Satu pesan yang salah kirim mempertemukan Andrian Pratama, seorang mahasiswa tingkat akhir, dengan Elena, wanita dewasa yang ternyata merupakan CEO sebuah perusahaan besar.
Awalnya, mereka hanya berbicara lewat pesan. Tanpa sengaja, percakapan sederhana itu berubah menjadi kebiasaan yang membuat keduanya semakin dekat.
Masalahnya, Andrian kemudian menjalani magang di perusahaan tempat Elena bekerja.
Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi semakin rumit. Di satu sisi, Elena adalah CEO yang harus menjaga profesionalitas. Di sisi lain, bagi Andrian, Elena adalah wanita yang sudah menjadi bagian penting dari kesehariannya.
Dari pesan singkat, pertemuan tak sengaja, hingga akhirnya menjadi pasangan, keduanya mulai membangun hubungan yang mereka kira sederhana.
Namun, semakin dekat mereka satu sama lain, semakin banyak hal yang belum mereka ketahui.
Karena terkadang, orang yang paling dekat dengan kita justru menyimpan rahasia yang paling besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kandang Singa yang Sesungguhnya
Jika ada penghargaan untuk keputusan paling impulsif dan berbahaya abad ini, Andrian yakin dia akan memenangkan juara pertama tanpa lawan.
Malam itu, Jakarta diguyur hujan gerimis. Andrian duduk kaku di jok kulit asli mobil Mercedes S-Class milik Elena yang melaju membelah kemacetan menuju kawasan elit Menteng. Di sebelahnya, Elena duduk dengan wajah pucat dan jemari yang terus bertaut cemas.
Andrian menunduk, menatap penampilannya sendiri. Malam ini, ia tidak memakai jas Tom Ford pinjaman yang fenomenal itu. Ia hanya mengenakan kemeja putih lengan panjang miliknya yang paling bersih, celana bahan hitam, dan sepatu pantofelnya yang solnya mulai menipis. Sangat sederhana. Sangat merakyat. Sangat "anak magang".
"Kamu masih bisa mundur, Andrian," suara Elena memecah keheningan kabin mobil. Wanita itu menoleh menatap Andrian dengan sorot mata penuh rasa bersalah. "Begitu mobil ini melewati gerbang rumah, Mama tidak akan melepaskanmu. Beliau bisa menghancurkan harga dirimu tanpa sisa."
Andrian membalas tatapan itu, lalu tersenyum menenangkan. "Gue udah bilang tadi siang, Len. Gue pantang mundur. Lagian, harga diri gue udah sering diinjek-injek sama dosen pembimbing skripsi. Gue udah kebal."
Elena tidak tersenyum mendengar candaan itu. "Ini berbeda, Andrian. Mama bukan dosen. Dia bisa menggunakan kekuasaannya untuk menyingkirkanmu dari industri ini."
"Kalau gitu gue tinggal buka warung bubur ayam nggak diaduk," sahut Andrian santai, mencoba mencairkan ketegangan. Ia perlahan mengulurkan tangannya, menepuk punggung tangan Elena yang sedingin es. "Percaya sama gue. Gue bakal baik-baik aja."
Mobil mewah itu akhirnya berbelok memasuki gerbang besi raksasa yang dijaga oleh dua petugas keamanan. Melewati driveway yang melingkari air mancur bergaya Eropa, mobil berhenti tepat di depan pilar-pilar marmer rumah keluarga Puspasari. Menyebut bangunan ini sebagai "rumah" rasanya kurang tepat; ini adalah sebuah istana.
Andrian turun dari mobil, menarik napas panjang. Sabar, Ndri. Tahan emosi. Demi rahasia, lu harus rela cosplay jadi orang miskin malam ini, batin Andrian menyemangati dirinya sendiri.
Elena berjalan di samping Andrian. Mereka disambut oleh kepala pelayan yang membungkuk hormat, lalu membimbing mereka menuju ruang tamu utama.
Ruangan itu sangat luas. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya terang benderang. Di atas sofa kulit vintage bernilai ratusan juta, duduklah Tuan Arman yang sedang menyesap cerutu, dan Nyonya Puspasari yang sedang bersedekap dengan wajah memerah menahan murka.
Mendengar langkah kaki, Puspasari langsung mendongak. Matanya memancarkan kilatan penuh antisipasi, bersiap menguliti pria bermerek Tom Ford yang berani menggagalkan perjodohan putrinya.
Namun, antisipasi itu seketika hancur lebur menjadi kebingungan yang bercampur dengan rasa jijik saat melihat siapa yang berdiri di samping Elena.
"Selamat malam, Ma, Pa," sapa Elena, suaranya diusahakan setenang mungkin.
Andrian ikut menunduk sopan. "Selamat malam, Tuan Arman, Nyonya Puspasari."
Hening.
Tuan Arman menurunkan cerutunya, keningnya berkerut tajam. Sementara Nyonya Puspasari perlahan berdiri dari sofanya. Matanya membelalak menatap Andrian dari ujung rambut hingga ujung sepatu, seolah memastikan bahwa matanya tidak sedang bermasalah.
"Elena..." suara Puspasari terdengar bergetar, bukan karena sedih, melainkan karena amarah yang memuncak hingga ke ubun-ubun. "Apa ini? Lelucon macam apa yang sedang kamu mainkan pada Mama?"
"Ini bukan lelucon, Ma," jawab Elena tegas. Ia mengambil satu langkah mendekat ke arah Andrian, sebuah gestur perlindungan yang disadari oleh kedua orang tuanya. "Mama meminta Elena membawa pria yang ada di foto itu. Ini dia. Andrian."
Wajah Puspasari langsung memerah padam. Ia menunjuk Andrian dengan jari telunjuknya yang berhias cincin berlian besar.
"Dia?! Anak magang beraroma kemiskinan yang kemarin masuk ke ruangmu?!" pekik Puspasari tak percaya. "Kamu pikir Mama bodoh, Elena?! Pria di foto itu memakai jas Tom Ford Bespoke! Sedangkan gembel ini... lihat bajunya! Kemeja murahannya bahkan tidak pantas dipakai oleh tukang kebun kita!"
Sabar, Ndri. Jangan emosi. Ia tetap menunduk hormat, tidak membalas hinaan itu.
"Jas itu... pinjaman," suara Andrian terdengar tenang, memecah kehebohan. "Saya mengaku salah karena memakai pakaian yang bukan milik saya untuk masuk ke restoran mewah itu. Tapi pria di foto itu memang saya, Nyonya."
Arman akhirnya bersuara. Suaranya berat, dalam, dan jauh lebih mengintimidasi daripada lengkingan istrinya. "Kamu menyewa jas mahal untuk makan malam dengan putri saya? Berapa Elena membayarmu untuk drama murahan ini, Anak Muda?"
"Papa!" Elena memprotes keras. "Elena tidak membayarnya! Andrian datang ke sana karena keinginannya sendiri."
"Omong kosong!" potong Puspasari. Wanita itu berjalan menghampiri Andrian, berdiri hanya setengah meter dari pemuda itu. Tatapannya siap membakar Andrian hidup-hidup. "Saya tahu jenis pria sepertimu. Lintah darat. Penipu. Kamu sengaja mencari celah dari kepenatan putri saya untuk merayunya, kan? Kamu pikir dengan modal wajah lumayan dan jas sewaan, kamu bisa menjadi menantu di keluarga ini dan menikmati harta kami?!"
Dada Andrian terasa panas. Hinaan soal uang ini rasanya sangat lucu sekaligus menyakitkan. Ia adalah pewaris tunggal dari bisnis yang lebih masif dari NSM Company.
Namun, Andrian bisa mengakhiri semua penghinaan itu hanya dengan satu panggilan telepon.
Satu nama.
Satu identitas.
Dan seluruh ruangan ini akan berubah. Tapi bukan malam ini. Ia tidak ingin Elena memilihnya karena siapa keluarganya.
Andrian mengangkat wajahnya, menatap langsung ke arah mata Nyonya Puspasari dengan ketenangan yang luar biasa. Tidak ada rasa takut, tidak ada rasa rendah diri.
"Saya tidak menginginkan sepeser pun harta keluarga Nyonya," ucap Andrian tegas. "Gaji magang saya memang kecil. Pakaian saya memang murah. Tapi perasaan saya kepada putri Nyonya tidak bisa dibeli dengan harga saham perusahaan Nyonya."
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Andrian, mengejutkan Elena yang langsung menoleh ke arahnya dengan mata membesar.
Puspasari tertawa sinis, tawa yang merendahkan. "Perasaan? Apa yang bisa kamu berikan dengan perasaanmu? Bisa kamu membeli rumah di kawasan ini dengan perasaan? Bisa kamu menjaga citra NSM Company di mata dunia dengan perasaan?! Kamu hanya benalu!"
"Ma, cukup!" Elena maju, menempatkan dirinya di antara ibunya dan Andrian. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata sang Ratu Es. "Mama selalu bicara soal citra, saham, dan aliansi! Pernahkah Mama bertanya apa yang Elena rasakan? Pernahkah Mama melihat Elena tersenyum bahagia saat Mama menjodohkan Elena dengan pria-pria kaya itu?!"
"Elena, Mama melakukan ini untuk masa depan—"
"Andrian membuatku bahagia, Ma," potong Elena dengan suara bergetar namun penuh keyakinan. Kalimat itu membungkam seisi ruangan. Tuan Arman tertegun. Puspasari membeku.
Bahkan Andrian sendiri merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak.
"Dia membuatku beristirahat. Dia membuatku tertawa. Dia tidak melihatku sebagai mesin pencetak uang atau trofi untuk dipamerkan. Dia melihatku sebagai manusia," lanjut Elena, air matanya akhirnya menetes. Ia menoleh ke arah Andrian, menatap pemuda itu dengan kelembutan yang menghancurkan semua ketegangan di ruangan itu.
Lalu, tanpa ragu, Elena meraih tangan Andrian dan menggenggamnya erat di depan kedua orang tuanya.
"Elena menolak dr. Reyhan. Dan Elena menolak semua pria pilihan Mama. Elena memilih Andrian."
Pernyataan absolut itu menghantam ruangan seperti bom nuklir.
Wajah Puspasari berubah menjadi campuran antara syok, kecewa, dan murka yang tak tertahankan. Tangannya menunjuk ke arah pintu utama.
"Keluar," desis Puspasari dengan suara rendah yang sangat menakutkan.
"Ma—"
"KELUAR DARI RUMAH SAYA!" jerit Puspasari histeris. "Dan kamu, pemuda miskin! Camkan kata-kataku! Saya akan memastikan hidupmu hancur jika kamu berani mendekati putri saya lagi! Saya akan membuatmu tidak bisa bekerja di perusahaan mana pun di kota ini!"
Tuan Arman membuang cerutunya, berdiri dari sofa. "Cukup, Elena. Bawa temanmu pergi sebelum ibumu kehilangan kendali. Kita bahas ini di kantor besok."
Elena menghapus air matanya dengan kasar, menarik tangan Andrian. "Ayo kita pergi."
Keduanya berbalik, berjalan cepat menyusuri lorong mewah itu, keluar dari pintu utama, dan masuk kembali ke dalam mobil. Begitu pintu mobil tertutup, keheningan yang menyesakkan langsung menyergap kabin.
Hujan di luar semakin deras. Elena menyandarkan dahinya di atas kemudi. Bahunya bergetar. Tangis sang Ratu Es yang selama ini ditahannya dengan dinding tebal akhirnya pecah di depan seorang anak magang.
Andrian merasakan dadanya teremas sakit melihat wanita sekuat Elena menangis. Pemuda itu menggeser posisi duduknya, lalu dengan lembut menarik bahu Elena, merengkuh wanita itu ke dalam pelukannya.
Awalnya Elena menegang, namun detik berikutnya ia runtuh, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Andrian dan menangis tersedu-sedu.
"Maaf... Maafkan aku, Andrian," isak Elena. "Ibuku sangat kejam padamu. Seharusnya aku tidak memintamu datang... Kamu dihina habis-habisan karena aku."
Andrian mengelus rambut Elena dengan lembut. Aroma vanilla-nya terasa menenangkan di tengah badai emosi ini.
"Sst, udah. Nggak apa-apa," bisik Andrian, suaranya parau. "Gue bilang juga apa, gue kebal sama omongan orang. Hinaan nyokap lu nggak bikin gue mati. Tapi kalau lu nangis kayak gini, nah itu baru bikin gue ngerasa gagal."
Elena mengeratkan pelukannya di kemeja putih Andrian. "Dia akan memecatmu... Dia akan mempersulit masa magangmu... Dia bisa melakukan apa saja."
"Biarin," jawab Andrian tanpa rasa takut. "Dunia ini luas, Len. Kalau gue dipecat, gue cari kerja di tempat lain. Yang penting, kata-kata lu di dalem tadi beneran kan? Bukan cuma akting buat bikin nyokap lu marah?"
Elena melepaskan pelukannya perlahan, mendongak menatap wajah Andrian yang hanya berjarak beberapa inci darinya. Mata cokelatnya yang basah oleh air mata menatap Andrian dengan ketulusan yang luar biasa.
"Aku tidak pernah berakting soal perasaanku, Andrian," jawab Elena pelan.
Andrian tersenyum. Ibu jari pemuda itu terulur, menghapus jejak air mata di pipi Elena dengan lembut.
"Kalau gitu, badai kayak apa pun yang bakal dikirim Nyonya Puspasari besok, kita hadapin bareng-bareng. Oke?" ucap Andrian tegas.
Elena mengangguk pelan. Di tengah hujan lebat malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Elena merasa tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
Dan Andrian, yang memeluk erat wanita itu, diam-diam bersumpah dalam hatinya. Gue bakal buktiin ke keluarga lu, Len. Saat waktunya tiba nanti, nggak akan ada satu orang pun di dunia ini yang berani ngerendahin lu lagi.
Bersambung...
Kalau kalian suka dengan ceritanya, bantu Author dengan LIKE & FOLLOW yaa! ❤️🔥
Gratis kok, tapi dukungan kecil dari kalian berarti banget buat author dan bikin semangat lanjut update. 😆
Satu Like 👍 = satu tambahan semangat buat lanjut nulis! 💪🔥
Jangan lupa Subscribe juga biar nggak ketinggalan bab terbaru! 📖✨