Arya Arsyad Sikumbang adalah seorang pemuda perantauan.Ia mengadu nasib di Kota besar dan akhirnya dia terjerumus ke dalam Sindikat Para Mafia Internasional.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ORANG TUA DIPANGGIL DAN MAAF DI BAWAH BERINGIN
Kantor Kepala Sekolah SMP Negeri Pande Sikek malam itu tidak pernah setegang itu sejak zaman Belanda.
Lampu diesel yang biasanya dimatikan jam lima sore, malam itu dibiarkan menyala terus oleh penjaga sekolah karena perintah Bapak Drs. Syafrianto. Cahayanya yang kuning redup bergetar-getar menerangi lantai semen yang dingin, tempat lima belas anak duduk melingkar dengan baju masih penuh lumpur kering dari jembatan bambu di batas kampung.
Di tengah lingkaran itu ada Arya Arsyad Sikumbang yang 11 tahun, sepatu Bata barunya yang mengkilap pagi tadi kini berlumpur total. Di kiri kanannya diapit oleh Arlan Rasyad Sikumbang dan Darlin Aminuddin Chaniago yang sama-sama 12 tahun seumuran, yang baju putih birunya sobek di bagian sikut karena menahan pukulan. Di depan mereka ada Ibrahim Sulaiman Chaniago yang 13 tahun yang dulu naik Si Baluang dengan ingus naik turun, dan Faisal Tanjuang yang 14 tahun yang bibirnya pecah sedikit. Lima anak Pande Sikek itu menunduk, tidak berani menatap Kepala Sekolah.
Di hadapan mereka, sepuluh anak nakal dari marga jauh mereka sendiri, Marga Piliang, Coto, Jambak, juga menunduk lebih dalam. Yusman, Ramli, Rusli, Marzuki, Muchtar, Burhan, Anwar, Idris, Yamin dan Dasril. Mereka memang bengal, terkenal di tiga desa karena suka memalak, suka minta rokok, suka menghadang di jembatan. Tapi malam itu, di bawah tatapan Bapak Syafrianto yang peci beludrunya sampai terbuka karena marah, mereka semua diam seperti tikus kena air.
Bapak Syafrianto tidak langsung memarahi. Ia mengambil air minum dari kendi tanah di sudut kantor, ia minum pelan, lalu ia duduk.
"Anak-anakku," katanya dengan suara pelan tapi berat, jauh lebih menakutkan daripada bentakan. "Kalian tahu kenapa Bapak masih tahan diesel ini malam-malam? Karena Bapak malu. Malu sebagai Kepala Sekolah. Malu sebagai orang Minang."
Ia menatap Yusman yang paling besar.
"Yusman, kamu Marga Piliang. Ramli, Rusli, kamu Marga Coto. Marzuki, Muchtar, Burhan, Anwar, Idris, Yamin, Dasril, kamu Marga Jambak. Kalian tahu tidak, dari mana asal Piliang, Coto, Jambak, Sikumbang, Chaniago, Tanjuang itu? Dari satu paruik, satu nenek moyang yang sama di Luhak Agam. Di atas kertas silsilah di rumah Gadang, kalian semua masih sepupu. Sepupu jauh."
"Kemarin kalian konfrontasi dengan Ibrahim dan Faisal di warung karena masalah mau memalak Arya. Hari ini, hari pertama Arya masuk Kelas IX umur 11 tahun, hari pertama dia pakai seragam Kelas Tiga yang kebesaran itu, kalian tunggu dia di luar kampung, di bawah beringin batas desa, sepuluh orang melawan lima orang. Melawan adik sepupu kalian sendiri yang masih bayi 3 bulan dulu waktu kalian sudah bisa lari-lari. Apa itu jantan? Apa itu adat Minang? Di mana pepatah kita dima bumi dipijak, di situ langik dijunjung? Di mana sasakik sasanang, sahino samalu?"
Sepuluh anak bengal itu semakin menunduk. Yusman yang tadi siang garang di bawah beringin, kini matanya mulai berkaca-kaca.
Bapak Asril dan Ibu Rina guru IPA yang tadi membawa mereka, berdiri di pintu dengan wajah masih cemas.
Bapak Syafrianto lalu mengambil keputusan yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
"Penjaga! Tolong hidupkan lagi kentongan di surau. Panggil semua orang tua mereka. Malam ini juga."
Penjaga sekolah yang sudah tua langsung lari dengan senter minyak tanah, memukul kentongan surau dengan irama darurat, tung... tung... tung... tung... Suara kentongan itu menggema di seluruh lembah Pande Sikek, sampai ke lereng Gunung Singgalang, sampai ke kebun cengkeh milik Abdullah Bin Rais Payobadar.
Satu jam kemudian, satu per satu orang tua datang dengan obor dari bambu dan senter. Pertama datang Abdullah Bin Rais Payobadar dan Siti Aminah Sikumbang, ayah dan ibu Arlan 12 tahun dan Arya 11 tahun, dengan wajah panik karena anaknya belum pulang sejak siang. Lalu datang Mamak Usman Bin Rauf Sikumbang dan Rismawati Chaniago, orang tua Ibrahim 13 tahun yang masih pakai sarung dan caping karena baru pulang dari sawah. Datang ayah Darlin Aminuddin Chaniago dan ayah Faisal Tanjuang. Dan terakhir, datang sepuluh orang tua dari desa lain, ayah-ayah dari Yusman, Ramli, Rusli, Marzuki, Muchtar, Burhan, Anwar, Idris, Yamin dan Dasril, dengan wajah malu dan marah bercampur, karena anaknya dipanggil Kepala Sekolah karena berkelahi.
Kantor kecil itu penuh sesak, bau keringat, bau lumpur dan bau minyak tanah bercampur jadi satu.
Bapak Syafrianto mempersilakan semua orang tua duduk di kursi kayu, sementara lima belas anak tetap duduk di lantai.
"Maafkan saya panggil malam-malam, Pak, Bu," kata Kepala Sekolah dengan sopan kepada orang tua. "Tapi ini harus selesai malam ini, sebelum dendam ini dibawa pulang ke rumah Gadang masing-masing."
Ia menceritakan semuanya dari awal, dari masalah mau memalak Arya Arsyad Sikumbang yang baru naik Kelas IX umur 11 tahun, sampai perkelahian di luar kampung di bawah beringin, sampai bagaimana Ibrahim, Faisal, Arya, Arlan dan Darlin yang lima orang itu melawan sepuluh sepupu jauhnya dari Marga Piliang, Coto, Jambak itu.
Mendengar itu, ayah Yusman yang Marga Piliang langsung berdiri dan menampar pundak Yusman dengan keras di depan semua orang.
"Yusman! Jadi ini yang kau lakukan? Kau palak adik sepupumu sendiri yang masih kecil? Yang tasnya saja dari karung goni? Malu kita sama orang Pande Sikek! Malu sama Abdullah yang ukirannya dipakai di rumah Gadang kita!"
Ayah Ramli dan Rusli yang Marga Coto juga memarahi anaknya dengan bahasa Minang yang keras.
"Ramli! Rusli! Kalian dua beradik, sekolah tidak tamat-tamat, malah jadi preman jembatan bambu? Kalian tidak ingat waktu kecil kalian juga digendong oleh Mande Siti Aminah waktu ke pasar?"
Suasana kantor itu menjadi haru. Ibu-ibu mulai menangis pelan.
Mamak Usman Bin Rauf Sikumbang yang dari tadi diam dengan tangan disilangkan di dada, akhirnya berdiri. Sebagai mamak yang paling tua dan sebagai guru Silek Tuo Harimau di Pos Satu, suaranya didengarkan semua orang.
"Anak-anakku semuanya, dengar," kata Mamak Usman dengan suara berat. "Silek Tuo Harimau yang ambo ajarkan di Pos Satu, yang ambo ajarkan ke Ibrahim waktu masih ingusan naik Si Baluang, yang ambo ajarkan ke Arya di balik kebun cengkeh dengan lari pematang dan guci besi berminyak itu, bukan untuk berkelahi sesama dunsanak. Silek itu untuk menjaga diri dari orang luar, bukan untuk memalak adik sendiri."
"Yusman, Ramli, Rusli, Marzuki, Muchtar, Burhan, Anwar, Idris, Yamin, Dasril. Kalian sepuluh orang ini memang bengal, Bapak Kepala Sekolah bilang betul. Tapi bengal kalian itu karena kalian tidak ada yang mengarahkan. Tenaga kalian besar, tapi tidak dipakai untuk mencangkul sawah pusako ayah kalian yang sudah semak itu. Mulai besok, kalian semua ikut ambo ke sawah, bantu ayah kalian. Dan sore, ikut latihan di Pos Satu bersama Ibrahim dan Faisal."
Lalu Mamak Usman menatap sepuluh anak bengal itu dengan tajam.
"Sekarang, kalian berdiri. Berdiri semua sepuluh orang. Minta maaf sama adik-adik kalian. Bukan minta maaf sama Bapak Kepala Sekolah, tapi sama mereka berlima yang kalian palak dan kalian ajak berkelahi di luar kampung tadi."
Itulah momen yang tidak akan pernah dilupakan oleh Arya Arsyad Sikumbang seumur hidupnya.
Sepuluh anak besar umur 15-16 tahun dari Marga Piliang, Coto, Jambak itu berdiri dengan lutut masih gemetar karena takut dimarahi ayah mereka. Yusman yang paling besar maju paling depan. Wajahnya yang tadi garang, kini penuh penyesalan dan malu.
Dengan suara pelan dan agak bergetar, Yusman berkata, menatap langsung ke Arya yang 11 tahun yang duduk di lantai dengan sepatu berlumpur.
"Arya... maafkan abang-abang, Ya. Kami salah. Kami iri karena kamu umur 11 tahun sudah Kelas Tiga, kami umur 15 tahun masih Kelas Tiga juga. Kami mau palak kamu karena kami tidak punya sepatu Bata seperti kamu. Maafkan kami, Ya. Maafkan Arlan, Darlin, Ibrahim, Faisal juga."
Satu per satu, Ramli, Rusli, Marzuki, Muchtar, Burhan, Anwar, Idris, Yamin dan Dasril juga maju, menyalami tangan Arya, Arlan yang 12 tahun, Darlin yang 12 tahun seumuran Arlan, Ibrahim yang 13 tahun dan Faisal yang 14 tahun. Tangan mereka yang kasar karena kerja di hutan menjabat tangan kecil Arya yang masih kapalan karena latihan guci besi berminyak itu.
Arya yang 11 tahun, yang tadi pagi dikepung di bawah beringin, kini berdiri dengan bantuan kakaknya Arlan dan Darlin. Matanya berkaca-kaca, bukan karena takut, tapi karena haru.
Ia menjawab dengan suara kecil tapi jelas, suara yang ia pelajari dari ayahnya Abdullah Bin Rais Payobadar saat mengukir kayu surian.
"Tidak apa-apa, Bang Yusman, Bang Ramli, Bang Rusli, Bang Marzuki, Bang Muchtar, Bang Burhan, Bang Anwar, Bang Idris, Bang Yamin, Bang Dasril. Ambo maafkan. Kita masih satu kampung, masih satu darah jauh Piliang, Coto, Jambak, Sikumbang, Chaniago, Tanjuang. Mulai besok kita sama-sama lagi, ya Bang."
Bapak Drs. Syafrianto yang melihat itu akhirnya tersenyum untuk pertama kalinya malam itu. Ia mengangguk kepada semua orang tua.
"Nah, begini baru Minang. Kalau ada masalah, jangan bawa ke luar kampung. Selesaikan di balai, di bawah atap yang sama. Besok, kalian lima belas anak ini, tidak ada yang dihukum skors. Tapi hukuman kalian adalah, selama satu bulan, kalian piket bersama membersihkan WC sekolah dan menyapu lapangan tanah yang becek itu. Sepuluh yang bengal dan lima yang melawan, harus bersama-sama. Biar kalian tahu rasanya kerja bersama, bukan berkelahi bersama."
Malam itu, jam sembilan malam, rombongan itu pulang bersama-sama di bawah cahaya obor bambu dan senter minyak tanah, menembus jalan setapak yang licin, melewati lagi jembatan bambu kecil di bawah pohon beringin besar tempat mereka berkelahi tadi siang. Tapi kali ini mereka tidak berhadapan, mereka berjalan beriringan. Arya yang 11 tahun berjalan di tengah, diapit Arlan dan Darlin yang 12 tahun seumuran, di belakang mereka Ibrahim dan Faisal, dan di belakang mereka lagi sepuluh sepupu jauhnya dari Marga Piliang, Coto, Jambak yang tadi bengal, Yusman, Ramli, Rusli, Marzuki, Muchtar, Burhan, Anwar, Idris, Yamin dan Dasril, yang kini sudah meminta maaf.
Di rumah gadang beratap seng berkarat, lampu petromaks masih menyala menunggu, Siti Aminah Sikumbang sudah menyiapkan air hangat dan nasi goreng cengkeh untuk lima anak yang pulang terlambat itu. Dan di Pos Satu, Mamak Usman Bin Rauf Sikumbang sudah menyiapkan jadwal baru, besok sore latihan Silek Tuo Harimau akan bertambah sepuluh murid baru yang bengal, agar tenaga mereka yang besar itu tidak lagi dipakai untuk memalak, tapi untuk menjaga kampung.