Selama lima tahun, Bayu telah mengorbankan segalanya untuk merawat Vira dan membesarkan anak dari mantannya, namun ia justru diusir dan dicap sebagai sampah begitu Rama,pria kaya yang dulu mencampakkan Vira,kembali dengan jabatan mentereng sebagai manajer perusahaan besar.
Dihina habis-habisan di depan pintu keluar kantor catatan sipil usai meneken surat perceraian, hidup Bayu berputar 180 derajat saat sebuah Sistem Pengubah Jalur Hidup bangkit di kepalanya dan memberinya kartu-kartu kekayaan mutlak.
Dari seorang pria melarat berhati tulus, Bayu kini melangkah ke dunia para elite kota besar, siap membalas setiap tetes air mata dengan kekuasaan yang membuat orang-orang yang dulu merendahkannya berlutut memohon ampun.
Bantu Cherlly dengan LIKE,KOMENTAR & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Kami selalu balas komentar yang kaka pertanyakan🥰🥰💋
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Suasana di ruang kerja utama The Crown Penthouse terasa sangat tenang.
Layar komputer besar menampilkan data keuangan Rahardja Group yang kini sepenuhnya bersih di bawah kendali Bayu.
Bayu duduk bersandar di kursi kerjanya sambil menyesap secangkir kopi hitam.
Kirana berdiri di samping meja membawa sebuah tablet digital tipis.
"Restrukturisasi internal Rahardja Group sudah berjalan sepuluh persen, Tuan," lapor Kirana dengan suara tegas.
Bayu mengangguk pelan mendengar laporan tersebut.
"Bagus," jawab Bayu santai. "Bagaimana dengan sisa aset keluarga Arga?"
"Semua sudah disita dan diamankan oleh tim hukum kita," jawab Kirana cepat.
Kirana menggeser layar tabletnya menampilkan grafik data yang berbeda.
"Namun, ada informasi menarik lain yang berhasil dikumpulkan oleh intelijen kita," lanjut Kirana serius.
Alis Bayu sedikit terangkat mendengar nada bicara sekretaris pribadinya itu.
"Informasi apa?" tanya Bayu menatap tajam.
"Sebuah perusahaan rintisan teknologi lokal sedang ditekan habis-habisan oleh kartel bisnis gelap di ibu kota," jelas Kirana membacakan data di layarnya.
Bayu mengerutkan keningnya sesaat.
"Perusahaan rintisan teknologi?" gumam Bayu pelan. "Teknologi apa yang mereka kembangkan?"
"Sistem kecerdasan buatan untuk analisis data finansial independen," jawab Kirana menjelaskan.
"Sistem itu sangat potensial, itulah sebabnya kartel ingin merebutnya secara paksa."
Bayu mengetukkan jari telunjuknya di atas meja marmer.
Tok tok tok.
"Siapa nama pendiri perusahaan rintisan itu?" tanya Bayu penasaran.
"Namanya Clara Santoso," jawab Kirana menyebutkan nama lengkapnya.
"Beliau adalah CEO muda lulusan universitas luar negeri yang berjuang sendirian."
Bayu terdiam sejenak, menimbang peluang ekspansi ke sektor teknologi digital nasional.
"Apakah kartel itu sudah melangkah terlalu jauh menekan perusahaannya?" tanya Bayu dingin.
"Sangat jauh, Tuan," jawab Kirana tajam.
"Mereka mengirim preman untuk merusak kantor Clara dan memutus seluruh akses permodalan bank."
Bayu mendengus pelan mendengar tindakan kotor para penguasa bayangan di ibu kota tersebut.
"Kartel bisnis gelap selalu saja menggunakan cara-cara rendahan," ujar Bayu meremehkan.
"Apakah Anda ingin kita turun tangan membantu perusahaannya, Tuan?" tanya Kirana menawarkan opsi.
Bayu berdiri dari kursi kerjanya lalu berjalan mendekati jendela kaca raksasa.
"Cari tahu di mana posisi Clara malam ini," perintah Bayu mutlak.
"Baik, Tuan! Saya akan segera melacaknya," jawab Kirana sigap.
Di tempat lain, di sebuah kafe remang-remang di sudut kota Jakarta, suasana terasa sangat mencekam.
Clara duduk sendirian di meja sudut dengan cangkir kopi yang sudah mendingin.
Wajah wanita muda berambut ikal sebahu itu tampak sangat pucat dan kelelahan.
Kantong mata hitam menghiasi wajah cantiknya akibat tidak tidur selama beberapa malam.
Ponsel di atas meja berdering nyaring tanpa henti.
Bzzzt bzzzt.
Clara mengangkat panggilan itu dengan tangan bergetar.
"Halo..." sapa Clara dengan suara parau.
"Bagaimana, Clara? Apakah kamu sudah siap menandatangani surat pengalihan saham perusahaanmu?" tanya suara berat bernada ancaman di seberang telepon.
Clara menggigit bibir bawahnya hingga nyaris berdarah.
"Aku tidak akan pernah menyerahkan perusahaan itu pada penjahat seperti kalian!" bentak Clara dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.
"Jangan keras kepala, nona manis," ancam suara itu dingin.
"Besok pagi, kantor startup-mu akan rata dengan tanah jika kamu menolak!"
Tut tut tut.
Sambungan telepon diputus secara sepihak oleh preman suruhan kartel.
Clara menjatuhkan ponselnya ke atas meja dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.
Ia merasa berjuang seorang diri melawan monster raksasa yang tidak memiliki hati nurani.
Tiba-tiba, suara langkah kaki sepatu pantofel mendekati meja sudut tempatnya duduk.
Tap tap tap.
Clara mendongak perlahan, melihat seorang pria berjas hitam elegan berdiri di depannya.
Di sebelah pria itu, berdiri seorang wanita profesional berambut rapi membawa map dokumen.
Bayu dan Kirana.
"Siapa... siapa kalian?" tanya Clara gugup dengan suara bergetar.
Bayu menarik kursi di seberang meja lalu duduk dengan tenang.
"Aku bukan musuhmu, Clara," ucap Bayu dengan suara berat yang menenangkan.
Clara mengerutkan keningnya bingung menatap sosok pemuda asing di depannya.
"Lalu apa mau kalian menemuiku di tempat seperti ini?" tanya Clara waspada.
Kirana maju selangkah lalu meletakkan selembar kartu nama eksklusif di atas meja.
"Kami datang untuk menyelamatkan perusahaan startup-mu dari cengkeraman kartel gelap ibu kota," ucap Kirana tegas.
Clara membelalakkan matanya lebar-lebar mendengar ucapan tersebut.
Menyelamatkan perusahaannya?
Bagaimana mungkin orang asing tahu masalah pelik yang sedang ia hadapi?
"Kalian... kalian bercanda?" cicit Clara tidak percaya.
Bayu menatap lurus ke dalam mata Clara dengan tatapan penuh keyakinan.
"Aku tidak pernah main-main dalam urusan bisnis," jawab Bayu tenang.
[Sistem Pengubah Jalur Hidup: Mendeteksi dimulainya misi penyelamatan dan kemunculan karakter sekutu baru.]
[Mendapatkan bonus poin stabilitas strategis +20.]
Suara dengungan sistem berputar lembut di dalam kepala Bayu.
Clara menatap Bayu dan Kirana bergantian dengan rasa curiga bercampur harapan yang mulai tumbuh di dadanya.
"Apa syaratnya jika kalian ingin membantuku?" tanya Clara hati-hati.
Bayu tersenyum tipis mendengar pertanyaan realistis dari CEO muda tersebut.
"Bergabunglah di bawah kekaisaran bisnis kita," jawab Bayu mantap.
"Dan aku akan meratakan kartel yang selama ini menerormu."
Clara terdiam kaku mencerna tawaran luar biasa yang datang secara tiba-tiba di malam yang gelap ini.
Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰