Dia adalah monster yang dibuang dunia. Tapi matanya menyimpan rahasia yang membuat Langit gemetar.
Liu Xuanyuan — yatim piatu, dijuluki "Monster Bermata Ganda", hidup diabaikan di gerbang Sekte Awan Langit. Tidak ada yang tahu bahwa Pupil Ganda di matanya bukan kutukan, melainkan jendela ke segala kemungkinan yang takdir sembunyikan. Hingga sebuah cincin kuno jatuh ke tangannya, dan kebenaran tentang orang tuanya, tentang langit, dan tentang dirinya mulai terungkap satu per satu.
Dia tidak lahir untuk dipimpin. Dia lahir untuk memburu takdir yang ditulis orang lain.
Perjalanan dari penjaga gerbang yang tidak diinginkan... hingga menjadi satu-satunya yang berani menatap Langit Abadi dan berkata: "Aku tidak menerima takdirmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RENDY Marcelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CATATAN YANG DIHAPUS DARI SEJARAH
Lorong di balik tirai kabut itu tidak gelap. Dindingnya memancarkan cahaya putih lembut, dan di langit-langit tinggi, ribuan butir cahaya melayang pelan seperti bintang yang jatuh dan terperangkap di dalam ruangan. Tidak ada suara langkah kaki lantai batu di bawah mereka menyerap bunyi sepenuhnya.
Gu Qingzhu berjalan di depan, punggungnya tegak, tapi langkahnya tidak kaku. Ia tampak seperti seseorang yang akhirnya berani membuka pintu yang selama ribuan tahun ia kunci rapat-rapat.
Mereka tiba di sebuah ruangan yang dindingnya seluruhnya terbuat dari cermin perak tua yang tidak memantulkan bayangan. Di tengah ruangan, sebuah meja batu bulat berdiri sendiri. Di atasnya, tidak ada gulungan kuno atau benda berkilau hanya satu lembar kain putih yang bersih, seakan baru saja diletakkan di sana kemarin sore.
Duduklah, kata Gu Qingzhu. Suaranya kini tidak lagi terdengar seperti gema. Ia terdengar lelah.
Xuanyuan dan Lian Yue duduk di sisi berlawanan meja. Gu Qingzhu berdiri di ujung, tangannya menyentuh kain putih itu dengan lembut, seakan mengelus luka lama.
Kotak yang kau bawa tadi... bukan milik Klan Gu. Kami hanya menyimpannya atas nama seseorang. Seseorang yang diperintahkan untuk dilupakan oleh seluruh dunia.
Ia mengangkat kain putih itu. Di bawahnya, terlihat sebuah papan batu datar yang di atasnya terukir tulisan tangan yang tegas namun halus.
"Kebenaran bukanlah milik mereka yang duduk di atas awan. Kebenaran adalah milik mereka yang berani turun ke tanah dan bertanya: mengapa?"
Xuanyuan menahan napas. Huruf-huruf itu ia mengenal goresannya. Ia pernah melihat tulisan yang sama di buku catatan kecil yang tersembunyi di gudang Sekte Awan Langit, pemberian seseorang yang dulu sering datang mengunjunginya saat masih kecil.
Ibuku, bisiknya.
Gu Qingzhu mengangguk perlahan.
Su Ling. Ibumu. Dia adalah anggota terhebat yang pernah dimiliki Klan Gu. Dia bukan sekadar penjaga catatan dia penulisnya. Dia yang menuliskan sejarah dunia ini selama seratus tahun terakhir. Sampai suatu hari... dia menemukan sesuatu yang tidak seharusnya ditemukan.
Wanita itu berjalan ke salah satu dinding cermin, mengetuknya tiga kali. Cermin itu terbuka seperti pintu, menampakkan ruang tersembunyi yang berisi rak-rak gulungan setinggi langit-langit. Semua gulungan itu berwarna hitam pekat.
Ini Arsip Terlarang. Semua yang tertulis di sini adalah catatan yang diperintahkan untuk dihapus dari sejarah resmi oleh Langit Abadi sendiri. Ibumu menemukan bukti bahwa bencana yang menghancurkan klanmu dua ratus tahun lalu... bukan bencana alam. Itu adalah eksekusi. Yang diperintahkan langsung oleh Tian Jue.
Xuanyuan mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. Dendam yang selama ini ia rasakan sebagai rasa sakit yang samar, kini memiliki wajah yang jelas.
Kenapa? Karena kami menemukan rahasianya?
Lebih dalam dari itu. Ibumu menemukan bahwa Tian Jue tidak menciptakan kedamaian. Dia membangun tembok agar tidak ada yang melihat ke luar. Ada sesuatu yang menanti di seberang Langit Abadi. Sesuatu yang ibumu sebut... Kekosongan Yang Lapar. Dan Tian Jue bukan melindungi dunia darinya. Dia melindunginya dari dunia. Dia memelihara dunia ini sebagai ladang ternak agar saat Kekosongan itu datang, ada cukup jiwa untuk dikorbankan agar dia sendiri tetap bertahan.
Keheningan menyelimuti ruangan itu. Bahkan cahaya yang melayang di udara tampak berhenti bergerak.
Dan ayahku? Liu Yi? tanya Xuanyuan dengan suara bergetar.
Gu Qingzhu menunduk.
Ayahmu adalah satu-satunya orang yang pernah menembus Gerbang Kekosongan dan kembali hidup. Dia yang membawa benih itu kembali. Benih yang kini ada di dalam dirimu. Tian Jue takut bukan pada ayahmu dia takut pada apa yang dibawa ayahmu. Sebuah kemungkinan. Bahwa seseorang bisa berdiri di antara dua dunia dan tidak hancur. Bahwa Langit Abadi bukanlah akhir dari segalanya.
Ia mengambil satu gulungan hitam dari rak tertinggi dan meletakkannya di meja.
Ini catatan terakhir ibumu. Dia menulisnya sehari sebelum dia dan ayahmu menyerahkanmu di gerbang Sekte Awan Langit. Aku tidak berani membukanya. Hanya keturunannya yang bisa membaca tulisan di dalamnya.
Xuanyuan meraih gulungan itu. Tangannya gemetar. Saat ia membukanya, tinta di atas kertas itu bersinar lembut, seakan hidup kembali saat disentuh olehnya.
"Anakku,
Jika kau membaca ini, berarti kau sudah hidup cukup lama untuk mengetahui bahwa dunia tidak jujur.
Maaf kami tidak bisa menemanimu tumbuh. Maaf kami memberimu beban ini sebelum kau bahkan bisa berjalan.
Tapi ketahuilah: mata ganda yang kau bawa bukan kutukan. Itu adalah pintu.
Bukan pintu untuk masuk tapi pintu untuk keluar.
Tian Jue tidak memburumu karena dia membencimu. Dia memburumu karena dia takut.
Dia tahu bahwa di dalam dirimu, ada sesuatu yang bahkan dia tidak berani hadapi.
Pergilah ke empat penjuru dunia. Temukan empat relik yang tersembunyi.
Saat keempatnya bersatu, kau akan berdiri di hadapan kebenaran yang bahkan kami tidak sempat lihat.
Dan ingatlah satu hal:
Kekuatan terbesar bukanlah yang menghancurkan langit.
Kekuatan terbesar adalah yang memilih untuk tetap baik, meski dunia telah berubah menjadi neraka.
Ibu."
Air mata jatuh ke kertas kuno itu, tapi tidak membasahi tinta. Xuanyuan menutup gulungan itu perlahan, meremasnya di dada seakan memeluk ibunya untuk pertama dan terakhir kalinya.
Lian Yue meletakkan tangan di punggungnya, tidak berkata apa-apa. Keheningan itu adalah pelukan yang paling hangat.
Gu Qingzhu menatap mereka, matanya berkaca-kaca.
Klan Gu tidak akan lagi berdiri di antara dua kubu. Mulai hari ini, kami berdiri di sisimu. Bukan karena kami percaya kau akan menang. Tapi karena kami percaya pada orang tuamu. Dan mereka percaya padamu.
Ia mengeluarkan sebuah piringan perak berukir peta yang terus berubah bentuk.
Ini Peta Aliran. Ia akan menunjuk ke arah relik berikutnya. Ke arah Domain Lautan Darah, wilayah Klan Wang dan Klan Jian. Di sana, di kedalaman rawa yang tidak pernah melihat matahari, tersimpan Relik Kedua Cermin Jiwa Terbelah. Tapi berhati-hatilah... Klan Wang adalah pengikut setia Tian Jue. Mereka menunggu kedatanganmu.
Xuanyuan berdiri, menyeka air matanya. Matanya yang tertutup kain hitam kini terasa lebih berat bukan karena segel, tapi karena tujuan yang kini begitu jelas.
Terima kasih, Qingzhu. Aku tidak akan mengecewakan kepercayaan ini.
Jangan berjanji tidak akan mengecewakan, anak muda. Berjanjilah bahwa meski kau kecewa dan hancur, kau akan tetap bangkit. Itulah yang dilakukan orang tuamu. Dan itulah yang kami harapkan darimu.
Mereka berjalan keluar dari ruangan itu, meninggalkan cermin-cermin sunyi di belakang. Di pintu keluar, saat cahaya siang yang redup menyentuh wajah mereka, Xuanyuan berhenti sejenak. Ia mengeluarkan Batu Langit Terbelah dari jubahnya. Batu itu kini bersinar terang, menunjuk ke arah utara ke arah kabut tebal yang menyembunyikan tanah kematian.
"Jalan yang kau pilih dari sini semakin gelap, Xuanyuan. Tapi ingat langit paling gelap justru sebelum fajar menyingsing. Dan kau... kau adalah fajar yang tidak diinginkan oleh langit mana pun." suara Lang Wuyan terdengar lembut namun tegas dari cincin di jarinya.
"Aku tahu," bisik Xuanyuan. "Dan aku akan membakar langit itu jika ia menolak terang."
Bersama-sama, mereka melangkah menghilang ke dalam kabut, menuju perjalanan yang akan mengubah takdir seluruh alam semesta.