NovelToon NovelToon
Gulungan Tabib Langit Dan Bumi

Gulungan Tabib Langit Dan Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Di Benua Awan Timur, kekuatan adalah segalanya. Para kultivator jenius membelah gunung dengan lambaian tangan dan menghancurkan kota hanya dengan hembusan napas. Namun, epik ini tidak dimulai dari puncak kejayaan, melainkan dari sudut dunia fana yang terlupakan. Li Yun hanyalah seorang tabib muda biasa di kota perbatasan. Ia tidak memiliki akar spiritual surgawi, garis keturunan dewa, ataupun takdir pahlawan yang terpilih.
Ketika seorang kultivator sakti tewas di depan kliniknya yang sederhana, kehidupan tenang Li Yun hancur. Ia mewarisi sebuah teknik rahasia kuno yang tidak memberinya kekuatan penghancur instan, melainkan menuntut pemahaman mendalam tentang hukum alam, alkimia, dan aliran energi yang sangat lambat. Di dunia yang dipenuhi kejeniusan arogan dan sekte-sekte kuno yang kejam, Li Yun menyadari bahwa bertahan hidup membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan murni. Ia harus menggunakan kecerdasannya, menyembunyikan bakat aslinya di balik identitas seorang tabib sekuler.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Harta Karun di Tumpukan Sampah

​Sektor Ketiga Wilayah Luar bukanlah tempat bagi manusia yang memimpikan keabadian; ini adalah tempat pembuangan bagi mereka yang nyaris mati.

​Terletak di lembah cekung yang selalu diselimuti kabut kelabu, kamp ini terdiri dari ratusan tenda kulit basah dan gubuk kayu reyot. Setiap fajar, ribuan pencari herbal—campuran antara manusia fana yang putus asa dan kultivator tingkat rendah—berangkat ke dalam Hutan Tulang Berduri. Setiap senja, mereka kembali membawa keranjang berisi herbal spiritual. Dan setiap malam, jeritan kesakitan bergema dari tenda medis.

​Di sinilah Li Yun mendirikan "istana" barunya: sebuah tenda berbau apak yang separuhnya terendam lumpur.

​"Tahan napasmu, Paman Zhou Tua. Jika kau menjerit dan urat lehermu menegang, racun ini akan menyebar ke matamu."

​Suara Li Yun terdengar datar dan tenang di tengah kekacauan tenda medis. Tangannya yang mengenakan sarung tangan kulit tipis bergerak secepat kilat, menusukkan tiga jarum perak ke bahu seorang pencari herbal tua yang bahunya terkoyak oleh cakar Serigala Bayangan. Dengan menggunakan pisau bedah yang dipanaskan, Li Yun mengiris daging busuk berwarna ungu di sekitar luka, membiarkan darah kotor berbau busuk mengalir ke dalam baskom kayu.

​Pasien itu menggigit gulungan kain tebal hingga giginya nyaris retak, matanya melotot menahan sakit yang luar biasa. Li Yun kemudian menaburkan bubuk abu tulang hewan yang dicampur getah pinus murahan untuk menghentikan pendarahan, lalu membebatnya dengan kain rami kasar.

​"Selesai. Jangan gunakan lengan ini untuk mengayunkan parang selama tiga hari, atau jahitannya akan robek," ucap Li Yun, mengelap tangannya dengan lap basah.

​Zhou Tua terengah-engah, wajahnya pucat pasi namun ia selamat dari amputasi. Dengan tangan gemetar, ia merogoh kantong kulit di pinggangnya. "Tabib Li... aku belum memenuhi kuota sekte hari ini. Aku tidak punya koin tembaga, apalagi batu roh. Tapi... aku menemukan ini di dekat sarang serigala tadi. Pengepul sekte menolaknya karena sudah mati, tapi mungkin kau bisa menggunakannya untuk menambal atapmu."

​Ia meletakkan sebuah tanaman di atas meja kayu Li Yun yang bernoda darah. Itu adalah Akar Ginjal Besi, herbal tingkat rendah yang berguna untuk memperkuat otot. Namun, kondisinya sangat mengenaskan. Akarnya telah digigit binatang berbisa, daunnya layu kehitaman, dan esensi spiritualnya tercemar oleh bisa racun mematikan.

​Di Balai Alkimia sekte, tanaman seperti ini dianggap sampah murni. Biaya dan tenaga spiritual yang dibutuhkan untuk memurnikan racun dari akar ini jauh lebih besar daripada nilai herbal itu sendiri. Tidak ada alkemis waras yang mau menyentuhnya.

​Namun di mata Li Yun, sebersit cahaya dingin melintas cepat sebelum ia menyembunyikannya dengan raut wajah iba.

​"Ah, Paman Zhou. Ini murni sampah beracun. Jika babi hutan memakannya, babi itu akan mati," Li Yun menghela napas panjang, pura-pura enggan. Ia lalu mengambil tanaman busuk itu dan melemparnya ke dalam keranjang bambu di sudut ruangan, yang sudah berisi belasan tanaman rusak, layu, atau tercemar lainnya. "Tapi lupakan saja bayarannya. Utang nyawamu lunas hari ini. Istirahatlah di sudut sana."

​Paman Zhou menangis terharu, bersujud berulang kali memuji kebaikan hati Tabib Li sebelum tertatih-tatih pergi.

​Begitulah cara Li Yun bertahan hidup selama dua bulan terakhir. Ia membangun reputasi sebagai tabib kamp yang baik hati namun miskin. Ia menerima bayaran berupa "sampah herbal" dari para pekerja yang tidak mampu membayar dengan koin. Pengawas sekte yang sesekali berpatroli hanya tertawa mengejek melihat Li Yun menimbun tanaman busuk, menganggapnya sebagai tabib fana berotak udang yang suka mengoleksi rongsokan.

​Mereka tidak tahu apa yang terjadi ketika tengah malam tiba.

​Saat lonceng malam berbunyi dan seluruh kamp tertidur dalam kelelahan, Li Yun mengunci pintu tendanya dari dalam. Ia menggambar beberapa segel penahan suara dan penahan cahaya murahan di sekeliling tenda menggunakan darah ayam—sebuah trik formasi fana kelas teri yang cukup untuk mengelabui mata pengawas tingkat rendah.

​Di tengah tenda, Li Yun meletakkan sebuah tungku. Ini bukanlah kuali perunggu berkaki tiga milik alkemis elit yang diukir dengan naga terbang. Ini hanyalah sebuah pot tanah liat tebal yang biasa digunakan warga desa untuk merebus sup iga, yang dimodifikasi Li Yun dengan lubang ventilasi di bagian bawah.

​Ia mengeluarkan keranjang bambunya, menumpahkan "sampah herbal" yang ia kumpulkan seharian ini.

​Dunia alkivasi ortodoks memurnikan herbal menggunakan Api Spiritual dari Dantian, membakar habis racun kotoran dengan kekuatan murni. Li Yun tidak memiliki Api Spiritual. Energi Lapis Ketiga Pengumpulan Qi-nya berakar pada elemen Kayu yang sunyi dan pasif berkat Sutra Pernapasan Kayu Mati.

​Maka, ia menggunakan pengetahuan tabib fananya.

​Alih-alih membakar racun dengan paksa, Li Yun menggunakan metode netralisasi. Ia memotong bagian Akar Ginjal Besi yang menghitam. Racun serigala itu bersifat Panas-Kering. Untuk menetralkannya, Li Yun tidak menggunakan energi, melainkan merendam akar tersebut ke dalam mangkuk berisi campuran air kencing kuda dan getah lumut gua yang bersifat sangat Dingin-Basah.

​Reaksi kimia terjadi. Air di dalam mangkuk mendidih tanpa api, mengeluarkan asap berbau pesing yang menjijikkan, sebelum akhirnya racun di dalam akar itu luruh menjadi endapan lumpur hitam.

​Akar yang tersisa kini aman dari racun, meski esensi spiritualnya hanya tersisa dua puluh persen dari aslinya. Bagi alkemis jenius, dua puluh persen adalah kegagalan total. Bagi Li Yun, itu adalah harta karun yang didapat secara gratis.

​Ia memasukkan akar yang telah dinetralkan, bersama dengan beberapa potongan herbal sisa lainnya, ke dalam pot tanah liat. Ia menyalakan arang kayu biasa di bawah pot.

​Kini datang bagian yang paling krusial. Karena tidak menggunakan Api Spiritual, Li Yun harus mengontrol suhu dan ekstraksi sari herbal menggunakan Qi-nya sendiri secara manual. Ia duduk bersila, menjulurkan sepuluh jari tangannya di udara, mengelilingi pot tanah liat tanpa menyentuhnya.

​Benang-benang Qi yang setipis sutra laba-laba, sangat padat dan tenang, mengalir dari ujung jarinya menembus pori-pori tanah liat. Ia menggunakan Qi-nya bukan untuk memanaskan, melainkan sebagai "pisau bedah tak kasat mata" di dalam air rebusan yang mendidih. Dengan presisi mengerikan yang dilatih dari puluhan ribu kali praktik penusukan jarum akupunktur, helai-helai Qi Li Yun mengiris serat herbal di dalam air mendidih, memaksa esensi spiritual mereka keluar sebelum air menguap habis.

​Keringat dingin membasahi pelipis Li Yun. Mengontrol Qi eksternal sedetail ini menguras staminanya dengan sangat brutal.

​Satu jam berlalu. Bau pesing herbal digantikan oleh aroma tanah basah yang menyengat. Air rebusan mengering menjadi kerak.

​Li Yun menarik Qi-nya seketika, terengah-engah dan wajahnya pucat. Dengan tangan gemetar, ia membuka tutup pot tanah liat.

​Di dasar pot, tidak ada pil bulat bercahaya keemasan yang berbau wangi surgawi. Yang tergeletak di sana adalah tiga butir gumpalan seukuran kuku jari, berwarna hijau kecokelatan, bertekstur kasar, dan memancarkan bau seperti lumpur selokan.

​Namun, mata Li Yun berbinar tajam. Ia mengambil satu butir Pil Lumpur Spiritual itu dan meletakkannya di telapak tangannya. Meskipun wujudnya sangat menjijikkan, di bagian dalam pil ini tersimpan gumpalan energi spiritual murni yang telah dibersihkan dari racun mematikan.

​Tanpa ragu, Li Yun menelan pil yang rasanya seperti tanah liat busuk itu.

​Ia segera memutar Sutra Pernapasan Kayu Mati. Pil itu mencair di lambungnya, melepaskan aliran energi yang cukup liar. Namun, pusaran Qi di Dantian Li Yun yang setenang air mati perlahan menarik energi liar itu, menjinakkannya layaknya seekor ular raksasa yang menelan mangsanya dengan lambat dan sabar.

​Energi Li Yun meningkat secara nyata. Jika di kota fana butuh waktu satu bulan meditasi untuk mendapatkan sehelai Qi, satu pil sampah ini memberinya energi setara meditasi lima belas hari hanya dalam waktu semalam. Dan di luar sana, keranjang-keranjang sampah herbal terus berdatangan setiap hari tanpa henti.

1
yudie yudie
lanjut thor
Armoire
1 vote meluncur lah /Drool//Drool/
ARay
mantap Thor 😎
ARay
bagus ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!