NovelToon NovelToon
MENIKAHI PRIA ASING BERKURSI RODA

MENIKAHI PRIA ASING BERKURSI RODA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam / Komedi
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Di usianya yang baru 25 tahun, Inayah Putri adalah gabungan sempurna antara kecerobohan, ketomboyan, dan kejeniusan. Ide-ide cemerlangnya sukses mengguncang perusahaan papan atas, melejitkan karier dan gajinya secara instan.

Sayang, sukses di dunia kerja tak sebanding dengan percintaannya. Bertahun-tahun berkorban demi Pasya, Inayah justru menerima kenyataan pahit saat tak sengaja mendengar percakapan Pasya dan ibunya, yang menganggapnya "ATM berjalan". Janji pertunangan dan pernikahan yang diimpikan hanyalah kebohongan belaka.

Dalam keputusasaan di tepi pantai, matanya tertuju pada Abiyan Zimraan, pria misterius berkursi roda yang dikiranya hendak bunuh diri. Tepat ketika ibunya mendesak untuk segera menikah dan Inayah menolak untuk kembali pada Pasya, ia membuat keputusan ternekat dalam hidupnya.

Menatap Abiyan, meski lumpuh tapi memiliki ketampanan memikat, Inayah berpikir: "pria ini seribu kali lebih berharga dibanding pengkhianat seperti Pasya." Tanpa ragu, Inayah melamarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENAGIH JANJI PADA NENEK.

Keheningan tebal seketika menyelimuti ruang tamu yang tadinya bising. Pertanyaan Pirman mengudara bagai petir di siang bolong, membuat atmosfer di antara mereka membeku.

Bara menahan napas di posisinya, sementara jemari Abiyan mencengkeram erat pegangan kursi rodanya. Pria itu menunduk sejenak, lalu perlahan mendongak. Bibel bibirnya bergerak, hendak membuka suara untuk menyusun kebohongan atau mungkin... kepasrahan.

Namun, sebelum sepatah kata pun lolos dari kerongkongan Abiyan, Inayah menyambar cepat dengan suara nyaring.

"Loh, Ayah! Bikin kaget aja! Nayah hampir lupa, bukannya tadi Bunda nyuruh kita ke rumah Nenek?" seru Inayah memotong habis ketegangan. Mata bulatnya mengerling tajam ke arah sang ibu, melemparkan kode agar ikut menyambar.

Ibu Royani yang paham tabiat anaknya langsung menangkap sinyal tersebut. "Oh iya! Mumpung belum sore, sana kalian berangkat!" sahut sang ibu cepat-cepat. "Biar Nenekmu senang kalau tahu cucunya udah nikah. Siapa tahu habis lihat kamu membawakan suami, besok Beliau langsung mau dioperasi. Biar Ayahmu kagak kepikiran terus mikirin Enyaknya yang keras kepala susah diajak ke rumah sakit!"

Pirman menghela napas panjang. Wajah seriusnya melunak berganti helaan pasrah. "Yaudah, sono pergi. Biar kagak kemalaman di jalan."

Inayah tidak membuang waktu. "Siap, Ayah! Ayo, Mas!" serunya sambil buru-buru memutar posisi kursi roda Abiyan dan mendorongnya keluar rumah sebelum sang ayah berubah pikiran. Bara mengikuti dari belakang dengan jarak yang terjaga.

Mereka menyusuri jalanan aspal kompleks yang terik. Roda kursi roda Abiyan berputar halus di atas permukaan jalan.

Setelah jarak rumah terasa cukup jauh, Abiyan memecah kebisuan. "Kenapa kamu memotong pembicaraan tadi? Kenapa kamu tidak membiarkan aku bicara pada Ayahmu?"

Inayah tetap mendorong dari belakang, pandangannya lurus ke depan. "Ya... buat menjaga situasi aja," jawabnya santai. "Gua yakin Mas pasti punya alasan kuat kenapa harus pura-pura lumpuh, kan? Jadi biarkan kaya gini dulu, sampai apa yang Mas rencanakan benar-benar selesai."

nafas Abiyan seolah terhenti secara mental. Ia tertegun. Kalimat polos dari mulut Inayah menembus pertahanannya. Pria itu heran, bagaimana bisa gadis se-ceroboh Inayah memiliki peka dan pemahaman seluas ini? Ia tidak pernah menuntut penjelasan, tidak pernah memojokkan, dan seakan paham bahwa ada beban berat yang sedang dipikul Abiyan.

Tapi... kenapa rasanya aku malah sedikit kecewa? Kenapa aku berharap dia menanyakan rahasia ini padaku? batin Abiyan bingung dengan perasaannya sendiri.

Sepanjang sisa perjalanan, keduanya tenggelam dalam keheningan masing-masing. Hanya ada hembusan angin sore dan gesekan roda di atas aspal.

Tak berapa lama, Inayah membelokkan kursi roda memasuki sebuah gang sempit. Lebarnya pas-pasan, namun cukup lapang untuk dilintasi kursi roda Abiyan. Rumah nenek Inayah memang hanya berjarak dua gang dari rumah orang tuanya. Gang ini dikenal sebagai 'gang keluarga', di mana hampir seluruh penghuninya adalah kerabat dari pihak Ayah Inayah.

Begitu sampai di depan sebuah rumah panggung kayu berarsitektur lama yang disebut rumah induk, Inayah langsung melancarkan aksi andalannya.

"Assalamualaikum! NENEKKK! Ooooh, Nenek!" teriak Inayah dengan suara cemprengnya yang melengking. "Inayah, cucu kesayangan Nenek yang paling imut dan paling lucu datang nih! Membawa kejutan super besar!"

Suara pintu kayu berdecit terbuka. Tak berapa lama, muncul seorang wanita tua yang berjalan tertatih-tatih mengandalkan tongkat kayu. Di sampingnya, seorang wanita muda dengan perut yang tampak membuncit sedang telaten menuntunnya.

"Eh, Naya! Kapan sampainya kamu, Nak?" tanya wanita hamil itu dengan senyum ramah.

"Tadi, Tante Prianti. Sekitar jam sepuluhan gitu deh," jawab Inayah ceria.

Mata Tante Prianti lalu bergulir turun, menatap sosok pria tampan di atas kursi roda di samping Inayah. Keningnya berkerut heran. "Loh, ini siapa, Nay?"

"Ini suami Nayah, Tante!" sahut Inayah bangga sambil menepuk pelan bahu Abiyan.

Sang nenek yang matanya sudah agak lamur menyipitkan pandangan, menatap Abiyan lalu berganti menatap cucunya. "Beneran ini suami kamu, Nay? Nanti bohong lagi... Cuma akal-akalan kamu aja kan supaya Nenek mau dioperasi?"

Inayah menepuk jidatnya. "Yaelah, Nenek kagak percayaan amat!"

Buru-buru Inayah merogoh tas selempang kecilnya, mengambil buku nikah bersampul hijau, lalu menyerahkannya langsung ke jemari sang nenek yang sudah keriput.

Nenek menerima buku itu, membukanya perlahan, dan memperhatikan foto serta stempel resmi di dalamnya. Matanya membelalak kaget.

"Wah... ternyata beneran! Cucu Nenek yang paling jahil ini udah nikah?" tanya Sang Nenek, nada suaranya berubah antara kaget dan haru.

"Beneran dong! Nayah kagak pernah bohong kalau urusan ginian!" seru Inayah riang. Ia menyenggol pelan bahu neneknya. "Nah, sesuai janji kita waktu itu, kalau Nayah udah nikah, Nenek harus secepatnya mau dioperasi!"

Sang nenek terkekeh pelan, mengelus kepala Inayah penuh kasih sayang. "Iya, iya... Besok Nenek bakal nurut sama kamu. Nenek mau dioperasi."

Inayah bersorak girang, sementara Abiyan yang duduk di kursi rodanya menatap kehangatan interaksi itu dengan sudut bibir yang perlahan terangkat membentuk senyuman tulus.

1
Sribundanya Gifran
thor dmn drimu thor lanjut double up thor💪💪💪💪💪
Baek chanhun
nenek sm kakek tempat inayah sj,.agar awet muda
Sribundanya Gifran
lanjut
falea sezi
lanjuttt🤭 q kirim hadiah
Naftali Hanania
keren nayah...🤩 biarpun tetep aja ada kejadian lucu nya 🤭✌️
Baek chanhun
next thourt💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut
mama
top mar kotop abiyan gk ad duany pokok ny,sat set gk bakal ngasih celah buat musuh 😄
Teh Fufah
keren nayah nih... udah punya pengawal
Sribundanya Gifran
thor up yg bnyak thor💪💪💪💪💪
Mutiara Nisak
mimpi apa dirimu nay semalam,dpt cincin seharga milyaran,klo hilang belinya kyk beli kerupuk pasir....😄😄😄
Naftali Hanania
wadaw...ini sultan di atas sultan ya...10m klk ilqng tinggal beli lg.....mantabbbb👍👍👍👍
Naftali Hanania
gak dpt mangsa baru..mangsa lama diudak - udak 😎
Naftali Hanania
begitu kalok jodoh kali ya....saling ngelengkapin 😍👍
Naftali Hanania
🤣🤣🤣 kaget kali sm.interaksinya nayah sm nrnek nya....gak pernah gitu ya byan sm nenek nya 😁✌️
Naftali Hanania
kasihtau gak ya....😁✌️🤭
Naftali Hanania
👍👍👍👍
Naftali Hanania
no jaim2 ya inna 🤭
Naftali Hanania
🤣🤣🤣 inna tidurnya sorah...parah 🤣🤣🤣🤣
Naftali Hanania
mendadak jd orang ssuper duper have ya In 🤭👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!