Bima Arka Pradipta , anak dari keluarga sederhana di pinggiran Manado. Keras kepala, tidak banyak bicara di luar lapangan tapi meledak-ledak di dalam lapangan. Hamstring putus , pensiun umur 34 tahun. Dikenal karena tendangan bebas melengkungnya dan loyalitasnya sama tim. Dari anak kampung yang main bola pakai kaki ayam -> ditolak akademi karena dianggap terlalu emosional -> bangkit setelah cedera parah di musim hujan -> jadi kapten yang mengangkat tim degradasi jadi juara.
"Bukan tentang seberapa keras kau terjatuh, tapi seberapa lama kau tetap berdiri di tengah hujan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SelToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 Umur 12 Tahun - Paman Stenly dan Tendangan Pisang
Saat berumur 12 tahun , Bima sudah bukan Arka Lumpur lagi. Dia sekarang dipanggil Arka Mesin , karena larinya tidak pernah habis.
Bola plastik oranye itu sudah lama pecah. Sekarang dia pakai bola kulit asli , tapi kulitnya sudah botak , pemberian dari Paman Stenly.
Siapa Paman Stenly ?
Paman Stenly adalah kakak kandung Mama. Mantan pemain Persma Manado 99 yang gagal. Lututnya hancur ditabrak becak waktu umur 19 tahun. Sekarang dia jadi tukang servis kompor gas di Pasar Tuminting , dan pincang kaki kirinya.
Setiap sore sekitar jam 4 , setelah Bima pulang jaga perahu Sinar Mira , Paman Stenly sudah berdiri di tengah lapangan retak itu dengan 1 ember air dan 1 bola botak.
"Arka! Sini!" teriak Paman Stenly pada suatu sore di bulan Juli.
Bima berlari mendekati pamannya.
"Mau jadi pemain bola profesional atau mau jadi nelayan jago bola ?" tanya Paman Stenly.
Bima diam. Pertanyaan itu cukup berat.
"Mau profesional , Paman."
"Nah , kalau profesional , dengar. Semua orang di Manado bisa tendang keras. Rian bisa , Agus bisa , anak yang di Malalayang bisa , tapi yang bisa belokkan bola ? Cuma 1 dari 1000 orang."
Paman Stenly taruh bola di atas tanah. Dia ambil kapur tulis curian dari sekolah.
Dia gambar garis lurus di tanah retak. Panjang 10 meter.
"Liat. Ini tendangan lurus. Tendangan nelayan. Kalau laut lurus , gampang ditebak."
Lalu dia gambar garis melengkung yang terlihat seperti pisang.
"Ini tendangan pisang. Bola yang berjalan lurus , tapi tiba - tiba belok. Kiper pusing , bek pusing. Ini sihir. Dan sihir ini bukan dari kaki. Dari sini."
Paman Stenly menunjuk ke pergelangan kakinya yang cacat.
"Sentuh bola bukan dengan ujung kaki. Tapi dengan kaki bagian dalam , tapi miring. Kau usap , bukan kau tendang. Kau sayang bola itu , baru kau suruh dia pergi."
Bima mencobanya. Tendangan pertama , masih melenceng jauh , masuk ke warung Tante Nani , dan kena kaleng susu.
Tendangan kedua , tanahnya yang kena.
Sampai ke tendangan kesepuluh , masih lurus.
Bima frustrasi. Dia seperti mau menangis.
Paman Stenly tidak marah. Dia hanya duduk di ember air itu , kakinya diselonjorkan.
"Bima , kenapa Bapakmu bisa lempar jaring bulat sempurna padahal angin kencang ? Karena dia tidak lawan angin , dia ikut angin. Kamu jangan lawan bola. Kamu harus ikut putaran bola."
Paman Stenly berdiri dengan perlahan. Dia contohkan dengan kaki pincangnya itu , dia tendang dengan pelan.
Bola botak itu melayang pelan , lalu... melengkung , belok ke kiri. Masuk di antara 2 batu yang menjadi gawang.
Tidak keras , tapi terlihat indah. Seperti daun yang ditiup angin.
Bima melongo.
"Ulang 100 kali sehari. Kalau tidak bisa sebelum magrib , besok jangan datang."
Hari itu , Bima menendang bolanya sampai 127 kali sampai magrib. Sampai adzan dari masjid Al-Huda terdengar. Sampai Mama sudah teriak - teriak dari dalam rumah panggung "Bima! Mira kumat lagi!"
Saat tendangan ke 127 , untuk pertama kalinya.
Bima mengusap bola itu , bukan menendang. Kakinya memutar sedikit.
Bola itu melayang dengan pelan , lalu berbelok.
Sedikit. Hanya setengah meter beloknya. Tapi belok.
Bima berteriak sekencang - kencangnya di tengah lapangan kosong itu.
"PAMAN! BELOK! BELOK , PAMAN!"
Paman Stenly dari jauh , yang sudah mau pulang , hanya angkat jempol , tapi tidak berbalik badan.
Malam itu , Bima pulang. Lututnya gemetar , kakinya lecet.
Di rumah , Mira sedang sesak. Mama panik. Tidak ada uang beli nebu.
Bima melihat adiknya itu. Lalu dia melihat bola botak yang ada di tangannya.
Dia ingat janji di atas perahu bocor 4 tahun yang lalu.
Tendangan pisang pertama pada umur 12 tahun itu bukan untuk jadi terkenal.
Tendangan itu untuk menepati janjinya kepada sang bapak yang telah dia ucapkan 4 tahun yang lalu.
#####################################
Cukup sampai di sini dulu ya , besok lanjut lagi. Semoga suka , jangan lupa berikan like , saran , dan hadiahnya.
Happy reading