Malam itu, Pietra pulang membawa kejutan untuk sang suami—dan menemukan suaminya dalam pelukan sahabatnya sendiri. Bukan hanya dikhianati; ia dipukul, direndahkan, dan baru menyadari bahwa pernikahannya selama ini hanyalah kedok untuk menguasai warisannya.
Maka ia memilih menghilang. Sendirian, tanpa tujuan, ia naik pesawat pertama yang membawanya sejauh mungkin: Moskow.
Di kota asing yang dingin itu, Pietra bertekad membangun ulang dirinya dari nol. Tapi takdir justru menempatkannya di jantung dunia yang paling berbahaya—sebagai sekretaris pribadi Marco D'Amato, pengusaha tampan berdarah dingin yang menyimpan satu rahasia mematikan: ia adalah Don dari mafia terkuat di Rusia.
Marco terbiasa mengendalikan segalanya. Namun wanita yang menolak tunduk, yang membalas setiap tatapannya tanpa gentar, yang berani berkata "Aku bukan milikmu"—itu di luar kendalinya. Dan semakin Pietra menolak dilindungi, semakin Marco tak sanggup melepaskannya.
Di antara kontrak yang ditandatangani dengan darah, musuh yang mengintai dari bayang-bayang, dan masa lalu yang menolak mati, satu aturan berlaku mutlak di dunia Marco: pengkhianatan hanya dibayar dengan nyawa.
Pietra datang untuk melarikan diri dari luka. Ia tak pernah menyangka akan terjerat dalam permainan yang jauh lebih berbahaya—permainan di mana hati bisa menjadi senjata paling mematikan.
Ketika cinta dan dendam bertemu di dunia yang tak mengenal ampun, siapa yang akan bertahan sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatriz novaes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
MARCO D'AMATO
Juliano membuka pintu kantor dan berjalan menuju ruangan di sebelah ruang rapat tanpa menimbulkan suara. Aku mengikutinya dari belakang.
Ruangan di samping ruang rapat itu berdinding kaca, dan cukup satu langkah untuk membuatku bisa melihatnya.
Pietra sudah duduk di meja, punggung tegak, kaki disilangkan dengan kesantaian yang terukur.
Tanpa blazer, gaun itu punya kesan yang berbeda—tidak vulgar, tidak sengaja menggoda, tapi elegan yang berbahaya. Perempuan dari jenis yang tak perlu berusaha keras untuk menawan.
Dan sejujurnya, ia tampak sempurna.
Pemegang saham itu berbicara. Ia mendengarkan.
Fokus.
Sepenuhnya.
Ketika Pietra mulai bicara, ada sesuatu yang berubah di udara. Suaranya mantap, jernih.
Tanpa tergesa.
Tanpa keraguan.
Ia tidak sedang menjual gagasan.
Ia sedang memimpin.
"Saya sepenuhnya memahami kekhawatiran Anda," ucapnya sambil menumpukan ujung jari di atas kontrak. "Tapi kalau kita cermati angka-angkanya untuk jangka menengah..."
Ia menggeser kertas itu, menunjuk data dengan ketepatan bak sayatan pisau bedah.
Aku hafal kontrak itu di luar kepala.
Meski begitu, aku mendapati diriku mempelajari hal baru saat mendengarnya.
Pria itu mengangguk. Mencondongkan tubuh ke depan.
Terpikat.
"Anda tidak sedang kehilangan otonomi," lanjut Pietra. "Anda justru mendapatkan kepastian. Dan kepastian, di bidang Anda, adalah kekuasaan."
Juliano melirikku dari sudut matanya.
Aku tak menanggapi.
Fokusku ada padanya.
Pada gerak-geriknya yang terkendali.
Pada caranya menjaga kontak mata tanpa terkesan menantang.
Pada keanggunan seseorang yang menguasai keadaan tanpa harus menekan.
Ia tak sekali pun meninggikan suara.
Ia memang tak perlu.
Pemegang saham itu tersenyum.
"Saya akui, saya tak menyangka akan mendapat kejelasan setingkat ini," ucapnya. "Tuan D'Amato biasanya lebih... blak-blakan."
Pietra tersenyum tipis. Senyum yang sopan. Cerdas.
"Tuan D'Amato menghargai hasil," jawabnya. "Sayalah yang mengurus jalan menuju hasil itu."
Rahangku mengeras.
Itu bukan sekadar kecakapan.
Itu adalah kehadiran.
Itu adalah kekuasaan.
Juliano melipat kedua tangannya, jelas terkesan.
"Ia membuatnya tampak begitu mudah," gumamnya. "Seolah ia memang dilahirkan untuk ini."
Aku tak mampu menanggapi.
Karena saat itu aku menyadari sesuatu yang lebih mengusikku daripada hasrat fisik apa pun.
Pietra tidak membutuhkanku di ruangan itu.
Ia sepenuhnya memegang kendali.
Rapat berjalan dengan sempurna.
Penyesuaian dibuat. Konsesi minim. Tak ada kerugian nyata.
Ketika pemegang saham itu mengulurkan tangan untuk menyegel kesepakatan, aku merasakan sesuatu mencengkeram dadaku.
Rasa bangga.
Dan sesuatu yang jauh lebih berbahaya menyusul di belakangnya.
Pietra berdiri, menjabat tangan pria itu, menutup pertemuan dengan keanggunan yang sama seperti saat ia memulainya.
Ketika ia keluar dari ruangan, ia melewati ruang sebelah tanpa tahu aku ada di sana.
Tanpa tahu bahwa aku telah menyaksikan segalanya.
Juliano mengembuskan napas pelan.
"Marco..." ia memulai.
"Jangan katakan," aku memotongnya.
"Aku tetap akan mengatakannya." Ia menatapku lekat. "Kau tidak sedang berurusan dengan hasrat semata. Kau sedang berurusan dengan kekaguman. Dan itu jauh lebih buruk."
Aku terus menatap pintu yang tadi dilalui Pietra.
"Ia akan berakhir menghancurkanku," gumamku.
Juliano mengangkat sebelah alis.
"Atau menyelamatkanmu. Tergantung seberapa kuat kau menahan diri."
Aku tersenyum tanpa humor.
"Aku sudah tak sanggup lagi menahan diri!"