NovelToon NovelToon
Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Nikahmuda
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Diasingkan keluarga sendiri dan dituntut menopang hidup sang kakak yang seorang model, Aruna terbiasa mengalah hingga dijebak orang tuanya ke dalam pernikahan paksa dengan Kaivan Adikara. Kaivan yang dingin dan perfeksionis terlanjur menuduh Aruna sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya demi menumpang hidup, membuat hari-hari Aruna di rumah itu terasa makin kelam dan penuh prasangka.

​Di tengah dinginnya dinding rumah Kaivan dan tekanan dari keluarga yang terus merendahkannya, Aruna perlahan belajar berhenti mengemis kasih sayang. Namun tepat saat Aruna mulai menyerah dan menutup hatinya rapat-rapat, Kaivan justru baru menyadari luka mendalam yang disimpan sang istri-memaksa pria itu berjuang dari nol untuk menebus kesalahannya sebelum semuanya terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12.Insiden kamera

Tiga hari telah berlalu sejak insiden infus dan mangkuk bubur di kamar Aruna. Kondisi fisik Aruna perlahan membaik, meski tubuhnya masih terlihat kurus dan ringkih. Seperti biasa, Aruna memilih untuk tetap mematuhi seluruh aturan Kaivan—bekerja di kafe dari pagi hingga sore, lalu langsung pulang untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga tanpa keluhan sedikit pun.

Hubungan mereka berada dalam fase dingin yang tenang.

Kaivan tetaplah pria yang kaku, acuh tak acuh, dan suka mengomel jika menemukan sedikit saja debu di meja. Namun, di balik omelan pedasnya, Kaivan tidak lagi membatasi porsi makan Aruna atau melarang gadis itu meminum vitaminnya. Ada gencatan senjata implisit di antara mereka.

Sampai pada suatu pagi di hari Kamis, kedamaian rapuh itu hancur berkeping-keping.

Aruna baru saja selesai menata cangkir kopi hitam panas di atas meja makan utama. Suara derap langkah Kaivan yang menuruni tangga terdengar jauh lebih cepat dan berat dari biasanya. Ketika Aruna berbalik untuk menyapa, napasnya seketika tertahan di tenggorokan.

Wajah Kaivan tidak hanya dingin wajah itu membiru ditimpa amarah yang amat sangat. Matanya merah, rahangnya mengeras hingga otot-otot di pipinya menegang kaku. Di tangan kanannya, ia mencengkeram ponsel pintarnya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

PRANG!

Kaivan membanting ponselnya ke atas meja makan dengan tenaga penuh. Ponsel tebal itu menghempas cangkir kopi hingga pecah berantakan, menumpahkan cairan hitam panas ke atas taplak meja putih dan mengenai jemari Aruna.

Aruna terlonjak kaget, jantungnya berdegup kencang secara mendadak. Namun sebelum ia sempat memproses rasa panas di tangannya, layar ponsel Kaivan yang retak masih menyala terang, menampilkan sebuah situs berita infotainment ternama dengan judul berhuruf cetak tebal yang mencolok:

"PERNIKAHAN RAHASIA RAJA BISNIS ADIKARA GROUP: RENDRA RASYARA RESMI JADI MERTUA KAIVAN ADIKARA!"

Di bawah judul berita tersebut, terpampang sebuah foto beresolusi tinggi. Foto itu mengambil sudut pandang dari samping saat akad nikah sederhana mereka berlangsung minggu lalu. Di sana, wajah Kaivan terlihat jelas sedang menjabat tangan wali nikah, sementara Aruna duduk menunduk di sampingnya.

Di sudut foto, terlihat garis pakaian mewah Rosmala—ibu Aruna yang sengaja mengambil gambar tersebut secara diam-diam menggunakan ponselnya dari barisan belakang.

Artikel itu secara detail mengagung-agungkan nama Rendra Rasyara, menyebutkan bahwa bisnis keluarga Rasyara yang sempat dikabarkan oleng kini mendapat suntikan dana dan dukungan penuh dari Adikara Group karena ikatan pernikahan mewah tersebut.

Darah Aruna serasa berhenti mengalir. Wajahnya seketika memutih bak kertas. "P-Pak Kaivan... ini..."

"PUAS?!"

Gelegar suara Kaivan memotong ucapan Aruna dengan nada melengking yang belum pernah Aruna dengar sebelumnya. Pria itu melangkah maju dengan cepat, menyambar bahu Aruna dan menghempaskannya hingga punggung gadis itu membentur dinding konter dapur dengan keras.

Bunga es dan kepura-puraan di wajah Kaivan runtuh sepenuhnya, digantikan oleh amarah murni yang membakar. Aura intimidasi dari tubuh tinggi Kaivan begitu pekat, sarat akan kebencian dan rasa ditipu yang mendidih.

"Puas kau dan ibumu memanfaatkan namaku, hah?!" bentak Kaivan tepat di hadapan wajah Aruna.

Napas pria itu memburu kasar, matanya menatap Aruna seolah hendak mencabik gadis itu saat itu juga. "Aku sudah menduganya! Sejak awal, acara akad sederhana itu adalah jebakan! Ibumu sengaja memotret momen itu diam-diam untuk dijadikan amunisi berita murahan ini, kan?!"

Aruna membeku total. Tubuhnya gemetaran hebat akibat benturan keras di dinding dan lengkingan amarah Kaivan. Syok yang luar biasa menghantam mentalnya hingga suaranya tertahan di tenggorokan. Air mata ketakutan langsung merebak membasahi pipinya yang pucat.

"T-tidak... Pak Kaivan... demi Allah... saya..." suara Aruna terbata-bata, tenggorokannya terasa sangat kaku sampai-sampai ia sulit bernapas.

"CUKUP! JANGAN SEBUT NAMA TUHAN DENGAN BIBIR PALSU ITU!" jerit Kaivan murka, meninju dinding konter persis di samping telinga Aruna hingga bunyi BAM! keras menggelegar di dapur.

Aruna terlonjak hebat, memejamkan matanya rapat-rapat seraya memeluk dirinya sendiri. Jantungnya serasa mau melompat keluar. Ia belum pernah melihat Kaivan sebuas dan semarah ini.

"Kau pikir aku bodoh, Aruna?!" desis Kaivan dengan nada suara yang sangat menusuk, merapatkan jarak wajah mereka hingga Aruna bisa merasakan deru napasnya yang panas.

"Foto ini diambil dari jarak dekat! Tidak mungkin ibumu bisa mengambil gambar sesempurna ini tanpa bantuanmu! Kalian semua Rasyara sama saja! Rendra, ibumu, dan KAU! Kalian keluarga benalu yang rela menjual apa saja demi harta!"

Kaivan menunjuk-nunjuk wajah Aruna dengan jari telunjuknya yang bergetar. Amarahnya tidak hanya dipicu oleh berita tersebut, tetapi juga oleh rasa kecewa yang teramat sangat pada dirinya sendiri. Beberapa hari terakhir, Kaivan sempat merawat Aruna saat sakit. Ia sempat berpikir bahwa Aruna berbeda dari Rendra dan Rosmala.

Namun berita pagi ini seolah menamparnya kembali ke realita yang kejam: semua ini hanya sandiwara agar ia lengah.

"Kau tahu apa dampaknya?!" bentak Kaivan lagi, suaranya meninggi menembus kesunyian rumah.

"Saham perusahaanku bergejolak pagi ini karena rumor aku menyuntikkan dana ke perusahaan bangkrut milik Rendra! Para investor mempertanyakan integritas keputusanku! Dan kalian... menari-nari di atas media, menjual namaku untuk mengangkat derajat keluarga murahan kalian yang hampir gulung tikar!"

Aruna menggelengkan kepalanya dalam tangisan yang makin pecah, lidahnya terasa kelu. Syok dan rasa cemas berlebihan membuat dadanya sangat sesak, matanya berkaca-kaca menatap Kaivan dengan tatapan ketakutan yang amat dalam.

"Pak Kaivan... tolong... d-dengarkan saya dulu... p-dada saya sakit..."

"Aku muak mendengar kebohonganmu!" potong Kaivan tanpa belas kasihan. Pria itu mundur dua langkah, menatap Aruna dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan jijik, penuh keji, dan tanpa ampun.

Segala kelembutan implisit, mangkuk bubur hangat, dan perhatian kecil saat Aruna sakit kemarin mendadak musnah tanpa bekas. Tembok es di hati Kaivan kembali berdiri jauh lebih tinggi, tebal, dan keras.

"Aku sangat menyesal pernah iba padamu saat kau sakit," kata Kaivan dengan kata-kata dingin yang menusuk ulu hati Aruna hingga rasanya tak berbekas.

"Harusnya aku biarkan saja kau mati pingsan di atas lantai hari itu!"

DEG.

Kalimat itu menghantam kesadaran Aruna begitu keras. Dunianya serasa runtuh seketika. Rasa syok dan trauma atas bentakan keras Kaivan membuat pandangan Aruna mendadak berkunang-kunang.

Tanpa memedulikan kondisi Aruna yang sudah gemetar hebat dan hampir kehilangan keseimbangan karena serangan panik, Kaivan menyambar jas kerjanya dan kunci mobil di atas meja dengan gerakan kaku. Sebelum melangkah pergi, pria itu berbalik dan menatap Aruna dengan sorot mata membeku—kembali menjadi sosok Kaivan Adikara yang tak tersentuh.

"Mulai hari ini, jangan pernah berani menampakkan wajahmu di hadapanku jika tidak kupanggil!" perintah Kaivan dengan nada datar yang mengintimidasi.

"Kau hanya barang di rumah ini. Jangan pernah bermimpi untuk diakui sebagai istriku!"

BRAK!

Pintu utama dibanting dengan sangat keras hingga getarannya terasa ke seluruh ruangan.

Di dapur yang kini kembali hening, Aruna merosot perlahan di atas lantai marmer yang dingin. Kedua tangannya memegangi dada yang terasa amat sesak, matanya menatap kosong ke arah pecahan cangkir kopi dan tumpahan air panas.

Tubuhnya berguncang hebat dilindungi oleh tangisan tanpa suara—terhenyak sepenuhnya dalam rasa syok dan penderitaan atas amarah Kaivan yang menghancurkan sisa-sisa harapannya.

_Bersambung

1
Diki Nd
👍👍👍👍
Diki Nd
💪💪💪
dinda aja
sukaaa lanjutkan yahhh
dinda aja
🤭🤭🤭🤭
Pendi Gudung
lanjuttt min
Fadillah Langsa
lanjut napa kak
Ijal Messi
ngakak 🤭🤭
Ijal Messi
lanjuttt
Ijal Messi
🤣🤣🤣
li za
mana kelanjutan nya min
Lenovo A
lanjuttt
Bambang Suanto
duhhh ngakak keciduk
Bambang Suanto
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Bambang Suanto
sedihh
Industri Kreatif
asli seruuu
sosa
Seruu parah
sosa
Sukaa
Rian Moontero
lanjooott👍👍
Isannn
😍😍😍
Alle Salsa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!