Linggar Angkasa adalah seorang pria yang sudah memiliki istri, menjalin cinta terlarang dengan seorang wanita yang tidak lain adalah karyawannya sendiri, istrinya seorang model majalah yang sering berada di luar kota.
Tania... wanita berusia 25 tahun yang menjabat sebagai sekretaris perusahaan retail,, atas dasar cinta, dia rela menjadi simpanan dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
3 tahun menjalin asmara tanpa kepastian kemana arah hubungan akan berlabuh, tiada hari tanpa desahan, kepuasan dan... cinta bertepuk sebelah tangan.
Jalinan cinta terlarang keduanya membuahkan hasil... tanpa ikatan... tanpa tuntutan... yang ada hanya sebuah kesadaran dari kesalahan...
Apakah Tania dan Linggar akan tetap bertahan? ataukah Tania mundur dan memutuskan hidup tanpa perlindungan...
Selamat membaca ya guys... semoga terhibur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi ars, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Tania dan Friska naik travel dari bandara menuju kota kelahiran Tania. Jalanan mulai menanjak membawa hawa sejuk menerpa wajah keduanya. Kaca mobil sengaja mereka buka.
Perjalanan 1,5 jam mengudara, dan 3 jam perjalanan darat, mengantarkan mereka berdua tiba di rumah yang berdekatan dengan sungai.
Tania turun di ikuti friska, barang berisi oleh oleh pun juga sudah diturunkan, tetapi langkah tania berhenti ketika tidak menemukan rumahnya.
Dia bingung... 2 tahun lamanya tidak pulang, dan ketika pulang dia merasa asing.
" Nia... Rumah kamu yang mana?" tanya Friska.
"Bentar fris, apa aku salah... Tapi ini bukan rumahku. Tidak mungkin uang yang ku kirimkan buat ibuku cukup untuk membuat rumah. " kata Tania.
" Aku hubungi ibuku dulu ya, maaf membuat kamu tidak nyaman." lanjut kata Tania.
"............"
" Waalaikumsalam... Bu... Ibu di mana?, Tania lupa rumah kita yang mana" kata Tania dengan mimik wajah bingung.
Rumah di depan Tania terbuka, memunculkan wajah tua tetapi terlihat masih segar.
" Ibu...."
Tania berjalan ke halaman Rumah yang di tumbuhi rumput hijau halus. Salim dan memeluk erat ibunya yang sudah 2 tahun tidak dia kunjungi.
" Bu... perkenalkan... Ini temanku satu kantor. Friska" kata Tania memperkenalkan friska pada ibunya.
Friska menjabat tangan Bu Lastri, lalu ikut masuk ke rumah minimalis tetapi terlihat tampak asri.
Rumah Tania terletak di lereng gunung, di depan rumah ada sungai berair jernih dengan bebatuan alami yang menambah kesan eksotik.
Di seberang jalan ada sawah dengan pemandangan gunung di ujungnya, sungguh... Friska merasa berada di dunia lukisan.
Bu Lastri menyiapkan teh hangat untuk putri dan temannya, dia melarang Tania untuk membantu.
" kamu lelah nak.... Biar ibu yang menyiapkan minumannya." kata bu Lastri.
Tania kembali ke ruang tamu tetapi tidak menemukan Friska.
Dia mencari temannya, ternyata Friska berdiri di samping kolam ikan.
" hai, rumahmu idaman banget Nia. Aku jadi enggan balik ke kota" kata Friska.
Tania hanya tersenyum, dia masih berfikir... Dari mana ibunya mendapatkan uang untuk renovasi rumah?, sedangkan kakaknya yang tugas ke luar pulau, gajinya juga tergolong kecil.
" Nia, aku perhatikan dari tadi kamu banyak melamun? Kenapa? Aku bisa kok di andalkan untuk menyimpan rahasia. " kata Friska.
Tania tersenyum dan merangkul temannya itu.
" Tidak apa2... Aku hanya senang karena 2 tahun aku tidak pulang." bohong Tania.
"Ayo kita masuk rumah dan beristirahat, nanti sore ku ajak keliling kampungku. " Tania mengalihkan pembicaraan.
Tania dan Friska beristirahat di kamar yang berbeda, karena di rumah Tania memeng memiliki beberapa kamar kosong.
Sambil menunggu ibunya pulang dari kebun, Tania membuka buka sosmed miliknya.
Tatapannya berhenti pada akun bisnis milik Linggar, entah kenapa tangannya ingin sekali masuk di akun tersebut.
" Pantas dia memberiku cuti 3 hari dengan mudah... Ternyata karena ada Bu Maya yang menemani ranjangnya" gumam Tania dalam hati.
" Tidak... Bu Maya memang berhak. Aku wanita simpanan yang sampai kapanpun keberadaanku hanya sebatas saat di butuhkan." lanjut batinnya.
Tania ingin mengakhiri hubungannya dengan Linggar... Tetapi hingga saat ini perang batin masih menyiksanya.
Dia tidak takut di anggap pelakor karena dia memang menjalin hubungan dengan suami orang, tetapi... Dia terlalu sakit menghadapi kenyataan, bahwa cintanya terlalu dalam untuk pria bersuami bernama Linggar.
Suara langkah kaki membuyarkan lamunan Tania, lalu dia keluar dan mendapati ibunya berjalan menuju dapur.
" Ibu... Mau memasak apa? , aku bantu bu" kata Tania.
" Tidak usah sayang, kamu tidur aja. Ibu akan buatin kamu pepes ikan asap " jawab bu Lastri.
" Waaaaah asiiik, enak nih makan di pinggir sungai. " Tania kegirangan ibunya memasak masakan kesukaannya.
" Bu... Siapa yang merenov rumah ini? , tidak mungkin Mas Arga kan bu... Mbak Tiyas tidak mungkin mengijinkan.." Tania akhirnya bertanya perihal rumah.
Bu Lastri terlihat mengerutkan dahi, meletakkan pisau lalu menatap putrinya.
" Bukankah ini rencana kamu nak? , laki laki bernama Angga datang kemari atas perintahmu untuk merenovasi rumah, dia mengatakan jika kamu mengajukan pi jaman dengan memotong gajimu tiap bulan" penjelasan Bu Lastri membuat Tania terbengong.
" Aku?? Kapan?" pertanyaan bodoh meluncur begitu saja.
Ting..
" Kamu sudah sampai?, Suka tidak dengan rumahnya? , aku merindukan goyanganmu sayang.".....
Satu pesan masuk dari Linggar Tania baca...
" Terimakasih mas... Aku suka.." jawab Tania.
Tania tahu Linggar adalah laki laki yang tidak suka di bantah, itu sebabnya dia hanya menjawab suka, meskipun dalam hati memaki pria yang sangat di cintainya itu.
Memaki??? Tania menertawakan dirinya sendiri. Jangankan berani memaki, menatap wajah pria itu saja hatinya sudah luluh.
Cara Linggar menatapnya, merabanya dan mencumbunya... Membuatnya tidak bisa berkutik saat berada di bawah kungkungannya.
"Tania... Apa ada yang mengganggu pikiranmu nak?" tanya ibu Lastri.
Tania tersenyum dan memeluk ibunya....
" Tidak bu... Ibu suka rumahnya?" tanya Tania.
" Suka.... Maaf kamu harus repot menyisihkan gaji bulananmu untuk rumah ini." kata Bu Lastri.
" Tidak bu... Ibu jangan minta maaf... Memang kita sudah saatnya merenovasi rumah ini... " Tania memberi dukungan agar ibunya tidak terlalu merasa bersalah.
" Lalu... Bagaimana dengan mbah Tiyas bu??, apakah mbak tiyas masih tidak menyukai kita?" tanya Tania.
Bukan tanpa alasan Tania mempertanyakan perihal kakak iparnya, karena sejauh ini... Kakak iparnya adalah wanita yang paling sulit berbaur dengan ibu dan dirinya.
Tidak jarang terjadi salah paham yang berakhir dengan perselisihan antara ibu dengan kakak iparnya.
" Kemarin Tiyas sempat bertanya, ibu uang dari mana bisa memperbaiki rumah, dan dia berkata bahwa dia tidak mau jika yang di pakai uang kakakmu." jelas Bu Lastri.
" Tetapi Arga yang menjelaskan sendiri kalau semua ini adalah hasil kerjamu." lanjut Bu Lastri.
Tania hanya diam sambil memandang langit, lalu beralih memandang ibunya yang sudah berwajah keriput.
Tangan kurus itu di pegang oleh Tania....
" Bu... jika suatu saat mas Arga meminta rumah ini, jangan di halangi. Berikan..aku tidak meminta sejengkal pun dari rumah ini." kalimat yang keluar dari mulut Tania membuat bu Lastri menoleh.
" Tidak nak... Jangan membiarkan ketamakan menghancurkan rumah ini. Kakakmu sudah di berikan kebun yang lebih luas, tetapi dia menjualnya. Sekarang...jika dia menginginkan tanah rumah ini, ibu tidak akan memberikan. Lagi pula... Tanah ini sudah atas namamu..." jelas Bu Lastri.
" Tapi Bu..." Bu Lastri meletakkan telunjuk ke mulit Tania.
" Sudah... Tidak ada yang memiliki hak atas rumah ini selain kamu nak... Dan mas mu juga tahu hal ini." lanjut Bu Lastri.
Tiba tiba di balik kelambu dapur.... Muncul seorang pria tegap dengan memakai seragam khas.
" Ibu benar dek... Aku tidak akan bisa mengambil sejengkal pun tanah dan rumah ini. Dan... Akupun tidak akan melakukan hal itu. Mas Arga minta maaf tidak.bisa menjadi kakak yang baik baik buatmu..." kata Arga yang datang dari balik pintu.
" Mas Arga... Kapan datang?? " Tania menghampiri saudara satu satunya lalu memeluk erat.
" adik nakal, tidak sekalipun kamu menghubungiku..." Tania tertawa dan kembali memeluk kakaknya.
" Maaf mas... Aku takut bermasalah dengan Mbak Tiyas. Ngomong ngomong... Mbak tiyas di mana mas??" Tanya Tania.
Arga tersenyum dan membelai pucuk kepala adiknya....
" Ada di depan....kami kesini memang mau minta maaf atas kelakuan Tiyas pada ibu selama ini" jawab Arga sambil memandang ibunya.
Bu Lastri tersenyum... Lalu menganggukkan kepala. Sungguh... Bu Lastri bukan mertua yag suka mendendam. Baginya menantu sama dengan anaknya sendiri.
Jadi... Jika Tiyas sudah menyadari kesalahannya... Pasti dengan senang hati Bu Lastri mau memaafkan... Bagi Bu Lastri, yang terpenting kebahagiaan anak anaknya.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Selamat membaca ya guys.... Jangan lupa tinggalkan jejak... Jejak kalian semangatku dalam berkarya... Terimakasih...
krna km berulang kali mngatakn tak menginginkn ank dri rahim tania.... bhkn klo smpe tania hamil... km dgn enteng mgatakn untuk digugurkn...🙄🙄
eeee istri yg di bela"in.... taunya mndua😂😂😂😂
yg hncur km ato tania.....
tania saat ini sedih dan trluka.... tpi kelak saat anknya lahir.... dia punya pngobat luka....
sdangkn kamu linggar..... bhagia nggk ... tpi kecewa... trnyata perempuan yg km prioritaskn... km cintai ugal"an... nyatanya sm berhiantnya sprtimu di belakangmu....
ap lgi kelak saat tak sengaja km brtemu tania dgn anknya ..... ank yg nyata" tak prnah km inginkn trlahir dri rahim tania....