Di mata dunia, Theodore hanyalah "menantu benalu" yang bisanya mencuci piring, mengepel lantai, dan menelan setiap hinaan dari keluarga istrinya tanpa perlawanan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik celemek kusamnya, ia adalah Dewa Perang yang ditakuti, Raja Mafia terkuat, dan miliarder pemilik perusahaan raksasa yang sengaja memalsukan kematiannya. Ia menahan semua caci maki hanya demi Yevone, satu-satunya wanita yang setia membelanya di tengah keluarga yang kejam. Namun, ketika keserakahan keluarga mertuanya dan Keluarga Z melewati batas hingga mengancam keselamatan Yevone, Theodore memutuskan sudah waktunya melepas penyamarannya. Dengan sebuah cincin naga hitam usang di jarinya, Theodore bersiap menunjukkan kepada mereka bahwa kemiskinan yang absolut adalah hukuman yang jauh lebih mengerikan daripada kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RDBMB 2
Sinar matahari pagi menembus celah gorden tipis yang mulai pudar warnanya di kamar kecil ujung lorong. Yevone masih tertidur pulas karena kelelahan, napasnya teratur namun keningnya sesekali berkerut, seolah beban masalah perusahaan masih mengejarnya hingga ke alam mimpi. Theodore berdiri di ambang pintu, menatap istrinya dalam diam selama beberapa detik sebelum menutup pintu tanpa suara.
Jam di dinding lorong baru menunjukkan pukul lima pagi. Sesuai rutinitas yang sudah dijalaninya selama tiga tahun terakhir, Theodore turun ke dapur.
Lantai marmer terasa dingin di telapak kakinya yang hanya beralaskan sandal jepit karet. Theodore mulai menyiapkan sarapan untuk keluarga Mahendra. Tiga porsi telur setengah matang dengan tingkat kematangan presisi, roti panggang mentega, dan kopi hitam tanpa gula untuk mertuanya. Semua harus disajikan tepat pukul setengah tujuh, atau ia akan kembali mendengar teriakan melengking Martha yang bisa merusak *mood* seharian.
Tepat pukul enam lewat empat puluh lima menit, suara langkah kaki berat terdengar menuruni tangga. Kevin, sepupu Yevone yang juga tinggal di rumah besar itu, berjalan masuk ke ruang makan. Pria berumur dua puluh enam tahun itu memakai kemeja sutra bermerek dan jam tangan Rolex keluaran terbaru yang sengaja dibiarkan mengintip dari balik lengan bajunya. Aroma parfum mahalnya langsung mengalahkan wangi kopi yang baru diseduh Theodore.
"Kopiku mana? Lama banget sih kerjamu!" Kevin membentak sambil menarik kursi makan dengan kasar.
"Ini," Theodore meletakkan secangkir kopi panas tepat di depan Kevin. Gerakannya sangat tenang, nyaris tanpa suara.
Kevin mendengus kesal. Ia selalu benci melihat ketenangan Theodore. Di matanya, pria yang menumpang hidup di keluarganya ini seharusnya menunduk ketakutan setiap kali dibentak, bukannya memasang wajah sedatar tembok. Saat Theodore menarik tangannya kembali setelah meletakkan cangkir, mata Kevin tertuju pada jari manis pria itu.
"Tunggu sebentar," Kevin menahan pergelangan tangan Theodore dengan kasar.
Theodore menghentikan gerakannya. Secara refleks, otot-otot di lengannya menegang. Jika Kevin tahu bahwa pergelangan tangan yang sedang dipegangnya ini pernah mematahkan leher puluhan pembunuh bayaran top dunia, pria sombong itu pasti sudah mengencingi celananya sendiri. Namun, Theodore meredam insting membunuhnya. Ia membiarkan Kevin menggenggam tangannya.
"Cincin apa ini? Jelek banget warnanya hitam kusam begini," Kevin mencibir sambil memperhatikan cincin besi bermotif sisik naga yang melingkar di jari manis Theodore. "Lo beli di pasar loak pinggir jalan, ya? Atau lo mungut di tempat sampah?"
"Ini hanya suvenir tua," Theodore menjawab dengan nada datar, berusaha menarik tangannya secara perlahan.
Kevin malah mencengkeramnya lebih kuat. Ia tertawa meremehkan. "Suvenir tua apanya? Logamnya aja udah karatan begini. Eh, lo tuh sadar diri dong. Lo tinggal di rumah Keluarga Mahendra. Tamu-tamu yang datang ke sini itu orang penting semua. Kalau mereka lihat lo pakai cincin rongsokan kayak gini pas lagi nuangin minum, mereka bisa mikir keluarga kita ini jatuh miskin sampai gak bisa beliin pembantunya perhiasan yang bagusan dikit!"
"Ada ribut-ribut apa ini pagi-pagi?" Martha muncul dari ambang pintu ruang makan, masih memakai gaun tidur sutranya, wajahnya ditekuk masam.
"Ini lho, Ma. Liat deh cincin si benalu ini," Kevin menunjuk tangan Theodore seolah sedang menunjuk kotoran yang menempel di sepatu. "Pakai cincin besi rongsokan. Bikin kotor pemandangan aja."
Martha melirik sekilas ke arah cincin hitam itu, lalu memutar bola matanya dengan jijik. "Buang saja cincin itu, Theodore! Bikin malu keluarga saja. Sudah baju kusut, pakai perhiasan murahan pula. Kamu memang tidak punya selera orang berkelas."
Theodore menatap cincin di jarinya. Cincin Naga Hitam itu terbuat dari paduan logam titanium-tungsten khusus yang tidak akan pernah bisa berkarat atau hancur meski dilindas tank militer. Ukiran naganya dibuat oleh seniman bawah tanah terbaik di Eropa, dan mata naganya adalah serpihan batu rubi darah yang sangat langka. Cincin ini adalah simbol kekuasaan absolut. Di dunia gelap, siapa pun yang melihat cincin ini akan langsung bersujud, karena cincin ini memegang kendali atas ratusan ribu pasukan bayaran elit dan triliunan dolar aset global.
Dan sekarang, cincin ini disebut barang rongsokan dari tempat sampah oleh dua orang bodoh yang kekayaan totalnya bahkan tidak cukup untuk membeli satu roda pesawat jet pribadi milik Theodore.
"Saya tidak akan membuangnya. Ini pemberian orang yang penting," Theodore menjawab pelan, namun nadanya memiliki ketegasan yang aneh.
"Berani kamu membantah?!" Martha menggebrak meja, membuat cangkir kopi Kevin sedikit terguncang.
"Tinggalkan dia sendiri!"
Suara Yevone menghentikan omelan Martha. Wanita itu berjalan gontai memasuki ruang makan. Rambutnya diikat asal-asalan, dan ia sudah rapi dengan pakaian kerjanya, meski wajah cantiknya masih memancarkan kelelahan yang luar biasa.
"Itu cincin peninggalan satu-satunya dari keluarga lamanya. Biarkan saja dia memakainya. Toh dia tidak mengganggu kalian," Yevone membela suaminya sambil menarik kursi dan duduk dengan lemas. Ia memijat pelipisnya perlahan.
"Kamu ini ya, Yev, selalu saja membela sampah ini. Terserah kamu lah. Awas saja kalau sampai bikin malu keluarga di acara besar nanti," sungut Martha sambil meraih roti panggangnya dengan kasar.
Kevin hanya tersenyum mengejek, lalu menyeruput kopinya. "Eh Yev, ngomong-ngomong soal perusahaan lo... kudengar dari teman di bank, kredit lo ditolak lagi ya kemarin? Hati-hati lho, kalau sampai gagal bayar bulan ini, kakek bisa benar-benar mencoret nama lo."
Tangan Yevone yang baru saja akan mengambil gelas air putih langsung terhenti di udara. Wajahnya memucat. Ia menatap Kevin dengan tatapan tajam yang bercampur keputusasaan.
"Itu bukan urusanmu, Kevin. Aku akan menyelesaikannya," Yevone menjawab dingin, meski suaranya sedikit bergetar.
Theodore yang berdiri di sudut ruangan hanya diam mengamati. Matanya menyipit saat melihat senyum kemenangan di wajah Kevin. Theodore tahu betul, sabotase yang dialami perusahaan istrinya bukan kebetulan belaka. Ada campur tangan orang dalam, dan Kevin adalah kandidat utamanya.
Setelah sarapan selesai dan Yevone berangkat terburu-buru ke kantor dengan mobil sedan tuanya, rumah kembali sepi. Martha pergi ke salon, sementara Kevin kembali ke kamarnya untuk tidur lagi.
Ini adalah waktu bebas bagi Theodore.
Ia berjalan ke halaman belakang, menuju sebuah gudang penyimpanan alat-alat kebun yang lembap dan kotor. Ia masuk, mengunci pintu kayunya dari dalam, dan memastikan tidak ada kamera CCTV atau pelayan lain yang mengintip.
Theodore berjongkok di sudut ruangan. Ia menggeser sebuah pot tanaman besar yang sudah mati, lalu menekan sebuah batu bata di lantai dengan pola tertentu. *Klik.* Batu bata itu sedikit terangkat, memperlihatkan kompartemen rahasia berlapis baja pelindung.
Dari dalam sana, Theodore mengeluarkan sebuah perangkat hitam pipih. Bentuknya sekilas mirip ponsel pintar biasa, namun bodinya terbuat dari material komposit serat karbon tanpa satupun merek dagang. Layarnya tidak akan menyala hanya dengan sentuhan biasa.
Theodore menempelkan Cincin Naga Hitamnya ke bagian belakang perangkat itu. Sebuah cip mikro tak kasat mata di dalam cincin tersebut beresonansi dengan perangkat. Layar langsung menyala biru, menampilkan pemindai retina. Theodore menatap layar itu lekat-lekat.
*Bip. Akses Diterima. Selamat datang kembali, Commander.*
Layar menampilkan antarmuka yang sangat kompleks, penuh dengan grafik data satelit, pergerakan dana global, dan notifikasi berenkripsi tingkat tinggi. Ada satu pesan darurat dengan label merah berkedip di pojok atas layar. Pesan itu dari Exel, tangan kanan sekaligus panglima tertingginya yang saat ini mengendalikan Aegis Corporation di markas pusat.
Theodore membuka pesan tersebut.
*"Tuan, konsorsium perbankan di Eropa Timur menolak untuk tunduk pada batas wilayah dagang yang kita tetapkan bulan lalu. Mereka berencana mendanai sindikat senjata saingan kita untuk memicu konflik baru di perbatasan. Mereka mengira Anda sudah mati dan menganggap Aegis sedang melemah. Mohon instruksi."*
Di bawah pesan itu, terdapat dokumen setebal ratusan halaman digital yang berisi rincian aset, daftar perusahaan cangkang, dan nama-nama petinggi konsorsium tersebut. Total aset yang terlibat dalam transaksi ini bernilai lebih dari 4,2 miliar dolar Amerika.
Mata Theodore yang tadinya terlihat redup saat menyajikan kopi untuk Kevin, kini berubah sedingin es di kutub utara. Udara di dalam gudang sempit itu seolah ikut membeku. Ia bukan lagi pria benalu yang bisa diinjak-injak; ia adalah Dewa Perang yang menentukan hidup matinya ekonomi dan kekuasaan banyak negara.
Jari-jarinya yang besar dan kapalan mengetik balasan dengan sangat cepat.
*"Tutup semua jalur kredit mereka melalui bank sentral yang kita kuasai. Bekukan aset cair mereka dalam waktu satu jam. Akuisisi paksa perusahaan logistik utama mereka. Jika ada yang melawan, kirim Pasukan Bayangan untuk membersihkan petingginya malam ini juga. Buat mereka sadar bahwa naga yang sedang tidur tidak boleh dibangunkan."*
Theodore membaca ulang perintahnya sesaat, lalu menekan tombol *'Execute'*.
*Transmitting data... 100%. Command Confirmed.*
Lewat satu ketukan ringan dari jari yang baru saja dihina memakai "cincin pasar loak" itu, sebuah keputusan miliaran dolar disahkan. Dalam kurun waktu kurang dari enam puluh menit ke depan, bursa saham di belahan bumi lain akan terguncang hebat. Para miliarder arogan yang mencoba melawan Aegis Corporation akan menangis darah melihat kerajaan bisnis mereka runtuh tak bersisa menjadi debu, persis seperti kepingan piring porselen semalam.
Theodore mematikan layar perangkat itu, memasukkannya kembali ke dalam kompartemen rahasia, dan mengembalikan pot tanaman ke posisi semula. Ia berdiri, membersihkan debu di celana hitam kasarnya.
Ia memutar Cincin Naga Hitam di jarinya perlahan. Senyum sinis terukir di sudut bibirnya.
"Tunggu sebentar lagi, Yevone," gumamnya pelan pada udara kosong. "Setelah aku mengurus hama-hama kecil di luar sana, aku akan mengurus lintah-lintah yang menghisap darahmu di rumah ini."
Theodore membuka kunci pintu gudang. Ia kembali mengambil sapu dan kain pel, bersiap membersihkan teras depan sebelum ibu mertuanya pulang dari salon. Peran sebagai pria lemah belum selesai, setidaknya untuk hari ini.