Bagi Ayara, hidup hanya tentang bekerja tanpa pernah mengenal cinta. Namun, saat ia mendaki gunung bersama teman-temannya semuanya berubah. Sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang pria di jalur pendakian menjadi awal baru baginya untuk mengenal rasa jatuh cinta.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Ayara? Siapa pria yang ditemui Ayara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sampai Ketemu Besok!
Bunyi deru mesin jahit pabrik beradu riuh dengan suara hentakan sepatu bot keselamatan yang memadati area produksi pagi ini. Di balik jajaran meja panjang, Ayara berdiri tegap dengan jemari yang tangkas merapikan lipatan bahan kulit sepatu, bau menyengat lem sintetis dan aroma karet hangat sudah menjadi udara sehari-hari bagi Ayara selama enam tahun.
Di usianya yang ke-27 tahun, Ayara bukanlah wanita yang memanjakan diri dengan angan-angan kosong. Garis wajahnya manis, dipadu mata binar yang selalu memancarkan ketenangan meski keletihan membayang tipis di bawah kelopak matanya. Bagi Ayara, deru mesin pabrik ini adalah irama kehidupan yang harus ia syukuri, dan setiap pasang sepatu yang ia rapikan adalah harapan untuk masa depannya dan keluarganya.
Tepat pukul lima sore, bel tanda usai kerja bergema. Ayara mengusap peluh di dahinya dengan lengan baju kerja yang sedikit kusam, ia mengemas tas kainnya, lalu bergabung dalam lautan buruh yang berhamburan keluar gerbang.
Perjalanan pulang menempuh waktu setengah jam dengan sepeda motor tua peninggalan almarhum Ayahnya. Begitu sampai di sebuah gang sempit, Ayara memarkirkan motornya di halaman rumah kecil berukuran lima kali enam meter. Dinding rumah itu separuh tembok bata yang belum diplester rapi dan separuh lagi papan kayu, rumah itu jauh dari kata mewah, namun bersih dan terawat.
"Udah pulang, Nduk?" suara lembut menyapa dari samping rumah.
Seorang wanita paruh baya dengan daster kusam dan jemari yang keriput kebiruan akibat terlalu lama terendam air sabun berjalan menghampiri Ayara, itu adalah Ibu Yati. Di usianya yang makin senja, Ibu Yati masih memilih mengambil cucian dari tetangga-tetangga komplek perumahan sebelah demi membantu menopang ekonomi keluarga.
Ayara segera meraih tangan ibunya yang basah dan menyalaminya dengan takzim, lalu mencium telapak tangan itu penuh rasa hormat.
"Ibu baru selesai nyuci?" tanya Ayara lembut seraya mengambil alih ember kosong dari tangan sang ibu.
"Iya, tinggal jemur sprei milik Bu Rina. Kamu pasti capek, Nak. Masuklah, ada sayur bening dan tempe goreng di meja," jawab Ibu seraya mengusap lembut pipi putri sulungnya.
"Ayara nggak capek, Bu. Biar Ayara bantu jemur sisanya, ya," sahut Ayara tersenyum manis.
Tidak ada nada keluhan dalam suaranya, Ayara tahu betul betapa keras perjuangan ibunya membesarkan ia dan adiknya sendirian sejak Ayahnya meninggal dunia sepuluh tahun lalu.
Tak lama kemudian, deru suara knalpot motor yang agak bising terdengar berhenti di depan gang. Arlan, adik laki-laki Ayara yang berusia 20 tahun, melangkah masuk ke halaman. Wajah Arlan belepotan oli hitam dan kaos oblongnya ternoda gemuk rantai, Arlan bekerja sebagai montir di sebuah bengkel kecil di ujung jalan raya.
"Mbak Ayara udah pulang?" panggil Arlan sambil menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan.
"Baru aja, Lan. Cuci tangan dan kakimu sana, oli semua begitu," tegur Ayara dengan nada bercanda.
Arlan terkekeh, memperlihatkan deretan giginya. "Namanya juga anak bengkel, Mbak. Hari ini rame banget, alhamdulillah Arlan dapet uang tips dari pelanggan."
Arlan merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang puluh ribuan yang lusuh, lalu menyerahkannya kepada sang ibu. "Ini buat tambahan beli beras, Bu."
Ibu Yati menerima uang itu dengan mata berbelit haru, "Terima kasih ya, Arlan, Ayara. Kalian anak-anak yang berbakti, Ibu bersyukur sekali punya kalian."
"Harusnya Ayara sama Arlan yang bersyukur karena bisa punya Ibu yang hebat," ucap Ayara.
"Arlan juga mau peluk Ibu, tapi baju Arlan kotor. Nanti aja kalau Arlan udah mandi, Arlan peluk Ibu ya," ucap Arlan.
Malam harinya, mereka bertiga duduk bersama di atas tikar pandan menyantap makan malam yang sangat sederhana, cahaya lampu bohlam menerangi kehangatan yang tercipta di antara mereka.
Meski hidup mereka serba pas-pasan, bahkan sering kali harus memutar otak ketika tagihan listrik atau kebutuhan mendadak datang, Ayara tidak pernah mengutuki takdirnya dan bersyukur dengan apa yang ia miliki saat ini.
Usai makan dan membersihkan piring, Ayara duduk di pinggir tempat tidurnya. Ponsel pintarnya yang berlayar retak tipis bergetar, dimana sebuah notifikasi dari grup bernama 'Ciwi-ciwi asikkkk' muncul di layar.
Grup itu berisi tujuh orang teman dekat Ayara semasa SMA, Ayara tersenyum kecil melihat nama-nama temannya yang bermunculan. Di antara mereka bertujuh, hanya Ayara yang jalannya terjal dan harus bekerja keras sebagai buruh pabrik. Teman-temannya yang lain kini sudah sukses, ada yang menjadi guru, notaris, hingga staf di perusahaan swasta ternama.
Namun, tak pernah sekalipun terlintas rasa iri atau kecil hati di dalam dada Ayara. Sebaliknya, ia sangat bangga memiliki sahabat-sahabat hebat yang tidak pernah memandang rendah dirinya.
Besok malam adalah jadwal kumpul rutin mereka setelah satu bulan penuh sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ayara menarik napas panjang dan mengusap layar ponselnya, lalu mengetikkan pesan singkat.
Stevi : Jangan lupa besok ya!
Maura : Gue agak telat ya
Adel : Telat kenapa?
Maura : Gue kan ada acara pagelaran siangnya
Adel : Sibuk banget ya model kita ini
Diana : Biasa ngumpulin uang buat nikah
Maura : Tau aja sahabat gue ini
Adel : Kalau gitu, sampai ketemu besok malam ya, teman-teman...
Melihat obrolan di grup yang terus bergulir, senyum kecil mengembang di bibir Ayara. Ia pun mengirim pesan balasan untuk teman-temannya di grup.
^^^Ayara: Sampai ketemu besok! Nggak sabar pengen ketemu, udah kangen!!!^^^
Tak butuh waktu lama, balasan emotikon cinta dan pesan hangat bermunculan dari teman-temannya. Ayara meletakkan ponselnya di atas meja kecil di samping ranjang, ia menyandarkan punggungnya pada dinding kamar yang beralaskan wallpaper sederhana pembungkus kelembapan bata.
Kehidupan Ayara tidak pernah mudah. Dahulu, keluarga mereka tergolong keluarga yang cukup sejahtera saat sang Ayah masih hidup dan bekerja sebagai kontraktor kecil-kecilan. Namun, sebuah kecelakaan kerja sepuluh tahun lalu merenggut nyawa Ayah sekaligus menyisakan beban hutang medis yang menguras seluruh tabungan keluarga, rumah milik orang tuanya terpaksa dijual untuk membayar hutang.
Sejak saat itu, Ayara yang baru saja lulus SMA terpaksa mengubur dalam-dalam impiannya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang bangku kuliah. Ia memilih langsung bekerja demi membantu Ibu Yati dan memastikan Arlan, yang kala itu masih duduk di bangku SD, dapat terus bersekolah.
Satu per satu pekerjaan pernah Ayara lakoni, mulai dari penjaga toko kelontong, pelayan kedai makan, hingga akhirnya enam tahun lalu ia diterima sebagai buruh tetap di pabrik sepatu tempatnya bekerja sekarang.
Rumah yang mereka tempati saat ini pun merupakan buah dari uluran tangan pemerintah beberapa tahun lalu. Dinding bata yang setengah terplester dan atap seng yang sering berderit saat angin kencang menerpa adalah saksi bisu betapa Ayara dan keluarganya terus bertahan di tengah himpitan roda kehidupan.
.
.
.
Bersambung.....
gimana menghadapi calon mertua yang ngeremehin kita