Pradipta mendirikan divisi PRADA TRACE. Dia menerima klien yang ingin mencari anggota keluarga, teman, atau kerabat yang hilang. Pradipta bekerja sama dengan Gilang dalam menjalankan PRADA TRACE.
Namun setiap kasus yang mereka dapat, selalu menuntun mereka ke sebuah misteri yang harus dipecahkan.
Terkadang, orang yang mereka cari sudah menjadi arwah. Gilang pun harus menggunakan kemampuannya untuk menemukan jejak arwah dibantu oleh Prisa dan Jung Kook.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembaringan Terakhir
Gilang dan Giana sudah tiba di kediaman Pak RT. Setelah memperkenalkan diri, Gilang langsung mengatakan tujuan kedatangannya. Pria itu menceritakan apa yang terjadi pada Arga. Pak RT yang bernama Amran itu sangat terkejut.
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Jadi Arga sudah meninggal?” tanya Amran dengan logat Sundanya yang kental.
“Iya, Pak. Almarhum Arga kena musibah. Gara-gara bertemu dengan orang yang salah, dia dibunuh dengan keji.”
“Astaghfirullah.” Amran mengelus dadanya. Tidak habis pikir dengan kekejaman manusia yang terkadang di luar nalar.
“Sekarang, Abang saya lagi jemput jenazah Arga di rumah sakit. Pacarnya juga ikut jemput. Apa Bapak bisa memberikan pengumuman dan menyiapkan pemakamannya? Arga sudah meninggal sebulan yang lalu, jadi semakin cepat dimakamkan, semakin baik.”
“Baik-baik. Saya akan segera mengumumkannya.”
Bersama Gilang dan Giana, Amran segera meninggalkan rumahnya lalu menuju mushola. Pria itu segera menyalakan mikrofon dan mengumumkan kematian Arga.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Telah meninggal dunia saudara kita tercinta, Arga Kinanta.
Kepada para warga dimohon kesediaannya untuk membantu pemakaman Arga. Jenazahnya sedang dalam perjalanan ke sini. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Mendengar pengumuman Amran, warga yang sedang berada di rumah masing-masing terkejut. Mereka segera keluar dan saling bertanya-tanya.
“Ya Allah, Arga!” teriak Ratna, ibu kos tempat Arga tinggal. Wanita itu tidak bisa menahan tangisnya mendengar pengumuman bahwa Arga sudah meninggal.
Bukan hanya Ratna, tetapi tetangga di sekitar kos Arga juga terkejut. Kesedihan langsung melanda warga yang tinggal dekat dengan kos Arga maupun yang mengenalnya.
Selama ini Arga dikenal sebagai sosok pria yang baik. Pria itu tidak pernah menolak jika dimintai bantuan.
Bahkan, Arga sering membantu Pak Ustadz mengajar anak-anak mengaji di mushola. Setiap subuh, Arga juga sering menjadi muadzin jika tidak sedang bekerja shift malam.
Mengetahui jenazah Arga sedang dalam perjalanan, mereka pun segera bersiap. Amran segera meminta beberapa orang menggali kubur untuk Arga. Sementara itu, warga yang lain menyiapkan tempat agar para warga bisa melakukan shalat jenazah.
Para ibu sibuk menyiapkan makanan untuk para penggali kubur. Gilang dan Giana juga ikut membantu. Gilang menyerahkan sejumlah uang kepada Amran untuk mengurus semuanya.
Sambil menangis, Ratna menggelar tikar dan terpal yang akan digunakan untuk shalat jenazah. Wanita itu sudah menganggap Arga sebagai anaknya sendiri. Selama sebulan terakhir, dia berusaha menghubungi Arga. Namun ponsel pria itu mati.
Bahkan, Ratna juga melaporkan kehilangan Arga ke polsek setempat. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya wanita itu mendapat kabar tentang Arga. Sayangnya, pria itu sudah tidak bernyawa ketika kembali ke tempat tinggalnya.
Sirene ambulans terdengar nyaring, menarik perhatian semua warga. Ambulans kemudian berhenti di dekat mushola. Begitu pintu mobil terbuka, dua petugas langsung menurunkan jenazah Arga.
“Arga!!” panggil Ratna sambil mendekati dua petugas yang membawa brankar. Tangis wanita itu pecah melihat Arga sudah terbujur kaku dan terbungkus kafan.
Amran menunjukkan kepada petugas tempat mereka harus menaruh jenazah Arga. Setelah tugas mereka selesai, kedua petugas itu segera pergi.
Warga mulai berdatangan untuk melakukan shalat jenazah. Cukup banyak warga yang mengantre untuk shalat.
Arga yang juga menyaksikan itu semua, tak bisa menahan keharuannya. Ternyata, banyak orang yang peduli dan menyayanginya.
“Kamu orang baik, Ga. Lihat itu, banyak warga yang datang untuk melihatmu dan mengantarkanmu ke tempat terakhirmu,” ujar Gilang.
“Mereka semua memang baik padaku. Aku bersyukur tinggal di lingkungan ini,” jawab Arga sambil tersenyum.
“Mereka baik karena kamu orang baik, Ga. Apa kamu menyesal, Ga?”
“Menyesal bagaimana?” tanya Arga bingung.
“Kamu meninggal karena dibunuh oleh orang yang nggak kamu kenal. Kamu mengalami musibah ini karena menolong seorang perempuan yang juga nggak kamu kenal.”
“Aku percaya kalau semua yang terjadi padaku sudah menjadi suratan takdir yang dituliskan Allah untukku. Tapi… aku mencemaskan Indri. Aku takut dia akan melakukan hal yang membahayakan dirinya sendiri.”
Arga terus menatap Indri yang sedang duduk di dekat Ratna. Kedua wanita itu sedang berbincang sambil mengenang sosok Arga.
“Apa kamu mau berbicara dengan Indri sebelum kamu pergi?” tawar Gilang.
“Bagaimana caranya?”
“Kamu bisa merasukiku dan berbicara dengan Indri. Siapa tahu setelah berbicara denganmu, Indri bisa mengikhlaskan kepergianmu. Selama ini dia selalu menyalahkan dirinya sendiri.”
“Kalau memang bisa, aku mau,” jawab Arga. Ada hal yang ingin dia sampaikan kepada Indri sebelum kembali ke tempat yang seharusnya.
“Permisi. Kamu, Gilang, kan?”
Pembicaraan Gilang dan Arga terhenti ketika seorang wanita menghampiri. Dia adalah Lisa. Setelah mendapat kartu nama Gilang dari Nino, wanita itu langsung menghubungi Gilang. Lisa meminta agar dikabari jika Arga hendak dimakamkan.
Arga memandangi Lisa. Dia mencoba mengingat di mana dia pernah bertemu wanita itu.
“Kamu pasti Lisa,” terka Gilang.
“Iya. Pemakamannya belum mulai, kan?” tanya Lisa.
“Belum. Mungkin sebentar lagi. Makamnya belum selesai digali.”
Lisa memandangi keranda yang di dalamnya terdapat jenazah Arga. Matanya tampak berkaca-kaca. Orang baik yang sudah menolongnya harus kehilangan nyawa akibat kegilaan Bimo.
“Maafkan aku, Arga. Karena aku, kamu harus pergi secepat ini,” gumam Lisa pelan sambil menghapus air matanya yang sudah mengalir.
Mendengar ucapan Lisa, Arga baru mengingat siapa wanita itu. Ternyata Lisa adalah wanita yang dia selamatkan tempo hari.
“Aku nggak menyesal sudah menyelamatkanmu. Aku bersyukur kamu baik-baik aja. Jangan terlalu merasa bersalah,” ujar Arga sambil terus melihat Lisa.
Indri yang sedang bersama Ratna segera bangkit saat melihat Lisa di dekat Gilang. Wanita itu masih mengenali Lisa. Dia adalah wanita yang diselamatkan Arga.
“Kamu perempuan itu, kan?” tanya Indri tiba-tiba. “Kamu perempuan yang dibantu Arga, kan?” tanya Indri lagi.
“Kamu… siapa?” tanya Lisa hati-hati.
“Aku Indri, pacarnya Arga. Aku—“
“Maafkan aku. Maafkan aku, Indri. Karena aku, Arga jadi meninggal. Maafkan aku. Harusnya aku menolak saat dia mau mengantarku pulang. Kalau aku menolak, pasti Bimo nggak akan marah dan membunuhnya. Maafkan aku.”
Lisa langsung menyela ucapan Indri dan meminta maaf. Wanita itu tak bisa menahan tangisnya ketika mengatakan itu semua. Sejenak Indri hanya tercenung melihat Lisa yang masih menangis.
Kemarahannya seketika menghilang mendengar permintaan maaf wanita itu. Indri dapat melihat penyesalan di mata Lisa.
“Kamu nggak salah. Arga itu orang baik. Dia nggak bisa lihat orang kesusahan. Pasti dia akan menolong orang itu meski nggak kenal.
Aku yang salah. Kalau aku nggak mengatakan hal konyol, dia pasti nggak akan nekat pergi malam-malam buat ketemu aku.”
Indri tak bisa menahan tangisnya lagi. Perasaan bersalah kembali menghantamnya. Air matanya terus jatuh bercucuran.
Lisa mendekati Indri lalu memeluknya. Kedua wanita itu sama-sama menangis, tetapi berusaha saling menguatkan.
“Pak Amran, makamnya sudah siap,” ujar salah satu warga yang bertugas mengawasi penggalian makam.
“Ya sudah, kita makamkan aja sekarang,” putus Amran.
Saat mereka hendak berangkat ke tempat pemakaman umum yang jaraknya hanya sekitar satu kilometer dari perumahan warga, terdengar suara motor mendekat.
Arga terkejut melihat teman-teman kerjanya datang untuk melepas kepergiannya. Di antara mereka, ada juga Samsul, atasan langsung Arga.
Samsul segera mendekati Pradipta yang sedang bersama Amran. Pradipta segera memperkenalkan Samsul kepada Amran. Dia juga yang mengabari atasan Arga itu tentang pemakaman tersebut.
“Terima kasih sudah mengabari saya, jadi kami bisa mengantarkan Arga ke tempat terakhirnya,” ujar Samsul.
“sama-sama, Pak.”
“Ayo kita pergi sekarang,” ajak Amran.
Samsul segera menuju keranda. Dia ikut membantu mengangkat keranda Arga. Setelah empat orang pengangkat keranda mulai berjalan, warga dan rekan kerja Arga mengikuti dari belakang, termasuk Pradipta, Gilang, dan Giana.
Indri berjalan bersama Lisa dan Ratna. Air mata mereka mengiringi jenazah Arga menuju pembaringan terakhirnya.
***
Ternyata Arga emang orang baik🥹
semoga neng Giana baik baik aja 🙏