Dalam semalam, video scandal yang tersebar membuat kehidupan sempurna Adara hancur. Karirnya, nama baiknya, bahkan tunangannya—semuanya dihancurkan dalam sekejap.
“Gila! Dia bercadar tapi pelacur?”
“Dia juga pelakor, tuh. Gundik suami orang.”
“Jangan lupa… dia juga tidur sama cowok lain meskipun sudah punya tunangan se-perfect Gus Rafka.”
“Murahan banget, ya! Sana sini mau!”
“Namanya juga pelacur!”
Cacian dan makian terus dilontarkan kepada Adara. Dalam sekejap citranya sebagai influencer muslimah bercadar, dengan karya-karya tulisnya yang menginspirasi itu menghilang.
Nama panggilannya berubah menjadi “Pelacur Bercadar”. Publik mengecamnya habis-habisan bahkan beberapa orang ingin memukulinya.
Namun di tengah semua kekacauan yang terjadi, seorang pria mengulurkan tangannya kepada Adara.
“Menikahlah denganku, Adara. Aku akan membantumu untuk memperbaiki nama baikmu. Setelah semuanya membaik—kamu bisa pergi meninggalkanku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiaa Azarine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertahan Hidup
Beberapa bulan pertama bekerja di toko pakaian berjalan lancar. Junia cepat belajar dan mampu beradaptasi dengan baik. Ia rajin dan melayani pelanggan dengan baik. Sikapnya yang ramah dan penampilannya yang cantik membuat banyak orang menyukainya. Bahkan pemilik toko sering memujinya.
Pelanggannya juga banyak yang menyukainya, bukan hanya karena parasnya yang cantik, tetapi karena tutur katanya yang lembut. Di usianya yang baru menginjak 18 tahun, ia sudah tampak seperti gadis dewasa yang sangat menawan.
Namun keadaan baik itu tidak bertahan lama.
Di tempatny kerja, ada seorang pegawai baru bernama Dita—seorang gadis seusia Junia namun sifatnya jauh berbeda. Ia cerewet, sering datang terlambat, namun pandai mengambil hati pelanggan laki-laki.
Awalnya hubungan mereka biasa saja, sampai perhatian pelanggan mulai lebih banyak tertuju pada Junia. Beberapa pelanggan bahkan mulai meminta dilayani langsung oleh Junia karena pekerjaannya cepat dan rapi. Tetangga kedai di sekitar mereka pun terlihat sangat menyayangi Junia dan memperlakukannya seperti putri mereka sendiri.
“Bude Dija… Jun mau seporsi nasi uduknya buat sarapan dong…” ujar Junia seperti pagi-pagi biasanya di kedai sarapan pagi samping toko pakaian tempatnya bekerja.
“Siapa anak cantiknya, Bude!” ujar wanita bertubuh gempal itu dengan senyuman lebarnya.
“Saya satu porsi juga ya, Bude…” ucap Dita yang hari itu ikut bersama Junia.
“Oke, Mbak Dita,” jawabnya.
Beberapa menit kemudian wanita itu kembali dengan piring nasi pesanan mereka. “Ini buat Mbak Dita…” Ia menaruh sepiring nasi dengan porsi biasa di hadapan Dita.
“Dan ini… untuk anak cantiknya Bude…” Ia menaruh nasi dengan porsi spesial, bahkan Dita bisa melihat sepotong ayam gorong di piringnya Junia.
“Lho kok beda, Bude? Bukannya kami pesannya sama?” tanya Dita.
“Porsi kayak Junia harganya 20ribu,” jelas Bude Dija.
“Mahal banget, Bude.” Dita menghela napas kasar. “Aku lihat kamu hampir setiap hari makan nasi dengan porsi kayak gini. Nggak tekor? Uang gajimu habis buat sarapan doang dong.”
Junia tersenyum canggung mendengar pertanyaan Dita. Sebab dia tidak pernah memikirkan makanan selama bekerja di pasar ini. Kedai makanan di sekitar sana yang selalu memberinya makanan, secara bergantian. Junia tidak pernah memintanya, mereka melakukannya atas rundingan bersama. Katanya agar jualan mereka berkah karena memberi makan anak yatim piatu.
Awalnya Junia tidak enak dengan sikap mereka yang terlalu baik, namun Junia juga tidak tau bagaimana cara menolak mereka semua. Uang yang Junia berikan pun tidak pernah mereka terima.
“Junia kalau soal makan sehari-hari jangan khawatir ya, Nak. Kamu bisa makan di nasi uduk di kedai Bude, nasi ampera uni Siska, atau warung bakso mang ujang,” jelas Bude Dija hari itu. “Semuanya gratis kalau untuk Junia.”
“Kedai kami juga mau ikut!” seru beberapa pemilik kedai makanan lainnya.
Hingga ada sekitar 5 kedai makanan yang bergantian memberi Junia makan pagi, siang dan sore.
“Mbak Junia itu anggota VIP jalur yatim, Mbak Dita!” sahut Rizal, putra Bude Dija yang masih kelas 2 SMP.
“Maksudnya gimana?” Dita tampak bingung.
“Mbak Jun kan anak yatim piatu jadi 5 kedai makanan di sini ngasih makan Mbak Junia setiap hari secara gratis! Mbak Junia boleh pilih mau makan di mana aja dan tentunya dikasih porsi spesial!” Rizal menjelaskan.
“Oh gitu… Dita juga mau dong jadi anggota VIPnya!” ujar Dita.
“Jadi yatim dulu, Mbak!” Rizal tertawa.
Dita ikut tertawa canggung. Tapi sejak itu ia semakin tidak suka dengan Junia.
“Kenapa sih semua orang di sini memperlakukan dia kayak spesial banget,” gumam Dika saat sedang duduk di belakang toko bersama pegawai lain.
“Karena yatim,” jawab salah satu teman mereka.
“Karena cantik.” sahut yang lainnya. “Tapi dia layak kok dapetin semua itu.” sambungnya.
Jawaban teman-temannya justru membuat Dita semakin memanas. Karena tidak ada yang iri dengan privilege yang Junia dapatkan.
Sampai akhirnya, Dita mulai merencanakan hal buruk untuk menyingkirkan Junia. Hari itu toko mendadak heboh karena Pak Danu kehilangan uang lima juta rupiah di dalam laci kasir. Dan kebetulan sekali, Cctv toko sedang mati.
“Gimana kalau periksa tas karyawan dulu, Pak!” usul Dita. “Siapa tau pelakunya nggak jauh-jauh. Soalnya tadi uangnya masih ada, kan?”
“Kamu curiga sama kita?” tanya salah seorang temannya.
“Bukan gitu maksudnya.” Dita menarik napas panjang. “Biar Pak Danu nggak ragu sama kita, jadi tetep harus diperiksa dong.”
“Dita bener. Untuk apa kita takut kalau bukan pelakunya,” sahut teman yang lain.
“Kalian semua nggak keberatan?” Pak Danu menatap para karyawannya.
“Nggak pak!” jawab mereka hampir serentak.
Pemeriksaan tas pun berlangsung. Junia berdiri sambil memperhatikan, sesekali ia bercengkrama dengan teman di sampingnya. Ia terlihat sangat santai.
“Ketemu!” Pak Danu mengangkat uang seratus ribuan yang diikat tapi. Uang itu ia temukan di dalam kotak botol yang ada di tas Junia.
Junia terperanjat saat melihat uang-uang itu Dengan cepat semua mata langsung tertuju pada Junia. Meminta penjelasan.
“Junia, kenapa uangnya ada di dalam tas kamu?” tanya Pak Danu.
“Saya nggak tau, Pak. Demi Allah bukan saya pelakunya. Untuk apa saya mengambil uang segitu dengan mengorbankan pekerjaan saya? Sedangkan pekerjaan ini sangat berarti untuk saya, Pak. Bapak kan tau sendiri pekerjaan ini untuk saya bertahan hidup.” Junia mencoba menjelaskan.
“Kalau kamu bukan pelakunya, tapi kenapa uangnya bisa ada di dalam tas kamu?” tanya Pak Danu bingung.
“Mungkin ada or—”
“Kalau bukan kamu, siapa lagi? Nggak mungkin uang itu jalan sendiri ke tas kamu! Udahlah nggak usah banyak alasan.” Dita memotong ucapan Junia.
Teman-temannya yang lain hanya saling pandang tanpa membela. Mereka tidak yakin, tapi juga tidak tau bagaimana caranya membela Junia sebab buktinya sudah ada di depan mereka. Alhasil, mereka hanya menundukkan kepala, tak berani menatap Junia. Sementara Dita tampak puas melihat Junia sudah terpojok tanpa ada yang membelanya.
Pak Danu menghela napas berat. “Sudahlah! Saya nggak mau ribut, yang penting uangnya sudah kembali. Dan Junia… saya mau kamu libur dulu bekerja sampai masalah ini selesai,” jelas Pak Danu
Junia hanya mengangguk lemah. Ia tak ingin protes karena sungguh—hal itu sangat melelahkan. Namun hari libur itu tidak pernah berubah menjadi hari kembali bekerja. Pak Danu tidak pernah memanggil Junia untuk bekerja lagi. Junia tidak ingin bertanya dan menganggap bahwa hari itu dia sudah dipecat dengan lembut.
“Aku harus cepet dapet kerjaan baru!” ucap Junia saat melihat saldo di rekeningnya hanya tersisa 2 juta rupiah. Ia memang memiliki rumah dan tak perlu lagi memikirkan membayar kontrakan, tapi… ia juga butuh makan untuk tetap bertahan hidup, kan?
***
Bersambung...
Khan sudah ada clue, Tattoo Mawar.
episode pertama bagus, bikin penasaran.
semoga selanjutnya makin bagus.