NovelToon NovelToon
Babu Yang Dicintai

Babu Yang Dicintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Bad Boy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

“Dia cuma budak. Dia harus ngerasain gimana susahnya hidup kalau nggak nurut sama gue.”~Reja Alfarizi Bagaskara

Celin Amara Kusuma tak pernah menyangka utang ayahnya akan menyeretnya ke dalam keluarga Bagaskara—bahkan membuat hidupnya terikat pada Reja, pemuda arogan yang menganggapnya hanya sebagai jaminan.

“Nggak akan ada cinta di sini, Celin. Cuma ada gue sebagai tuan lo.”

Bagi Reja, Celin adalah hukuman atas kebebasan yang dirampas ayahnya. Namun semakin ia berusaha menghancurkan gadis itu, semakin sulit ia mengabaikan keberanian dan keteguhan Celin.

Ketika kebencian perlahan berubah menjadi rasa yang tak bisa dijelaskan, siapa sebenarnya yang akan menjadi babu dari perasaan mereka sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Kirei mematung. Matanya membelalak sempurna seolah baru saja mendengar berita kematian. "Nikah?! Apa maksud lo? Lo bercanda kan, Celin?!"

"Gue nggak bercanda," Celin mendongak, menunjukkan wajahnya yang sembab dan penuh keputusasaan.

Kirei menutup mulutnya rapat-rapat, mencoba mencerna setiap kalimat yang keluar dari bibir Celin.

"Jadi... lo beneran udah jadi istrinya Reja? Secara sah?" tanya Kirei dengan suara bergetar.

Celin mengangguk lemah. "Adrian Bagaskara, Papa Reja... dia orang yang sangat baik, Rei. Dia yang biayain semua utang bokap gue tanpa syarat. Dia bilang, dia nggak mau liat potensi dan masa depan gue hancur cuma gara-gara kesalahan bokap. Dia tulus pengen gue dapet hidup yang layak, makanya dia nikahin gue sama Reja. Dia berharap gue bisa jadi pengaruh baik buat Reja."

Celin menyeka air matanya, suaranya terdengar semakin pahit. "Tapi niat baik Adrian justru jadi neraka buat gue. Reja ngerasa gue ini beban. Dia ngerasa gue adalah penghalang kebebasannya. Adrian nggak tahu kalau di belakangnya, Reja memperlakukan gue kayak sampah."

"Jadi... selama ini lo tinggal satu rumah sama monster itu? Tiap hari lo disiksa?"

"Dia benci gue, Rei. Dia ngerasa gue ngerusak kebebasannya. Dia anggap gue budak yang bisa dia injak kapan aja," Celin meremas ujung seragamnya.

"Tolong, Rei... jangan kasih tahu siapa-siapa. Terutama Rian. Kalau Reja tahu gue cerita ke orang lain, dia bakal hancurin bokap gue dan mungkin dia bakal celakain lo juga."

Kirei langsung bangkit dan memeluk sahabatnya itu dengan erat. Keduanya menangis di pojok cafe yang remang-remang. Kirei baru menyadari bahwa kemewahan yang ia sangka melindungi Celin, ternyata adalah penjara paling mengerikan yang pernah ada.

"Gue nggak akan biarin lo sendirian lagi, Celin," bisik Kirei dengan dendam yang mulai tumbuh terhadap Reja. "Gue janji."

Tanpa mereka sadari, di luar cafe, sebuah motor sport hitam baru saja berhenti. Reja berdiri di sana, melihat pemandangan dari balik kaca cafe dengan tatapan dingin.

Ia tidak tahu apa yang dibicarakan, tapi melihat Celin menangis di pelukan Kirei membuat rahangnya kembali mengeras.

Reja masuk dengan langkah angkuh, helmnya ditenteng di tangan kiri. Matanya langsung tertuju pada wajah Celin yang sembab dan Kirei yang menatapnya dengan pandangan penuh kebencian.

"Lama banget," ketus Reja sambil melirik jam tangannya. "Lo pikir gue supir pribadi yang harus nungguin lo curhat berjam-jam?"

Kirei baru saja akan membuka mulut untuk memaki, namun Celin menarik ujung baju sahabatnya itu dengan kencang, memberi isyarat 'jangan'.

"Ayo balik, gue udah selesai," ucap Celin cepat.

Reja menyipitkan mata, ia melangkah maju hingga berdiri tepat di depan Celin. Ia mengabaikan Kirei sepenuhnya. "Lo nangis? Kenapa? Temen lo ini baru tau kalau hidup lo nggak seindah di dongeng?"

"Nggak ada urusannya sama lo," jawab Celin berani, meski suaranya masih serak.

Reja tersenyum miring, sebuah smirk yang penuh penghinaan. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Celin, sengaja membuat Kirei melihat betapa dia berkuasa atas gadis itu.

"Lo bener-bener monster, Reja!" desis Kirei dengan gigi terkatup.

Reja hanya tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat menjengkelkan. Ia menyambar lengan Celin dengan kasar. "Ayo pulang. Papa udah nunggu buat makan malem bareng. Pasang muka bahagia lo, jangan sampe Papa liat mata lo yang bengkak itu kalau lo nggak mau gue kasih 'hadiah' tambahan pas pintu kamar dikunci nanti."

Celin terpaksa mengikuti langkah lebar Reja keluar cafe. Kirei hanya bisa berdiri mematung di tengah cafe, menatap punggung sahabatnya yang diseret masuk ke dalam kegelapan.

Ia menyadari satu hal, Adrian mungkin berniat memberikan Celin sayap untuk terbang, tapi Reja lah yang setiap hari mematahkan sayap itu tanpa ampun.

---

Suasana ruang makan yang biasanya kaku kini terasa jauh lebih menekan. Denting sendok dan garpu di atas piring porselen terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur ledakan besar.

Adrian duduk di kepala meja dengan wibawa yang tak tergoyahkan, sementara Livia hanya diam, meski raut wajahnya menunjukkan ketidaksetujuan yang tertahan.

Adrian meletakkan serbetnya, lalu menatap Reja dan Celin bergantian.

"Papa sudah memikirkan ini matang-matang," buka Adrian dengan suara baritonnya yang tenang.

"Beberapa bulan lagi kalian akan lulus SMA. Sudah saatnya kalian belajar mandiri sebagai pasangan suami istri yang sebenarnya."

Reja berhenti mengunyah. Firasatnya memburuk.

"Papa sudah menyiapkan rumah. Tidak terlalu besar, tapi cukup untuk kalian berdua dan seorang ART yang akan membantu mengurus rumah. Papa ingin kalian tinggal di sana, terpisah dari Papa dan Mama," lanjut Adrian.

"Pa! Apa-apaan sih?" Reja menyela dengan nada tinggi. "Kenapa harus pindah? Reja belum siap ngurus rumah tangga sendiri!"

"Bukan cuma rumah, Reja," Adrian mengabaikan protes anaknya. "Mulai bulan depan, Papa ingin kamu mulai masuk ke kantor. Kamu akan belajar di divisi operasional setelah pulang sekolah. Bagaimana pun, kamu adalah pewaris tunggal. Kamu harus tahu bagaimana uang dihasilkan agar kamu bisa menghidupi Celin dengan tanganmu sendiri."

Reja tertawa hambar, matanya menyipit penuh amarah. "Menghidupi dia? Pake uang Reja sendiri? Pa, Reja masih sekolah! Reja masih mau main sama temen-temen Reja! Kenapa Papa maksa Reja jadi orang dewasa secepat ini buat cewek yang bahkan nggak pernah Reja mau?!"

Brak!

Adrian menggebrak meja, membuat Celin tersentak dan menunduk dalam.

"Jaga bicaramu, Reja! Celin adalah tanggung jawabmu! Papa tidak mau mendengar alasan anak kecil lagi," suara Adrian meninggi.

"Kalau kamu menolak, semua fasilitas kamu—mobil, motor, kartu kredit, sampai koneksi internet di kamarmu akan Papa cabut. Kamu mau jadi gelandangan? Silakan."

Reja terdiam, napasnya memburu. Ia melirik Celin dengan tatapan yang seolah ingin menguliti gadis itu hidup-hidup. Baginya, Celin adalah pembawa sial.

Karena gadis inilah, masa mudanya yang bebas kini dirampas untuk bekerja di kantor yang membosankan demi memberi makan benalu yang ia benci.

"Ini nggak adil," desis Reja dengan gigi terkatup. "Papa nyuruh Reja kerja keras, buang waktu Reja, cuma buat kasih makan dia? Buat kasih dia kemewahan?!"

"Dia istrimu, Reja. Memberi dia nafkah adalah harga dirimu sebagai laki-laki," ucap Adrian final. "Keputusan Papa sudah bulat. Akhir pekan ini, kalian pindah."

Reja langsung berdiri, mendorong kursinya hingga terjungkal ke belakang. Tanpa pamit, ia melangkah lebar meninggalkan ruang makan menuju kamarnya.

Celin hanya bisa mematung. Ia tahu, tinggal di rumah yang berbeda dengan Adrian berarti ia akan kehilangan satu-satunya perlindungan yang ia miliki.

Di rumah baru itu nanti, tidak akan ada yang bisa menghalangi Reja untuk melakukan apa pun padanya.

Bersambung....

1
Nelson Sihombing
semangat celin
araaself
lanjutttt
Alia Chans: siap kak🔥🔥
total 1 replies
Nelson Sihombing
cerita yang seru lagi nih....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!