkan pondok karena khawatir Aceng terbangun dan menangis mencari mak.
Namun, ternyata dia masih membentuk peta baru di atas bantal. Dasar tukang tidur! Kubangunkan dengan cara langsung mendudukkannya. Kemudian aku menariknya agar berdiri saat Aceng tak juga membuka matanya.
"Sahur!" ucapku membuat mata kecil itu terbuka dan mengangguk. Makan sahur apa adanya.
_______*
Seragam olahraga sudah melekat di tubuhku. Seragam yang aku jaga dengan baik, khawatir akan terkoyak dan membuat lubang di lutut. Pasti berat untuk mak membelinya lagi karena harganya yang mahal.
Kumasukkan buku pelajaran ke dalam tas dan meletakan buku kemarin di tempatnya. Di sebuah dus bekas mie instan.
Aku menatap nanar tas slempang yang tak lagi berupa. Talinya yang putus kuikat agar tetap bisa dipakai. Peniti kusemat untuk mengunci resleting yang sudah tak berfungsi.
Kuletakkan di ruang tengah untuk mengambil sepatu. Mak masih di dapur membereskan semua perabot.
Kuambil sepatuku dan membawanya ke depan. Alangkah terkejutnya aku! Melihat sepatuku yang ....
"Mak, sepatu Nur minta makan!" Aku berteriak panik saat melihat sepatuku satu-satunya yang bagian atas hampir terpisah dengan alasnya.
"Siapa yang minta makan, Nur?" tanya mak datang menghampiriku.
Kutunjukkan sepatuku pada mak. Hampir terpisah. Aku meringis sedih.
Mak berubah sendu, meraih sepatuku dan melihatnya dengan saksama. "Ini harus di lem," ucap mak. Aku mengangguk.
"Sebentar, ya. Mak ambil lem dulu," kata mak menyimpan kembali sepatuku di lantai.
Aku duduk menunggu, memeluk kedua kaki yang kutekuk dan menjatuhkan dagu di atas lutut. Mak kembali membawa sebuah kaleng lem di tangan.
"Untung masih ada sisa lem," celetuk mak. Duduk di belakangku seraya meraih sepatu yang tadi diletakkannya.
Aku memiringkan kepala untuk melihat mak sedang merapatkan kembali sepatuku menggunakan lem.
"Nah, udah selesai! Tunggu sebentar sampe kering, ya!" ucap mak kembali meletakkan sepatu yang sudah dilemnya di sampingku.
Eh?
Mak tidak jadi menaruhnya, ia kembali meneliti sepatuku dan tersenyum.
"Udah bolong juga, ya?" tanya mak sembari menatapku. Meski senyum terulas di bibirnya, tapi sorot matanya memancarkan kesedihan. Aku tahu.
Aku mengangguk dengan bibir yang mengatup rapat. Aku kembali menjatuhkan pandangan pada tanah di hadapanku setelah mak meninggalkanku sendiri.
Kulirik sepatuku, masih belum bisa digunakan. Kuhela napas dalam-dalam. Kugerakkan kepala untuk melihat jam dinding bergambar bayi laki-laki yang bergerak-gerak ke kanan dan kiri, memegang tasbih sedang berdzikir. Jam dinding pemberian kakak dari abah saat aku main ke rumahnya di Indramayu dulu.
Masih ada seperempat jam lagi sebelum jam delapan. Kurasa cukup untuk menunggu lem di sepatuku mengering.
Kuraih ranting dan kumainkan di atas tanah. membentuk coretan abstrak yang kujadikan sebuah gambar demi mengusir rasa bosan yang mendera.
Kulihat jam lagi, hanya tersisa lima menit sebelum masuk sekolah. Kuperiksa lem di sepatuku dan mulai mengering.
"Belum berangkat?" tanya mak sudah berdiri di belakangku. Aku menggeleng, lalu kukenakan sepatu itu.
Kini lihatlah! Kuperlihatkan kepada mak ibu jariku yang sudah keluar dari lubang di sepatu. Kugerakkan memutar sambil tersenyum ke arah mak.
Tak ada kata yang diucapkan mak. Hanya suara kekehanku saja yang terdengar.
"Nur berangkat, Mak!" pamitku seraya mencium tangan mak dan juga pipinya.
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumussalaam!" balas mak dengan suara sedikit lesu.
Aku mengayun langkah perlahan, khawatir lem yang baru saja melekat akan terlepas lagi. Pyuh ... akhirnya sampai juga di sekolah dan sepatuku aman-aman saja.
Rela tidak beli baju baru mendahulukan keinginan anak2nya.
Ah,sungguh indah masa dulu ya author.
Dan aq skrg ngalamin ngedahulukan keinginan anak dan aku mengerti skrg gmn perasaan orgtua hanya utk melihat anaknya tersenyum tulus ketika ngucapkan kata2 "Terimakasih" dan memeluk kita.
Baru tau setelah punya anak itu namanya celana mambo.. hehehe
dan sangat bermanfaat sekali
untuk saya Thor
👍👍🤩🤩🤩🤩🤩
malahan kebalik beliau yang sering kasih uang ke aku kalau datang ke rumah
katanya, ini buat jajan cucu2nya
Alhamdulillah saya juga masih belajar pakai hijab
padahal anak udah 3😥