Arka Khontacron adalah pemilik perkebunan anggur terbesar di Buleleng tepatnya di Bali. Arka memiliki saudara kembar laki-laki yaitu Phat Shrabeus kakak nya. Mereka tinggal di Seririt, Nama desanya, Desa Sagara. Desa mereka dalam beberapa bulan ini selalu banyak kasus orang-orang desa yang hilang, terutama wanita. Banyak masyarakat yang komplen ke polisi, tapi hasilnya juga sama. Tapi kasus itu mulai terbuka kembali pada malam itu akibat Arka menemukan mayat Pak Braun Ghum di dalam perkebunan miliknya. Pak Braun ialah pemilik peternakan domba di sebelah perkebunan anggur milik keluarga Khontacron dan juga Arka sering bermain bersama anaknya Sara Mhiomorin waktu kecil. Arka memanggil polisi untuk menyelediki kejadian tersebut, tapi bukannya mencari bukti. Polisi menyeret Arka sebagai tersangka, apakah bisa arka menemukan pelaku yang sebenarnya?
Ini ialah kisah cinta ringan dari Zodiak Taurus, bisakah dia bersabar menghadapi kejadian tersebut atau malah menjadi keras kepala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DOLPIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29. BAYANGAN DI TENGAH PAGI HARI
Cahaya matahari pagi perlahan menyinari kawasan Pantai Kuta. Suara deburan ombak terdengar dari kejauhan, berpadu dengan kicauan burung dan suara kendaraan yang mulai memenuhi jalanan.
Di sebuah rumah berlantai dua bercat krem, Arka sudah terbangun sejak setengah jam yang lalu.
Ia berdiri di dapur dengan kaus hitam dan celana panjang santai. Rambutnya masih sedikit berantakan, sementara kedua tangannya sibuk membuka lemari satu per satu.
Lemari pertama kosong.
Lemari kedua hanya berisi beberapa piring dan mangkuk.
Lemari ketiga bahkan tidak menyimpan apa pun selain sekotak teh yang sudah kedaluwarsa.
Arka mengernyit.
“Rumah macam apa ini?”
Ia membuka lemari pendingin.
Kosong.
Bukan sekadar hampir kosong, melainkan benar-benar kosong. Hanya ada sebotol air mineral dan dua buah es batu yang tersisa di dalam wadah pembeku.
Arka menatap lemari pendingin itu selama beberapa detik, seolah-olah berharap makanan akan muncul dengan sendirinya jika ia menunggu lebih lama.
Sayangnya, keajaiban tidak terjadi.
“Bastian sialan.”
“Sedang bicara dengan kulkas?”
Suara Sara terdengar dari arah pintu dapur.
Arka menoleh. Sara berdiri di sana mengenakan kaus putih longgar dan celana panjang berwarna krem. Rambutnya diikat sederhana, membuat penampilannya terlihat jauh lebih santai dibandingkan ketika mereka berada di Sagara.
“Tidak,” jawab Arka singkat.
Sara melirik lemari pendingin yang masih terbuka.
“Kalau begitu, kenapa kau menatapnya seperti itu?”
“Karena di manapun, Bastian tidak memiliki apa pun yang bisa dimakan.”
Sara mendekat dan mengintip ke dalam lemari pendingin.
Ia terdiam sesaat.
Kemudian, ia tertawa kecil.
“Ya ampun, Bastian benar-benar.”
“Sepertinya dia lebih sering memesan makanan dari luar.”
“Bisa jadi. Atau mungkin dia memang tidak pernah berpikir untuk mengisi rumah ini.”
Arka menutup lemari pendingin dengan sedikit lebih keras daripada yang diperlukan.
“Bagaimana mungkin seseorang memiliki rumah, tetapi tidak menyediakan bahan makanan?”
Sara menoleh kepadanya dengan senyum tipis.
“Bukankah kau juga tidak pernah berbelanja sendiri?”
Arka terdiam.
“Siapa bilang?”
“Kalau begitu, kapan terakhir kali kau membeli bahan makanan?”
Arka membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar.
Sara menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
“Sudah kuduga.”
“Tapi, aku pernah melakukannya.”
“Aku belum mengatakan kau tidak bisa.”
“Wajahmu mengatakan sebaliknya.”
Sara terkekeh.
Arka menghela napas, lalu mengambil dompet dan kunci mobil dari atas meja dapur.
“Aku akan pergi membeli bahan makanan. Kau bisa tetap di rumah.”
Sara mengangkat alis.
“Sendirian?”
“Memangnya aku perlu membawa rombongan untuk membeli makanan?”
“Bukan begitu.” Sara menahan senyumnya. “Aku ikut.”
“Tidak perlu.”
“Aku bahkan belum bicara.”
Arka berjalan menuju pintu belakang dapur, tetapi Sara segera menyusul dan berdiri di hadapannya.
“Arka.”
“Apa?”
“Aku ingin melihat pantai pagi ini.”
“Pantai bisa dilihat kapan saja.”
“Tidak setiap pagi.”
Arka menatapnya tanpa ekspresi.
Sara membalas tatapannya dengan wajah penuh harap.
“Aku juga bisa membantumu memilih bahan makanan. Jadi, kau tidak perlu kebingungan di pasar.”
“Aku...tidak akan kebingungan.”
“Baiklah.” Sara mengangguk santai. “Kalau begitu, aku akan ikut hanya untuk menikmati pemandangan. Kau bisa membeli apa pun yang kau inginkan.”
Arka terdiam cukup lama.
Sejujurnya, ia ingin menolak. Setelah pesan misterius yang mereka terima semalam, membawa Sara keluar dari rumah aman bukanlah keputusan yang bijaksana.
Namun, ia juga tahu Sara bukan seseorang yang mudah menerima larangan tanpa alasan yang jelas.
Dan ada satu masalah lain yang enggan ia akui.
Ia memang tidak tahu bagaimana cara berbelanja bahan makanan.
Selama tinggal di rumah bersama ayah dan Phat, semua kebutuhan rumah tangga selalu diurus oleh Bibi May. Bibi May yang membeli sayuran, daging, bumbu, dan segala kebutuhan dapur. Arka hanya perlu duduk di meja makan ketika makanan sudah siap.
Bahkan ketika tinggal sendirian di apartemen untuk urusan pekerjaan, ia lebih sering membeli makanan jadi atau memesan dari restoran.
Membeli bahan makanan sendiri merupakan pengalaman yang hampir tidak pernah ia lakukan.
Arka akhirnya mengalihkan pandangannya.
“Baiklah. Tapi kau harus tetap berada di dekatku.”
Senyum Sara langsung merekah.
“Siap, Tuan!”
“Jangan memanggilku seperti itu.”
“Baiklah~.”
“Sara.”
Tawa Sara memenuhi dapur.
Untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan Sagara, Arka merasa suasana di sekitarnya tidak sepenuhnya dipenuhi ketegangan.
Meski hanya sebentar, suara tawa itu membuat pikirannya terasa sedikit lebih ringan.
Beberapa menit kemudian, Arka dan Sara sudah berada di dalam mobil.
Arka mengemudi dengan kecepatan sedang, sementara Sara duduk di kursi penumpang sambil memandangi jalanan yang mulai ramai. Udara pagi terasa sejuk. Beberapa orang berjalan menyusuri trotoar, sementara para pedagang mulai membuka lapak mereka.
Ketika mobil memasuki jalan yang mengarah ke pantai, Sara langsung menoleh ke jendela.
“Lihat, Arka!”
“Apa?”
“Pantainya!”
Arka melirik sekilas ke arah laut.
Hamparan air biru membentang di bawah cahaya matahari pagi. Ombak bergulung perlahan menuju pantai, meninggalkan garis putih di atas pasir. Beberapa wisatawan sudah berjalan di tepi air, sementara sejumlah peselancar tampak bersiap menghadapi ombak.
Sara tersenyum lebar.
“Indah sekali.”
Arka kembali memandang jalan.
“Kalau kau ingin melihatnya, nanti kita bisa berhenti sebentar.”
Sara menoleh kepadanya.
“Benarkah?”
“Ya.”
“Kau tidak keberatan?”
“Kenapa aku harus keberatan?”
Sara terdiam sesaat sebelum tersenyum kecil.
“Entahlah. Kau biasanya terlihat seperti orang yang menganggap semua hal selain pekerjaan sebagai gangguan.”
Arka mengangkat sebelah alis.
“Benarkah?”
“Tentu saja.”
Tanpa sadar, sudut bibir Arka terangkat sedikit.
Sara melihatnya.
“Apa kau baru saja tersenyum~!”
“Tidak.”
“Aku melihatnya.”
“Kau salah lihat.”
“Arka, aku punya mata.”
“Sayangnya, penglihatanmu kurang baik.”
Sara memukul pelan lengannya.
“Dasar menyebalkan!”
Arka tidak membalas. Namun, senyum tipis itu belum sepenuhnya menghilang dari wajahnya.
Tak lama kemudian, ia menemukan tempat parkir di dekat sebuah pasar kecil yang tidak jauh dari pantai. Di sepanjang jalan, terdapat kios sayuran, toko bahan makanan, dan beberapa warung yang menjual sarapan.
Arka mematikan mesin mobil.
“Kita beli kebutuhan untuk beberapa hari. Setelah itu, kita kembali ke rumah.”
Sara membuka sabuk pengamannya.
“Baiklah.”
“Dan jangan membeli sesuatu yang tidak diperlukan.”
Sara mengangguk dengan wajah serius.
“Tentu.”
Arka menatapnya curiga.
“Kenapa aku merasa kau tidak akan mematuhi perkataanku?”
“Kau terlalu banyak berpikir, percayalah padaku”
Sara keluar lebih dahulu sebelum Arka sempat menjawab.
Pasar kecil itu sudah cukup ramai.
Aroma roti hangat dari sebuah toko bercampur dengan bau sayuran segar dan rempah-rempah. Para pedagang menyapa calon pembeli, sementara beberapa orang sibuk memilih buah-buahan untuk kebutuhan keluarga mereka.
Arka berjalan di samping Sara dengan ekspresi yang semakin serius setiap kali mereka melewati sebuah lapak.
Sara berhenti di depan pedagang sayuran.
“Kita beli telur, sayuran, beras, ayam, dan beberapa bumbu dapur.”
Arka mengangguk.
“Baik.”
Sara menatapnya.
“Kau tahu cara memilih sayuran yang bagus?”
“Tentu.”
“Kalau begitu, pilihkan tomat.”
Arka memandang tumpukan tomat di hadapannya.
Ada tomat berwarna merah, tomat yang masih kehijauan, dan beberapa tomat yang terlihat sedikit lunak.
Ia mengamatinya selama beberapa detik, lalu mengambil satu buah.
“Yang ini.”
Sara menerima tomat tersebut, memeriksanya, kemudian menatap Arka dengan senyum tertahan.
“Arka, ini sudah terlalu lunak.”
“Bukankah kau bilang tomat harus berwarna merah?”
“Merah, tetapi tidak berarti harus hampir busuk.”
Arka mengerutkan kening.
“Apakah penting?”
Sara langsung tertawa.
Pedagang sayuran yang mendengar percakapan mereka ikut tersenyum.
“Kalau mau yang bagus, pilih yang kulitnya mulus dan terasa agak padat, Nak,” jelas pedagang itu ramah.
Arka mengangguk serius, seolah-olah baru saja menerima informasi penting dalam sebuah penyelidikan.
Sara menutup mulutnya untuk menahan tawa.
“Jangan tertawa,” gumam Arka.
“Aku tidak tertawa.”
“Kau sedang tertawa.”
“Baiklah, maaf.”
Namun, bahunya masih bergetar menahan geli.
Arka akhirnya menyerahkan tomat itu kembali kepada pedagang, lalu memilih beberapa tomat yang lebih baik sesuai petunjuknya.
Setelah membeli sayuran, mereka beralih ke lapak telur dan daging. Kali ini Arka memilih untuk membiarkan Sara yang menentukan sebagian besar barang.
Ketika melihatnya membandingkan harga dua bungkus telur, Arka bertanya, “Kenapa kau melihat harganya begitu lama?”
“Karena kita harus mempertimbangkan harga dan jumlahnya.”
“Selisihnya hanya sedikit.”
“Kalau membeli banyak kebutuhan, selisih kecil bisa bertambah.”
Arka terdiam.
Ia baru menyadari bahwa selama ini ia hampir tidak pernah memikirkan hal-hal sederhana semacam itu.
Bagi dirinya, makanan selalu tersedia. Jika membutuhkan sesuatu, ia tinggal meminta Bibi May membelinya. Ia tidak pernah benar-benar memikirkan berapa banyak uang yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sara meliriknya.
“Kenapa?”
“T-tidak apa-apa.”
“Kau terlihat sedang memikirkan sesuatu.”
Arka menatapnya sebentar, kemudian mengalihkan pandangan ke arah lapak berikutnya.
“Aku hanya baru menyadari bahwa berbelanja ternyata cukup merepotkan.”
Sara tersenyum lembut.
“Memang. Tapi kalau sudah terbiasa, semuanya akan terasa mudah.”
Arka tidak menjawab.
Entah mengapa, kalimat sederhana itu membuatnya teringat pada rumahnya sendiri. Pada Bibi May yang selalu menyambutnya dengan makanan hangat, pada meja makan yang selalu penuh, dan pada kehidupan yang dahulu ia anggap biasa saja.
Sekarang, ia bahkan tidak yakin apakah rumah itu masih bisa disebut rumah.
Sara seolah menyadari perubahan ekspresinya. Ia tidak bertanya lebih jauh. Sebaliknya, ia mengangkat sebuah kantong berisi roti.
“Bagaimana kalau kita membeli roti untuk sarapan? Kita bisa makan di tepi pantai sebelum kembali.”
Arka menatapnya.
“Kau ingin makan di pantai?”
“Ya. Mumpung kita sudah berada di sini.”
Arka berpikir sejenak sebelum mengangguk.
“Baiklah.”
Sara tersenyum puas, lalu berjalan menuju toko roti.
Arka mengikuti dari belakang sambil membawa beberapa kantong belanjaan.
Namun, ketika mereka hampir mencapai ujung jalan, Arka mendadak berhenti.
Di seberang jalan, sebuah mobil abu-abu terparkir di dekat toko yang sudah tutup.
Mobil yang sama.
Mobil dengan lampu depan kekuningan dan kaca belakang yang sangat gelap—kendaraan yang ia lihat mengikuti mereka dalam perjalanan menuju rumah aman kemarin.
Jari-jari Arka mengencang pada pegangan kantong belanjaan.
Ia menatap kendaraan itu tanpa berkedip.
Sara yang sudah berjalan beberapa langkah di depannya menyadari Arka tidak lagi berada di sampingnya.
“Arka?”
Arka tidak segera menjawab.
Beberapa detik kemudian, pintu mobil abu-abu itu terbuka.
Seorang pria bertopi hitam keluar, lalu mengangkat ponsel seolah-olah sedang mengambil gambar ke arah pasar.
Tepat ke arah mereka.
Tatapan Arka berubah dingin.
“Sara,” katanya pelan, tetapi tegas. “Kembali ke dekatku.”
Sara mengikuti arah pandangannya.
Senyumnya perlahan menghilang.
Pria itu menurunkan ponselnya, menoleh ke arah mereka, lalu tersenyum tipis sebelum kembali masuk ke mobil.
Mesin kendaraan menyala.
Dan ketika mobil abu-abu itu mulai bergerak meninggalkan tempat parkir, Arka menyadari sesuatu yang membuat dadanya menegang.
Mereka bukan hanya mengetahui lokasi rumah aman Bastian. Mereka juga tahu ke mana Arka dan Sara pergi pagi ini.