Dua hari menjelang pernikahan megahnya, Cinderella Huntington harus menelan kenyataan pahit: sang tunangan mengkhianatinya bersama adik kandungnya sendiri.
Dijatuhi tuduhan tak adil dan selalu dituntut mengalah oleh keluarganya, Cinderella memilih pergi melintasi dinginnya malam untuk meluapkan amarah dan rasa sakitnya hingga mengakhiri hidup.
Namun takdir berkehendak lain. Ia terbangun dalam raga Marcella Ember Vitiello—gadis 18 tahun yang tewas mengakhiri hidup akibat pengabaian orang tuanya.
Di tengah keputusasaan, takdir mempertemukannya kembali dengan Draxler Lutolf Ashford—pemuda 19 tahun berparas tampan yang ia kira hanyalah mahasiswa biasa.
Cinderella bertekad membalas setiap ketidakadilan.
Bisakah ia benar-benar menghapus jejak Draxler dari hidupnya ketika takdir pria muda itu ternyata jauh lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#13
Mobil sports merah yang dikendarai Cinderella membelah jalanan utama California dengan kecepatan stabil. Di bagasi belakang, koper kulit berisi seluruh dokumen krusial, perhiasan rahasia, serta bukti kejahatan finansial keluarga Huntington tersimpan aman.
Melalui kaca spion tengah, mata tajam Cinderella menangkap bayangan mobil sports hitam yang terus menjaga jarak beberapa puluh meter di belakangnya sejak ia melintasi gerbang Mansion Huntington.
Cinderella menarik napas pelan, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan sindiran. "Draxler Lutolf Ashford... kau benar-benar tidak punya pekerjaan lain selain membuntutiku?" gumamnya lirih.
Daripada langsung menuju ke apartemen rahasianya dan memberi petunjuk lokasi hunian tersembunyinya kepada pemuda itu, Cinderella memutar lingkar kemudi ke arah kawasan penthouse apartment eksklusif di pusat kota yang dilengkapi fasilitas parkir bawah tanah bersistem keamanan biometrik ketat.
Ia memarkirkan mobilnya di pelataran parkir bawah tanah, meraih koper hitamnya, dan melangkah tenang menuju lif privat.
Namun, baru saja jemarinya hendak menekan tombol lif, suara langkah kaki tergesa yang menggema kencang di atas lantai beton memotong keheningan.
"Marcella Ember Vitiello!"
Cinderella menghentikan gerakannya, lalu berbalik secara perlahan.
Draxler berdiri di sana dengan napas yang sedikit berpacu, kemeja kasualnya sedikit kusut, dan manik matanya memancarkan gejolak emosi yang bercampur aduk antara amarah, kebingungan, serta obsesi yang makin liar.
"Kau membuntutiku sejauh ini hanya untuk memanggil namaku dengan nada membentak, Mr. Ashford?" tanya Cinderella dengan suara datar, melipat tangannya di depan dada seraya menatap Draxler dari atas ke bawah.
Draxler melangkah maju dua tapak, mengikis jarak di antara mereka. Matanya tertuju pada koper kulit hitam yang berdiri di samping kaki Cinderella, lalu beralih menatap lurus ke dalam manik mata bundar yang kini terpancar dingin itu.
"Apa yang kau lakukan di Mansion Huntington?" tanya Draxler tanpa basa-basi, suaranya berat dan menekan. "Mansion itu milik keluarga Huntington, dan semua orang tahu seluruh anggota keluarga sedang berada di hotel untuk pesta pernikahan. Bagaimana bisa kau masuk ke sana begitu leluasa?"
Cinderella menatap Draxler tanpa kejutan sedikit pun. "Bukan urusanmu."
"Ini menjadi urusanku saat kau berjalan keluar membawa koper besar bersama pelayan rumah itu!" desis Draxler, rahangnya mengeras.
"Dari mana kau mendapatkan mobil sports merah itu? Dari mana kau mendapatkan akses masuk ke mansion itu? Dan koper apa yang kau bawa itu, Ember?! Apa kau mencuri?!"
Cinderella terkekeh pelan—sebuah tawa lirih, dingin, dan penuh ejekan yang membuat dada Draxler mendadak berdenyut nyeri.
"Mencuri?" Cinderella memiringkan kepalanya tipis, menatap Draxler dengan keanggunan yang mengintimidasi.
"Jika aku mencuri, Mr. Ashford, apakah kau pikir pelayan senior rumah itu akan dengan sukarela membawakan koper ini sampai ke bagasi mobilku? Apakah kau pikir sistem keamanan mansion mewah itu begitu bodoh sampai membiarkan seorang 'gadis miskin' melenggang keluar tanpa ada sirene bahaya?"
Draxler membeku sejenak.
Pertanyaan retoris itu meremukkan tuduhan impulsif yang sempat dipikirkannya.
"Lalu jelaskan padaku!" tuntut Draxler dengan suara yang makin bergetar menahan frustrasi. "Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau mendadak berubah seperti ini hanya dalam kurun waktu satu malam? Di mana gadis berisik yang selalu mengejar-ngejarku di kampus?!"
Cinderella mengambil satu langkah mendekati Draxler. Aroma wangi lembut yang elegan terpancar dari tubuh raga Ember, menginvasi indra penciuman Draxler secara mendadak.
"Gadis berisik itu sudah mati, Draxler," ucap Cinderella pelan namun penekanannya bagaikan bilah pisau yang tajam. "Dia mati di malam yang sama saat Cinderella Huntington menghembuskan napas terakhirnya di penthouse milikmu."
Deg.
Nama Cinderella Huntington yang disebut secara gamblang oleh Ember membuat jantung Draxler berdetak tak beraturan.
"Kenapa kau menyebut nama wanita itu?" bisik Draxler parau, matanya menatap intens wajah di hadapannya. "Apa hubungannya kau dengan Cinderella Huntington?"
"Hubungan kami?" Cinderella menyunggingkan senyum paling pahit yang pernah disaksikan Draxler. "Kami adalah dua jiwa yang sama-sama dikhianati oleh orang-orang yang dicintai, dibuang oleh keluarga sendiri, dan dianggap tak berguna oleh dunia. Bedanya... aku memilih untuk kembali dan membalas setiap ketidakadilan itu."
Cinderella menarik gagang kopernya, memutar tubuhnya menghadap pintu lif yang baru saja terbuka dengan denting halus.
"Kembalilah ke kehidupan mewahmu yang sempurna, Draxler," lanjut Cinderella tanpa menoleh lagi. "Jangan mencampuri urusanku jika kau tidak ingin terseret ke dalam neraka yang sedang kubangun untuk keluarga Huntington dan Jonah."
"Ember, tunggu!" Draxler mengulurkan tangannya, mencoba meraih pergelangan tangan Cinderella.
Namun sebelum jemarinya sempat menyentuh kulit pucat itu, Cinderella berbalik cepat dan menepis tangan Draxler dengan ketegasan yang mutlak.
"Jangan pernah menyentuhku tanpa izin," tegas Cinderella, mata bundarnya berkilat penuh ancaman dingin pimpinan eksekutif. "Atau kau akan menyesal pernah mengenal nama Marcella Ember Vitiello."
Pintu lif menutup secara otomatis, menyisakan bayangan Cinderella yang menghilang di balik dinding besi dingin.
Draxler berdiri terpaku sendirian di pelataran parkir bawah tanah yang sepi. Tangannya yang mengambang di udara perlahan mengepal rapat. Napasnya memburu keras, beradu dengan riuh emosi di dadanya yang kian tak terkendali.
Pengabaian ini, misteri ini, serta ancaman dingin dari gadis 18 tahun itu bukannya membuat Draxler mundur.
Justru rasa tak terima dan obsesi yang membakar jiwanya kini telah mencapai titik puncak.
Draxler merogoh saku celananya, menarik ponsel pintarnya, lalu mendial sebuah nomor rahasia detektif swasta kepercayaan keluarga Ashford.
"Cari tahu semua hal tentang Marcella Ember Vitiello," perintah Draxler dengan suara dingin yang tak menerima penolakan saat panggilan tersambung.