NovelToon NovelToon
LENTERA

LENTERA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:18.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sinho

Satu lagi cerita tentang salah satu Garis Keturunan Keluarga Nugraha hadir kembali, Sean, laki-laki yang mengalami kecacatan pada kekuatan Supranatural nya bisa di sempurna kan kembali tanpa terduga, dengan sosok Wanita biasa yang mempunyai tekad kuat di tengah kepungan keterpurukan perekonomian keluarga, bagaimana kelanjutan ceritanya?, yuk kita ikuti_

Salam Autor Sinho, semangat, sehat dan jangan lupa Bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Tabir yang Runtuh

Semua masalah telah teratasi, kejadian besar dan cukup membuat semua shock akhirnya telah di lalui, acara tetap berlanjut karena tidak ada satu orang pun yang terluka, kecuali Lentera.

"Jadi aku harus bersamamu saat ini, Tuan Sean?" Tanya Sera yang kini duduk di sebuah mobil pribadi milik Sean sambil menunggu jalan yang masih di rapikan.

"Hem, aku harus memulihkan tenaga ku, dan kamu harus memulihkan lukamu, aku akan mengobatinya, jadi diam lah"

Sean lalu menggunakan kekuatan penyembuhan legendaris dari klan Nugraha, menyentuh Tera dan menyembuhkan semua luka di tubuhnya.

Tera membelalakkan matanya sempurna. Seluruh rangkaian teka-teki medis misterius yang selama ini mengaburkan fungsi logika klinis otaknya mendadak runtuh berkeping-keping.

Lembar-lembar rekam medis, hasil laboratorium yang membingungkan, hingga grafik detak jantung Sean yang tidak masuk akal, semuanya berputar di kepalanya sebelum akhirnya tersusun menjadi sebuah pemahaman utuh yang luar biasa gila.

Aliran hangat itu. Jadi, selama ini aliran hangat yang selalu menjalar dari telapak tangan Tera setiap kali ia memeriksa denyut nadi pria itu bukan sekadar sugesti atau reaksi psikologis belaka? Itu adalah energi penyeimbang yang secara mekanis menyembuhkan cacat tubuh dan meredam kutukan darah sang penguasa Nugraha.

"Jadi_?" Tera menelan ludahnya dengan susah payah.

Tenggorokannya terasa sekering gurun. Ia menatap pria jangkung di hadapannya dengan tatapan yang bercampur aduk antara tidak percaya, kesal, dan syok. Suaranya mengecil, penuh pergolakan batin yang terdengar konyol namun sepenuhnya jujur.

"Alasan kenapa kamu selama seminggu ini bolak-balik turun ke mejamu di UGD bawah dengan keluhan konyol_, Mulai dari pelipis berdenyut, migrain sebelah, sampai dada sesak yang katanya mirip gejala serangan jantung_"

Tera menjeda kalimatnya, menudingkan jari telunjuknya tepat ke depan hidung mancung pria itu.

"Itu semua cuma trik konyolmu agar aku mau memegang pergelangan tanganmu secara manual? Demi men-charge kembali baterai energimu yang soak itu, Tuan Sean?!"

Mendengar kesimpulan tanpa filter yang keluar langsung dari mulut Tera—yang dengan sukses mereduksi seluruh wibawa perang supranatural legendaris Klan Nugraha menjadi istilah domestik sekonyol "men-charge baterai energi yang soak"—Sean membeku selama satu detik penuh.

Pria yang biasanya sedingin es itu tidak mengeluarkan suara. Alih-alih tertawa, sebuah kurva tipis perlahan terukir di sudut bibirnya.

Itu adalah sebuah senyuman kecil yang sangat langka, samar, namun sarat akan kehangatan tersembunyi yang mendalam. Rongga dadanya bergetar pelan tanpa suara, menahan geli yang teramat sangat atas kelancangan cara berpikir dokter di hadapannya ini.

"Iya, Dokter Tera. Kesimpulan analisismu sangat akurat seperti biasanya," ucap Sean setelah senyuman tipisnya mereda.

Tatapan matanya yang biasa setajam silet kini melunak seketika, memancarkan binar penuh rasa sayang yang begitu mendalam, menatap lurus ke arah wajah Tera yang kini merona merah padam antara malu dan jengkel.

"Akurat apanya?!" semprot Tera, melangkah maju satu tindak dengan wajah menantang, meski jantungnya sendiri berdegup dua kali lebih cepat. "Kamu menipu seorang dokter, Sean! Kamu tahu berapa banyak pasien kritis di bawah yang butuh penanganan serius sementara aku harus meladeni drama 'dada sesak' seorang miliarder yang ternyata cuma kekurangan daya?!"

Sean tidak mundur. Ia justru mengikis jarak di antara mereka, membuat Tera terpaksa mendongak menantang manik mata kelamnya.

"Jika saya tidak membuat keluhan seperti itu, apakah Dokter Tera yang terhormat dan perfeksionis ini mau menyentuh kulit saya selama lebih dari tiga detik tanpa alasan medis?"

"Tentu saja tidak! Untuk apa aku memegang tangan pria arogan seperti—"

"Nah, itu jawabannya," potong Sean lembut, memotong kalimat defensif Tera dengan senyuman tipis yang kembali terbit di wajah tampannya.

"Saya membutuhkan kehadiran fisikmu. Dan sentuhan hangat jemarimu adalah satu-satunya hal di dunia ini yang mampu membuat kekuatan saya menjadi sempurna, membuat kekuatan di tubuh saya ini tetap berada di bawah kendali."

Tera terkesiap. Lidahnya mendadak kelu saat Sean mengambil satu langkah lagi hingga bayangan tubuh tegap pria itu sepenuhnya mengurung tubuh mungilnya.

"Tapi di atas semua urusan supranatural konyol yang baru saja aku sebutkan tadi," suara Sean memberat, nadanya berubah menjadi begitu rendah, bersungguh-sungguh, dan sarat akan emosi yang menekan dadanya sendiri.

"Saya datang ke sini hari ini murni karena ego saya sendiri. Saya tidak akan pernah bisa memaafkan diri saya sendiri, Tera, jika ada satu seujung rambut pun dari bagian tubuhmu yang terluka oleh kekejaman dunia tempat saya tinggal."

Lentera terdiam seketika di tempatnya berdiri. Kata-kata Sean barusan menghantam dadanya dengan telak, jauh lebih keras daripada dentuman bom dari pertempuran Klan Hitam di luar sana.

Kedua telapak tangannya refleks bergerak naik, mendekap erat tas ransel kain kanvas usang miliknya di depan dada—seolah benda murah itu adalah satu-satunya perisai terakhir yang ia miliki untuk melindungi hatinya yang mulai goyah.

Di luar jendela, sisa-sisa puing kehancuran operasi pertempuran laga berskala besar melawan Klan Hitam masih mengepulkan asap hitam. Mobil-mobil taktis yang hancur dan tanah perbukitan yang koyak menjadi saksi betapa mengerikannya dunia yang melingkupi Sean.

Namun di dalam mobil ini, jurang pemisah kasta sosial yang selama ini ditakuti oleh Tera, yang selama bertahun-tahun ia bentengi dengan rasa gengsi yang kokoh dan sikap ketus yang dingin, mendadak terasa mulai runtuh berjatuhan satu per satu.

Benteng itu digilas tanpa ampun oleh ketulusan pernyataan hati yang begitu padat, berat, dan murni dari seorang penguasa tertinggi dinasti Nugraha.

Seorang pria yang kini, lewat tatapan matanya, tampak siap menyerahkan seluruh dunia, harta, dan kekuasaannya hanya demi menjadi pelindung setia bagi jalannya cahaya kehidupan barunya yang bernama Lentera.

"Kenapa." suara Tera bergetar, nyaris berupa bisikan di tengah keheningan kabin. "Kenapa kamu harus sejauh ini? Kita ini berbeda, Sean. Kamu pemilik rumah sakit ini, pemilik kota ini, bahkan mungkin pemilik garis takdir yang tidak bisa ku sentuh. Sementara aku?"

Sean menghela napas pendek, ekspresi dinginnya runtuh sepenuhnya digantikan oleh sorot mata yang penuh permohonan.

Ia mengulurkan tangannya perlahan, sangat pelan, seolah sedang menghadapi seekor rusa kecil yang siap melompat kabur kapan saja jika dikejutkan.

Jemari panjangnya yang kokoh menyentuh lembut punggung tangan Tera yang masih mendekap tas ransel kanvasnya.

Deg.

Aliran hangat itu kembali mengalir. Kali ini, Tera tidak menarik tangannya. Ia membiarkan kehangatan itu menjalar, mengalir di antara sela-sela jemari mereka, meruntuhkan sisa-sisa udara dingin pegunungan yang menyelimuti mereka.

"Bagi dunia, mungkin kita berbeda, Tera," ujar Sean, matanya mengunci manik mata Tera dengan intensitas yang membuat gadis itu lupa bagaimana cara bernapas.

"Tapi bagi tubuh dan jiwa saya, kamu adalah satu-satunya penawar. Harta dan kekuasaan Nugraha tidak ada artinya jika saya harus mati perlahan dalam kegelapan karena menolak mencari cahaya saya sendiri. Dan cahaya itu ada di sini, di depan saya."

Tera menggigit bibir bawahnya, berusaha keras menahan air mata yang mendadak menggenang di pelupuk matanya.

Rasa gengsi yang selama ini ia agungkan terasa begitu konyol sekarang. "Kamu curang, Tuan Nugraha. Kamu menggunakan alasan medis dan takdir untuk memojokkan seorang dokter."

Sean kembali mengulas senyuman tipisnya—sebuah ekspresi langka yang belum pernah diperlihatkannya pada siapa pun di dunia ini selain wanita di hadapannya.

Ia menundukkan kepalanya sedikit, mendekatkan wajahnya hingga Tera bisa merasakan embusan napas hangat pria itu di keningnya.

"Saya tidak sedang memojokkanmu, Dokter Tera," bisik Sean lembut. "Saya sedang memohon. Izinkan saya tetap berada di dekatmu. Bukan sebagai atasanmu, bukan sebagai penguasa Nugraha, tapi sebagai pria yang baterainya selalu membutuhkan genggaman tanganmu untuk terus hidup."

Tera menarik napas dalam-dalam, lalu perlahan-lahan mengembuskannya.

Ketegangan di bahunya mencair. Dekapan eratnya pada tas ransel kanvas usangnya perlahan mengendur, membiarkan tangan Sean kini sepenuhnya menggenggam jemarinya dengan erat, kokoh, dan protektif.

Jangan lupa LIKE dan KOMENTAR nya.

1
Siti Aisah
tera terenyuh oleh ketulusan sean, jadi tera kamu bukan alat untuk menyempurnakan kekuatan sean...tpi sudah takdir ya thor🤗
Siti Aisah
ci muka retak jgan menyakiti tera.. sean akan murka 🤭
Siti Aisah
tera tenang sean sedang memantau keadaan..
Siti Aisah
tenang sera sean ikut dalam rombongan jdi pasti di lindungi ..
Kaa
semoga sampai ke jenjang pernikahan tera sean lanjut thor👍
Kaa
kekuatan Sean mungkin campuran kekutan mominya ya driyana
Kaa
apa ada kekuatan lain dari tera selain aliran penenang tuan Sean lawan Sera gunakan kekuatan mu lanjut thor
Nurul Ambar
semoga hidup bahagia
Nurul Ambar
akhirx....
Nurul Ambar
sean datang
Nurul Ambar
deg deg an smga baik2 saja
Mety Haula
kayanya nanti muksnya buksn retak lahi malah berbalik kebelskang tenang tera tuan sean psdti datang apa yg nyusup ke rs dr klan hitam blm ketahusn ya
Mety Haula
alhamdullilah akhirnya yera luluh juga hatinya semoga kedepannya berjalan mulus langsung tancap mks
Novita Sari
Alhamdulillah tera menerima sean.....
Endang Hidayanti
so sweet bgt Sean, 😍
Novita Sari
si muka retak salah pilih lawan
Novita Sari
tenang tera kekuatan sean udah sempurna..
Novita Sari
si muka retak gak kapok kapok muka udah jelek masih sok sokan
Tri Hastuti
baru bab awal udh tegang
sean anaknya siapa ini?
Rita Susanti
sedikit banget sih thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!