NovelToon NovelToon
Broken Home

Broken Home

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:467
Nilai: 5
Nama Author: kiara lily

Lily seorang anak yang ditinggal berpisah oleh kedua orang tua nya. tetapi suatu saat, kedua ortunya saling menikah lagi. saat itu ia ikut dengan ibunya, suatu hal yang tak disangka oleh Lily. Ayah tiri nya ternyata mempunyai niat buruk pada nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unaa, isi konten hanya pandangan pribadi pembuatnya tidak mewakili NovelToon sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiara lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Pertama Menuju Cahaya Baru

Dua minggu telah berlalu sejak percakapan WhatsApp pertama mereka. Intensitas komunikasi antara Ratna dan Budi meningkat secara alami, mengalir seperti air sungai yang menemukan jalurnya sendiri setelah bendungan pecah. Awalnya hanya sekadar tanya jawab tentang harga bahan bangunan atau rekomendasi supplier kain, namun perlahan-lahan, topik pembicaraan melebar ke hal-hal yang lebih personal. Mereka berbagi cerita tentang masa kecil, tentang mimpi-mimpi yang tertunda, dan tentang pandangan hidup terhadap kebahagiaan di usia paruh baya.

Bagi Ratna, Budi adalah oase di tengah gurun kesepian yang ia rasakan selama bertahun-tahun. Berbeda dengan Bambang yang selalu sibuk dengan ego dan karirnya, Budi adalah pendengar yang baik. Ia tidak menghakimi, tidak mendominasi, dan yang paling penting, ia hadir. Kehadirannya terasa tenang, menenangkan jiwa Ratna yang masih rapuh pasca-trauma pernikahan.

Sore itu, langit berwarna jingga kemerahan. Ratna sedang duduk di teras, melipat pakaian Lily yang baru saja dijemur. Ponselnya bergetar. Nama "Budi" muncul di layar.

*"Bu Ratna, apa kabar? Saya ada di dekat rumah Ibu. Kebetulan saya habis mengantar pesanan ke tetangga sebelah. Apakah Ibu sedang sibuk?"*

Ratna tersenyum, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia mengetik balasan. *"Kabar baik, Pak Budi. Saya sedang santai saja. Ada apa ya?"*

*"Kalau Ibu tidak keberatan, bolehkah saya bertemu sebentar? Saya ingin mengajak Ibu jalan-jalan singkat. Hanya makan malam sederhana di warung lesehan dekat jembatan lama. Tidak formal, hanya ingin mengobrol lepas dari layar ponsel."*

Ratna terpaku. Ajakan kencan. Kata itu terdengar asing di telinganya setelah sekian tahun menjadi istri dan kemudian janda. Rasa gugup bercampur dengan antisipasi menyergap dadanya. Ia menoleh ke dalam rumah. Lily sedang belajar di kamarnya, pintu tertutup. Nenek Surti sedang tidur siang di kamar belakang. Ini adalah kesempatan emas, namun juga momen yang menuntut keberanian.

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengetik. *"Baik, Pak. Tapi saya harus izin dulu ke Mama dan pastikan Lily aman. Beri saya waktu sepuluh menit."*

*"Tentu, Bu. Saya tunggu di gerbang depan. Tidak perlu terburu-buru."*

Ratna bangkit, merapikan kebaya birunya, dan menyisir rambutnya yang sedikit acak-acakan. Ia berjalan menuju kamar Nenek.

"Ma," panggil Ratna pelan, membuka pintu kamar neneknya. Nenek Surti terbangun, menggosok matanya.

"Iya, Rat? Ada apa?"

"Mama, temanku, Pak Budi... dia ada di luar. Dia mau mengajak Ratna jalan-jalan sebentar, makan malam di warung dekat sini. Boleh nggak, Ma?" tanya Ratna, suaranya sedikit ragu. Ia takut Nenek akan melarang atau bertanya terlalu banyak.

Nenek Surti tersenyum bijak, seolah sudah membaca isi hati cucu perempuannya. "Pak Budi yang teman sekolahmu dulu? Yang baik hati itu?"

"Iya, Ma. Dia orangnya sopan dan baik."

"Pergilah, Nak," kata Nenek lembut. "Kamu sudah dua tahun menderita di sana. Sekarang giliran kamu menikmati hidup. Jangan merasa bersalah. Lily sudah besar, dia bisa jaga diri sendiri sebentar. Dan Mama juga sehat. Pergilah, Ratna. Cari kebahagiaanmu."

Air mata haru menggenang di mata Ratna. "Terima kasih, Ma. Mama pengertian banget."

"Nggak usah terima kasih. Cepat ganti sepatumu, nanti tamunya menunggu," canda Nenek sambil mengusir Ratna pelan.

Ratna kembali ke kamarnya, mengganti sandal jepitnya dengan sepatu flat yang nyaman. Ia mengambil tas kecil, memastikan dompet dan ponselnya ada di dalamnya. Sebelum keluar, ia menulis catatan kecil dan menempelkannya di kulkas: *"Lil, Mama keluar sebentar sama teman. Makan malam sudah ada di meja, tinggal dipanaskan. Belajar yang rajin ya. Love, Mama."*

Ia melangkah keluar rumah dengan langkah ringan namun hati-hati. Di gerbang depan, Budi sudah berdiri bersandar pada motor tuanya yang bersih. Ia mengenakan kemeja lengan panjang putih yang rapi dan celana kain hitam. Saat melihat Ratna keluar, wajah Budi bersinar.

"Selamat sore, Bu Ratna," sapa Budi ramah, membungkukkan badan sedikit.

"Sore, Pak Budi," jawab Ratna, tersenyum malu-malu. "Maaf membuat Bapak menunggu."

"Tidak masalah. Justru saya senang bisa melihat Ibu tampil cantik hari ini. Warna biru itu sangat cocok dengan Ibu," puji Budi tulus, tanpa nada menggoda yang berlebihan.

Ratna merasa pipinya memanas. "Ah, Bapak bisa saja. Ini cuma baju biasa."

"Baju biasa yang dikenakan oleh wanita istimewa tetap terlihat istimewa," balas Budi sambil tertawa kecil. Ia menunjuk motornya. "Kita naik motor saja ya? Warungnya tidak jauh, cuma lima menit. Atau Ibu lebih nyaman jalan kaki?"

"Naik motor saja, Pak. Biar cepat sampai," jawab Ratna. Ia naik ke belakang motor Budi, memegang pegangan belakang dengan erat. Aroma sabun mandi yang segar dari tubuh Budi tercium samar, memberikan rasa aman yang aneh baginya.

Perjalanan singkat itu menyenangkan. Angin sore menerpa wajah mereka, membawa aroma sungai dan masakan gorengan dari warung-warung di sepanjang jalan. Mereka tiba di sebuah warung lesehan sederhana di tepi sungai kecil. Tempat itu ramai oleh warga lokal, namun ada sudut tenang di bawah pohon beringin besar yang menghadap ke aliran air.

Mereka memesan nasi goreng spesial dan es teh manis. Saat makanan datang, Budi mempersilakan Ratna untuk makan terlebih dahulu.

"Makan dulu, Bu. Jangan sampai dingin," kata Budi.

Ratna mengangguk, mulai menyendok nasi gorengnya. Rasanya enak, gurih, dan hangat. Suasananya santai, jauh dari ketegangan meja makan mewah di rumah mantan suaminya dulu.

"Enak sekali," komentar Ratna.

"Syukurlah. Pemilik warung ini teman lama saya juga. Masakannya memang juara," kata Budi sambil tersenyum. Ia tidak langsung makan, melainkan menatap Ratna dengan tatapan lembut. "Bagaimana perasaan Ibu malam ini? Apakah nyaman?"

Ratna menelan suapan terakhirnya, lalu menatap Budi. "Jujur, Pak... saya gugup. Ini pertama kalinya saya 'kencan' sejak... ya, sejak lama sekali. Saya merasa aneh, tapi juga senang. Senang karena ada yang mengajak saya keluar, bukan untuk meminta sesuatu, tapi hanya untuk mengobrol."

Budi mengangguk paham. "Saya mengerti. Saya juga gugup, Bu. Saya takut salah bicara, takut membuat Ibu tidak nyaman. Tapi saya ingin Ibu tahu, niat saya murni. Saya menghormati Ibu sebagai wanita yang kuat, sebagai ibu yang hebat, dan sebagai teman yang menyenangkan. Tidak ada tekanan. Kita bisa pulang kapan saja jika Ibu merasa tidak nyaman."

Kata-kata Budi menenangkan hati Ratna. Ia menyadari bahwa Budi benar-benar berbeda. Ia tidak terburu-buru, tidak agresif, dan sangat menghargai batas-batas personal.

"Terima kasih, Pak Budi. Saya merasa nyaman sekarang," ucap Ratna tulus. "Ceritakan tentang Bapak. Apa hobi Bapak selain mengurus toko?"

Budi mulai bercerita tentang hobinya memelihara ikan hias dan membaca buku sejarah. Ratna mendengarkan dengan seksama, sesekali menyela dengan pertanyaan atau tertawa geli mendengar kelucuan cerita Budi. Obrolan mereka mengalir deras, membahas segala hal dari politik hingga resep masakan. Waktu terasa berjalan begitu cepat. Langit telah gelap, bintang-bintang mulai bermunculan.

"Sudah malam, Bu," kata Budi melihat jam tangannya. "Sepertinya kita harus pulang. Lily pasti sudah menunggu."

Ratna terkejut menyadari waktu telah berlalu dua jam. "Ya ampun, sudah segini ya? Terima kasih banyak, Pak Budi. Malam ini sangat menyenangkan."

"Sama-sama, Bu Ratna. Ini juga pengalaman yang sangat berharga bagi saya," jawab Budi sambil berdiri dan membantu Ratna berdiri.

Di perjalanan pulang, suasana di motor terasa lebih akrab. Ratna tidak lagi memegang pegangan belakang dengan kaku, melainkan sedikit bersandar, merasakan kehangatan punggung Budi yang melindungi dari angin malam.

Saat mereka tiba di depan rumah Nenek, lampu teras masih menyala. Ratna turun dari motor, hatinya berdebar-debar.

"Terima kasih sudah mengantarkan saya, Pak Budi," ucap Ratna.

"Sama-sama, Bu. Hati-hati di dalam. Sampai jumpa besok?" tanya Budi, matanya berharap.

Ratna tersenyum, sebuah senyuman yang penuh janji. "Sampai jumpa besok, Pak Budi."

Budi melambaikan tangan sebelum memutar balik motornya. Ratna berdiri di gerbang, menatap punggung Budi yang menjauh, hingga hilang di belokan jalan. Ia menyentuh dadanya, merasakan detak jantung yang tenang namun bahagia. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia merasa dilihat bukan sebagai korban, melainkan sebagai wanita utuh yang berhak dicintai.

Ia masuk ke dalam rumah. Lily sudah tertidur di meja belajar, kepalanya tertunduk di atas buku terbuka. Ratna tersenyum, mencium kening putrinya pelan, lalu menutupkan selimut di bahu Lily. Ia tidak akan menceritakan detail kencannya malam ini. Itu adalah rahasia kecilnya, sebuah permulaan baru yang ia simpan rapat-rapat di hati, siap untuk mekar di waktu yang tepat. Malam itu, Ratna tidur dengan senyuman di bibirnya, mimpi indah tentang masa depan yang tidak lagi sendirian.

1
Unaa
maafkan yaa kalo banyak typo nyaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!