NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Tabib Jenius

Reinkarnasi Tabib Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter Ajaib / Fantasi Timur / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Aruna, dokter bedah jenius dari masa depan, terbangun di tubuh Lin Xi, seorang putri terbuang yang dihukum mati karena fitnah. Di dunia yang memuja kekuatan kultivasi, Lin Xi dianggap "sampah" karena jalur energinya hancur.

Namun, bagi Aruna, tak ada yang tak bisa disembuhkan oleh pisau bedahnya. Menggunakan ilmu medis modern, ia memperbaiki tubuhnya sendiri dan bangkit dari liang lahat untuk menuntut balas dendam.Takdir mempertemukannya dengan Kaisar Yan, penguasa kejam yang sekarat karena kutukan darah. Dengan satu tusukan jarum, Aruna menyelamatkannya dan memulai kontrak berbahaya: Aruna menjadi tabib pribadinya, dan sang Kaisar menjadi tameng bagi balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 RTJ

Salju turun semakin lebat, membungkus dunia dalam selimut putih. Jalur belakang yang ditunjukkan oleh Tetua Agung bukanlah jalan setapak yang nyaman, melainkan celah sempit di antara dua dinding tebing raksasa yang dikenal sebagai Celah Angin Sunyi. Di sini, angin tidak hanya bertiup; ia melolong, menciptakan suara seperti tangisan ribuan jiwa yang tersesat.

Lin Xi berjalan dengan waspada, tangan kanannya tak pernah jauh dari gagang pedang hitamnya. Di sampingnya, Long Chen melangkah perlahan, dibantu oleh tongkat kayu pemberian suku. Meskipun fisiknya masih lemah, keberadaan Lin Xi di sisinya seolah memberikan kekuatan tambahan yang tidak bisa dijelaskan oleh logika medis manapun.

"Kita harus berhenti sebentar," ucap Lin Xi tiba-tiba. Ia melihat bibir Long Chen kembali membiru. "Angin di celah ini terlalu tajam. Ada ceruk di depan sana yang bisa kita gunakan untuk berlindung dari angin langsung."

Satu, yang berjalan di belakang dengan mata yang terus mengawasi jejak mereka, mengangguk setuju. "Jenderal benar. Jika kita memaksakan diri menembus puncak celah dalam kondisi badai seperti ini, Pangeran bisa terkena radang paru-paru es."

Mereka memasuki ceruk kecil yang terlindungi oleh dinding batu granit. Satu dengan sigap mengeluarkan kantong kulit berisi batu pemanas—teknologi sederhana namun mahal yang biasa digunakan oleh pengintai elit. Sementara itu, Lin Xi melepas jubah luarnya dan menyelimutkannya ke bahu Long Chen.

"Aku tidak kedinginan, Xi'er," protes Long Chen lembut, meski giginya sedikit berkerenyit.

"Diamlah, Chen. Kau adalah pasien sekarang," balas Lin Xi dengan nada tegas yang tidak bisa dibantah, namun tangannya yang merapikan kerah jubah Long Chen bergerak dengan sangat hati-hati.

Untuk membuat suasana menjadi lebih ringan dan menjaga moral, Satu mencoba mencairkan ketegangan. Ia mengeluarkan sebuah panci kecil dari tas pinggangnya dan beberapa bahan makanan kering.

"Jenderal, Pangeran... dalam situasi seperti ini, tidak ada yang lebih baik daripada sup tulang kering dengan jahe gunung," kata Satu sambil mulai mencairkan salju di dalam panci menggunakan batu pemanas.

Long Chen tersenyum tipis melihat tingkah pengawalnya. "Kau selalu membawa peralatan masak lengkap, bahkan saat kita sedang diburu oleh ribuan tentara, Satu."

"Seorang pengawal yang lapar adalah pengawal yang tidak berguna, Pangeran," jawab Satu dengan bangga sambil mengaduk supnya.

Bau jahe yang hangat mulai mengisi ceruk sempit itu, memberikan sedikit rasa normal di tengah situasi yang absurd. Lin Xi duduk bersila di samping Long Chen, memperhatikan asap yang mengepul dari panci. Sejenak, ia lupa bahwa ia adalah seorang wadah energi Yin purba. Di sini, dalam remang cahaya batu pemanas, ia merasa kembali seperti gadis remaja yang hanya ingin menghabiskan waktu bersama orang yang ia sayangi.

"Xi'er," panggil Long Chen pelan. Ia menatap ujung rambut Lin Xi yang kini berwarna perak. "Apakah... apakah itu terasa sakit?"

Lin Xi tahu apa yang dimaksud Long Chen. Ia menyentuh ujung rambutnya. "Awalnya terasa seperti darahmu sedang direbus dan dibekukan di saat yang sama. Tapi sekarang... hanya ada rasa dingin yang tenang. Jangan khawatirkan aku, Chen. Aku justru merasa lebih kuat dari sebelumnya. Aku bisa merasakan detak jantung makhluk-makhluk kecil di bawah salju ini. Aku bisa merasakan arah angin sebelum ia bertiup."

"Itulah yang kutakutkan," bisik Long Chen. Ia meraih tangan Lin Xi, menggenggamnya erat. "Aku takut kekuatan ini akan membawamu menjauh dariku, menuju tempat di mana aku tidak bisa mengikutimu."

Lin Xi menatap mata Long Chen yang penuh kekhawatiran. Ia mendekatkan wajahnya, menyandarkan dahinya di dahi Long Chen. "Maka aku akan berjalan lebih lambat agar kau bisa mengejarku. Atau aku akan menggendongmu lagi seperti tadi. Kita tidak akan pernah berpisah, Chen. Itu janjiku."

Interaksi mendalam itu terputus oleh suara Satu yang berdeham keras. "Ehem... Sup sudah siap. Mohon dinikmati selagi panas, sebelum membeku menjadi es batu."

Mereka makan dalam kesunyian yang nyaman. Sup jahe itu memberikan kehangatan ke dalam perut dan jiwa mereka. Untuk beberapa saat, ancaman tentara Garda Langit dan Pangeran Pertama terasa sangat jauh. Mereka berbicara tentang hal-hal sepele—tentang masa kecil mereka di ibu kota, tentang koki istana yang sering mencuri ayam, dan tentang mimpi-mimpi sederhana jika perang ini berakhir.

Namun, kedamaian itu hanyalah lapisan tipis di atas permukaan air yang bergejolak.

Setelah beristirahat selama satu jam, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Celah Angin Sunyi mulai melebar, menandakan mereka hampir mencapai dataran tinggi yang berbatasan dengan wilayah suku nomaden. Namun, saat mereka keluar dari mulut celah, langkah mereka terhenti.

Udara di depan mereka tidak lagi hanya berisi salju. Ada aroma minyak zaitun dan bau logam yang menyengat—aroma khas dari pasukan militer yang sedang bersiaga.

Di dataran bersalju di depan mereka, berdiri sebuah tenda besar berwarna emas dan biru. Di depannya, ratusan prajurit dengan zirah perak yang berkilauan berdiri dalam formasi busur. Mereka adalah Garda Langit, pasukan elit pribadi milik Pangeran Pertama, Long Tian.

Di tengah formasi, seorang pria tinggi dengan zirah emas lengkap dan jubah merah darah berdiri dengan angkuh. Di tangannya, ia memegang sebuah cermin perunggu besar yang memancarkan cahaya kuning redup.

"Adikku tersayang," suara pria itu menggelegar, dibantu oleh energi internal yang kuat. "Dan Jenderal Lin yang terhormat. Kalian benar-benar membuatku menunggu lama di tempat yang membeku ini."

Long Tian, Pangeran Pertama, melangkah maju. Matanya yang dingin menatap ke arah rambut perak Lin Xi dengan tatapan jijik.

"Lihatlah dirimu, Lin Xi. Jenderal kebanggaan ayahanda kini berubah menjadi penyihir wanita berambut putih. Dan kau, Long Chen... kau rela mengkhianati darah kerajaanmu hanya demi seorang wanita yang sudah dirasuki iblis?"

Long Chen maju selangkah, menggunakan tongkatnya untuk berdiri tegak. "Kakak Besar, kau tahu benar siapa yang memulai semua ini. Guru Wu bekerja di bawah perintahmu untuk memicu segel di tubuh Xi'er. Kau yang menciptakan 'iblis' ini, lalu kau menggunakan alasan itu untuk memburu kami?"

Long Tian tertawa keras, tawa yang bergema di dinding tebing. "Dunia tidak butuh kebenaran, Long Chen. Dunia hanya butuh cerita. Dan ceritanya adalah: Pangeran Kedua yang lemah telah disihir oleh Jenderal Lin yang haus kekuasaan, dan aku, sebagai kakak yang berbakti, datang untuk membebaskanmu dari penderitaanmu... dengan pedangku."

Ia mengangkat cermin perunggu di tangannya. "Ini adalah Cermin Penyaring Jiwa. Alat ini diciptakan khusus untuk menarik keluar arwah pengganggu. Guru Wu memberitahuku bahwa ada 'Kakek' tua yang bersembunyi di dalam tubuh kalian. Mari kita lihat apakah dia bisa bertahan di bawah cahaya suci ini."

Cermin itu mulai bersinar terang, menembakkan seberkas cahaya putih yang sangat menyilaukan ke arah mereka.

"Kakek Bai!" teriak Lin Xi.

Di dalam kesadaran Lin Xi, suara Kakek Bai terdengar merintih. "Argh! Cahaya itu... itu adalah racun bagi tubuh roh! Lin Xi, jangan biarkan cahaya itu mengenai Long Chen, atau sisa-sisa jiwanya yang sedang memulihkan diri akan hancur!"

Tanpa berpikir dua kali, Lin Xi melompat ke depan Long Chen. Ia tidak menggunakan pedangnya. Ia merentangkan kedua tangannya, dan energi Yin hitam dari tubuhnya meledak keluar secara masif, membentuk dinding kegelapan yang mencoba menahan cahaya suci dari cermin tersebut.

Cisssss!

Suara seperti daging yang terbakar terdengar saat cahaya putih bertemu dengan kabut hitam. Lin Xi mengerang kesakitan, lututnya bergetar hebat.

"Xi'er, jangan!" Long Chen mencoba meraihnya, tapi Satu menahannya.

"Jangan mendekat, Pangeran! Energi yang bertabrakan di sana bisa membunuh manusia biasa!" Satu memperingatkan dengan wajah pucat.

Long Tian tersenyum licik. "Teruslah bertahan, Lin Xi! Mari kita lihat berapa lama wadah fana itu bisa menampung benturan energi suci dan kegelapan!"

Di tengah siksaan cahaya itu, mata Lin Xi perlahan berubah sepenuhnya menjadi merah delima yang menyala. Rambut peraknya terbang liar tertiup angin energi. Di belakangnya, samar-samar muncul bayangan raksasa seorang wanita dengan gaun perang kuno yang memegang sabit besar—manifestasi dari energi arwah yang mulai menyatu sepenuhnya dengan kemarahannya.

"Long Tian..." suara Lin Xi tidak lagi terdengar seperti suara manusia. Itu adalah suara ganda, campuran antara suaranya yang lembut dan suara kuno yang penuh otoritas. "Kau ingin melihat iblis? Maka akan kutunjukkan padamu... apa yang terjadi saat kau mencoba menyentuh milikku."

Tiba-tiba, dari arah belakang pasukan Garda Langit, terdengar suara gemuruh ribuan kaki kuda. Salju di dataran itu bergetar hebat. Sebuah panah raksasa dengan bulu hitam melesat dari kegelapan badai, menghantam tanah tepat di antara Lin Xi dan pasukan Garda Langit, menciptakan ledakan salju yang masif.

Sesosok pria raksasa di atas kuda hitam besar muncul dari balik kabut salju. Ia mengenakan zirah dari tulang binatang dan memegang kapak raksasa.

"Siapa yang berani membuat keributan di gerbang wilayah Suku Nomaden Utara?!" raung pria itu.

Long Tian terkejut. "Suku Bar-Bar Utara? Apa yang kalian lakukan di sini? Ini adalah urusan internal Kekaisaran Awan!"

Pria raksasa itu menunjuk ke arah Lin Xi yang masih berdiri dalam balutan energi hitam. "Urusan kalian menjadi urusan kami saat kalian menyerang tamu yang membawa 'Mata Air Kehidupan' kami! Anak-anak Utara, serang!"

Konflik pecah secara mendadak. Pasukan nomaden yang dikenal sebagai ksatria salju paling ganas mulai menerjang Garda Langit. Di tengah kekacauan itu, Lin Xi yang sudah hampir mencapai batas kesadarannya, ambruk ke arah Long Chen.

Namun, sebelum Long Chen bisa menangkapnya, sesosok bayangan merah muncul entah dari mana, menyambar tubuh Lin Xi dan menghilang dalam kepulan asap kelopak bunga Manjusaka.

"Lin Xi!" teriak Long Chen putus asa.

"Jika ingin istrimu kembali, Pangeran Kecil... datanglah ke Istana Darah di puncak Gunung Tengkorak," suara Hua Ling bergema di udara sebelum menghilang sepenuhnya.

Long Chen berdiri mematung di tengah medan perang yang kacau. Matanya yang biasanya lembut kini berkilat dengan kegelapan yang sama dengan yang dimiliki Lin Xi. Ia menoleh ke arah Satu.

"Satu... ambilkan pedangku yang tersimpan di peti rahasia. Kita tidak akan pergi ke Utara."

"Lalu kita ke mana, Pangeran?"

"Kita akan membakar setiap jengkal Gunung Tengkorak."

1
echa purin
👍🏻
kriwil
bahasa gueng mu tour di buang
Dian Utami
awal ny bagus Thor tp kesini ny jln cerita ny bingung 🤔
yeti kurniati1003
ceritax menarik
Osie
mampiiirrrt..selalu. suka cerita transmigrasi dan moga cerita ini sp end
Dewiendahsetiowati
hadir thor
MomSaa: Siap kak🤗
total 1 replies
Amazing Grace
Lo gue anjay🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!