Kisah cinta antara Dafa Artanegara dan Risma Anggraini, mereka di pertemukan dalam sebuah kecelakaan, karena rasa bersalah, Dafa menikahi Risma yang hanya seorang yang biasa saja.
Dari pernikahan yang di dasari rasa bersalah itulah,Dafa akhirnya benar-benar jatuh cinta dengan sosok Risma yang sederhana dan baik hati, tapi bagaimana jika Risma tahu siapa Dafa yang sesungguhnya, Apa lagi Dafa yang mempunyai sisi gelap dan tidak di ketahui oleh Risma.
Yuk mari silahkan di baca jika ingin tahu kisah cinta mereka yang penuh dengan emosi dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahayu Avilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berusaha
Chika yang masih shock melihat kedatangan Dafa hanya diam sangking terpesonanya dengan ketampanan Dafa.
"Hey Nona, apa kamu mendengarku?." Kata Dafa sambil melambaikan tangannya.
"Eh iya, hehehehe, maaf tuan saya tidak tahu dimana Risma, karena setahu saya Risma tinggal di rumah suaminya." Ucap Chika bohong, padahal dia tahu kalau Risma ada di dalam ruangan kerjanya di toko itu. Soalnya barusan Risma mengirim pesan singkat di WA bahwa dia tidak ingin ketemu suaminya.
"Oh begitu, baiklah Nona, makasih atas infonya." Kata Dafa, lalu dia keluar dari toko kue itu dengan perasaan kecewa.
Setelah keluarnya Dafa dari toko, Risma pun menghampiri Chika, wajahnya masih tampak bersedih, Chika yang mengerti hal itu hanya berusaha menguatkan Risma lewat pelukannya.
Karena sebelumnya Chika yang melihat Risma datang dengan membawa koper ke toko, langsung menginterogasinya dengan begitu banyak pertanyaan. Dan akhirnya Risma menceritakan semua masalah di dalam rumah tangganya.
Dan Chika juga sudah melihat berita gosip di TV soal Dafa yang pergi kencan dengan Luna, anak dari keluarga yang sangat kaya, Chika ikut pribatin atas semua yang menimpa Risma sahabatnya itu, di saat keluarga mendapat musibah, malah ada masalah dalam rumah tangganya.
Kini Chika menyuruh Risma untuk tinggal di tempat kostnya untuk sementara waktu selama Risma belum mendapat tempat tinggal.
Jam di dinding menunjukkan pukul 08.00 malam, Chika dan Risma pun berniat menutup tokonya, setelah mengunci pintu toko tersebut, mereka bersiap untuk pergi, sesampainya di parkiran motor milik Chika, mereka bersiap untuk meninggalkan tempat itu.
Namun tiba-tiba sebuah tangan menarik tangan Risma dan menggenggamnya sangat erat. Risma yang terkejut spontan menoleh ke arah belakang. dan betapa terkejutnya Risma ketika tahu siapa yang menggenggam tangannya.
"Mas Dafa." Gumam Risma
Chika pun ikut menoleh ke belakang. ketika Chika tahu siapa orang tersebut, dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Risma, kita perlu bicara." Kata Dafa sambil dia menarik tangan Risma untuk menuju ke arah mobilnya. Walaupun Risma berusaha untuk menarik tangannya dari genggaman Dafa, tapi itu tidak berhasil.
"Mang Asep, jalankan mobilnya." Kata Dafa yang terus menggenggam tangan Risma, seakan dia sangat takut untuk kehilangan Risma.
"Baik tuan, tapi kita kemana tuan?"
"Resort."
"Baik tuan muda."
Dengan kecepatan sedang mang Asep mulai melajukan mobil itu menuju resort. Risma hanya diam tanpa melihat ke arah Dafa, dia hanya melihat keluar jendela.
Sebenarnya tadi Dafa sengaja menelpon mang Asep untuk datang ke tempatnya saat sedang menunggu Risma, ketika dia keluar dari toko kue tadi dan memasuki mobilnya dari jauh Dafa melihat Risma yang sedang sibuk melayani pelanggan. Karena tidak mau kehilangan jejak Risma, Dafa sengaja menunggu di dalam mobilnya dan terus memantau ke arah toko.
Baik Dafa maupun Risma hanya diam selama di dalam mobil, Dafa tidak pernah memberi celah untuk Risma melepaskan tangannya, sesekali Dafa melirik ke arah Risma. Entah mulai kapan Dafa merasa takut kehilangan Risma. Bahkan jika teringat isi berkas tadi membuat Dafa semakin takut.
Tidak butuh waktu lama mobil yang di kemudikan mang Asep pun sampai di resort. Mang Asep membukakan pintu buat Risma, setelah Risma keluar dari mobil, kemudian mang Asep berjalan ingin membukakan pintu buat Dafa, ternyata lelaki itu sudah berada di samping Risma dan melingkarkan tangannya ke pinggang Risma, tentu saja Risma yang terkejut itu pun menoleh sekilas lalu kembali diam dan tertunduk.
"Ayo masuk."
Mereka berdua pun masuk ke lobby resort, dan seorang manager datang untuk menyambut kedatangan mereka berdua.
"Selamat datang Tuan muda dan Nona muda."
"Hmm." Jawab Dafa , sedangkan Risma hanya mengangguk tanda menghormati orang yang di depannya
"Mari saya antar ke kamar anda tuan muda."
Dafa yang melepaskan tangan dari pinggang Risma kini beralih menggenggam jemari Risma dan menariknya untuk mengikuti langkahnya menuju ke kamar yang tadi sudah di pesannya lewat telepon. karena memang Dafa mempunyai kamar khusus di resort.
Sesampainya di depan kamar, manager itu membukakan pintu, dan mempersilahkan keduanya masuk.
Setelah masuk, Dafa mengunci pintunya dan melepaskan tangannya. Dafa duduk di sisi ranjang. Sedangkan Risma masih setia berdiri di dekat pintu keluar.
"Kemarilah." Kata Dafa sambil menepuk kasur di sebelahnya pertanda menyuruh Risma untuk duduk di sampingnya.
"Bukankah tadi mas bilang mau bicara?" Tanya Risma.
"Huft, ya, aku perlu penjelasan darimu soal isi dari surat ini?" Ucap Dafa sambil mengangkat amplop coklat di tangannya dan mengibaskannya di depan Risma.
"Mas bisa baca kan? di situ sudah tertulis dengan jelas."
"Risma, aku tidak akan menyetujui perceraian ini, dan aku tidak akan menandatanganinya, APA KAMU PAHAM??" Ucap Dafa yang di akhir kalimatnya sedikit membentak Risma sehingga membuat Risma terkejut.
"aku tidak butuh mas setuju atau tidak, aku sudah mengajukan ke pengacara aku, mas tinggal tunggu saja panggilan dari pengadilan nanti." Ucap Risma dengan ekspresi wajah datar.
Sebenarnya risma sangat sedih, bahkan tidak rela berpisah dengan Dafa, tapi melihat berita pertunangan Dafa dengan orang lain membuat Risma terlampau sakit. Dafa pun beranjak mendekati Risma dan memegang bahu Risma.
"Risma, kumohon cabut kembali permohonan cerai kamu, aku mohon Ris beri aku satu kesempatan, untuk memperbaikinya." Ucap Dafa memohon karena dia sudah frustasi harus gimana membujuk Risma.
"Maaf mas." Kata Risma lirih sambil menunduk.
"Ok ok aku tahu aku salah, karena tujuan awal aku menikahimu karena aku merasa bersalah sudah membuatmu buta, aku tidak pernah menemanimu, aku tidak pernah tahu kondisimu, bahkan kamu operasi di Singapore dengan memakai uang tabunganmu sendiri pun aku juga tidak tahu, ya, aku salah, bahkan di saat orangtuamu mengalami musibah aku tidak ada di sampingmu, aku bersalah soal itu semua, tapi tidak bisakah kamu memberiku kesempatan ke dua untuk memperbaiki kesalahanku?." Ucap Dafa panjang lebar sambil masih memegang kedua bahu Risma dan berusaha untuk melihat ke dalam mata Risma. Dafa tampak begitu frustasi dengan surat pengajuan cerai dari Risma yang masih di pegangnya.
Risma menggeleng pelan, dia tidak dapat menahan air matanya untuk keluar, walaupun dia tidak bersuara dalam tangisnya namun isakan itu sesekali terdengar oleh Dafa.
"Maaf, bisakah aku pergi sekarang?" Ucap Risma , dia tidak mau berlama-lama berada dalam satu ruangan dengan Dafa karena dia takut itu akan menggoyahkan niatnya untuk bercerai. Dafa tidak menjawab, dia hanya diam duduk di sisi ranjang. Risma pun berbalik dan menuju pintu keluar.
"Ingat Risma, sampai kapan pun aku tidak akan melepaskan kamu, aku akan membuat pengajuan ceraimu tidak akan berjalan mulus, ingat itu."
Sebelum benar-benar keluar dari pintu kamar, kalimat itulah yang Risma dengar, dan kini dia pun menangis sambil berlari menuju keluar resort.
Bersambung dulu ya..
Jangan lupa vote, komen nya ya..
Semoga suka dengan cerita nya..
kebetulan baru baca di hari senin, langsung kasih vote 👍🏻🤭