Aku Laila, santriwati hafizah yang dianggap calon ustadzah. Malam itu, tangan yang biasa memegang tasbih merobek kerudungku di ruang khusus pondok. Aku lapor, aku malah diusir dan dibilang fitnah kyai.
Aku kabur ke Seruyan, melepas hijabku, dan menyamar jadi cewek nakal demi satu tujuan: membongkar topeng Kyai Rahman, sugar daddy berkedok agama yang sudah menghancurkan banyak santriwati.
"Tuhan, izinkan aku berdosa sekali saja, untuk membuka dosa orang suci."
Dengan HP jadul dan nyali yang tersisa, ia masuk ke dalam lingkarannya. Ia merekam, mengumpulkan bukti transfer, chat mesum berkedok dalil, dan daftar korban lain yang jumlahnya belasan.
Tujuannya cuma satu: naik ke panggung pengajian akbar yang dihadiri ribuan orang, dan memutar semua kebusukan itu di depan mata sang kyai.
Mampukah seorang santriwati yang sudah dilepas hijabnya mengalahkan seorang kyai yang dianggap wali?
Atau justru Laila yang akan hancur untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulva k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episod6: YANG DITELEPON USTADZ MAHMUD DI KAMAR 203 BUKAN KYAI RAHMAN, TAPI ISTRI
Jam 22.23. Kamar 203 Hotel Melati.
Ustadz Mahmud masih pakai handuk putih, handuk hotel yang tipis. Air masih netes dari rambutnya yang botak di tengah.
Dia lihat sekeliling kamar. Kosong. Sprei masih rapi. Tidak ada bekas Alia tidur di kasur. Cuma ada jejak kaki telanjang Alia yang basah di karpet dekat pintu.
Alia kabur.
Ustadz Mahmud tidak langsung marah. Dia panik. Tangannya gemetar ambil HP iPhone putihnya di atas sorban putih.
Dia buka kunci HP nya. PIN nya 112211. Tanggal lahir anak pertamanya.
Dia langsung buka WhatsApp. Mau telepon Kyai Rahman. Tapi jarinya berhenti.
Di layar, ada 23 panggilan tak terjawab dari nama: "Ummi di Rumah".
Istri pertamanya.
Dan di jam dinding di atas lemari, CCTV sekecil kancing baju koko itu masih kedip merah. Masih ngerekam. Masih nyambung ke HP Mami Asih di kos pink pudar.
Di kos pink pudar, aku dan Mami lagi makan mie rebus sambil lihat live dari CCTV itu di HP Mami.
Gambar gelap, tapi suara jernih banget.
Mami berbisik: "Diam, Alia. Jangan ngomong. Dengerin aja."
Di video live itu, Ustadz Mahmud akhirnya tidak telepon Kyai Rahman. Dia telepon "Ummi di Rumah" balik. Mungkin karena takut kalau telepon Kyai, aibnya makin besar.
Telepon diangkat.
"HALO, BUNDA... IYA BUNDA, USTADZ MASIH DI MASJID... IYA LAGI ITIKAF..." kata Ustadz Mahmud, suaranya dibuat suara ustadz yang capek habis ngaji, beda banget sama suara rayuan ke Alia 10 menit lalu.
Bunda jangan nangis dulu... Iya uang pesantren anak kita belum lunas, Ustadz tahu... Ustadz lagi usaha... Iya Bunda, doakan aja..."
Aku dan Mami saling pandang. Di seberang telepon, suara perempuan tua nangis. Nangis nahan.
"Ustadz... kata bendahara pesantren, kalau besok belum lunas 5 juta, anak kita disuruh pulang... Padahal anak kita hafizah, Ustadz... Masa disuruh pulang..."
Ustadz Mahmud terdiam. Dia duduk di pinggir kasur hotel, masih pakai handuk, kepala nunduk.
"Iya Bunda, Ustadz akan cari uangnya... Bunda tidur dulu ya... Assalamualaikum..."
Telepon dimatikan.
Kamar 203 hening.
Ustadz Mahmud buang handuknya ke lantai. Dia pakai lagi koko putihnya, peci hitamnya, sorban putihnya, dengan gerakan cepat, seperti orang maling.
Tapi sebelum keluar kamar, dia lihat ke cermin besar di kamar hotel itu.
Dia lihat dirinya sendiri. Koko putih bersih, sorban putih bersih.
Dia nangis. Di CCTV kancing itu, kelihatan jelas seorang ustadz yang tiap Jumat khotbah tentang zina, nangis di depan cermin hotel setelah ditinggal kabur LC 20 tahun.
Bukan nangis karena taubat.
Dia nangis karena HP nya bergetar lagi. Ada chat masuk dari Kyai Rahman:
"Mahmud, dimana? Tadi ada LC baru namanya Alia kabur dari kamu? Hati-hati, itu mantan santri saya. Jangan sampai dia bawa bukti. Kalau dia bawa bukti, kita berdua mati. Hapus CCTV hotel sekarang!"
Ustadz Mahmud kaget. Dia lihat ke atas. Lihat ke jam dinding. Dia curiga.
Dia naik ke kursi, mau ambil jam dinding itu.
Di kos pink pudar, Mami langsung panik: "ALIA! DIA MAU NEMU CCTV KITA!"
Aku teriak ke HP live itu, padahal dia gak bisa dengar: "JANGAN!"
Tapi Ustadz Mahmud sudah pegang jam dinding itu. Dia balik jam dinding itu.
Kosong. Tidak ada apa-apa.
Karena CCTV sekecil kancing itu tidak ditempel di jam dinding. Mami bohong.
CCTV itu ditempel di lubang AC di atas jam dinding. Hitam di atas hitam, tidak kelihatan.
Ustadz Mahmud turun dari kursi, lega. Dia pikir aman.
Dia keluar dari kamar 203, bawa sorban putih dan HP nya, jalan cepat ke lobi, bayar kamar, dan pergi naik mobil Avanza putihnya.
Live CCTV di HP Mami mati 10 menit kemudian. Baterai habis.
Tapi 2 menit 18 detik video rayuan + 3 menit 11 detik video telepon sama istrinya + chat WA dari Kyai Rahman yang kerekam lewat pantulan cermin kamar, semua sudah kesimpen di HP Mami.
Aku dan Mami selesai makan mie rebus. Mangkok kosong.
"Mami... jadi Ustadz Mahmud itu bukan orang kaya? Dia butuh 5 juta buat pesantren anaknya yang hafizah?" tanyaku pelan.
Mami Asih mengelus rambutku yang masih berantakan karena lari tadi.
"Iya, Nak. Makanya dia jadi munafik. Siang khotbah, malam cari uang tambahan jadi teman Kyai Rahman yang cari LC baru buat tamu pejabat. Semua munafik itu awalnya butuh uang, Alia. Tapi lama-lama jadi hobi nutupin aib pakai sorban."
Mami peluk aku.
"Makanya besok, kita tidak sebar video Ustadz Mahmud. Kita pakai video itu buat bikin dia ngaku 12 nama munafik lain. Kita ancam dia pakai video telepon sama istrinya itu. Kalau dia tidak mau ngaku, anaknya yang hafizah itu akan tahu bapaknya pesan LC di hotel."
Aku mengangguk di pelukan Mami.
Malam itu, Alia tidak membongkar aib siapapun.
Malam itu, Alia belajar dari Mami: balas dendam yang paling pedas bukan yang langsung disebar ke sosmed.
Tapi yang disimpan buat ngancam munafik lain supaya muntahkan semua nama teman-temannya.
Di luar kos pink pudar, azan subuh pertama berkumandang.
Di Hotel Melati, kamar 203 sudah kosong, tapi bau parfum oud Ustadz Mahmud masih tertinggal.
Dan di HP Mami, ada 2 video dan 1 foto pantulan chat yang siap jadi senjata buat Bab 13 besok.