NovelToon NovelToon
IBUKU ADALAH MAUT

IBUKU ADALAH MAUT

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan / CEO / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Nafisa tak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir setelah mengetahui suami dan ibunya menjalin hubungan di belakangnya. Lebih menyakitkan lagi, sang ibu bahkan mengandung anak dari suaminya.

“Kenapa harus suamiku, Bu?!”

Hatinya hancur. Kepercayaannya musnah.

Lalu, langkah apa yang akan diambil Nafisa setelah mengetahui pengkhianatan dua orang yang paling ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

IBUKU MENGANDUNG ANAK SUAMIKU.

Setelah cukup lama berbincang di ruang tamu, satu per satu keluarga dari suaminya mulai berpamitan. Nafisa akhirnya bangkit dari sofa, berniat pergi ke kamar untuk beristirahat setelah tak ada seorangpun yang masih hadir.

Namun, langkahnya terhenti ketika melewati lorong menuju kamar.

Dari tempatnya berdiri, ia melihat Ibunya dan Damar berada di dekat meja makan. Ibunya memegang segelas susu, sementara Damar berdiri di hadapannya.

 Nafisa memilih bersembunyi di balik dinding agar keberadaannya tidak diketahui.

Perhatiannya tertuju pada tangan ibunya yang merogoh kantong celananya. Wanita itu mengeluarkan selembar kertas kecil, lalu membuka lipatannya. Sesuatu yang menyerupai serbuk putih tampak di dalamnya.

Nafisa menyipitkan mata, berusaha melihat lebih jelas.

“Sudah ku tambahkan, Sayang. Jadi, mungkin Nafisa akan bangun siang.”

Damar menerima gelas itu sambil mengangguk kecil.

Nafisa membeku di balik dinding. Jantungnya berdegup semakin kencang.

‘Jadi, selama ini ... pantas saja setiap aku minum susu atau air biasa yang Ibu berikan, aku selalu mengantuk.’

Nafisa menarik napas perlahan, berusaha menenangkan debaran di dadanya. Setelah memastikan dirinya tidak terlihat, ia berbalik dan melangkah menuju kamar dengan hati-hati.

Sesampainya di kamar, Nafisa duduk dengan tenang di sisi ranjang.

Tepat saat itu, pintu kamar terbuka.

Nafisa segera mengangkat kepala. Ibunya masuk sambil membawa segelas susu yang tadi telah dicampurinya sesuatu.

“Naf, minum dulu sebelum tidur.”

Nafisa menatap gelas itu sesaat. Ia kemudian mengangkat wajah dan memaksakan senyum sembari meraihnya.

“Terima kasih, Bu.”

“Dihabiskan, ya, Naf. Ibu mau pulang.”

Nafisa mengangkat alis tipis. “Ibu gam menginap?” tanyanya, sekadar berbasa-basi.

“Enggak, Naf. Ibu lebih nyaman di rumah sendiri.”

Nafisa mengangguk pelan. “Baik, Bu. Hati-hati di jalan.”

Bu Yulia membalas anggukan itu sebelum berbalik dan melangkah meninggalkan kamar. Tak lama kemudian, pintu kembali tertutup, menyisakan Nafisa seorang diri.

Senyum di wajahnya seketika menghilang.

Ia menunduk, menatap segelas susu yang masih berada di tangannya. Tanpa berniat meminumnya, ia meletakkan gelas itu di atas meja samping ranjang.

Ia bangkit dari ranjang, kemudian berjalan menuju pintu. Setelah membukanya sedikit, Nafisa mengintip ke luar untuk memastikan keadaan.

Ruang tengah tampak kosong. Tidak ada seorang pun di sana.

Nafisa melangkah keluar dengan hati-hati. Matanya menyapu setiap sudut rumah, tetapi ia tidak menemukan keberadaan sang ibu maupun Damar.

“Kemana mereka?” gumamnya pelan.

Saat hendak melangkah lebih jauh, pandangannya menangkap dua bayangan samar di balik tirai jendela. Nafisa segera mendekat, lalu menyingkap sedikit hordeng agar bisa melihat ke luar tanpa menarik perhatian.

Dari celah itu, ia melihat ibunya berjalan berdampingan dengan Damar. Keduanya menuju gudang yang berada di halaman belakang rumah, sebelum akhirnya menghilang di balik pintunya.

Alisnya berkerut saat mengamati gudang tersebut.

“Ngapain mereka ke sana?” bisiknya.“Kalau begitu, akan aku cari tahu apa yang ada di dalam sana.”

Nafisa segera melepaskan hordeng, lalu berbalik dan melangkah kembali menuju kamarnya.

 .

Setibanya di kamar, Nafisa segera menghampiri nakas tempat ia meletakkan segelas susu pemberian ibunya tadi. Cairan putih itu masih memenuhi gelas karena belum sedikit pun ia sentuh.

Nafisa meraih gelas tersebut, lalu mengamatinya sejenak. Ia teringat bagaimana ibunta mencampurkan sesuatu ke dalam susu itu.

Alih-alih membuangnya, Nafisa justru mengangkat gelas itu ke bibirnya dan meminum isinya hingga tandas.

“Kalau gak begini, bagaimana caranya aku bisa tidur dengan nyenyak?” gumamnya setelah meletakkan gelas kosong di atas nakas.

Ia kemudian berjalan menuju ranjang dan duduk di tepinya. Belum lama berselang, rasa kantuk mulai menyerang. Kelopak matanya terasa berat, sementara kepalanya perlahan kehilangan konsentrasi.

Nafisa mengembuskan napas panjang. Dan memilih untuk tidur

. . .

Waktu berlalu.

Tak terasa cahaya matahari menyelinap melalui jendela.

Nafisa duduk dengan tenang di salah satu kursi meja makan. Di hadapannya, sepiring nasi goreng dan segelas air putih telah tersaji. Pagi itu, ia sengaja memasak untuk dirinya sendiri tanpa menyiapkan sarapan tambahan untuk Damar.

Ia baru saja menyuapkan makanan ke mulut ketika suara langkah sepatu terdengar dari arah pintu. Nafisa melirik sekilas, lalu kembali mengunyah makanannya.

Tak lama kemudian, langkah itu berhenti di dekat meja makan.

“Naf, kamu gak masak buat Mas?”

Nafisa meletakkan sendoknya, kemudian menoleh kepada Damar yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya.

“Maaf, Mas. Aku kira Mas bakal makan di luar. Apalagi kalau nanti aku masak, makanannya malah gak sengaja kebuang seperti waktu itu.”

Damar terdiam sesaat.

Nafisa menatap suaminya dengan ekspresi datar.

“Mas makan di luar saja, ya?”

Damar mengembuskan napas pendek. “Ya sudah, deh.” Ia melirik makanan di hadapan Nafisa sebelum kembali bertanya, “Kamu gak kerja, Naf?”

Nafisa tak langsung menjawab. Pandangannya justru tertuju pada leher Damar.

Bercak merah itu kembali terlihat. Tampak masih baru di buat.

“Aku lagi gak enak badan, Mas. Nanti aku mau izin ke atasan.”

“Oh, ya sudah.”

Hanya itu jawaban Damar. Tak ada rasa khawatirnya yang di timbulkannya.

Nafisa menunggu sesaat. Namun, Damar justru merapikan pakaiannya, lalu berbalik menuju pintu.

Nafisa menghela napas pelan. Matanya mengikuti kepergian Damar hingga sosok itu menghilang dari pandangannya.

Aneh rasanya. Ketika ibunya sakit, Damar bisa terlihat begitu panik dan bergegas memberikan perhatian. Namun, saat istrinya sendiri mengatakan sedang tidak enak badan, pria itu bahkan tidak menunjukkan sedikit pun rasa khawatir.

Nafisa menunduk, mengaduk nasi goreng di piringnya tanpa selera.

‘Begitu besar perhatian Mas Damar kepada Ibu, sampai-sampai aku gak peduli ketika istrinya sendiri sedang sakit.’

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu kembali meletakkan sendoknya.

Beberapa saat kemudian, suasana di meja makan terasa hening. Hanya suara detak jarum jam yang terdengar mengisi kesunyian.

Nafisa menatap makanan di hadapannya. Nasi goreng yang tadi disantapnya kini tersisa separuh. Namun, selera makannya sudah telanjur hilang. Pikirannya terus tertuju pada kejadian semalam, ketika ia melihat ibunya dan Damar berjalan bersama menuju gudang di belakang rumah.

“Aku sampai lupa,” gumamnya. “Aku harus cari tahu kenapa Ibu dan Mas Damar pergi ke gudang semalam,” gumamnya.

Nafisa meletakkan sendoknya, kemudian beranjak dari kursi. Ia tak ingin membuang waktu lebih lama.

Dengan langkah yang dipercepat, ia berjalan menuju gudang di halaman belakang rumahnya.

. . .

Tak lama kemudian, langkahnya terhenti tepat di depan pintu gudang yang tertutup rapat. Tatapannya menyusuri permukaan pintu itu sebelum akhirnya turun pada gembok yang terpasang kuat.

Nafisa mengembuskan napas perlahan.

“Kalau dugaanku benar, hari ini juga akan kuurus surat perceraianmu, Mas. Setelah itu, biar kamu menikah dengan ibuku sekalian.”

Rahangnya mengeras. Kini, ia ingin mengetahui sendiri apa yang mereka sembunyikan di balik pintu tersebut.

Tatapan Nafisa kembali tertuju pada gembok yang mengunci gudang dari luar.

“Jadi, kamu juga sudah menduga kalau suatu saat aku akan mencari tahu, ya?”

Ia meraba bagian belakang jilbabnya, lalu mengeluarkan sebuah jepit rambut. Setelah berjongkok di depan pintu, Nafisa mulai berusaha membuka gembok tersebut menggunakan benda kecil itu.

Beberapa kali ia mengubah posisi jepit rambutnya. Jemarinya bergerak hati-hati, sementara matanya terus memperhatikan celah kunci.

“Sedikit lagi,” bisiknya.

Setelah beberapa saat mencoba, terdengar bunyi klik kecil dari gembok itu. Nafisa segera menariknya dan mendapati penguncinya telah terbuka.

Akhirnya.

Ia berdiri, melepaskan gembok dari pintu, lalu meletakkannya di samping. Tanpa membuang waktu, Nafisa meraih gagang pintu dan mendorongnya perlahan.

Pintu itu terbuka dengan suara derit pelan.

Begitu memasuki ruangan itu, tubuh Nafisa seketika menegang. Ia menatap sekeliling dengan mata membelalak. Gudang yang selama ini ia kenal ternyata telah disulap menjadi sebuah kamar lengkap dengan ranjang dan beberapa perabot lainnya.

Namun, bukan itu yang membuatnya terdiam.

Di salah satu sudut ruangan, terdapat borgol, cambuk, serta beberapa benda lain yang bahkan tak sanggup ia jelaskan dengan kata-kata.

Nafisa menelan ludah. Jemarinya mulai gemetar saat pandangannya beralih ke sebuah layar televisi yang menyala di atas meja.

Ia melangkah mendekat. Di layar itu, terlihat rekaman dari berbagai sudut rumahnya, mulai dari ruang tamu, kamar tidur, hingga halaman belakang.

CCTV.

“Sejak kapan mereka membuat kamar rahasia ini?” gumamnya lirih.

Nafisa masih terpaku di depan layar. Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan, tetapi tak satu pun mampu ia jawab.

Belum sempat menemukan jawabannya, pandangannya menangkap dua benda bergaris merah yang tergeletak di atas meja kecil dekat ranjang.

Kening Nafisa berkerut. Ia pun melangkah mendekat, lalu meraih salah satu benda tersebut. Setelah mengamatinya sejenak, ia meletakkannya kembali.

Di samping benda itu, terdapat selembar kertas yang menarik perhatiannya.

Nafisa mengambilnya. Matanya menyusuri tulisan yang tertera di sana, tetapi baru beberapa saat membaca, wajahnya seketika memucat.

Tangannya gemetar hebat.

Ia membaca ulang kertas itu, berharap dirinya salah memahami isinya. Namun, kenyataan yang tertera di sana tak berubah sedikit pun.

Ibunya sedang hamil.

Dan anak yang dikandungnya adalah anak dari Damar, suaminya sendiri.

“Enggak mungkin ...,” bisiknya dengan suara bergetar.

Kertas itu hampir terlepas dari jemarinya. Nafisa menggeleng pelan, berusaha menyangkal kenyataan yang baru saja menghantamnya. Namun, semakin lama ia menatap tulisan tersebut, semakin sulit pula baginya untuk membohongi diri sendiri.

Ibunya telah mengandung anak dari suaminya.

Hubungan terlarang itu ternyata sudah sejauh ini.

Kedua lutut Nafisa melemas. Ia tak lagi sanggup menopang tubuhnya hingga akhirnya terduduk di sisi ranjang. Kertas itu masih berada di tangannya, sementara pandangannya perlahan beralih ke layar CCTV yang terus menyala.

Tatapannya kosong.

Ia merasa dikhianati, dipermainkan, sekaligus dibodohi oleh dua orang yang paling ia percaya.

1
Mundri Astuti
adikmu anaknya alm damar juga kan yak...apa ngga mau ngurus ya keluarganya damar
Mundri Astuti
ibu tiri apa ibu kandung si....ko emaknya bilang yg sdh membesarkan bukan sdh melahirkan 🤔
Mundri Astuti
iya ih Nafisah masih percaya beud sama emaknya ..
kasih kaca yg gede emakmu Nafisah, perut dah gede gitu ..dah tua juga, masih ga insaf juga...
Mundri Astuti
hati" Nafisa ibumu belum tobat romannya...jangan tinggal bareng ya, sewain tmpt tinggal dan kasih pembantu yg usianya sama...

sempet" nya lagi acara serius pada saling sindir 😄
Lee Mba Young
widih calon mangsa baru bu Yulia nih 🤣🤣🤣. dah gatel tu
Lee Mba Young
Ibu ibu dah tua kakean polah, the real beban buat nafisa.
nafisa blm punya anak tp nnti pasti suruh nanggung biaya bayi itu iuhhh.
Lee Mba Young
nnti pasti semua biaya sang bayi smp bayi itu besar, biaya sekolah nafisa yg di suruh nanggung. iuhhh kasian nafisa, ibunya bukan membahagiakan tp ngasih beban.
Lee Mba Young
hbis ini ngemis lagi ke anak yg di khianati trus tanggung jawab adik nya semua biaya suruh nafisa yg nanggung. the real beban ibu Dan sang bayi.
Lee Mba Young
sekarang tinggal nunggu karma ibu Dan Adam itu. iuhh naudzibillah banget ngangkang ke mantu sendiri. jalang ketemu laki ngacengan 🤣.
Neni Rahmawati
bagus dewangga .
Neni Rahmawati
super duper gila..naudzubillah
Neni Rahmawati
ya ampun naudzubillah bu yulia..moga cepet dapet azab..si damar juga sama2 gila
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!