Seorang Pemuda Pengangguran Terdesak pinjol ia pun nekat menjadi Dukun Palsu/Gadungan karena menemukan beberapa barang kuno lalu muncul ide menjadi Dukun..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Ashar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fondasi Gerakan
Keesokan harinya, sinar matahari pagi menerobos dedaunan pohon mangga di halaman rumah lama Mamat. Desa Kalisari yang dulu sepi kini riuh oleh semangat baru. Anak-anak kecil berlarian menuju taman bacaan, sementara para ibu rumah tangga berkumpul di serambi balai desa untuk menghadiri sesi pelatihan pembukuan keuangan tingkat dasar yang dipimpin oleh tim staf muda dari Bali.
Mamat berdiri di ambang pintu taman bacaan, memandangi suasana itu dengan hati yang penuh kehangatan. Di tangannya, selembar peta Indonesia terbentang. Peta tersebut telah ditandai dengan puluhan titik merah yang menunjukkan lokasi cabang-cabang Brajamukti Center serta wilayah sasaran penempatan alumni Akademi Pendamping Rakyat.
Darto melangkah mendekat sambil membawa laptop dan beberapa berkas administrasi Kementerian Desa.
"Mat," panggil Darto seraya menunjukkan layar laptopnya. "Draf Peraturan Menteri tentang adopsi kurikulum Brajamukti untuk program pembinaan sepuluh ribu desa tertinggal sudah selesai disusun. Minggu depan kita diundang kembali ke Jakarta buat penandatanganan kesepakatan resmi."
Bowo, yang baru saja selesai berkoordinasi dengan karang taruna desa, ikut bergabung. "Hebatnya lagi, Mat, para pemuda Kalisari sepakat mau mengirim lima perwakilan terbaik mereka buat ikut seleksi Akademi Angkatan Ketiga di Bali! Mereka mau belajar langsung supaya bisa dampingi desa-desa tetangga di Jawa Tengah."
Mamat mengangguk perlahan. "Itu yang tak harapkan dari dulu, Wo. Kalisari tidak boleh cuma jadi penerima bantuan. Desa ini harus jadi kawah candradimuka yang melahirkan pendamping-pendamping rakyat yang tangguh dan jujur."
Namun, di tengah gelombang keberhasilan yang kian membesar, Mamat sadar bahwa ekspansi skala nasional membawa tantangan yang jauh lebih kompleks. Mengelola puluhan ribu pendamping di seluruh pelosok Indonesia bukan lagi sekadar soal melatih keterampilan bisnis, melainkan menjaga integritas moral agar tidak terkikis oleh godaan kekuasaan dan uang modal yang mengalir deras.
"Darto, Bowo," kata Mamat dengan nada sangat serius. "Sebelum kita tanda tangani kesepakatan di Jakarta, kita harus membentuk Dewan Pengawas Etika Independen. Lembaga ini isinya para akademisi, tokoh masyarakat lokal, dan perwakilan petani atau nelayan. Tugas mereka cuma satu: mengaudit kinerja dan perilaku para pendamping kita di lapangan secara berkala."
Darto menyipitkan mata, mengagumi kedalaman berpikir sahabatnya. "Kamu takut ada pendamping kita yang nakal pas megang dana pendampingan dari pemerintah, Mat?"
"Uang dan jabatan itu ujian paling berat buat manusia, To," tegas Mamat. "Dulu kita pernah jatuh karena tergoda uang instan. Aku ndak mau anak-anak muda binaan kita mengalami kehancuran yang sama cuma gara-gara kita lalai bikin sistem pengawasan."
Dua minggu setelah penandatanganan kesepakatan dengan pemerintah pusat di Jakarta, Mamat memutuskan untuk melakukan kunjungan kerja langsung ke lokasi uji coba pertama program nasional di kawasan pegunungan Mamasa, Sulawesi Barat.
Mamasa adalah wilayah dengan bentang alam yang indah namun memiliki akses transportasi yang sangat sulit. Petani kopi lokal di sana bertahun-tahun hidup dalam cengkeraman sistem tengkulak yang mematok harga beli sangat rendah di bawah standar pasar.
Mamat, Darto, dan Bowo menempuh perjalanan darat menembus perbukitan terjal dan jalanan tanah yang licin selama delapan jam dari Kota Mamuju. Bersama mereka, ada empat alumni akademi muda yang telah bertugas di sana selama tiga bulan.
Setibanya di Desa Balla, sebuah desa penghasil kopi terbaik di Mamasa, Mamat disambut oleh puluhan petani yang berkumpul di tongkonan (rumah adat) setempat.
Seorang tetua adat berusia lanjut bernama Puang Tomas menyambut Mamat dengan memeluk pundaknya hangat.
"Pak Eko Prasetyo..." sapa Puang Tomas dengan bahasa Indonesia yang bersahaja. "Anak-anak muda yang Anda kirim dari Bali ini... mereka berbeda dengan orang-orang kota yang pernah datang ke sini."
Mamat tersenyum ramah, duduk bersila di atas lantai kayu tongkonan bersama para petani. "Berbeda bagaimana, Puang?"
"Orang-orang kota dulu datang membawa janji manis, mengambil foto kami, lalu menghilang membawa keuntungan," cerita Puang Tomas dengan mata berkaca-kaca. "Tapi anak-anak muda Brajamukti ini... mereka ikut tidur di rumah kami, ikut memetik buah kopi di kebun saat hujan, dan mengajari kami cara mengeringkan biji kopi kualitas premium. Sekarang, kami bisa menjual biji kopi kami langsung ke pembeli eksportir di Makassar dengan harga dua kali lipat!"
Mamat menoleh ke arah dua alumni akademi muda yang berdiri bersahaja di sudut ruangan. Keduanya menunduk rendah hati tanpa memamerkan dada.
Namun, di tengah kehangatan acara malam itu, seorang pemuda lokal berlari terengah-engah memasuki tongkonan.
"Puang! Pak Eko!" teriak pemuda itu panik. "Di bawah... di jalan poros desa! Ada tiga mobil om pengepul kopi lama yang datang bawa preman! Mereka memblokir jalan truk pengangkut kopi koperasi kita yang mau berangkat ke Makassar!"
Keheningan malam di pegunungan Mamasa seketika pecah oleh kabar pencegatan tersebut. Warga desa dan para petani kopi langsung tegang. Beberapa pemuda lokal bahkan mulai menyambar parang dan bambu runcing dari balik dinding rumah.
"Jangan ada yang membawa senjata!" bentak Mamat dengan suara tegas menggelegar, berdiri di tengah tongkonan.
Puang Tomas memegang lengan Mamat dengan raut muka cemas. "Pak Eko... pengepul itu namanya Daeng Sangkala. Dia penguasa jalur perdagangan kopi di wilayah ini selama belasan tahun. Dia tidak pernah ragu pakai kekerasan kalau ada warga yang mencoba menjual kopi di luar jaringannya."
Mamat merapikan kemeja linennya, menatap Darto dan Bowo. "Kalian berdua ikut aku ke bawah. Anak-anak akademi tetap di sini, amankan dokumen transaksi koperasi."
Dengan menggunakan satu mobil jip operasional, Mamat, Darto, Bowo, bersama Puang Tomas bergerak menuju lokasi pemblokiran di jalan poros desa yang remang oleh pendaran lampu mobil.
Di lokasi, tampak sebuah truk engkel berisi karung-karung biji kopi milik koperasi warga terhenti di tengah jalan. Tiga mobil minibus melintang menutupi jalan, dan sekitar delapan pria bertubuh kekar memegang balok kayu serta rantai besi sedang mengintimidasi sopir truk.
Seorang pria paruh baya berkumis tebal dengan jaket kulit hitam—Daeng Sangkala—sedang mengisap rokok seraya bersedekah kata-kata ancaman.
"Kamu pikir kamu siapa, hah?!" bentak Daeng Sangkala pada sopir truk. "Selama belasan tahun, semua kopi dari Mamasa ini harus lewat saya! Jangan sok-sokan bikin koperasi sendiri kalau mau selamat jalan di daerah ini!"
Mamat melangkah keluar dari jip, berjalan tenang menembus kegelapan malam menuju ke arah Daeng Sangkala. Bowo dan Darto mengawal ketat dari kiri dan kanan.
"Selamat malam, Daeng," sapa Mamat dengan suara bernada sangat tenang dan terkontrol.
Daeng Sangkala membalikkan badan, menatap Mamat dengan mata menyipit galak. "Siapa kamu?! Orang asing jangan ikut campur urusan bisnis di pegunungan ini!"
Mamat berhenti dua langkah di hadapan Daeng Sangkala. Kilatan lampu mobil memantulkan raut wajah Mamat yang sama sekali tidak gentar.
"Nama saya Eko Prasetyo dari Brajamukti," jawab Mamat santai. "Truk ini mengangkut kopi milik koperasi petani Balla yang sah secara hukum. Mereka bukan mencuri, mereka menjual hasil keringat mereka sendiri."
Daeng Sangkala tertawa terkekeh-kekeh, sebuah tawa dingin yang memprovokasi anak buahnya. "Brajamukti?! Ooh... jadi kamu 'guru' dari Bali yang mengajari petani-petani ini buat membangkang sama saya?!"
Anak buah Daeng Sangkala mulai maju melangkah, mengepalkan balok kayu dan rantai besi mereka, siap memicu perkelahian!
Bowo pasang kuda-kuda bertarung, siap melindungi Mamat kapan saja. Namun Mamat mengangkat tangan kanannya pelan, memberi isyarat agar Bowo tetap di tempat.
Mamat menatap lurus ke dalam pupil mata Daeng Sangkala. Pengalaman bertahun-tahun menghadapi preman pelabuhan di Semarang hingga para spekulan bisnis di Jakarta membuat Mamat bisa membaca kecemasan di balik kegarangan Daeng Sangkala.
"Daeng Sangkala..." panggil Mamat, suaranya sangat pelan namun menembus hingga ke celah pendengaran seluruh preman di tempat itu. "Abang marah bukan karena kopi ini. Abang marah karena Abang takut."
Daeng Sangkala melotot, gertakan itu menghantam harga dirinya. "Apa kamu bilang?! Saya takut?!"
"Iya, Abang takut," lanjut Mamat penuh wibawa psikologis. "Abang takut karena sistem monopoli yang Abang bangun belasan tahun ini mulai ditinggalkan orang. Abang tahu, kalau petani-petani ini pintar dan punya koperasi sendiri, Abang tidak bisa lagi beli kopi mereka dengan harga murah lalu dijual mahal di Makassar."
Anak buah Daeng Sangkala saling bertukar pandang, tertegun oleh keberanian pria ber-kemeja linen di hadapan bos mereka.
"Tapi Abang lupa satu hal," sambung Mamat seraya melangkah satu tindak lebih dekat. "Zaman sudah berubah, Daeng. Truk ini dikawal oleh sistem resmi pemerintah. Di dalam truk ini ada dokumen kerja sama antara Koperasi Balla dengan Kementerian Desa dan Dinas Perdagangan Provinsi. Kalau Abang dan anak buah Abang menyentuh satu karung kopi di dalam truk ini, yang Abang hadapi bukan cuma petani Mamasa... tapi hukum negara dan Polda Sulawesi Barat."
Mamat merogoh sakunya, mengeluarkan ponselnya yang menampilkan panggilan video siaran langsung yang tersambung dengan pejabat Kepolisian Daerah setempat yang bertugas mengawasi jalur distribusi pangan nasional.
"Pilihan ada di tangan Abang," kata Mamat dengan senyum tipis yang dingin. "Buka pemblokiran jalan ini secara baik-baik, atau malam ini juga Abang dan seluruh anak buah Abang dijemput oleh pasukan brimob."
Daeng Sangkala menelan ludah kencang. Matanya bergerak liar menatap layar ponsel Mamat, lalu menatap jip dan para petani yang mulai berdatangan dari arah desa. Gertakan terukur dan bukti hukum yang kuat dari Mamat seketika memadamkan seluruh amarah gertak sambal milik sang penimbun kopi!
Daeng Sangkala menghentakkan rokoknya ke tanah, menyapu keringat dingin di dahinya.
"Pindahkan mobil!" bentak Daeng Sangkala pada anak buahnya dengan suara serak menahan malu. "Kita pergi dari sini!"
Anak buah Daeng Sangkala dengan tergesa-gesa melompat masuk ke dalam kendaraan mereka dan melaju pergi menghilang di balik tikungan jalan pegunungan yang gelap!
Sorak-sorai gembira para petani Mamasa meledak memecah keheningan malam! Sopir truk langsung membunyikan klaksonnya, melintasi jalan poros yang kini telah terbuka bebas menuju Makassar.
Puang Tomas memeluk Mamat erat-erat seraya meneteskan air mata haru. "Terima kasih, Pak Eko... Terima kasih... Malam ini Anda tidak cuma menyelamatkan kopi kami, tapi menyelamatkan harga diri seluruh petani Mamasa."
Mamat menepuk-nepuk punggung Puang Tomas dengan lembut. Di bawah pendaran bintang-bintang pegunungan Celebes, Mamat membuktikan sekali lagi bahwa kejujuran, kecerdasan berpikir, dan keberanian yang berlandaskan hukum selalu sanggup meruntuhkan segala bentuk kedzaliman di atas tanah air.