NovelToon NovelToon
The Eternal Sovereign: Aku Mewarisi Takdir Yang Seharusnya Tidak Ada

The Eternal Sovereign: Aku Mewarisi Takdir Yang Seharusnya Tidak Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Misteri
Popularitas:319
Nilai: 5
Nama Author: Bagas Hirmawan

Di dunia tempat Surga mengendalikan takdir dan kekuatan menentukan segalanya, Gu Chenxiao adalah anomali yang tidak pernah tercatat dalam Kitab Surga.

Dengan bantuan Arsip Pengamat Abadi, ia menapaki Dao Iblis yang menentang hukum kosmos. Ia bukan pahlawan yang menyelamatkan dunia, melainkan manipulator yang mempermainkan takdir, memanfaatkan pengkhianatan, dan menjadikan musuh sebagai bidak dalam rencana jangka panjangnya.

Namun, ketika Fondasi Asal mulai mengoreksi keberadaannya, Gu Chenxiao menyadari bahwa dunia yang ia kenal hanyalah sebagian kecil dari rahasia kosmos.

**Jika Surga menentukan takdir semua makhluk, siapa yang berani menentukan takdir Surga?**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 — Orang yang Berbohong Terlalu Cepat

Pagi berikutnya, kediaman Klan Gu menjadi lebih ramai daripada biasanya.

Pengumuman mengenai ujian generasi muda telah ditempelkan di tiga gerbang utama. Seluruh keturunan inti diwajibkan hadir sebelum matahari mencapai puncaknya, sementara para murid cabang diperbolehkan menyaksikan pertandingan dari tribun luar. Bagi sebagian orang, ujian itu hanyalah kesempatan untuk mengukur kemajuan kultivasi. Bagi yang lain, hasilnya dapat menentukan jumlah sumber daya yang akan mereka terima selama setahun berikutnya.

Di dalam keluarga kultivasi, kedudukan bukan sekadar gelar. Ia menentukan siapa yang mendapat pil lebih baik, siapa yang memperoleh teknik lebih tinggi, siapa yang diizinkan memasuki tempat latihan khusus, dan siapa yang harus menunggu sampai kesempatan berikutnya datang.

Karena itu, tidak sedikit murid yang menganggap ujian generasi muda sebagai pertarungan untuk masa depan mereka sendiri.

Gu Chenxiao tiba di aula pendaftaran ketika daftar peserta hampir selesai diperiksa. Ia mengenakan jubah hitam yang sama seperti biasanya, tanpa hiasan mencolok ataupun senjata yang menarik perhatian. Di tangannya terdapat sebuah token kayu bertuliskan namanya.

Seorang pengurus memeriksa token tersebut, kemudian mengangkat kepala. “Pewaris Gu Chenxiao. Tahap menengah Pembangunan Fondasi?”

“Benar.”

Pengurus itu menandai daftar. “Pertandingan pertama akan dimulai setelah seluruh peserta berkumpul. Silakan menunggu di sisi timur.”

Gu Chenxiao menerima kembali tokennya dan berjalan menuju tempat yang ditunjukkan. Di sepanjang jalan, ia melihat beberapa wajah yang dikenalnya. Gu Mingyuan sedang berbicara dengan dua murid yang lebih muda, sedangkan Gu Han berdiri tidak jauh dari panggung, dengan ekspresi yang menunjukkan bahwa ia masih belum sepenuhnya menerima kekalahannya kemarin.

Ketika pandangan mereka bertemu, Gu Han memalingkan wajah.

Gu Chenxiao tidak memedulikannya.

Kekalahan kecil sering kali lebih berguna daripada kemenangan besar, terutama ketika kekalahan itu membuat seseorang merasa perlu membuktikan sesuatu. Orang yang ingin membuktikan dirinya cenderung memilih pertarungan yang dapat dilihat orang lain, mengambil risiko yang sebenarnya tidak diperlukan, dan mengabaikan kesempatan yang tidak memberikan pujian langsung.

Namun, Gu Chenxiao tidak menganggap Gu Han sebagai lawan yang berbahaya. Setidaknya, belum ada alasan untuk melakukannya.

“Saudara Chenxiao.”

Suara itu datang dari sebelah kiri. Lin Yue, pemuda berjubah putih yang ditemuinya kemarin, berjalan mendekat sambil membawa sebuah kipas lipat.

“Kau datang lebih awal,” kata Lin Yue.

“Begitu juga kau.”

“Aku ingin melihat siapa yang akan mendapat perhatian para tetua hari ini. Ujian seperti ini biasanya lebih menarik daripada yang terlihat.”

“Apakah kau datang untuk menonton atau bertarung?”

Lin Yue tersenyum. “Keduanya, jika keadaan mengizinkan.”

Gu Chenxiao memandang token di tangannya. “Kalau begitu, semoga kau mendapatkan lawan yang sesuai.”

“Dan kau?”

“Aku berharap mendapatkan lawan yang tidak terlalu merepotkan.”

Lin Yue tertawa kecil. “Itu harapan yang cukup sederhana bagi seseorang yang akan mengikuti ujian.”

“Harapan sederhana lebih mudah dipenuhi.”

Sebelum Lin Yue sempat menjawab, lonceng besar di atas panggung berbunyi. Para peserta segera mengambil tempat, dan seorang tetua berjubah abu-abu berdiri di tengah arena.

“Ujian generasi muda Klan Gu dimulai sekarang. Pertandingan pertama akan menentukan siapa yang berhak memasuki tahap kedua. Kemenangan diperoleh dengan membuat lawan menyerah, keluar dari batas arena, atau kehilangan kemampuan untuk melanjutkan pertarungan. Serangan yang mengancam nyawa dilarang. Pelanggar akan didiskualifikasi.”

Ia berhenti sejenak, memastikan seluruh peserta mendengarkan.

“Jangan mengira bahwa hasil satu pertandingan menentukan masa depan kalian. Tetapi jangan pula menganggap bahwa kekalahan tidak memiliki harga.”

Namanya Gu Zhen, salah satu tetua yang bertanggung jawab atas pelatihan generasi muda. Ia tidak memiliki reputasi sebagai ahli yang paling kuat di keluarga, tetapi dikenal tegas dan tidak mudah dipengaruhi.

Setelah penjelasan singkat, daftar pertandingan diumumkan.

Gu Chenxiao mendapat giliran ketujuh.

Lawannya bernama Gu Shiming, seorang murid cabang yang telah mencapai tahap akhir Pembangunan Fondasi. Ia memiliki tubuh kurus, rambut pendek, dan tatapan yang terus bergerak ke arah para tetua di tribun utama. Ketika nama mereka diumumkan, ia menangkupkan tangan kepada Gu Chenxiao dengan sikap hormat.

“Mohon petunjuknya, Tuan Muda.”

Gu Chenxiao membalas salamnya. “Kita bertukar pengalaman. Tidak perlu terlalu formal.”

Gu Shiming tersenyum, tetapi jemarinya mengepal sebentar sebelum kembali rileks.

Sebuah gerakan kecil.

Hampir tidak terlihat.

Gu Chenxiao menyimpannya dalam ingatan.

Pertandingan dimulai dengan serangan langsung dari Gu Shiming. Ia menggunakan teknik pedang dasar Klan Gu, mengayunkan bilah kayu menuju bahu Gu Chenxiao. Gerakannya cepat dan cukup rapi, tetapi tidak menunjukkan sesuatu yang luar biasa.

Gu Chenxiao menghindar, lalu menangkis serangan berikutnya dengan lengan.

Dua orang bertukar beberapa gerakan sebelum Gu Shiming mundur dan mengubah posisi. Ia tidak memaksa pertarungan jarak dekat. Sebaliknya, ia menjaga jarak, memancing Gu Chenxiao untuk bergerak maju, kemudian melancarkan serangan ketika lawannya menapakkan kaki.

Strategi itu tidak buruk.

Namun, setelah beberapa kali pertukaran, Gu Chenxiao mulai memperhatikan bahwa lawannya selalu mengalihkan pandangan ke arah tribun utama setiap kali pertarungan memasuki jeda.

Bukan ke arah Gu Taichu.

Bukan pula ke arah pengawas pertandingan.

Melainkan kepada seorang lelaki berpakaian sederhana yang duduk di barisan kedua, di antara para pengelola gudang dan petugas administrasi keluarga.

Gu Chenxiao tidak mengenal lelaki itu secara pribadi. Akan tetapi, ia mengenali lambang kecil yang terpasang di ikat pinggangnya.

Lambang pengelolaan sumber daya.

Serangan Gu Shiming kembali datang. Gu Chenxiao memiringkan tubuh dan membiarkan pedang kayu lawannya melintas di depan dada. Ia kemudian mendorong pergelangan tangan Gu Shiming, membuat pemuda itu kehilangan keseimbangan selama sesaat.

Namun, ia tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk mengakhiri pertarungan.

Ia justru mundur.

Gu Shiming tertegun, kemudian kembali mengambil posisi.

Mereka bertukar beberapa serangan lagi sebelum Gu Chenxiao akhirnya menginjak sisi luar lingkaran arena dengan sengaja, memberikan ruang bagi lawannya untuk menyerang. Gu Shiming langsung bergerak maju, tetapi langkahnya terlalu panjang. Ketika ia menyadari bahwa Gu Chenxiao telah menggeser tubuh, momentum serangannya sendiri membuatnya melewati batas arena.

“Gu Chenxiao menang!”

Sorak-sorai kecil terdengar dari tribun.

Gu Shiming berdiri di luar garis arena dengan wajah pucat. Ia tampak lebih terkejut daripada marah, seolah-olah hasil pertandingan itu bukan sesuatu yang telah ia perkirakan.

Gu Chenxiao mengulurkan tangan. “Pertarungan yang bagus.”

Gu Shiming menatap tangannya sesaat sebelum menerimanya. “Aku kalah.”

“Dalam pertarungan, itu bisa terjadi.”

Gu Chenxiao tidak mempermalukannya di hadapan penonton. Ia juga tidak bertanya mengapa lawannya terus melihat ke tribun utama. Jika Gu Shiming memang sedang menunggu isyarat dari seseorang, pertanyaan semacam itu hanya akan membuatnya menutup diri.

Lebih baik membiarkannya percaya bahwa tidak ada yang diperhatikan.

Ketika Gu Chenxiao kembali ke sisi arena, Lin Yue telah menunggunya.

“Kau sengaja membiarkannya menyerang beberapa kali,” kata Lin Yue.

“Apakah itu terlihat jelas?”

“Tidak bagi semua orang. Tetapi kau punya kesempatan untuk mengakhiri pertarungan lebih cepat.”

“Kesempatan bukan berarti keharusan.”

Lin Yue menatapnya dengan penuh minat. “Kau selalu berbicara seperti itu?”

“Hanya ketika seseorang mengajukan pertanyaan yang tidak perlu dijawab panjang lebar.”

Lin Yue tertawa. “Aku mulai mengerti mengapa beberapa orang tidak menyukaimu.”

“Bagus. Berarti pengamatanmu berkembang.”

Sementara mereka berbicara, pertandingan berikutnya dimulai. Gu Chenxiao duduk di bangku kayu dekat tribun samping dan memandang para peserta yang bertarung. Ia tidak lagi memperhatikan gerakan mereka semata, tetapi juga orang-orang yang hadir di sekeliling arena.

Lelaki dengan lambang pengelolaan sumber daya itu berdiri sebelum pertandingan kedelapan selesai. Ia berbicara singkat kepada seorang pelayan, lalu meninggalkan tribun melalui pintu samping.

Gu Chenxiao tidak mengikutinya.

Ia hanya memperhatikan bahwa pelayan yang menerima pesannya adalah orang yang sama yang mengantarkan undangan dari Gu Mingyuan kemarin.

Dua kejadian belum cukup untuk membuktikan hubungan apa pun. Namun, dua kejadian dapat menjadi alasan untuk mencari kejadian ketiga.

Ketika giliran Lin Yue tiba, pemuda itu memasuki arena dengan sikap santai. Lawannya memiliki tingkat kultivasi yang hampir sama, tetapi Lin Yue mengalahkannya tanpa kesulitan berarti. Ia menggunakan teknik pedang yang tidak biasa, memadukan gerakan ringan dengan perubahan arah yang sulit dibaca.

Setelah kemenangan itu, Lin Yue turun dari panggung dan duduk di samping Gu Chenxiao.

“Bagaimana menurutmu?” tanyanya.

“Teknikmu bagus.”

“Hanya itu?”

“Jarak langkahmu terlalu lebar ketika melakukan serangan ketiga. Jika lawanmu mampu bertahan dan menyerang balik, kau akan membutuhkan waktu untuk mengembalikan keseimbangan.”

Lin Yue terdiam sejenak, lalu tersenyum. “Kau benar-benar memperhatikan.”

“Aku sedang duduk di sini. Apa lagi yang harus kulakukan?”

Senyum Lin Yue semakin lebar. “Aku kira kau akan memuji teknikku.”

“Kalau kau membutuhkan pujian, kau bisa meminta kepada orang lain.”

Lin Yue menggeleng sambil tertawa. “Baiklah. Aku akan mengingatnya.”

Menjelang tengah hari, tahap pertama ujian hampir selesai. Sebagian besar peserta telah tersingkir, dan para tetua mulai mempersiapkan daftar untuk tahap berikutnya. Gu Chenxiao berhasil melaju tanpa memperlihatkan kemampuan yang terlalu mencolok. Ia tidak mengalahkan lawan dengan kekuatan yang luar biasa, tetapi selalu menemukan cara untuk membuat pertarungan berakhir sebelum lawannya memahami apa yang sedang terjadi.

Bagi penonton, ia tampak lebih beruntung daripada berbakat.

Bagi beberapa orang, hal itu cukup untuk membuatnya diremehkan.

Dan bagi Gu Chenxiao, diremehkan sering kali merupakan keadaan yang lebih nyaman daripada dihormati.

Ketika para peserta diberi waktu istirahat, ia meninggalkan arena dengan alasan mengambil air. Ia tidak menuju paviliunnya, melainkan berjalan ke koridor yang menghubungkan lapangan selatan dengan gedung administrasi.

Di sana, ia menemukan Paman Fu sedang menunggu.

“Bagaimana hasilnya?” tanya Gu Chenxiao.

“Seperti yang Anda perkirakan, Tuan Muda. Seseorang mengambil salinan laporan yang kami letakkan di ruang arsip.”

“Salinan yang mana?”

“Salinan kedua. Tanggal pengirimannya berbeda satu hari dari catatan asli.”

Gu Chenxiao mengangguk. “Siapa yang mengambilnya?”

“Petugas bernama Zhao Lin. Ia bekerja di bawah pengelola gudang barat.”

“Apakah dia mengetahui bahwa tanggal itu sengaja diubah?”

“Kami belum tahu.”

“Jangan memanggilnya. Jangan memeriksa kamarnya. Biarkan ia menjalankan pekerjaannya seperti biasa.”

Paman Fu tampak ragu. “Jika kita membiarkannya pergi, ia mungkin akan menghilangkan bukti.”

“Jika ia menghilangkan bukti, kita akan mengetahui bahwa ia merasa perlu melakukannya. Jika ia tidak melakukan apa pun, kita akan mengetahui hal lain. Jangan terburu-buru mengubah keadaan sebelum kita memahami apa yang sedang terjadi.”

Paman Fu menunduk. “Saya mengerti.”

Gu Chenxiao melanjutkan langkahnya menuju gedung administrasi. “Apakah kau menemukan informasi tentang cap lama?”

“Belum lengkap. Catatan resmi menyatakan bahwa cap itu dihancurkan dua belas tahun lalu. Namun, tidak ada laporan yang menjelaskan siapa yang menyaksikan penghancurannya.”

“Siapa yang menandatangani dokumen pemusnahan?”

Paman Fu menyebutkan satu nama.

Kali ini, Gu Chenxiao berhenti berjalan.

Nama tersebut bukan nama seorang pengelola gudang atau petugas administrasi. Itu adalah nama salah satu tetua yang masih memegang jabatan penting di Klan Gu.

Gu Chenxiao tidak segera berbicara. Ia memandang halaman di hadapannya, tempat beberapa murid sedang membawa peti berisi perlengkapan latihan. Segala sesuatu tampak normal, tetapi sebuah dokumen yang seharusnya sederhana kini menghubungkan tiga hal yang berbeda: transaksi perdagangan, salinan laporan yang bocor, dan cap keluarga yang telah dinyatakan musnah.

“Paman Fu,” katanya akhirnya, “mulai sekarang, jangan gunakan namaku untuk meminta dokumen apa pun. Jika ada yang bertanya, katakan bahwa aku tidak tertarik pada urusan perdagangan.”

“Baik.”

“Dan satu hal lagi. Cari tahu siapa yang pertama kali mengusulkan pemusnahan cap itu. Bukan siapa yang menandatangani dokumennya. Aku ingin mengetahui siapa yang mengusulkan, siapa yang menyetujui, dan siapa yang hadir ketika keputusan itu dibuat.”

Paman Fu membungkuk sebelum pergi.

Gu Chenxiao berdiri sendirian di koridor. Ia belum mengetahui apakah masalah tersebut merupakan bentuk penggelapan biasa atau bagian dari sesuatu yang lebih besar. Ia bahkan belum dapat memastikan apakah orang-orang yang terlibat saling mengenal.

Namun, ia telah menemukan satu pola yang tidak ia sukai.

Setiap kali sebuah pertanyaan mendekati sesuatu yang penting, catatan yang seharusnya menjelaskan keadaan justru menjadi tidak lengkap.

Ia tidak percaya bahwa semua ketidaklengkapan itu terjadi secara kebetulan.

Tetapi ia juga tidak akan menyimpulkan bahwa seseorang sengaja menghapusnya sebelum memiliki bukti.

Gu Chenxiao kembali ke arena ketika lonceng tanda dimulainya tahap kedua berbunyi. Di tengah panggung, Gu Zhen sedang mengumumkan aturan baru. Para peserta yang tersisa akan dibagi ke dalam beberapa kelompok, dan setiap kelompok harus mempertahankan posisi mereka dalam serangkaian pertarungan.

Ujian akan berlangsung hingga hanya beberapa orang yang tersisa.

Gu Chenxiao mengambil tempatnya di antara para peserta.

Ia tidak mengetahui siapa yang akan menjadi lawannya berikutnya, tetapi ia tahu bahwa seseorang di dalam keluarga sedang berusaha menyembunyikan sesuatu. Ia juga tahu bahwa semakin dekat ia pada jawaban, semakin besar kemungkinan seseorang akan memperhatikan gerakannya.

Untuk saat ini, ia tidak membutuhkan kemenangan yang mengesankan.

Ia membutuhkan kesempatan untuk terus mengamati.

Ketika daftar kelompok diumumkan, nama Gu Chenxiao muncul di kelompok ketiga. Di bawah namanya terdapat nama Gu Mingyuan, Gu Han, Lin Yue, dan dua murid lain yang belum pernah bertarung dengannya.

Gu Mingyuan menatap daftar itu, kemudian menoleh kepada Gu Chenxiao.

“Sepertinya kita akan bertemu lagi.”

Gu Chenxiao membalas tatapannya dengan senyum tipis. “Sepertinya begitu.”

Di balik sikap santainya, ia telah mengambil satu keputusan sederhana.

Ia akan memenangkan pertandingan berikutnya jika keadaan mengharuskannya. Namun, ia tidak akan mengejar kemenangan hanya demi membuktikan bahwa dirinya lebih baik daripada orang lain.

Sebab, di dalam keluarga yang penuh rahasia, sebuah kemenangan dapat menarik perhatian yang tidak diperlukan.

Dan terkadang, orang yang paling aman bukanlah orang yang tidak memiliki kemampuan.

Melainkan orang yang membuat semua orang salah menilai kemampuan yang sebenarnya ia miliki.

1
Nanik S
Hadir... dan awal yang berbeda
ARTHUR
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!