Pertemuannya di Club malam dengan Ammer pada hari ulang tahunnya membuat Mita terpaksa menerima ajakan Ammer menjadi kekasihnya.
Mita harus terperangkap dengan Ammer yang ternyata Bossnya sendiri di kantor, karena Zaky, lelaki bule yang tidak membayar tagihan pada malam itu.
Kisah cinta Mita, wanita dengan sejuta pesona dan tingkahnya sebagai wanita yang tidak biasa dimulai sejak hari itu.
Kisah cinta yang tidak seharusnya terjadi di antara Mita dan Ammer. Mita bahkan berjuang keras untuk selalu menahan hatinya agar tidak mencintai Ammer.
Bagaimana pernikahan itu terjadi, akankah Mita bertahan pada kisah cinta yang tidak diharapkannya ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madamme Yellow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belum Menyadari Suka
Sebelum masuk ruangan Ammer di lantai paling atas, Mita menarik nafasnya lalu menghembuskan pelan.
Inhale, Exhale, Inhale, Exhale.
Teman-temannya tidak ada yang tahu kalau kejadian malam itu Mita meminjam uang Boss-nya. Sebenarnya bertemu dengan Ammer di pagi hari seperti ini sungguh membuat Mita deg-degan luar biasa. Mita tidak pernah dipanggil sampai menemui CEO perusahaan. Jangankan CEO, dipanggil bertemu dengan pimpinan bagian saja, Mita jarang sekali, selalu Fitri yang mewakili mereka.
Ammer meminta Mita untuk ke ruangannya. Sebelum masuk ruangan, Mita sudah permisi ke sekretaris Ammer yang ada di di perusahaannya.
Tok … Tok …
Dengan pelan Mita mengetuk pintu ruangan Ammer, belum masuk saja Mita sudah seperti berdiri di pasar malam tempat rumah hantu berada.
Menyeramkan!
Ceklek.
Mita mendorong pelan pintu ruangan Ammer dan melihat Ammer tengah sangat sibuk dengan pekerjaannya. Antara masuk dan tidak rasanya berat sekali Mita pikirkan.
Masuk aja Mita masuk.
Ammer melirik dengan matanya yang tajam.
"Kenapa berdiri disitu, duduk!" ucap Ammer melirik kursi di depannya. Mita berjalan pelan sekali dengan senyum yang dipaksakannya, duduk dengan pelan dan menunduk. Sesekali melirik Ammer yang sibuk.
Kenapa ganteng yah hari ini, machoo lagi.
Mita hanya mampu memuji Ammer dalam hatinya karena hari ini di jam sekarang Mita sedang bekerja dan Ammer adalah pimpinan paling utama dari Group Philip.
"Mita, kamu sudah diberitahu Pak Haris?" tanya Ammer yang mengakhiri kesunyian diantara mereka.
"Iya Pak," ucap Mita gagap. Berhadapan dengan Ammer dalam posisi seperti ini sangat membuat Mita canggung. Semalam bahkan dia sudah mau mati karena bertemu dengan orang tuanya dan sekarang Ammer malah memanggilnya. Bahkan semua orang yang tahu Mita dipanggil ke ruangan Ammer tampak mencibir dan menganggap Mita menggoda Ammer. Bagian HRD bahkan sudah sibuk karena sudah mendengar Mita akan dipindahkan ke bagian sekretaris umum. Tentu mereka akan semakin mendekati Mita dan tersenyum di depan Mita. Namun, mencibir di belakangnya.
"Mulai Minggu depan yah," ucap Ammer dengan santainya.
Mita mengkerutkan keningnya.
"Saya tidak bisa jadi sekretaris, Pak. Jurusan saya administrasi," ucap Mita pelan. Lembut dan seperti wanita cantik seribu banding satu.
"Kamu, waktu tanda tangan kontrak lihat kan, kalau kamu bersedia ditempatkan dimana saja, apa kamu lupa atau aku minta HRD untuk mengambilkan kontrak lama kamu," ucap Ammer dengan sinis.
Sabar Mita, sabar! Hehh. Bilang gak akan cinta, jauh dari aku aja kamu gak bisa. Bilang aja suka sama aku.
"Gak baca sih Pak, soalnya banyak. Yang paling aku baca di bagian gaji aja, kalau sudah benar. Aku tanda tangannya cepat, hehehe …."
Mita masih sempat dan masih bisa menjawab apa yang Ammer katakan padanya.
"Perlu mengulang lagi bacanya?" tanya Ammer sedikit memiringkan kepalanya menatap Mita.
Mita menggaruk lehernya yang tidak gatal, tidak enak berhadapan dengan Ammer pada posisi seperti ini. Ammer sangat tegas sekali. Bahkan Ammer sedang benar-benar memposisikan Mita sebagai bawahannya.
"Tidak perlu," ucap Mita dengan pelan. Percuma melawan Ammer. Tidak akan menang.
"Pak, saya kesini juga mau mengembalikan kalung dan anting yang semalam," ucap Mita. Mita mengambil kotaknya dari paper bag yang sedari tadi dibawanya dan menyerahkannya di meja Ammer.
Ammer mengambilnya dan membuka kotak yang diberikan Mita. Kemudian memberikannya pada Mita.
"Itu untukmu," ucap Ammer bersidekap. Mita terbelalak dan segera menggeleng.
"Maaf Pak! Kali ini saya menolak, bukannya mau sombong tapi bentuknya saya tidak suka," ucap Mita berbohong. Tentu dia tidak tahu bagaimana menolaknya kalau menolak karena tidak suka pasti Ammer akan mengambilnya kembali.
Melawan Ammer, Mita jelas tidak akan menang.
"Tidak suka?" tanya Ammer seolah tidak percaya. Bagaimana bisa wanita biasa seperti ini tidak suka dengan kalung berlian semahal itu, apa Mita ini tidak normal?
"Iya Pak, saya suka yang bentuknya sederhana, apalagi yang bermata satu, kalau yang bapak berikan ini matanya terlalu banyak," ucap Mita dengan senyum kecutnya.
Hehh. Jelas ini alasan Mita untuk menolak.
Ammer tidak ingin tarik ulur, dia tidak memaksa Mita untuk tidak mengambil hadiah darinya.
Kalau aku ambil kalung ini, bisa-bisa hidup aku diatur oleh dia.
"Ini katalog baru perumahan mewah yang ada di Jakarta, setelah aku lihat semuanya bagus dan tinggal kamu yang pilih, kamu mau yang mana. Tinggal beritahu padaku," ucap Ammer menyodorkan majalah baru perumahan mewah yang ada di Jakarta.
Ya Tuhan … Mita sudah tidak tahu mau berkata apa lagi dan sudah bingung mau bagaimana menolaknya.
"Pak, semalam saya bercanda, saya tidak serius mengatakan itu semua dan saya juga kebetulan sudah ada uang untuk mengganti uang yang Bapak pinjam malam itu," ucap Mita. Mita sedang dalam kondisi formal dan tidak bisa bermanja dengan Ammer. Terus terang saja berhadapan dengan Ammer dalam posisi menggunakan setelan kerja membuat Mita ciut.
"Mita, sebenarnya aku paling malas mengulang apa yang sudah aku katakan padamu, tetapi sepertinya kamu tidak mengerti," ucap Ammer tegas.
Sudah mau mati rasanya Mita saat Ammer menatapnya dengan tajam dan seolah ingin membunuh dengan gunting.
"Aku tidak suka dipanggil Bapak saat kita tengah berdua dan aku paling tidak suka dipermainkan, kamu bisa transfer hutang kamu tetapi bukan berarti aku lupa dengan apa yang kamu katakan," ucap Ammer.
Mita meringis dan mengambil katalognya. Sedangkan Ammer mendekat ke arah Mita. Menumpuhkan satu tangan kanan di meja dan tangan kiri di kursi Mita. Tubuhnya sedikit mendekat ke arah Mita, bahkan dekat sekali. Nafas Ammer yang harum mint bahkan dapat Mita rasakan.
"Suka yang mana?" tanya Ammer melirik Mita.
Mita ikut melirik Ammer dan menggeleng, dia tidak ada yang suka dengan rumahnya.
"Terlalu besar untuk aku sendiri," ucap Mita jujur. Kali ini dia jujur. Lelah sudah dia menghadapi Ammer.
"Apartemen suka?" tanya Ammer serius. Ammer memang tidak pernah main-main kalau mau memberikan hadiah pada calon kekasih, kekasih atau orang yang dicintainya.
"Apartemen itu murah yah?" tanya Mita. Lagak Ammer sombong banget, gak mau rumah tawari apartemen. Enak banget hidup kalau gini caranya.
"Tergantung kamu suka yang mana," ucap Ammer menyerahkan semuanya pada Mita.
"Ammer, aku gak ada yang suka, baiklah aku mau menjadi kekasihmu, kamu tidak perlu memberikan aku ini dan itu, aku akan membantu kamu," ucap Mita. Mita mengalah. Lebih baik dia setuju dan tanpa ada perjanjian dan saling menguntungkan sama sekali.
"Tetapi aku tidak mau sandiwara. Kalau kamu mau, aku yah benar-benar jadi kekasihmu, aku boleh marah dan boleh merajuk. Kamu gak boleh ngancem aku, duduk dekat kamu begini aja sudah buat aku jantungan, satu lagi. Kamu gak boleh melarang apa yang aku kerjakan dan aku dekat dengan siapapun, tiga bulan kita putus yah."
Hahahha ….
Ammer tertawa dengan kerasnya. Bagaimana wanita ini lancang sekali. Bahkan banyak sekali permintaannya. Ammer malah lebih suka Mita minta barang ini dan itu daripada syarat yang dia ajukan.
Tidak ada yang lucu tapi laki-laki gila ini tertawa.
"Itu terserah aku Mita," jawab Ammer dengan tegas. Kesal sekali Mita mendengar apa yang Ammer katakan.
"Kalau begitu aku gak mau, kamu bisa cari wanita lain, aku juga sudah bayar hutangku, kamu tu kalau suka sama aku bilang aja sih," ucap Mita kesal. Mita berdiri dan akan pergi dari ruangan Ammer.
Sudah kalau memang mau dipecat tapi dia akan protes kalau disuruh mengganti rugi.
"Mau kemana?" tanya Ammer menarik tangan Mita.
"Baiklah kamu boleh marah dan merajuk," ucap Ammer menunduk menatap Mita. Mita mendongak dan memanyunkan bibirnya.
"Ya sudah kalau gitu kita jadian, mana nomor rekening kamu," ucap Mita menengadahkan tangannya meminta no rekening Ammer.
"Tapi aku juga, tetap akan memberikan kamu apartemen dan apa yang aku beri kamu juga tidak boleh menolak," ucap Ammer tegas.
"Baru kali ini aku melihat wanita yang jual mahal seperti kamu," lanjut Ammer menyindir Mita.
Terserahlah. Pusing menghadapi orang kaya.
"Ok deal!"
To Be Continued….
mana udah sadar lagi siapa yg digandeng😅😅
sukses
semngat
mksh
sekarang