NovelToon NovelToon
Jangan Menyesal Setelah Aku Pergi

Jangan Menyesal Setelah Aku Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:185.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jalur Langit

Disa ingin memberi kejutan berupa kehamilan yang telah lama dinanti-nanti, tetapi dia malah mendapatkan kejutan lebih dulu dari Cakra. Cakra membawa pulang Risa yang sedang hamil anaknya.

Dari pada menerima Cakra, yang jelas-jelas sudah mengkhianatinya, dan harus menerima Risa sebagai madunya, Disa memilih pergi dengan membawa anak Cakra yang dia sembunyikan.

"Jangan menyesal setelah aku pergi."

***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

"Hati-hati ya, Mas." Risa mencium punggung tangan Cakra yang hendak berangkat ke kantor. "Kabari aku kalau udah sampai di kantor."

"Iya," Cakra mengangguk, membenamkan bibirnya di kening sang istri. Setelahnya, pria bertubuh tegap itu keluar dari rumah. Masuk ke dalam mobil, segera meluncur ke kantor perusahaannya.

Memastikan mobil Cakra sudah benar-benar keluar dari gerbang, Risa menutup pintu. Kembali ke kamarnya yang ada di lantai atas. Ia harus segera bersiap-siap untuk menemui Andre.

Melakukan hal gila ini membuat Risa agak sedikit takut, tetapi ia lebih takut lagi jika Cakra tahu semua kebenarannya. Risa rela melakukan apa pun, asal setelah ini Andre akan benar-benar pergi dari hidupnya.

Memakai celana jeans panjang serta kemeja berwarna hijau tosca, Risa menarik napas panjang. Siap tidak siap ia sudah memilih untuk melakukan ini.

Risa menggendong si cantik Zara, selanjutnya ia keluar dari kamar, menemui Santi—pengasuh Zara di dapur.

"San, saya mau keluar sebentar ajak Zara jalan-jalan. Kamu jangan bilang-bilang sama suami saya."

"Baik, Bu," sahut Santi patuh. Seharusnya Risa curiga dengan pengasuh Zara yang langsung memperbolehkan Risa dan Zara keluar dari rumah di saat usia Zara baru menyentuh satu bulan.

Tapi dasar Risa tidak bisa berpikir lebih terbuka lagi, Risa tak merasa curiga sedikitpun, bahkan ketika satpam di rumahnya memberi izin dengan gampangnya.

Pikir Risa, ini adalah suatu keberuntungan baginya bisa keluar dari rumah dengan mudah tanpa hambatan, tidak ada yang melarang.

Risa memesan taksi online, duduk di dalam taksi bersama Zara yang setia berada di gendongannya, menuju alamat yang Andre kirimkan.

perjalanan memakan waktu kurang lebih tiga puluh lima menit. Taksi berhenti tepat di depan rumah yang Risa datangi, rumah Andre.

Membayar taksi dengan sejumlah uang, Risa turun dari taksi.

"Terima kasih, Pak."

"Sama-sama, Mbak."

Taksi melesat pergi. Risa menatap rumah sederhana itu, terlihat sepi dari luar, bahkan rumah di tetangga kanan kiri pun nampak sepi. Mungkin karena sedang berada di jam kerja, semua rumah terlihat tidak berpenghuni.

Sebelum kaki Risa melangkah, pintu rumah itu terbuka. Andre, si pemilik rumah yang melakukannya. Ia tersenyum lebar, menyambut Risa. Mempersilakan Risa masuk ke dalam rumahnya.

"Kamu beneran datang?" sambut Andre.

"Yang terakhir. Aku peringatkan ini yang terakhir, setelah itu kamu pergi jauh-jauh dari aku!" sergah Risa.

Andre mengedikkan bahunya, ia melangkah mendekati Risa, ingin melihat Zara lebih dekat.

"Siapa nama dia?" tanya Andre, menatap Zara.

"Vania Zara, panggilannya Zara."

"Sa, aku boleh gendong dia?"

"Buat yang pertama dan yang terakhir kali. Kalau kamu berulah kayak gini lagi, aku nggak akan tinggal diam."

"Iya." Andre terlihat tidak sabar ingin segera mendekap Zara, namun Risa masih menahannya.

"Aku nggak main-main! Tolong jangan ganggu hidup aku terus, Ndre, biarin aku bahagia!"

"Iya, Sa, aku udah bilang iya."

"Jangan ancam-ancam aku lagi! Jangan pernah nemuin aku lagi! Jangan berusaha ancurin apa yang udah aku genggam!" Risa berkaca-kaca, entah karena apa ia ingin menangis.

Andre menghela napas panjang, menunduk, menatap Risa yang lebih pendek darinya. "Aku janji, ini yang terakhir kalinya aku gangguin kamu. Aku janji gak akan ancam-ancam kamu lagi. Aku janji akan benar-benar nglepas kamu asal kamu benar-benar bahagia. Harus bahagia."

"Aku udah bahagia, udah nemuin kebahagiaan aku."

"Fine ... Aku gak akan usik hidup kamu lagi. Rawat Zara dengan baik, sayangi dia."

Risa melepas kain gendongan yang mengikat Zara, hati-hati ia memindahkan Zara ke dalam dekap Andre, sang papa kandung.

Andre menerimanya dengan suka cita, menatap haru wajah mungil nan cantik yang sangat mirip dengannya. Andre menunduk, mencium kening dan pipi Zara, bayi itu menggeliat.

"Dia cantik, sangat cantik."

Zara tiba-tiba terbangun, ia mulai merengek dengan wajah yang memerah.

"Kayaknya dia mau nen," ujar Risa yang selalu paham apa kebutuhan Zara.

"Yaudah, kamu susuin dulu, ntar aku gendong lagi."

Zara dipindahkan ke gendongan ibunya lagi, tangisnya mulai mengencang. Ingin segera meminum sumber kehidupannya.

"Mana kamarnya? Aku mau susuin Zara."

"Di sini aja."

"Ndre."

"Di sini Risa."

Risa berdecak kesal pada Andre. Mau tidak mau, ia akhirnya mengambil duduk di sofa, membuka dua kancing teratas kemejanya, mengeluarkan satu payudara untuk diberikan kepada Zara.

Zara langsung menyesap asi ibunya. Merasa lebih nyaman sehingga tangisannya terhenti. Andre, lelaki itu, duduk di sebelah Risa. Memperhatikan mulut kecil Zara yang sedang meminum asi. Otomatis, ia pun melihat payudara Risa.

"Singkirin mata keranjang kamu!"

Andre mengulum bibirnya. "Kenapa? Kan aku udah biasa liat."

"Ndre!"

Andre terkekeh. Ia merangkul Risa sambil terus memperhatikan Zara dan puting yang dihisap.

"Nanti siang aku mau ke bandara."

Risa menoleh dengan tatapan penuh tanya. "Mau ngapain? Atau mau ke mana?"

"Mencoba peruntungan di luar negeri."

"Kerja?"

Andre mengangguk.

"Nanti siang banget berangkatnya?" suara Risa terdengar tidak rela.

"Kenapa? Nggak rela?" Andre menaikkan sebelah alis.

Risa mendengkus, membawa pergi tatapannya yang semula mengarah pada Andre. "Pergi aja. Yang jauh."

Si pria yang merasa terusir menggerakkan lidahnya di dalam mulut. Terus menatap wanita yang pernah ragu untuk hidup bersamanya dan memilih laki-laki lain yang lebih kaya.

"Jangan ditutupi kalau kamu masih ada rasa sama aku, Ris."

"Gak usah kepedean!"

"Aku nggak akan pulang dalam waktu yang lama."

"Terserah!"

"Lebih dari sepuluh tahun."

"I don't care!"

Sungguh gengsinya tinggi sekali, tidak mau mengakui. "fine...."

Andre hendak berdiri, namun Risa justru menarik ujung kaosnya, membuat si pria menunduk, menatapnya. Apa lagi?

Risa tidak mengatakan apa-apa, ia hanya menatap dengan maksud tidak ingin ditinggal pergi. Baik, Andre paham. Lelaki itu dengan senang hati untuk duduk lagi di samping Risa.

"Kiss me."

"Ndreeee....."

"For the last."

Risa mendesah pelan. Okelah, ini akan menjadi yang terakhir, toh setelah ini Andre akan benar-benar pergi dari hidupnya.

Risa memiringkan kepalanya, matanya memejam. Begitu dengan Andre yang langsung mencium bibir Risa, melumat penuh gairah, membiarkan basah.

Tangan si Andre tidak mau diam, ia sentuh dada Risa yang tidak sedang dikuasai Zara. Seharusnya Risa tidak membiarkan, namun ia justru semakin menekan tengkuk Andre untuk memperdalam ciuman mereka.

Terakhir ... Ini akan menjadi yang terakhir.

......................

Sekitar pukul sebelas, Risa akhirnya kembali ke rumah. Andre pun harus segera berangkat ke bandara. Andre tidak bilang ia akan pergi ke negara mana, yang pasti Risa sudah memastikan pria itu akan benar-benar pergi dari hidupnya.

Risa turun dari taksi yang mengantarkannya, masuk ke dalam rumah sambil menggendong Zara.

Tetapi .... Ia langsung membeku begitu menutup pintu.

Ada Cakra yang duduk santai di ruang tamu, sambil meminum teh? Entah kopi, atau cokelat dari cangkirnya.

"M-mas ... Kok di-di rumah?" gugup Risa.

Cakra tersenyum tenang.

"Habis dari mana?" tanyanya. Suara masih tenang, namun terdengar menakutkan.

...****************...

1
Vivi Zenidar
masih banyak yg mau baca.... tetap semangat
Uthie
semangat selalu Thor 😍👍
Lies Atikah
gak seru si Disa nya masi ngarep masih cinta sama si Cakra jadi geuleuh jadi gak ada nyesel nya si cakra tetep menang dan bahagia
Lies Atikah
semoga disa sama Rayan berjodoh ayo Rayan pepet disa nya jadian dulu biar si Cakra panas . hey Cak2 ingat locoan mu tuh ngapain ganggu mantan
Lies Atikah
jahat kamu risa tunggu balasan untuk kamu berdua penyesalan dan kehancuran kau tanam pasti kau tuai
Ma Em
Disa jgn mau kembali bersatu dgn Cakra lbh baik dgn yg lain saja , lagian kenapa selalu menolak Rayyan padahal Rayyan tulus cintanya pada Disa , Disa pasti akan menyesal kalau Rayyan benar berpaling pada wanita lain makanya Disa jgn suka nyakiti hatinya Rayyan .
Debby debora laoshi
bodoh kamu Disa kalo sampai balik lagi sama Cakra🤣
biar aja kalo balik kembali terluka lagi.
Piyah
jngn balikan lg sm caktr a
dyah EkaPratiwi
Cakra please ya jangan ngarep lagi
Sky
makasih yang berkenan baca
Yunita Sophi
omongan orang jgn terlalu di pikirkan Disa... orang iri ya begitu
Giantini
aDista
Sky: sengaja Disa tuh, biar pembacanya emosi 🤭
total 2 replies
Azkiya Septriasa
novel yng sangat bagus
Soraya
mampir thor
Piyah
disa jngn begitu kasian rayan
lngsng nikah ajalah
Uthie
Dasar cewek 😤
Ma Em
Disa kenapa kamu msh dengar omongan orang yg iri karena Disa mendapatkan Rayyan lelaki yg baik sdh mapan kalau Disa tdk jadi menikah dgn Rayyan orang2 akan senang , Disa kan sdh dewasa sdh punya anak pula ngapain dengerin omongan orang .
Yunita Sophi
semoga Andre dan Risa berjodoh...
Yunita Sophi
ayo dong cepet nikah Ray... klo kangen kan bisa meluk biar ada orang juga...
Uthie
Wadduuhhhh...jangan sampai si Rayyan punya masalah juga niiii sama cewek lain 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!