Norman Turner mengira Grace Wills, wanita yang mudah dibodohi, sayangnya ia tidak memahami istrinya dengan baik.
Grace Wills malah memilih langkah yang paling berbeda saat mengetahui suaminya mendua.
Apa yang dilakukan Grace Wills? Penasaran, kepoin yuk ceritanya ...
Untuk tahu info update, follow IG: @nana_vinli
Diusahakan update setiap hari, 1 sampai 3 bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mati Kutu
Pertanyaan Grace membuat suasana di dalam ruangan seketika membeku.
Henry yang semula hendak melayangkan pukulan kepada Norman langsung menghentikan tangannya di udara. Norman ikut terdiam. Wajahnya berubah tegang ketika melihat Grace berdiri di ambang pintu.
Edmund yang sejak tadi duduk di sofa hanya mengangkat pandangan. Jacob pun tidak berkata apa-apa. Tak seorang pun menyangka Grace akan muncul di kantor pagi itu.
Henry perlahan menurunkan tangannya. Ia membenarkan jasnya yang sedikit berantakan, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Norman pun buru-buru merapikan kerah kemejanya. Keduanya sempat saling pandang sejenak.
Norman kemudian melirik Edmund, Jacob, dan Henry secara bergantian. Tak ada seorang pun yang membantunya.
Grace memperhatikan semuanya. Tatapannya bergerak perlahan dari Henry, Edmund, Jacob, lalu berhenti pada Norman.
"Siapa yang selingkuh?" ulang Grace dengan nada suara yang terdengar biasa.
Namun, justru itu yang membuat Norman semakin gugup.
Sekarang suasana menjadi canggung. Kumpulan manusia di ruangan itu pun mendadak diam.
"Jacob." Norman tiba-tiba membuka mulut tanpa berpikir panjang.
Jacob langsung melotot tajam. "Norman!"
Norman tertawa hambar. "Aku cuma bercanda."
Jacob mengalihkan pandangan ke arah Grace. "Bukan aku," katanya cepat. "Temanku."
Grace hanya mengangkat alis. "Oh, begitu," balasnya sambil melangkah masuk dengan tenang.
Saat melewati Edmund dan Jacob, Grace sedikit menundukkan kepala sebagai tanda hormat sebelum duduk di sofa.
Norman segera menyusul. Henry pun ikut mendekat.
"Kenapa kau ke sini?" tanya Norman.
Grace menoleh kepada Norman. "Aku merasa bersalah karena tadi malam tidak membalas pesanmu dan tidak mengangkat panggilanmu. Jadi, aku datang untuk melihat keadaanmu."
Norman mengangguk pelan.
Namun, Grace kembali berkata, "Tadi pagi aku sempat pulang ke rumah."
Norman langsung menatap Grace. "Kau pulang?"
"Iya." Grace menyandarkan tubuh sambil menatap lekat-lekat mata Norman. "Asisten di rumah mengatakan kau tidak pulang semalam. Ke mana kau semalam?"
Grace sudah terlebih dahulu mengetahui bahwa Norman menginap di rumah Mona.
Mendapat pertanyaan itu, Norman mendadak tegang. "Um... aku menginap di kantor tadi malam."
Grace menatapnya beberapa detik, kemudian tersenyum tipis. "Hm, begitu."
Jawaban singkat itu justru membuat Norman semakin tidak nyaman.
"Urusan kami sepertinya sudah selesai. Kami pergi dulu," Henry tiba-tiba berkata.
Edmund pun mulai berdiri dan Jacob ikut bangkit. Namun, sebelum mereka sempat keluar, pintu ruangan kembali terbuka.
Alison, Ruby, dan Mona masuk.
Alison langsung menghentikan langkah ketika melihat Grace. Tatapannya berubah tajam.
"Kau?"
Grace menoleh tanpa merasa takut. "Memangnya kenapa denganku?"
Alison menatapnya dengan wajah tidak suka. "Kenapa kau ada di sini?!"
Grace mengerutkan kening. "Memangnya apa salahku datang ke sini? Norman kan suamiku. Justru Mama ada perlu apa tiba-tiba datang ke sini?" Nada Grace terdengar menyebalkan.
Semua orang di ruangan terperangah dan saling lempar pandang melihat respons Grace barusan. Mona yang sejak tadi sudah berada di dekat meja kerjanya memilih diam.
"Berani sekali kau dengan mamaku!" sembur Ruby.
Alison mengepalkan tangan sambil menghampiri Grace. "Kau dasar wanita tidak tahu diri. Sudahlah miskin—"
Grace langsung berdiri lalu berkata, "Miskin?"
Tatapan Grace berubah tajam.
"Kalau aku miskin, aku tidak akan mampu membuat butikku sendiri," lanjut Grace.
Alison terdiam.
Grace melanjutkan dengan suara tenang, "Aku memang tidak dibesarkan dengan kemewahan seperti kalian. Tapi sejak kecil, semua kebutuhanku tercukupi. Aku punya tempat tinggal, makanan, pendidikan, dan kehidupan yang layak."
Keluarga Grace bukan termasuk orang-orang kaya seperti keluarga Turner. Dikatakan miskin juga tidak, dikatakan kaya juga tidak. Namun, selama hidupnya, George selalu memenuhi kebutuhan Grace. Untuk pendidikannya, Grace juga banyak mendapatkan bantuan dari beasiswa sejak kecil.
Grace tersenyum tipis. "Jadi, kalau menurutmu itu disebut miskin, mungkin kita memiliki pengertian yang berbeda."
Wajah Alison semakin merah. "Makin berani kau dengan—"
"Cukup, Alison. Hentikan!" Edmund tiba-tiba menyela sambil melayangkan tatapan tajam kepada Alison.
Alison mendadak diam. Namun, kepalan tangannya masih terlihat jelas.
"Sudahlah. Kalau kedatanganku ke sini membuat kalian tidak nyaman, aku bisa pergi," kata Grace sambil mengambil tasnya.
"Tapi aku masih penasaran." Grace tiba-tiba menoleh ke arah Jacob.
Jacob menatap Grace sambil berkedip pelan.
"Apa benar temanmu selingkuh?" tanya Grace.
Jacob tergugu, sesekali melirik ke arah Norman.
Grace kembali melirik Norman. "Aneh sekali, kalau memang teman Jacob yang selingkuh, kenapa Papa mertuaku tadi ingin memukulmu?"
Norman menegang. Sekarang, dia mulai kesusahan menelan ludah.
"Bukan begitu, sayang," timpal Norman.
Grace menatapnya lekat-lekat. "Tidak mungkin kau yang selingkuh, kan, Norman?"
Ruangan kembali hening.
Henry mengalihkan pandangan. Edmund pun tidak berkata apa-apa. Jacob terlihat menahan napas dan Norman semakin gugup.
"Bukan begitu, sayang. Kami tadi hanya salah paham."
"Salah paham?"
"Iya."
Norman segera melirik Jacob. "Benar, kan, Jacob? Tadi kita cuma bercanda."
Jacob mengeraskan rahang sejenak. "Hm, iya," balasnya sambil tersenyum kecut.
"Papa memang kadang suka bermain seperti itu," lanjut Norman cepat sambil tertawa hambar.
Grace memandangi mereka semua satu per satu. Tak ada satu pun yang berani menatap matanya terlalu lama.
"Baiklah."
Grace akhirnya mengambil langkah menuju pintu.
"Oh, iya."
Grace seketika berhenti dan menoleh kepada Alison. "Minggu depan ulang tahun Mama. Aku sudah lama tidak menghadiri ulang tahun Mama. Selama kurang lebih tiga tahun, aku sibuk menempuh pendidikan di Milan."
Grace melangkah mendekat sambil tersenyum penuh arti.
"Jadi, kali ini aku dengan senang hati yang akan menyiapkan pesta meriah untuk Mama."
Edmund yang mendengar itu langsung melirik Alison. Tatapan keduanya bertemu sesaat.
Ada senyum tipis yang terasa hambar di wajah Edmund. Ia sebenarnya sudah beberapa kali mengingatkan Alison agar tidak lagi menggelar pesta sebesar tahun-tahun sebelumnya. Keuangan keluarga mereka mulai tidak stabil, dan Edmund tidak ingin pengeluaran semakin besar. Namun, Alison selalu menolak.
Bagi Alison, ulang tahun tetap harus dirayakan, meskipun tidak semewah sebelumnya. Kini, tawaran Grace justru membuat Edmund tidak bisa banyak berkata-kata.
"Kalau begitu..." Edmund tersenyum tipis. "Baiklah."
Alison hanya diam. Tatapan tajamnya tetap tertuju kepada Grace.
"Kalau begitu, aku akan mengurus semuanya," lanjut Grace.
Alison akhirnya membalas dengan nada ketus, "Iya."
Sebelum keluar dari ruangan, Grace tersenyum. "Kalau begitu, aku pergi dulu."
Grace pun keluar dari ruangan.
Pintu tertutup.
Beberapa detik kemudian, suasana langsung berubah.
"Ada apa sebenarnya?" Alison langsung menatap Norman. "Benarkah uang dua ratus miliar hilang dari rekening keluarga?"
Norman menghela napas kasar. "Aku mengambilnya karena seseorang mengancamku."
"Karena perselingkuhanmu?" tanya Ruby.
"Dia mengancam akan menghancurkan reputasiku!"
Henry langsung membentak, "Dan karena kebodohanmu, uang keluarga ikut kau bawa!"
"Aku tidak punya pilihan!"
"Kau selalu punya pilihan!" bentak Henry. "Kau saja yang terlalu ceroboh!"
Alison ikut menyela. "Kalau saja kau tidak berselingkuh dengan Mona, semua ini tidak akan terjadi!"
Norman menatap ibunya dengan kesal. "Jangan menyalahkanku seolah-olah kalian semua tidak tahu!"
Alison terdiam.
Norman menunjuk mereka satu per satu. "Kalian semua tahu aku dan Mona sudah lama bersama! Bahkan Kakek tahu!"
Edmund langsung menatap tajam. "Jaga ucapanmu."
"Kenapa? Bukankah itu kenyataannya?"
Ruby mendengus. "Yang jadi masalah sekarang bukan siapa yang tahu. Masalahnya, kau mengambil dua ratus miliar tanpa izin!"
"Aku mengambilnya untuk menyelesaikan masalah!"
"Masalah yang kau buat sendiri!" balas Henry.
Norman mengepalkan tangan. "Kalau kalian tidak terus menuntutku menjaga nama keluarga ini, aku tidak akan sampai melakukan semua ini!"
"Jangan membalikkan keadaan!" bentak Henry.
Suara mereka semakin keras, saling menyalahkan satu sama lain dan saling membela diri. Tak ada seorang pun yang benar-benar mau mengakui kesalahan.
Mona yang sejak tadi berada di dalam ruangan mulai merasa kepalanya berdenyut. Suara teriakan mereka membuat telinganya terasa sakit.
"Sudah cukup!" seru Mona sambil beranjak dari kursi.
Namun, tak ada yang mendengar. Rahang Mona terlihat mengeras. Tanpa permisi, ia berbalik lalu keluar dari ruangan.
Begitu pintu terbuka, Mona langsung berhenti. Matanya membesar.
Di luar sana, Grace ternyata masih berdiri. Wanita itu membelakangi Mona.
Mona menatap punggung Grace dengan kesal. "Kenapa kau masih di sini?" katanya refleks.
Grace perlahan berbalik. "Memangnya aku perlu meminta izin darimu untuk berada di sini?"
Mona tersadar lalu mengembuskan napas dengan pelan. "Bukan begitu. Aku hanya bertanya."
"Oh."
Balasan singkat itu membuat suasana menjadi hening. Sekarang Grace sedang menatap Mona dari ujung kepala hingga kaki.
Tatapan itu membuat Mona merasa risih. Tangannya refleks menyentuh leher.
Grace tersenyum tipis. "Kemarin aku melihatmu bersama seorang anak laki-laki."
Kemarin, ketika Carmen mengambil uang di Café Belmont, Grace sempat singgah ke supermarket dan melihat Mona bersama Ellian.
Mona tergugu.
"Siapa dia?" tanya Grace tanpa menunjukkan ekspresi.
Mona menelan ludah.
"Keponakanmu, kah?"
Grace memiringkan kepala. "Atau adikmu?"
Mona semakin gelisah. Tatapannya perlahan berubah. Selama ini ia selalu menyembunyikan anak itu dari Grace.
Namun, mungkin sekarang adalah saat yang tepat.
'Aku harus menjadi satu-satunya istri Norman. Ini saatnya aku mengatakan yang sebenarnya. Grace harus tahu kalau Norman memiliki anak dariku.'
Mona menarik napas dalam-dalam lalu tiba-tiba membuka mulut.
"Sebenarnya..."
Grace menatapnya tanpa berkedip. "Iya?"
"Sebenarnya aku dan Norman ..."
Akan bahagia klo video perselingkuhan Edmund juga juga viral 🤣
Mona yang haus status Turner hingga tak sadar bahwa Mona membuka jalan untuk keruntuhan Turner sekeluarga 🤣