Dicampakkan Aris karena dianggap tidak selevel, Aura memilih balas dendam paling elegan: Menikahi Hendra (38th), ayah Aris yang tampan dan kaya raya.
Kini, sang mantan harus tunduk di bawah kekuasaan ibu tiri barunya.
"Dulu kamu menginjakku, Aris. Sekarang, panggil aku Ibu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM PENYERBUAN
Deru mesin tiga mobil SUV hitam melaju kencang membelah jalanan tol Jagorawi yang mulai lengang menjelang tengah malam. Lampu sorot kendaraan memecah pekatnya kabut malam yang turun di kawasan pegunungan Sentul. Di dalam kabin mobil utama, keheningan terasa begitu mencekam dan sarat akan ketegangan yang siap meledak kapan saja.
Hendra Fahreza duduk di kursi belakang dengan rahang mengeras. Tangannya terus menggenggam erat jemari Aura, seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatan dan keyakinan bahwa putra tunggal mereka, Rendra, akan berhasil diselamatkan tanpa kurang suatu apa pun. Di mata sang taipan, tidak ada ampun bagi siapa pun yang berani menyentuh keluarganya—terutama Aris, mantan narapidana yang kini benar-benar telah melompat ke jurang kehancurannya sendiri.
Aura duduk di samping suaminya dengan tatapan lurus ke depan. Meskipun ada badai kecemasan seorang ibu yang bergemuruh hebat di dalam dadanya, Aura menunjukkan ketenangan luar biasa. Ia menyandarkan punggungnya, menarik napas dalam-dalam, lalu merapikan gaun krem yang dipakainya.
“Tim penyergap sudah mengepung perimeter luar rumah peristirahatan itu, Pak Hendra,” laporan dari kepala pengawal lewat sambungan radio memecah keheningan kabin. “Total ada dua puluh lima personel bersenjata lengkap yang mengunci akses masuk dan keluar dari segala sisi. Tidak ada jalur pelarian untuk target.”
Hendra mendekatkan perangkat radio ke dekat mulutnya, suaranya terdengar sangat rendah dan dingin bagaikan belati es. “Bagus. Masuk secara senyap. Amankan Rendra terlebih dahulu sebelum kalian menyentuh Aris. Saya sendiri yang ingin melihat ekspresi wajah pria busuk itu saat dunianya runtuh untuk kedua kalinya.”
“Siap, Pak!”
Mobil yang mereka tumpangi akhirnya memperlambat laju, mematikan lampu utama, lalu berbelok mulus memasuki area jalan tanah berbatu yang tersembunyi di balik lebatnya pohon pinus. Di hadapan mereka, sebuah bangunan vila tua bergaya kolonial berlantai dua tampak berdiri remang-remang di bawah pendar cahaya bulan sabit. Jendela-jendela vila itu tertutup rapat, namun dari celah tirai lantai bawah, tampak pendar cahaya lampu kuning yang redup.
Kendaraan berhenti seratus meter dari gerbang vila. Hendra dan Aura membuka pintu mobil secara bersamaan, disambut oleh embusan angin malam pegunungan yang dingin menusuk tulang. Enam pengawal berbadan tegap langsung membentuk formasi perisai mengelilingi pasangan suami istri tersebut.
“Tetap di belakang saya, Sayang,” bisik Hendra protektif sambil menyerahkan sebuah rompi antipeluru ringan yang langsung dikenakan oleh Aura demi keamanan.
Aura tidak menolak. Ia mengangguk patuh, meski tatapan matanya tetap tajam menatap bangunan tua di hadapan mereka. “Hati-hati, Mas. Aris sudah tidak punya apa-apa lagi untuk hilang. Dia pasti sangat nekat.”
Dengan gerak senyap bagaikan bayangan, tim penyergap bergerak maju menyusuri semak-semak. Dua orang pengawal terdepan membobol kunci gembok gerbang samping dalam hitungan detik tanpa menimbulkan suara bising. Mereka melangkah masuk melewati halaman rumput yang ditumbuhi ilalang liar.
Tepat saat mereka mendekati teras utama vila, suara tawa berat yang parau mendadak terdengar dari dalam bangunan.
“Wah... wah... Lihat siapa yang datang berkunjung begitu cepat?”
Suara itu bergema lewat pengeras suara kecil yang sengaja dipasang di luar dinding vila, membuat langkah Hendra dan tim pengawal terhenti seketika.
Dari balik kegelapan teras, lampu sorot utama vila tiba-tiba menyala terang benderang, menyinari halaman dan menyorot tepat ke arah berdiri Hendra serta Aura.
Di ambang pintu utama vila, sosok Aris berdiri tegak memegang sebuah remote kontrol kecil di tangan kanannya. Di belakang Aris, di dalam ruangan yang remang-remang, tampak seorang anak kecil berusia empat tahun duduk terikat di atas kursi kayu dengan mulut ditutup kain hitam. Rendra.
“Rendra!” teriak Aura histeris, nyaris melangkah maju sebelum lengan kokoh Hendra sigap menahan tubuh istrinya.
Hendra memperketat rangkulannya, menahan Aura sambil menatap tajam ke arah Aris dengan tatapan mata seorang predator yang siap menerkam mangsanya.
Aris tersenyum lebar—sebuah senyuman miring yang tampak gila dan hampa. Rambutnya agak berantakan, dan kemeja abu-abu yang dipakainya tampak kusut. Di matanya terpancar kilat keputusasaan yang luar biasa, berpadu dengan dendam kesumat yang membara.
“Jangan mendekat, Hendra! Dan jangan suruh pengawal bodohmu bergerak satu langkah pun, atau tombol di tangan saya ini akan memicu aliran listrik ke kursi tempat anak kesayangan kalian diikat!” ancam Aris dengan suara parau yang amat keras dan bergetar.
Hendra mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat mutlak kepada seluruh pengawalnya untuk menghentikan pergerakan.
“Tenang, Aris! Jangan sakiti anak itu!” teriak Hendra penuh penekanan, mencoba mengulur waktu agar tim penyergap dari jalur belakang bisa segera mendobrak masuk. “Kamu mau apa sebenarnya? Kamu mau uang? Proyek? Sebutkan angkanya, dan saya transfer sekarang juga!”
Aris tertawa terbahak-bahak—sebuah tawa nyaring yang terdengar menyayat hati dan mengerikan di tengah keheningan malam pegunungan.
“Uang? Proyek? Kekayaan triliunan rupiah milik keluarga kalian? Hahaha! Kamu pikir hidupku bisa dibeli pakai uang sekarang, Pak Hendra?!” jerit Aris histeris. “Lima tahun aku membusuk di penjara jahanam itu! Lima tahun aku kehilangan segalanya gara-gara kalian berdua! Dan saat aku bebas, kalian masih terus menghancurkan hidupku, merebut proyekku, dan menginjak-injak harga diriku di depan umum!”
Aura melepaskan diri dari pegangan Hendra secara perlahan. Dengan langkah yang anggun namun penuh keberanian luar biasa, Aura maju tiga langkah ke depan, berdiri di bawah sorotan lampu terang tanpa mengenakan rasa takut di wajahnya.
“Aris,” panggil Aura tenang, suaranya yang jernih memotong teriakan histeris pria itu.
Aris menoleh, menatap wanita yang dulu sangat dicintainya—wanita yang kini berdiri sebagai Roni imperium Fahreza, mengenakan gaun krem berkelas dengan postur tubuh yang memancarkan wibawa mutlak.
“Aura...” bisik Aris, matanya mendadak memerah. “Iya... Kamu penyebab dari semua kehancuran ini! Kamu perempuan ular yang pura-pura tersenyum manis di atasku, padahal kamu menusukku dari belakang!”
“Aku tidak pernah menusukmu, Aris,” sanggah Aura tegas, suaranya tetap stabil dan terkontrol dengan sempurna. “Kamu sendiri yang menggali kuburanmu dengan kebodohan, kesombongan, dan kejahatanmu. Kamu membuangku karena mengira aku tidak selevel denganmu... Dan sekarang, saat kamu melihat aku berdiri di puncak tertinggi bersama pria yang jauh lebih hebat darimu, kamu menyalahkan takdir?”
“Diam! Tutup mulutmu, Aura!” bentak Aris murka, menunjuk wajah mantan kekasihnya dengan jari yang gemetar hebat. “Aku tidak peduli lagi dengan ceramah busukmu! Aku hanya ingin malam ini... sebelum aku menyerahkan diri atau mati... aku ingin melihat kalian berlutut memohon di hadapanku!”
“Berlututlah kalian berdua di tanah berlumpur itu!” perintah Aris penuh ancaman, mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi di atas tombol pemicu. “Atau anak kalian akan merasakan sengatan listrik pertama sekarang juga!”
Jantung Aura bergemuruh hebat. Naluri keibuannya menjerit ketakutan melihat putranya yang masih kecil duduk ketakutan di dalam ruangan sana. Namun di saat yang sama, tatapan matanya menangkap sesuatu yang luput dari perhatian Aris—bayangan dua pengawal bersenjata yang menyusup lewat jendela samping kaca besar di belakang Aris.
Waktu seolah bergerak sangat lambat.
Hendra di samping Aura mengepalkan tinjunya, bersiap mengambil risiko melompat menerjang jika Aris benar-benar menekan tombol tersebut. Namun sebelum hal itu terjadi, Aura memberikan isyarat halus lewat kedipan matanya pada sang suami.
“Aris... lihat aku,” panggil Aura lembut, sengaja mengalihkan perhatian penuh pria itu agar tidak menyadari pergerakan di belakangnya. “Kalau kamu mau aku berlutut, aku akan berlutut sekarang... Asal kamu biarkan Rendra keluar dulu dari ruangan itu.”
Aris terpaku sejenak, matanya menatap lekat-lekat sosok Aura yang perlahan mulai melipat lututnya ke tanah. “Bagus... Turunlah ke tanah, Aura... Tunjukkan kalau kamu tidak ada apa-apanya di depanku!”
Tepat saat lutut Aura hampir menyentuh tanah dan perhatian Aris sepenuhnya terkunci pada wanita di hadapannya—
KRAK! PRANG!
Kaca jendela besar di belakang Aris pecah berkeping-keping! Dua pengawal pribadi melompat masuk secara serentak, menerjang tubuh Aris dari arah belakang dengan kecepatan kilat!
“Keparat!” umpat Aris kaget, mencoba menekan tombol di tangannya.
Namun sebelum jemari Aris sempat menekan tombol pemicu, sebuah hantaman tendangan telak dari salah satu pengawal mengenai pergelangan tangannya hingga remote kontrol itu terpelanting jauh ke lantai sudut ruangan!
Bugh! Bruk!
Aris berguling di lantai, berusaha melawan dengan sisa-sisa tenaga dan amarahnya, namun kedua pengawal bersetelan hitam itu dengan sangat sigap mengunci tubuhnya, memelintir kedua tangannya ke belakang dan memborgolnya dengan kencang di atas lantai semen.
“Lepasin aku! Lepasin!” teriak Aris histeris, memberontak sia-sia.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Hendra berlari kencang menerobos masuk ke dalam vila. Pria matang itu langsung menghampiri kursi tempat Rendra diikat, merobek kain penutup mulut putranya dan memotong tali ikatan dengan pisau saku kecil miliknya.
“Papa...!” tangis Rendra pecah, langsung melompat memeluk leher ayahnya begitu ikatan di tubuhnya terlepas.
Hendra mendekap erat putra kecilnya dengan air mata haru yang nyaris tumpah. Ia mengangkat Rendra dalam dekapannya, lalu bergegas membawanya keluar menghampiri Aura yang sudah berdiri tegak dengan mata berkaca-kaca.
Begitu melihat putranya selamat, pertahanan Aura akhirnya sedikit runtuh. Ia langsung merebut Rendra dari pelukan Hendra, mendekap tubuh kecil buah hatinya erat-erat sambil menciumi seluruh wajah putranya dengan isak tangis tertahan.
“Rendra... Sayang... Mama di sini... Kamu nggak apa-apa, Nak?” tangis Aura pecah, mendekap erat putranya.
“Mama... Rendra takut...” bisik bocah kecil itu di pelukan ibunya.
Hendra merangkul pundak istri dan anaknya secara bersamaan, memberikan kehangatan mutlak di tengah malam yang dingin. Setelah memastikan Rendra aman di dalam pelukan Aura, Hendra perlahan membalikkan tubuhnya.
Pria matang berwibawa itu melangkah pelan mendekati Aris yang kini sedang dipaksa berlutut di hadapannya oleh dua orang pengawal. Pakaian Aris kotor, wajahnya lebam, dan napasnya memburu penuh keputusasaan.
Hendra berdiri tegak menjulang di atas tubuh Aris. Mata cokelat gelap sang taipan memancarkan kemarahan mutlak yang tidak lagi bisa ditawar.
“Kamu benar-benar tidak punya batas kehormatan lagi, Aris,” suara rendah Hendra terdengar bagaikan vonis mati yang mengerikan. “Dulu kamu menghancurkan hidup Aura demi ambisi murahanmu. Dan malam ini... kamu mencoba menyusup dan menyandera anak kandung saya sendiri.”
Aris mendongak, menatap ayah kandungnya dengan senyuman pahit dan tawa parau yang menyedihkan. “Bunuh saja aku, Pak Hendra... Bunuh aku sekalian! Hidupku sudah hancur total! Tidak ada lagi yang tersisa buatku!”
Hendra berjongkok sedikit, mencengkeram kerah kemeja Aris hingga wajah pria muda itu terpaksa mendongak menatap matanya.
“Membunuhmu hanya akan membuat tangan saya kotor,” bisik Hendra dingin di depan telinga Aris. “Tapi membiarkan kamu membusuk di sel isolasi terdalam penjara seumur hidup tanpa remisi... itu adalah hadiah terbaik yang pantas diterima oleh seorang pengkhianat sepertimu.”
Hendra melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Aris tersungkur kembali ke lantai.
“Bawa dia pergi dari hadapan saya. Serahkan ke kepolisian dengan dakwaan berlapis: penculikan anak di bawah umur, teror bersenjata, dan percobaan pembunuhan berencana,” perintah Hendra mutlak kepada para pengawalnya.
“Siap, Pak!”
Empat pengawal langsung menyeret Aris keluar dari vila. Jeritan putus asa dan raungan tangis Aris perlahan tenggelam di tengah suara angin malam pegunungan Sentul, menutup lembaran terakhir dari ancaman masa lalu yang selama ini menghantui hidup mereka.
Hendra berdiri, lalu beralih merengkuh Aura dan Rendra ke dalam dekapannya yang hangat dan kokoh.
“Semuanya sudah berakhir, Sayang,” bisik Hendra lembut, mengecup kening istri dan putranya secara bergantian. “Mari kita pulang ke rumah kita.”
Aura mendongak, membalas tatapan cinta dari suaminya dengan senyuman paling tulus dan bahagia. Di bawah pendar cahaya bulan malam itu, keluarga kecil mereka berdiri utuh, tak tergoyahkan oleh badai apa pun di dunia ini.