Di tinggal meninggal dunia oleh suami bukan keinginanku. namun terkadang ketika sebuah pilihan datang manusia tidak dapat menolaknya.
Saat pak Burhan dan Bu Salma menemui ku, agar aku menikahi anaknya Prasetio yang sudah beristri aku tidak punya jalan lain kecuali menerimanya.
karena keterbatasanku dalam mencari nafkah, dan demi menolong Prasetio yang kata ibunya butuh pendamping lantaran istrinya sakit parah.
Disinilah letak kesalahanku, tetapi ternyata justru kesalahanku ini adalah petunjuk terang tentang kematian ibuku.
Suatu hari tak sengaja aku menemukan selembaran dokumen, yang tercantum nama ayahku di lemari Pak Burhan, akhirnya sejarah kelam masa lalu terbongkar, aku tahu siapa sebenarnya suamiku Prasetio, Pak Burhan, Prilia istri pertama suamiku, ibunya Prilia, dan Bu Salma ibu mertuaku.
Ada apa sebenarnya di balik kematian ibuku?
Bagai mana selanjutnya hubunganku dengan Prasetio setelah semua terkuak?
Simak kisah panjangku dalam WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aina susiyanti77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Baru di Rimba
Malam kian larut di belantara Jambi. Suara jangkrik dan serangga malam saling bersahutan, seolah mencoba mengimbangi dengkur Genta dan Meranting yang terdengar kocak naik membumbung tinggi, lalu meluncur turun drastis, sebelum kemudian menanjak lagi dalam irama berulang yang tiada habisnya.
Pandi masih duduk setia di pembaringan kayu berlapis tikar pandan. Matanya yang lelah berpindah dari wajah Prasetio yang terpejam rapat.
Lalu Pandi melihat ke arah bale bale lain. Di sana, Pak Burhan ayah sahabatnya itu tengah tertidur pulas juga. Selimut kain sarung kusam menutup dada sang ayah yang naik turun secara teratur.
Pandi menatap wajah Prasetio lama-lama. Kenangan masa lalu merayap pelan dalam benaknya. Ia teringat belasan tahun lalu, saat mereka berdua masih menjadi bocah gundul berkulit legam yang berlarian di tepi sungai tanpa beban. Masa-masa di mana mereka belum mengerti betapa kerasnya dunia nyata, betapa rumitnya kehidupan orang dewasa.
Kini, setelah puluhan tahun terpisah oleh nasib dan jarak, mereka dipertemukan kembali. Masing-masing membawa cerita dan beban hidup yang berbeda. Namun, satu hal yang pasti menyatukan mereka malam ini masalah. Ya, sama-sama dihimpit masalah hidup.
"Ah, apa yang sedang menimpamu, sahabatku..." Pandi bergumam lirih. Dada Pandi bergetar oleh rasa sayang dan kesetiaan seorang sahabat yang tak pernah luntur dimakan waktu.
Prasetio tiba-tiba merintih pelan. Matanya bergerak-gerak di balik kelopak yang tertutup. Di telapak tangannya, bekas luka sayatan belati akibat prosesi sumpah di balai adat tadi siang telah menghitam dan mengering. Benturan keras babi hutan yang sempat menimpa dadanya dan membuat napasnya sesak pun perlahan pulih; deru napasnya tak lagi memburu, suhu tubuhnya yang tadinya dingin kini berangsur hangat dan normal.
Jemarinya yang gemetar menggeliat di atas tikar. Dari celah bibirnya yang pecah-pecah, terdengar suara igauan samar memanggil sebuah nama, "...Maya..."
"Ah, sahabatku ini pasti sedang bermimpi," gumam Pandi tersenyum tipis.
Melihat kaus Prasetio tersingkap hingga memperlihatkan perutnya yang memar, Pandi mengulurkan tangan untuk membetulkannya. Namun, sentuhan jemari Pandi yang dingin menyenggol kulit Prasetio. Hal itu rupanya memicu kesadaran Prasetio. Matanya langsung terbuka lebar.
"Jangan paksa bangun dulu, Pras," ujar Pandi cepat saat melihat Prasetio mencoba menyiku tubuhnya untuk duduk.
Prasetio mengedipkan mata berkali-kali, mengusir kabut yang menyelimuti pandangannya. Kesadarannya kini telah pulih seratus persen. Ingatan tentang benturan, pertarungan, dan nasib ayahnya mendadak nyata.
"Bagaimana ayahku, Pandi?" tanya Prasetio panik, suara seraknya memecah keheningan sudung—pondok kayu khas warga lokal.
"Beliau baik-baik saja, Pras," jawab Pandi menenangkan, tangannya menepuk bahu Prasetio agar tetap berbaring. "Panas tingginya sudah turun drastis. Bahkan, tadi waktu ku perhatikan, bibirnya yang sempat miring akibat serangan stroke sudah sedikit membaik dan tampak lebih simetris dari sebelumnya."
Mendengar hal itu, mata Prasetio berkaca-kaca. Dada yang tadinya sesak terasa lapang seketika. "Wah... hebat! Alhamdulillah, terima kasih, ya Allah..." bisik Prasetio, dia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan sebagai bentuk rasa syukur yang teramat dalam pada Sang Pencipta.
Prasetio menatap Pandi dengan tatapan penuh rasa berutang budi. "Pandi, kalau tidak ada kalian... entah apa yang akan terjadi pada aku dan Ayah..."
"Sudah, Pras. Tidak usah kau pikirkan itu. Antara kita tidak ada hitung-hitungan," potong Pandi tegas namun hangat.
Pandi lalu menggeser duduknya mendekat, menatap sahabatnya dengan raut wajah serius. "Pras, aku punya saran. Sebaiknya kau dan Pak Burhan tinggal dulu di sudung ini selama seminggu. Fokus utamamu sekarang adalah menyembuhkan Ayahmu."
Pandi menunjuk ke arah sudut lain di mana seorang wanita paruh baya dari Suku Anak Dalam sedang meracik sesuatu di atas batu pipisan.
"Kau harus tahu, Induk wanita dari Suku Anak Dalam itu adalah seorang tabib yang sangat pandai dalam hal pengobatan tradisional rimba. Pengetahuannya tentang akar dan dedaunan tak ada tandingannya. Siapa tahu dengan tangan dinginnya, Pak Burhan bisa pulih sepenuhnya seperti semula," lanjut Pandi.
"Apakah kami boleh tinggal di sini Pandi? " Jawab Prasetio.
Pandi mengangguk pelan, "Nanti aku akan bicara dengan kepala suku di sini, Beliau adalah bapaknya Genta. "
"Oh pantas Genta sangat terlihat berkharisma ternyata dia adalah keturunan pemimpin. " Prasetio lalu memandang Genta Meranting yang tidur pulas. Dua pemuda Suku Anak Dalam yang hebat dan baik hati itu.
"Setelah Ayahmu membaik, barulah kau susun rencana selanjutnya untuk melanjutkan hidup," tambah Pandi. "Aku sarankan, kau buat gubuk kecil di dekat tempatku. Kau tidak perlu memikirkan harga tanah, tidak usah risau. Di sini tidak sama seperti kehidupan kota yang apa-apa harus bayar sewa atau beli. Di sini ada sistem menumpang tanah. Kau bisa membangun gubuk dan tinggal tanpa perlu membayar sewa sepeser pun."
Prasetio mendongak. "Benarkah ada sistem seperti itu?"
"Tentu saja," jawab Pandi mantap. "Nanti dari sana, baru kita susun mata pencaharianmu. Apakah kau mau bertani atau menjual hasil hutan. Kau tahu sendiri, kan, hasil hutan di pedalaman Jambi ini sangat melimpah? Ada damar, getah balam, rotan, hingga madu sialang yang harganya mahal di pasaran."
Prasetio benar benar merasa terharu ternyata begini sebuah persahabatan yang hanya menilai dari sisi kemanusiaan saja. Berbeda jauh dengan apa yang dia alami selama ini, Prasetio tersenyum getir dalam hati.
Terdengar langkah kaki pelan di atas lantai tanah dari arah pintu luar sudung, lalu langkah itu masuk ke dalam dan berhenti tepat di hadapan Pandi dan Prasetio yang sedang berbincang.
Induk—wanita tua rimba yang menolong mengobati Prasetio dan ayahnya—datang mendekat sambil membawa tampah bambu kecil berisi ubi rebus berasap tipis serta sebum bung bambu berisi air rebusan obat.
"Mangan lah dulu ubi hangat ko. Tubuhmu masih lemoh, budak," kata Induk lembut dengan logat khas Orang Rimba, menyodorkan tampah ubi dan bumbung bambu itu ke hadapan Prasetio. "Iko aek ramuan akar kayu. Hirup perlahan, biar memar di dadamu cepat tawar."
"Terima kasih banyak, Induk," ujar Prasetio penuh hormat seraya menerima bumbung bambu tersebut walau dia tidak tau arti bahasa daerah itu, namun Prasetio paham akan maksut nya.
Pandi membetulkan posisi duduknya lalu menghadap Induk, dia mengutarakan maksud hatinya. "Induk... Pandi nak minta tolong nian. Kalau Induk bersedia dan diizinkan adat, bolehkah Prasetio dan bapaknya menumpang tinggal di sudung iko selama seminggu?"
Induk menatap Pandi, lalu mengalihkan pandangannya pada Pak Burhan yang terbaring tenang di bale-bale.
"Bukan cuma menumpang tidur, Induk," sambung Pandi bersungguh-sungguh. "Pandi nak minta tolong nian Induk lanjutkan pengobatan untuk bapaknya Prasetio. Tolong obati dengan akar rimba sampai penyakit angin lumpuhnya sembuh total, sampai beliau bisa berdiri lagi."
Induk diam sejenak, namun matanya memancarkan kehangatan dan kearifan seorang ibu rimba. " Dewa rimba tak suka kalau kita menolak orang yang sedang dihimpit malapetaka."
Induk mengangguk pelan, membuat napas Pandi dan Prasetio terasa lega. "Tinggallah di sini seberapa lama kalian butuh. Soal penyakit bapakmu iko..." Induk menunjuk ke arah Pak Burhan. "Akar kayu rimba kami memang ampuh melunakkan urat yang kaku. Tapi ingat, pengobatan rimba butuh kesabaran. Tiap pagi dan petang harus dibalur minyak akar ramuan, dan minum aek rebusan kayu secang. Jangan diburu-buru, biar urat darah di kepalanya menyatu lagi dengan benar."
Prasetio hampir meneteskan air mata mendengar kebaikan Induk. "Terima kasih, Induk... Kami sangat berutang jasa pada Induk dan warga rimba di sini."
Induk tersenyum tipis hingga kerutan di sudut matanya terlihat makin jelas. "Di rimba iko, kita semua bersaudara dengan alam dan manusia yang berniat baik. Dimakan ubi tu, biar ada tenaga buat esok hari."
Belum sempat Prasetio menggigit ubi hangat di tangannya, suara geseran tikar di sudut sudut sudung mengejutkan mereka. Dengkur keras yang tadinya bersahut-sahutan mendadak terhenti. Genta menggeliat lebar, merentangkan kedua tangannya yang kekar hingga terdengar bunyi sendi berderet pelan. Di sampingnya, Meranting ikut duduk sambil mengucek matanya yang masih sembap oleh kantuk.
"Hah... aromo ubi rebus Induk memang selalu biso membangunkan orang tidur. " Ujar Meranting dengan gaya blak-blakan khasnya. Ia langsung merangkak mendekati tampah bambu tanpa canggung.
Genta menepuk paha Meranting pelan, lalu pandangannya tertuju pada Prasetio yang sudah terduduk tegak. Senyum lebar terukir di wajah tampan nan tegas milik putra kepala suku itu.
"Sudah siuman kau, Pras?" sapa Genta hangat, Ia berjalan mendekat dan merangkul bahu Prasetio dengan akrab. "Luar biasa daya tahan tubuhmu. Benturan babi hutan semalam itu biso mematahkan tulang rusuk orang biasa, tapi kau cuma memar sedikit."
"Terima kasih, Genta, Meranting," ucap Prasetio tulus, kalau bukan karena keberanian kalian berdua membawa kami menembus hutan malam-malam, aku dan Ayah tidak tahu lagi bagaimana nasibnya."
Meranting yang sedang mengunyah ubi rebus tertawa terkekeh. "Ayo ah, jangan terlalu kaku sanak, ! Di sini kita semua saudara. Lagipula, aksi melompat mu melawan babi hutan kemarin itu sungguh nekat. Kau punya keberanian seorang prajurit rimba, Pras. Kami suka itu!"
"Betul kata Meranting," timpal Genta serius. "Mulai malam ini, kau dan bapakmu adalah keluarga kami. Apapun yang kau butuhkan di pemukiman iko, katakan saja. Jangan sungkan."
Bersambung
kyknya pribahasanya ; "karena setitik TINTA, rusak susu sebelahnya"
atau sudah ganti di era digital?
sekarang prasetyo yg berlutut, lantainya keramik.😇😇😇😇😇