Tiga tahun menikah, Arini hidup seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Setiap hari ia diejek mertua karena belum juga hamil. Padahal, suaminya Bara Mahendra tidak pernah benar-benar menyentuhnya. Pernikahan mereka hanya formalitas bisnis.
Sampai di malam anniversary ke-3, Bara pulang.
Bukan dengan bunga. Tapi dengan seorang wanita hamil dan selembar surat cerai.
"Maaf, Arini. Kamu mandul. Aku butuh anak. Luna sudah mengandung anakku 2 bulan. Tanda tangani ini, aku beri kamu 500 juta."
Di malam hujan itu, Arini diusir dengan satu koper butut. Tidak ada yang membelanya.
Tapi Tuhan tidak tidur.
Di pinggir jalan, dalam keadaan hampir pingsan, Arini ditolong oleh Revan Aditya — CEO muda paling berkuasa di Jakarta yang terkenal dingin dan tak tersentuh wanita.
Dan Sebuah rahasia terungkap, Yang mandul bukan arini tapi bara.
arini kembali bukan lagi sebagai wanita terbuang yang menangis di meja makan tapi sebagai wanita elegan pemilik saham terbesar di perusahaan bara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bara Memohon Rujuk
Apartemen baru yang Revan siapkan untukku sangat indah. Tidak semegah mansionnya, tapi jauh lebih nyaman dan modern daripada rumah Bara yang dulu terasa seperti penjara. Apartemen ini ada di lantai 32, dengan pemandangan kota yang indah di malam hari.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Aku baru saja selesai mandi dan memakai piyama sutraku, bersiap untuk tidur setelah hari yang sangat melelahkan karena drama Luna di kantor.
Tiba-tiba, bel apartemenku berbunyi. Ting-tong. Ting-tong. Ting-tong.Berkali-kali, tidak sabaran.
Aku mengerutkan dahi. Siapa yang datang selarut ini? Revan tidak mungkin datang tanpa memberitahu Bi Ijah dulu.
Aku mengintip dari lubang pintu. Dan jantungku langsung mencelos.
Bara.
Dia berdiri di depan pintu apartemenku dengan wajah berantakan. Jas putih pertunangannya yang mahal tadi malam sudah kusut, rambutnya acak-acakan, matanya merah dan bengkak seperti orang yang menangis semalaman. Di tangannya ada buket bunga mawar merah yang sudah agak layu.
Apa yang dia lakukan di sini?
Aku tidak ingin membukakan pintu. Tapi bel itu terus berbunyi, membuat tetangga mungkin terganggu.
Akhirnya aku membuka pintu sedikit, dengan rantai pengaman masih terpasang.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Bara? Ini sudah malam," tanyaku dingin.
"Arini..." Suara Bara serak. Begitu melihatku, air matanya langsung mengalir. "Arini, tolong bukakan pintunya. Aku mohon. Aku harus bicara denganmu."
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Kita sudah cerai, ingat? Kamu yang menceraikanku," jawabku, mencoba terdengar tegas meski tanganku gemetar memegang pintu.
"Arini, aku tahu aku bajingan! Aku tahu aku salah! Aku sudah memutuskan pertunanganku dengan Luna! Tadi siang aku sudah mengusirnya dari rumahku!" Bara mulai menangis seperti anak kecil di depan pintu apartemenku. "Aku sudah tahu semuanya, Arini! Anak itu bukan anakku! Dia anak Doni supirku! Luna menipuku! Semua orang menipuku!"
Jadi dia akhirnya tahu. Video dan bukti yang Revan punya, ternyata sudah sampai juga ke telinga Bara, atau Bara menyelidikinya sendiri setelah pesta kemarin.
"Baguslah kalau kamu sudah tahu. Jadi urusanmu dengan Luna sudah selesai. Tidak ada hubungannya denganku," kataku, ingin menutup pintu.
"Jangan! Jangan tutup pintunya, Arini! Aku mohon!" Bara menahan pintu dengan tangannya. "Aku datang untukmu. Aku datang untuk meminta maaf dan... dan meminta kamu kembali padaku."
Aku membeku.
Meminta kembali?
"Aku sudah mengurus perceraianku dengan Luna. Aku akan mencabut surat cerai kita, Arini. Kita bisa rujuk. Kita bisa mulai lagi dari awal. Aku janji, aku akan berobat. Kita bisa bayi tabung, kita bisa adopsi anak, apapun yang kamu mau! Asal kamu kembali padaku!" Bara memohon, suaranya penuh keputusasaan.
Buket mawar merah itu disodorkannya melalui celah pintu.
"Arini, aku baru sadar... selama tiga tahun, hanya kamu yang tulus mencintaiku. Hanya kamu yang merawatku saat aku sakit, yang menunggu ku pulang sampai tengah malam, yang sabar dengan semua hinaan ibuku. Luna tidak pernah melakukan itu. Luna hanya mencintaiku karena hartaku!"
Setiap kata yang keluar dari mulut Bara adalah kata-kata yang dulu sangat ingin kudengar. Dulu aku bermimpi Bara akan sadar dan meminta maaf seperti ini.
Tapi sekarang... setelah semua luka dan air mata... kata-kata itu terdengar hampa dan terlambat.
Aku menatap buket mawar merah itu, lalu menatap wajah Bara yang penuh air mata.
"Bara," ucapku pelan, dengan suara yang sangat tenang. "Terlambat."
"Apa?" Bara mendongak.
"Kamu bilang kamu baru sadar hanya aku yang tulus mencintaimu? Kamu baru sadar setelah kamu membuangku seperti sampah? Setelah kamu melempar uang 500 juta ke wajahku seperti memberi makan anjing? Setelah kamu bilang aku perempuan mandul tidak berguna di depan selingkuhanmu?" Air mataku mulai mengalir, tapi kali ini bukan karena sedih, tapi karena marah yang sudah lama kupendam.
"Bara, di mana kamu saat aku menangis setiap malam karena merindukan seorang anak? Di mana kamu saat ibumu menyiramku dengan air panas karena masakanku keasinan? Di mana kamu saat aku harus berlutut meminta uang belanja bulanan padamu?"
Bara terdiam, tidak bisa menjawab.
"Kamu tidak ada, Bara. Kamu selalu tidak ada. Dan sekarang setelah kamu ditipu oleh perempuan lain, setelah kamu tahu kamu yang mandul, baru kamu datang dan bilang kamu tidak bisa hidup tanpaku?" Aku tertawa getir. "Cinta macam apa itu, Bara?"
Aku melepas rantai pengaman dan membuka pintu sepenuhnya. Aku berdiri tegak di depannya dengan piyama sutraku yang elegan.
"Dengar ya, Bara Mahendra. Arini yang dulu yang bodoh dan sabar itu sudah mati. Dia mati di malam hujan saat kamu menceraikannya. Yang ada di depanmu sekarang adalah Arini Saputri, asisten pribadi CEO Aditya Group. Dan dia tidak akan pernah, tidak akan pernah lagi kembali padamu."
Aku mengambil buket mawar merah itu dari tangannya dan melemparkannya ke tempat sampah di samping pintu apartemenku.
"Pergi, Bara. Jangan pernah datang ke sini lagi."
Aku menutup pintu dengan keras di depan wajahnya. Membantingnya.
Di balik pintu, aku mendengar Bara masih menangis dan memanggil namaku berkali-kali. "Arini... Arini... Maafkan aku..."
Tapi aku tidak membukanya lagi. Aku bersandar di balik pintu dan menangis. Menangis untuk Arini yang dulu, yang akhirnya mendapatkan keadilan, meski keadilan itu terasa begitu menyakitkan.
Di lantai bawah apartemen, di dalam mobil Maybach hitam yang terparkir di sudut gelap, Revan duduk diam sambil menatap ke atas, ke arah apartemenku. Dia melihat semua kejadian itu dari jendela mobilnya. Dia melihat Bara yang terduduk lemas di depan pintu apartemenku.
Revan menghela napas dan menelepon Bi Ijah. "Bi, tolong naik ke apartemen Arini. Dia butuh ditemani malam ini."
Revan tidak naik. Dia hanya menunggu di bawah, memastikan Bara benar-benar pergi, memastikan Arini aman.
Karena bagi Revan, melindungi tidak selalu harus berada di samping. Terkadang, melindungi adalah dengan memberi jarak agar wanita itu bisa berdiri di atas kakinya sendiri.