Malam pembantaian Keluarga Ma menyisakan darah, puing, dan dendam mendalam di dada Ma Huang. Sebagai satu-satunya yang masih bertahan, ia mengambil keputusan gila: menempuh Jalur Darah Pemakan Bencana, sebuah kultivasi terlarang yang menggerogoti organ fisiknya demi menggenggam kekuatan membunuh tiada tanding.
Berbekal Pedang Tulang Hitam dan tubuh yang dialiri racun pekat, Ma Huang melangkah menembus lautan darah untuk membantai satu per satu siapaun yang telibat dalam tragedi tersebut. Dari pelataran tempa Kota Yunjiang hingga kegelapan Lembah Tengkorak yang dipenuhi racun alam, ia bertaruh nyawa demi merebut kembali Segel Besi Hitam, pusaka komando tiga ribu prajurit Serigala Hitam, serta kunci rahasia Makam Leluhur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 - Segel Hitam dan Rahasia Bawah Tanah
Gemuruh batu granit runtuh mengunci rapat lorong utama Istana Bawah Tanah. Kegelapan pekat menyelimuti ruangan. Hawa dingin menusuk kulit, berbanding terbalik dengan panas belerang di luar. Bau harum kayu cendana tua bercampur uap tanah basah menyeruak memenuhi saluran pernapasan.
Ma Huang mengibaskan lengan baju kirinya. Hawa dingin Inti Bencana memercikkan benang api kehitaman pada ujung ranting kayu berbalut kain minyak. Nyala api kekuningan membumbung tipis. Cahaya itu menerangi dinding batu granit yang dipenuhi ukiran relief peperangan masa lalu.
Lu Gang merebahkan Master Han di balik pilar batu pertama. Napas kakek tua itu memburu pendek. Dadanya bergejolak menahan sisa rasa sesak akibat uap belerang. Gu Mo berlutut di sampingnya. Dua jarum perunggu dilesatkannya lurus ke titik meridian paha Master Han untuk melancarkan sirkulasi darah.
Gu Mo berdiri kaku. Tangannya yang kehitaman mengusap debu di sarung tangan besi meteorit. "Pintu depan tidak akan bertahan lama jika Zhao Feng menggunakan peledak tembaga," tegasnya.
Ma Huang menatap lurus ke lorong panjang di hadapan mereka. Lantai lorong dilapisi ubin batu pualam abu-abu berukuran dua jengkal. Permukaannya tampak licin oleh tumpukan minyak jarak kental yang mengering selama belasan tahun.
Gu Mo menunjuk pola garis tipis di sela-sela ubin batu. "Jangan menapak acak," peringatnya. "Setiap ubin batu di selasar ini terhubung dengan saluran merkuri di bawah tanah. Pijakan dengan bobot lebih dari lima puluh kati pada ubin yang salah akan meruntuhkan atap batu."
Ma Huang merendahkan badannya. Telapak tangan kirinya ditempelkan rapat ke permukaan ubin batu terdekat. Melalui pori-pori kulit, ia menyalurkan getaran Qi hitam tipis ke dalam rongga lantai. Getaran itu merambat perlahan, memetakan rongga kosong dan tabung raksa cair yang tersembunyi di balik susunan batu pualam.
"Garis naga meliuk ke kanan," kata Ma Huang dingin.
Ia melangkah perlahan. Tumitnya menjejak tepat di bagian tengah ubin batu bermotif kepala naga. Ubin itu berdecit halus saat menerima bobot fisiknya, namun mekanisme pemicu merkuri di bawahnya tetap terkunci rapat.
Lu Gang mengangkat tubuh Master Han ke atas punggungnya. Pria tua itu melangkah hati-hati. Kakinya menapak presisi pada jejak telapak yang ditinggalkan Ma Huang di atas debu ubin. Setiap pijakan disertai derak halus kayu dan besi di bawah lantai, memicu ketegangan kaku di sepanjang lorong yang sunyi.
Tepat saat mereka bertiga mencapai pertengahan selasar, bagian tepi ubin yang dipijak Lu Gang bergeser dua milimeter.
Krak!
Suara dentang mekanisme besi beradu dari balik dinding batu. Tabung merkuri di bawah lantai miring mendadak. Pergeseran itu memicu jatuhnya tiga batang batu granit dari atap lorong.
Ma Huang melompat memutar badan dalam sekejap mata. Pedang Tulang Hitam di tangan kirinya diayunkan memutar melingkar. Bilah pedang itu menyapu tiga bongkahan batu granit yang meluncur jatuh dari atas.
Brak! Duaggg!
Bilah pedang hitam beracun menghantam bongkahan batu terdepan. Hawa asam korosif dari racun Ular Hijau meretakkan struktur granit panas itu hingga hancur menjadi puluhan pecahan kecil. Dua bongkahan batu lainnya dihantam oleh tinju besi membara milik Gu Mo hingga remuk menjadi remahan debu.
Debu batu membumbung tinggi, menyumbat saluran pembuangan minyak di dinding lorong.
Gu Mo mendorong bahu Lu Gang ke depan. "Lari ke selasar depan!" perintahnya kencang.
Tepat di ujung lorong pualam, berdiri dua patung pengawal batu berukuran raksasa yang menggenggam tombak perunggu. Mulut kedua patung batu itu terbuka lebar. Ratusan lubang kecil berdiameter seruas jari menatap lurus ke arah selasar.
Jarum Tembaga Tujuh Racun.
Deretan tabung tembaga di dalam mulut patung berputar kencang. Suara desisan angin mendadak memenuhi ruangan saat ratusan jarum tembaga tipis disemburkan secara serentak dari dua arah yang berbeda.
Ma Huang berdiri paling depan. Ia membalas semburan jarum tembaga itu dengan tebasan pedang beruntun yang membentuk jaring angin hitam di udara.
Ting! Ting! Cring!
Ribuan jarum tembaga membentur bilah Pedang Tulang Hitam dan sarung tangan besi Gu Mo. Percikan bunga api kebiruan menyalakan sisa uap minyak jarak di udara. Buaian api membara meledak, membakar ubin pualam di bawah kaki mereka.
Ma Huang tidak membiarkan mekanisme tembaga itu berputar untuk kedua kali. Ia meluncur rendah di atas lantai licin. Tangannya menyuntikkan aliran racun korosif dari Dantian lurus ke dalam celah engsel bawah patung pengawal pertama.
Roda gigi perunggu di dalam tubuh patung mendesis nyaring. Asam racun melahap engsel baja tua itu hingga meleleh kaku, mematikan putaran jarum tembaga secara mendadak.
Gu Mo memukul dada patung kedua dengan Telapak Besi Lahar. Pukulan membara itu meremukkan mekanisme dalam patung batu hingga meledak, menyemburkan serpihan tembaga dan batu ke seluruh ruangan.
Keheningan kembali menyelimuti ruang dalam istana bawah tanah. Asap hitam bekas ledakan patung perlahan menyusut, terbawa oleh aliran udara dingin yang bertiup dari celah dinding bagian selatan.
Ma Huang menyapu sisa debu tembaga di jubahnya. Ia melangkah menembus celah patung yang hancur, memasuki sebuah ruangan melingkar raksasa yang berdindingkan batu basal hitam.
Di tengah ruangan melingkar tersebut, berdiri altar batu setinggi lima tingkat yang dipenuhi oleh ukiran bendera perang dan senjata kuno. Di puncak altar, di atas dudukan batu berbentuk kura-kura hitam, tergeletak sebuah kotak perunggu terbuka yang memancarkan kilau kehitaman kusam.
Segel Besi Hitam.
Pusaka komando tiga ribu pasukan tentara bayaran di batas selatan yang dicari oleh seluruh sekte di Kota Yunjiang.
Ma Huang menaiki anak tangga altar batu satu per satu. Langkah kakinya terdengar berat bergema di dalam ruangan yang luas. Sepasang matanya yang berkilat merah menatap kaku ke arah segel besi berukuran telapak tangan dewasa di dalam kotak perunggu.
Segel itu terbuat dari baja meteorit murni berwarna hitam pekat. Permukaannya berukirkan kepala serigala menggigit pedang silang. Hawa dingin yang memancar dari segel tersebut begitu pekat hingga membekukan tetesan uap air di udara sekitarnya.
Ma Huang mengulurkan tangan kirinya yang bebas. Ia menggenggam gagang Segel Besi Hitam kencang-kencang.
Logam tua yang dingin itu terasa sangat berat di telapak tangannya. Bobotnya seolah menyimpan beban ribuan nyawa prajurit yang pernah tunduk di bawah perintahnya. Saat jari-jari Ma Huang menyentuh ukiran kepala serigala, lingkaran tenaga dalam di Dantian barunya bergetar merespons gelombang Qi dingin dari dalam segel.
Master Han melangkah mendekati dasar altar. Matanya menatap kagum. "Segel itu asli," katanya dengan suara gemetar. "Di balik bagian bawah segel, terukir sandi komando yang hanya bisa dibaca oleh panglima tentara bayaran di batas selatan."
Lu Gang berlutut di atas ubin batu altar. Kedua tangannya ditangkupkan ke udara ke arah Ma Huang. "Tuan Muda... dengan segel ini di tangan Anda, kita bisa memanggil tiga ribu prajurit Serigala Hitam untuk meratakan Sekte Pedang Suci!"
Ma Huang membalikkan permukaan Segel Besi Hitam di tangannya. Di bagian dasar logam kehitaman itu, terukir deretan angka dan lambang bintang yang dipahat halus menggunakan baja intan.
Namun, benturan dahsyat mendadak menghantam Istana Bawah Tanah dari arah lorong atas.
Bummm! Duaggg!
Guncangan gempa yang luar biasa keras menggetarkan seluruh pilar batu basal ruangan melingkar. Atap batu retak memanjang, merontokkan bongkahan granit raksasa seluas dua tombak ke atas lantai altar.
Suara ledakan mesiu tembaga bersahut-sahutan dari arah gerbang batu depan. Zhao Feng dan pasukan Sekte Pedang Suci meledakkan pintu granit makam menggunakan meriam pemecah benteng.
Gema teriakan prajurit musuh dan derap sepatu besi meluncur deras menyusuri selasar bawah tanah. Mereka kian mendekati ruang altar tempat Ma Huang berdiri.
Pada saat bersamaan, lantai batu di bawah dudukan kura-kura bergetar keras. Sebuah pintu rahasia bawah tanah berputar perlahan di balik altar, menyingkapkan tangga batu melingkar yang mengarah lurus ke dalam kegelapan perut bumi.
Gu Mo mencabut pisau belatinya. Matanya menatap tajam ke arah pintu lorong atas yang mulai dipenuhi asap merah. "Mereka sudah menembus gerbang depan! Zhao Feng membawa lima puluh prajurit zirah berat ke ruangan ini!"
Ma Huang memasukkan Segel Besi Hitam ke dalam lipatan jubah dadanya. Cengkeraman tangan kirinya pada Pedang Tulang Hitam dipertajam. Sepasang matanya memancarkan kilatan merah yang sangat dingin di antara kepulan debu batu yang runtuh.
"Biarkan mereka masuk," kata Ma Huang dengan nada suara yang membekukan darah. "Makam ini akan menjadi kuburan Zhao Feng."