SINOPSIS
.
.
.
.
.
Delapan tahun setelah dikirim ke Selatan, Shen Ruyin akhirnya kembali ke Chang’an.
Keluarganya mengatakan ia pergi karena sakit. Namun sejak kepulangannya, Ruyin mulai menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ingatannya.
Orang-orang di Chang’an mengingat masa kecilnya dengan cara yang berbeda. Ibunya terlalu berhati-hati saat membicarakan masa lalu, sementara kakaknya mengetahui hal-hal yang seharusnya tidak ia ketahui.
Lalu Ruyin menemukan sebuah lukisan tua.
Wajah perempuan di dalamnya sama persis dengannya—padahal lukisan itu dibuat bertahun-tahun sebelum ia lahir.
Jika semua orang menyimpan rahasia tentang dirinya, lalu siapa sebenarnya Shen Ruyin?
Dan apa yang terjadi pada malam ketika ingatannya mulai hilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diva Devira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: SARAPAN YANG TERLALU HAFAL
Pagi datang dengan kabut tipis yang menggantung di atas kolam.
Ruyin tidak tidur. Ia duduk di tepi ranjang sampai langit di balik kertas jendela berubah dari hitam menjadi kelabu, dengan pita merah itu terbentang di telapak tangannya. Baru ketika cahaya cukup terang, ia mendekat ke jendela dan memeriksanya sekali lagi.
Kainnya sutra murah yang sudah menipis, warnanya memudar paling pucat di bagian tengah, tempat dulu mungkin sering diikatkan pada rambut. Ujung kirinya sedikit terurai. Ia membuka laci rias dan mencari bekas gesekan di dasar kayu. Tidak ada pita lain. Ia mengamati tepi pita di tangannya: ada noda tinta sebesar biji wijen di sudut bawah, noda yang sama yang ia lihat kemarin sore ketika pertama kali mengambilnya.
Pita yang sama. Tidak ada keraguan.
Karakter 'Pulang' di ujungnya disulam dengan benang cokelat tua, rapat dan rapi. Namun Ruyin memperhatikan sesuatu yang tidak ia sadari semalam: benang itu masih kaku dan tidak berbulu, tidak seperti benang yang sudah delapan tahun tersimpan di dalam laci. Sulaman itu baru.
Ia melipat pita itu dan menyelipkannya ke dalam lengan bajunya.
———
"Bibi," katanya ketika pelayan itu masuk membawa air cuci muka, "pita merah di laci rias itu milikku?"
Bibi Qin sedang memeras kain. Tangannya berhenti sepersekian napas, lalu bergerak lagi.
"Pita apa, Nona?"
"Pita lama. Warnanya sudah pudar. Aku menemukannya kemarin dan lupa menaruhnya di mana."
"Barang-barang kecil di kamar ini banyak, Nona. Mungkin saja milik Nona dulu." Ia menyerahkan kain basah itu tanpa mengangkat mata. "Pelayan di rumah ini suka menaruh apa saja di laci."
"Kau bilang tadi malam tidak ada yang masuk ke kamarku."
"Saya... tidak ingat pernah mengatakannya, Nona."
Memang tidak. Ruyin tidak pernah menanyakannya. Ia hanya ingin melihat apakah Bibi Qin akan menjawab pertanyaan yang tidak diajukan.
Dan Bibi Qin menjawabnya.
Ruyin mengusap wajah dengan kain hangat itu dan tidak berkata apa-apa lagi. Di cermin tembaga, ia melihat pelayan tua itu berdiri di belakangnya, kedua tangan saling menggenggam begitu erat hingga buku-bukunya memutih.
———
Sarapan disajikan di aula samping, bukan aula utama. Meja bundar kecil, empat kursi, dan hanya tiga yang terisi. Kursi keempat milik Tuan Shen, yang menurut Yucheng sudah berangkat ke sidang pagi sebelum matahari terbit.
"Ayah menitipkan salam," kata Yucheng sambil menuangkan teh. "Ia akan menemuimu malam ini."
"Aku akan menunggu."
Ruyin duduk. Sebelum tangannya menyentuh mangkuk, seorang pelayan sudah meletakkan semangkuk bubur di hadapannya. Bubur putih, tanpa irisan daun bawang, tanpa taburan wijen. Di sebelahnya, cangkir teh yang uapnya sudah hampir hilang.
Ruyin menatap cangkir itu.
Ia memang tidak bisa minum teh yang masih panas. Lidahnya terlalu peka sejak kecil, dan dulu pelayan selalu menunggu teh mendingin sebelum menyajikannya. Tetapi itu kebiasaan anak kecil. Bagaimana mungkin dapur ini masih ingat setelah delapan tahun?
"Ada yang kurang?" tanya Nyonya Lin.
"Tidak, Ibu. Semuanya pas." Ruyin mengangkat sendok. "Terlalu pas."
Yucheng tertawa kecil, tetapi tawanya berhenti di tengah jalan. "Dapur kita memang teliti."
"Sampai ke daun bawang?"
"Kau dulu menangis kalau ada daun bawang di bubur," kata Nyonya Lin tenang. "Ibu masih ingat."
Delapan tahun, pikir Ruyin. Seorang ibu bisa saja mengingat hal sekecil itu. Ia bukan orang yang percaya bahwa ingatan harus selalu mencurigakan. Namun ia memperhatikan bagaimana Yucheng menunduk saat ibunya berbicara, seolah tidak ingin siapa pun melihat wajahnya.
Dan ia memperhatikan sesuatu lain. Ujung jubah Yucheng, di bagian bawah, berwarna lebih gelap dari bagian atas. Lembap. Seperti baru saja menyapu rumput berembun.
"Kakak bangun pagi sekali," ujar Ruyin sambil menyuap bubur.
"Aku... terbiasa." Yucheng mengambil sumpit, meletakkannya, mengambilnya lagi. "Semalam kau tidur nyenyak?"
"Cukup."
"Tidak ada yang mengganggu?"
Ruyin mengangkat mata. Yucheng sedang menatap meja, tetapi sumpitnya berhenti di udara.
"Memangnya apa yang bisa mengganggu di rumahku sendiri?" tanyanya lembut.
Yucheng tersenyum terlalu lebar. "Tidak ada. Hanya bertanya. Kau baru sampai, biasanya orang sulit tidur di tempat yang sudah lama ditinggalkan."
Itu alasan yang masuk akal. Itu juga alasan yang tidak ia perlukan kalau memang tidak menyembunyikan apa pun.
———
"Kau tahu," kata Nyonya Lin, memecah keheningan, "kemarin sore aku melihatmu memandangi halaman timur dari lorong."
Ruyin tidak ingat pernah berdiri di lorong mana pun kemarin. Ia hanya ingat melewati lorong itu bersama Yucheng.
"Aku hanya melihat osmanthus-nya, Ibu."
"Osmanthus." Nyonya Lin meletakkan cangkirnya. Ada kelembutan di wajahnya yang tampak tulus, dan itu entah mengapa membuat Ruyin lebih waspada. "Kau pernah jatuh dari pohon itu. Umurmu tujuh tahun. Kau naik untuk memetik bunga, katamu untuk hadiah ulang tahunku. Dahannya patah dan telapak tangan kirimu tergores dahan. Darahnya banyak sekali sampai Yucheng menjerit seperti dia yang terluka."
"Ibu," Yucheng bergumam.
"Kau menangis sebentar, lalu tertawa karena melihat kakakmu panik. Bekas lukanya masih ada, bukan?"
Ruyin menunduk menatap telapak tangan kirinya. Sebuah garis tipis memang melintang dari pangkal jari telunjuk hingga ke tengah. Putih, halus, hampir tak terasa jika tidak diraba.
"Masih ada," jawabnya.
Itu benar. Ia ingat jatuh. Ia ingat bau bunga yang terlalu manis, ingat rasa sakit yang tajam. Semuanya terdengar benar.
Hanya satu hal yang tidak cocok.
Dalam ingatannya, yang melukai tangannya bukan dahan. Yang melukainya sesuatu yang dingin dan tipis, seperti logam, dan ada seseorang yang cepat-cepat membalut telapak tangannya dengan sapu tangan putih. Bukan Yucheng. Tangan itu terlalu dingin, terlalu tenang.
Ia tidak mengatakannya.
"Ibu benar," ujar Ruyin pelan. "Aku memang ceroboh waktu kecil."
Nyonya Lin tersenyum, dan kali ini senyumnya tampak lega. Terlalu lega, seperti orang yang baru saja melewati jembatan sempit tanpa jatuh.
———
Selesai sarapan, Ruyin meminta izin berjalan-jalan di halaman. Yucheng menawarkan diri menemaninya, tetapi seorang pelayan datang membawa pesan dari pengurus rumah, dan lelaki itu pergi dengan wajah enggan. Sebelum menghilang di tikungan lorong, ia menoleh ke arahnya.
Hanya sebentar. Tapi Ruyin melihat tatapan itu. Bukan tatapan seorang kakak yang rindu, lebih seperti tatapan orang yang menyadari ada barang rapuh yang tidak bisa ia tahan di tempatnya.
Ruyin berjalan sendirian menuju halaman timur.
Halaman itu lebih kecil dari ingatannya. Pohon osmanthus berdiri di sudut, batangnya lebih tebal, daunnya masih hijau pekat meski bunganya belum mekar. Di bawahnya terdapat bangku batu yang sudah berlumut dan sebuah ayunan tali yang talinya telah lapuk. Ia menyentuh batang pohon itu. Kulit kayunya kasar dan hangat oleh matahari pagi.
Ia berlutut, melihat akar-akar yang menonjol dari tanah.
Dan di antara dua akar besar, tanahnya berbeda.
Lebih gelap, lebih gembur, seperti baru digali dan ditutup kembali. Tidak ada rumput tumbuh di sana, padahal di sekelilingnya rumput tumbuh lebat.
Ruyin menahan napas. Ia menoleh ke kiri dan kanan. Halaman itu sepi. Ia mengorek tanah itu dengan jari-jarinya, tidak dalam, hanya sedalam satu ruas jari, dan menemukan seutas benang merah.
Ia menariknya perlahan.
Dari dalam tanah muncul sebuah kunci perunggu kecil, sebesar ibu jari, berkarat di bagian gigi. Benang merahnya sudah kusam, warnanya persis sama dengan pita di lengan bajunya. Simpulnya dibuat dengan cara yang sangat dikenalnya, tiga lilitan dengan satu ujung diselipkan kembali. Simpul yang selalu ia buat sejak kecil, yang pernah dipuji tabib tua di Selatan sebagai cara mengikat yang "aneh tapi kuat".
Ruyin tidak pernah mengajarkan simpul itu kepada siapa pun.
Di bagian kepala kunci tergantung sepotong kertas minyak kecil yang dilipat rapat. Dengan jari agak gemetar, ia membukanya.
Tulisan tangan seorang anak, huruf-hurufnya besar dan miring, tintanya sudah memudar menjadi cokelat:
Ruyin, simpan ini. Jangan beri tahu Kakak.
Ruyin mengenali tulisan itu.
Itu tulisannya sendiri.