Aisha Senjani mahasiswa matematika yang baru menyelesaikan pendidikannya di universitas luar negeri dan mendapatkan pekerjaan di sana. Setelah kurang lebih sebulan ia mengambil cuti untuk pulang ke tanah air, sejak menyelesaikan pendidikannya ia belum pernah sama sekali pulang kampung. Dihari kepulangannya ternyata di rumah sedang ada acara pernikahan sang kakak, ia tidak tahu sama sekali tentang hal itu.
Namun, sang kakak kabur disaat mempelai Pria dan rombongan sudah datang. Pihak pria tidak ingin membatalkan karena akan merusak nama baik keluarganya. Sehingga sang mempelai meminta Aisha jadi penggantinya.
Apakah Aisha akan menerima perkawinan tiba-tiba ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizza Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab19
Sore itu, Edinburgh diselimuti nuansa keemasan yang menawan. Mobil yang dikendarai Anton membelah jalanan batu yang basah usai diguyur rintik hujan tipis.
Di sepanjang perjalanan, mata Aisha tak berhenti berbinar menikmati lanskap kota purba tersebut.
Gedung-gedung bergaya arsitektur Gotik dan Neoklasik berdiri kokoh penuh sejarah. Dinding-dinding batu berwarna kelabu gelap yang dipadu dengan atap runcing bertingkat membuat kota itu terasa bagaikan gambaran kota dalam negeri dongeng.
Cahaya lampu jalanan berwarna kuning hangat mulai menyala satu per satu, memantulkan bayangan estetik di atas permukaan jalanan batu yang basah.
Anton sesekali melirik ke arah Aisha melalui kaca spion dalam. Melihat binar kagum di mata gadis itu, senyum tipis terukir di bibirnya.
"Kenapa kamu memilih melanjutkan pendidikan dan bekerja di sini, Aisha?" tanya Anton membuka percakapan. "Kenapa tidak ke negara lain? London, misalnya? Atau Amerika?"
"Sejak pertama kali saya lihat foto kota ini di media sosial, saya langsung terpikat. Arsitektur gedung-gedung batunya yang klasik, suasananya yang tenang... apalagi saat hujan turun. Buat saya, Edinburgh punya kedamaian dan keindahan yang beda dari kota lain."
Anton mengangguk-angguk pelan, menikmati cara Aisha bercerita dengan tulus. "Jadi, Edinburgh itu mimpi yang jadi kenyataan buat kamu?"
"Bisa dibilang begitu, Pak," sahut Aisha.
Tak lama kemudian, mobil Anton berhenti di pelataran sebuah restoran elegan berlatar pemandangan kastil tua.
Ternyata, Tania sudah sampai lebih dahulu di sana. Sebelum melangkah masuk ke dalam restoran untuk makan malam, langkah mereka bertiga terhenti di teras terbuka.
Di langit sore yang mulai gelap, letupan kembang api berwarna-warni mendadak membumbung tinggi, memancarkan binar cahaya indah yang menerangi gedung-gedung tua di sekitar mereka.
Aisha menatap gemerlap kembang api itu dengan senyum merekah, membiarkan angin dingin Edinburgh mengibarkan ujung jilbabnya.
"Indah sekali..." gumam Aisha pelan.
Begitu pertunjukan kembang api usai, Aisha meminta izin sebentar. "Pak Anton, Miss Tania... saya izin ke masjid terdekat dulu ya untuk melaksanakan shalat maghrib."
"Tentu, Aisha. Kami tunggu di meja dalam," balas Tania ramah.
Usai menunaikan ibadah, Aisha kembali ke restoran dan bergabung di meja makan yang sudah dipesan. Setelah makanan dihidangkan, Anton berdehem pelan, memajukan tubuhnya untuk menyampaikan hal penting yang sempat tertunda di kantor tadi.
"Aisha," panggil Anton dengan pelan. "Hal penting yang saya bilang tadi... Sebenarnya saya ingin mengajak kamu ikut pergi bersama saya ke perusahaan cabang selama tiga hari."
Deg.
Aisha tersentak kaget. "E-eh? Ikut dengan Bapak? Kenapa?"
Anton melirik Tania di sebelahnya, lalu berdehem kaku. "Itu... sebenarnya itu permintaan Tania. Dan makan malam ini pun usulan dari Tania karena hari ini dia sedang ulang tahun."
Tania, yang sadar betul bahwa sang kakak hanya sedang mencari alasan demi bisa membawa Aisha, langsung mengangguk santai dengan cengiran tanpa dosa. "Yup! Benar banget, Aisha."
Aisha yang polos menatap Anton dan Tania bergantian dengan raut wajah bingung. "Tapi... kenapa Pak Anton mau menuruti ajakan Miss Tania? Apakah... kalian berdua pasangan?"
Uhuk!
Tania yang sedang menyesap minumannya langsung tertawa terbahak-bahak sampai menepuk meja, sementara Anton hanya bisa tersenyum kaku dengan rona merah yang pelan-pelan menjalar ke telinganya.
"Ya ampun, Aisha!" gelak Tania seraya menyapu sudut matanya yang berair. "Bukan! Kami bukan pasangan!"
Tania lalu menatap Aisha. "Sebenarnya... saya ini adik kandungnya Pam Anton."
Mata Aisha membelalak bulat. "A-adik?!"
"Iya," jelas Tania. "Selama ini di kantor saya memang menyembunyikan identitas ini karena saya tidak ingin ada karyawan lain yang tahu atau bersikap canggung. Tapi di luar kantor, dia ini kakak saya."
Aisha mengangguk-angguk paham. "Ooh... begitu. Tapi Miss... soal pergi tiga hari itu, saya kan tidak punya izin resmi dari perusahaan. Masa cuti saya juga sudah mulai besok."
"Soal itu kamu tenang saja," potong Tania cepat. "Saya yang minta bantuan kamu. Di cabang sana kondisinya sedang kacau, dan kamu itu sangat pintar serta cekatan. Kamu cuma perlu bantu selama tiga hari saja, setelah itu saya dan kamu bisa langsung terbang balik. Tapi Pak Anton tetap tinggal di sana dua bulan."
Tania mencondongkan tubuhnya, menatap Aisha untuk meyakinkannya. "Di sana kamu juga bisa belajar banyak hal baru soal operasional lapangan. Anggap saja ini pengalaman berharga sebelum kamu cuti panjang."
Aisha terdiam sejenak, menimbang ucapan Tania di dalam hatinya. Setelah dipikir-pikir, tawaran itu memang sangat bagus untuk pengembangan kariernya.
"Baiklah kalau begitu, Miss... Pak Anton," ujar Aisha akhirnya seraya tersenyum tulus. "Saya setuju. Terima kasih banyak ya sudah mengizinkan saya ikut andil dalam pembenahan perusahaan cabang."
"Sama-sama, Aisha," balas Anton lembut.
Mereka pun melanjutkan makan malam dengan suasana yang kian mencair. Namun di tengah-tengah makan, sifat usil Tania kembali muncul. Ia menatap Aisha dengan pandangan penasaran.
"Aisha..." panggil Tania santai. "Kamu sebenarnya sudah punya pacar atau suami belum sih di Indonesia?"
Aisha tersentak kaget, nyaris tersedak air minumnya. "Eh? Belum ada, Miss. Saya belum punya pacar atau suami."
Anton hanya menyimak diam-diam di kursinya, namun telinganya terpasang tajam mendengarkan setiap kata.
"Kenapa belum punya?" cecar Tania keheranan. "Padahal kamu itu cantik, pintar, alim lagi. Masa tidak ada pria yang mendekati?"
"Karena... saya memang belum ada pikiran ke arah sana, Miss."
"Oh iya, saya baru teringat," sela Tania. "Di ajaran agama Islam kan memang tidak boleh pacaran ya?"
"Iya, Miss," sahut Aisha santai. "Dalam Islam tidak ada istilah pacaran."
"Lalu... bagaimana cara kalian mengenal calon pasangan sebelum menikah kalau tidak pacaran?" tanya Tania penasaran.
"Ada proses namanya Ta'aruf," terang Aisha halus. "Di sana kita saling mengenalkan diri, latar belakang, visi misi hidup, dan prinsip secara terhormat dengan didampingi perantara atau keluarga, tanpa harus berduaan."
Tania mengangguk-angguk paham, lalu matanya melirik jahil ke arah Anton yang duduk tegap di sebelahnya. "Terus... pria tipe seperti apa yang kamu cari, Aisha? Siapa tahu teman saya... atau seseorang di dekat sini ada yang bisa dijodohkan dengan kamu?"
Anton berusaha bersikap acuh tak acuh meski hatinya berdebar menanti jawaban.
Aisha tersenyum lembut, menjawab dengan lugas. "Kriteria saya sederhana, Miss. Yang penting dia seiman dan pria yang bertanggung jawab."
"Kalau... tidak seiman tidak bisa, ya?" pancing Tania lagi.
"Dalam ajaran agama saya, tidak diperbolehkan menikah beda keyakinan, Miss. Harus memiliki keyakinan yang sama," tutur Aisha jujur dan penuh ketegasan.
"Tapi bagaimana kalau pria itu rela berpindah agama demi bisa menikah dengan kamu?" tanya Tania mendalam, matanya kembali melirik Anton.
Anton menahan napasnya sejenak.
"Jujur, saya tidak menginginkannya, Miss."
Tania tertegun kaget. "Lho? Kok begitu? Bukankah itu artinya dia sudah berjuang sangat besar untuk kamu sampai rela pindah agama?"
Aisha mengulas senyum tipis.
"Saya sangat menghargai niat dan perjuangannya demi saya," ujar Aisha.
"Tapi... saya ingin dia berpindah agama bukan karena ingin menikahi saya, melainkan karena keyakinan yang benar-benar murni dari dalam hatinya kepada Tuhan. Saya tidak mau menjadi alasan seseorang meninggalkan Tuhan yang selama ini ia yakini hanya demi wujud seorang manusia."
Tania dan Anton terdiam seribu bahasa, terpaku mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir gadis itu.
"Menikah beda keyakinan lalu memaksa salah satu berpindah tanpa ketulusan itu berat, Miss," lanjut Aisha penuh empati.
"Pasti banyak hal besar yang harus dia korbankan... terutama keluarganya. Kalau keluarganya merestui dan mendukung, saya sangat bersyukur. Tapi kalau tidak? Dia bisa menjadi anak yang durhaka dan memutus tali silaturahmi dengan orang tuanya demi saya. Saya tidak sanggup menanggung dosa itu."
Aisha menatap Tania dan Anton bergantian dengan binar mata yang teduh.
"Bagi saya, pernikahan itu sakral. Pernikahan bukan sekadar menyatukan dua insan yang saling mencintai, tapi menyatukan dua keluarga, dua doa, dan dua iman di jalan yang sama."
Keheningan melingkupi meja makan itu selama beberapa saat. Ucapan Aisha yang begitu dalam dan penuh prinsip menembus dada Anton bagaikan anak panah.