“Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana…”
Maizara merindukan kebebasan, sementara Dimas hanya peduli pada tahta dan bisnisnya. Ketika perjodohan membawa mereka dalam satu atap, setiap tatapan menjadi perang dingin, dan setiap sentuhan menjadi ancaman bagi hati mereka.
Saat dua dunia menuntut kepatuhan, akankah rasa di antara mereka menyerah pada gengsi, atau tunduk pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Dijeda Bersandar
Setenang apa pun seseorang terlihat dari luar, ada badai yang mungkin tak pernah ia ceritakan pada dunia.
Kalimat itu terus mengendap di dalam benakku saat aku duduk termangu di sudut dipan kayu kamar pengantin. Pendar lampu temaram membiaskan bayangan kebaya putih yang sudah tergantung rapi di kapstok. Di luar, gerimis tipis menyapu dedaunan pohon mangga di pekarangan pendopo, menghadirkan irama konstan yang seolah menidurkan hiruk-pikuk persiapan besok pagi.
Sebab tidak semua luka meminta iba, dan tidak semua perjuangan membutuhkan saksi.
Aku merenungi seluruh jejak langkah yang telah kutempuh. Perahu yang aku rakit dengan susah payah selama ini, sudah aku dayung sejauh ini. Memang tujuannya masih terbilang jauh dan riaknya terkadang begitu menghantam dada. Tapi harapan sederhanaku hanya satu: semoga perahu ini tetap kokoh dan tidak karam sebelum sampai tujuan. Aku ingin Dimas tetap jadi nahkodanya dan hanya aku penumpangnya, tanpa pernah lagi memberi tumpangan pada orang lain di masa mendatang.
Masa lalu Dimas kelam, keliru, dan penuh luka memang sudah menjadi bagian dari sejarah hidupnya. Dan jika aku berpikir dengan kepala dingin, aku sadar betul aku tidak berhak marah atas apa yang terjadi sebelum namaku ada di hatinya.
Namun, rasa guncang di dalam dada tidak bisa dibohongi begitu saja. Kelelahan emosional yang menumpuk dari urusan proyek, benturan ego, krisis Adam-Alya, hingga kemunculan Kartika dan rekaman masa lalu itu mendadak mengumpul menjadi satu beban yang amat berat di pundakku.
"Nduk..."
Sebuah suara lembut yang amat kukenal memecah keheningan kamar. Aku mendongak. Ibu melangkah pelan masuk ke dalam kamar, mengenakan kain jarik dan kebaya harian yang bersahaja.
Tanpa mampu membendung luapan perasaan yang membuncah, aku langsung berhambur ke depan. Ibu menyambutku dengan sepasang tangan yang hangat, merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya yang begitu erat dan penuh kasih.
Setidaknya, ada satu tempat buatku bersandar paling nyaman di dunia ini, tanpa aku harus mengatakan apa pun atau menjelaskan rumitnya isi kepalaku. Yaitu pelukan ibu.
Aku membenamkan wajahku di bahu Ibu, membiarkan air mataku menetes tanpa suara membasahi kain kebayanya. Ibu mengusap punggungku dengan gerakan melingkar yang menenangkan, menepuk-nepuk pelan seolah mengerti seluruh beban batin yang sedang meletup di dalam dada putri sulungnya.
"Nangis seng wareg, Nduk..." bisik Ibu lembut di telingaku, suaranya mengandung kehangatan ibu kandung yang tiada tara. "Yen atimu sesak, ditokke kabeh. Ibu neng kene."
Aku tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dalam dekapan Ibu, aku merasa menjadi Maizara kecil kembali gadis yang tidak perlu berpura-pura kuat, tidak perlu menjadi desainer hebat, dan tidak perlu menjadi benteng bagi siapa pun.
Sementara itu, di dalam suite room hotel tempat keluarga Arjowibowo menginap, Dimas berdiri mematung di hadapan jendela kaca besar yang menghadap langsung ke kerlap-kerlip lampu kota Yogyakarta. Pria jangkung itu masih mengenakan kemeja yang sama dari rumah Natakusumah tadi sore. Kancing atas kemejanya sudah dibuka, dan lengan kirinya yang bertato rasi bintang terekspos di bawah pendar lampu ruangan.
Di dalam dadanya, rasa bersalah yang teramat sangat berkecamuk tanpa ampun.
Dimas mengepalkan kedua tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih. Rekaman masa lalu, bayangan Kartika, dan air mata Maizara saat melihat kebodohan masa mudanya terus berputar seperti rekaman rusak di dalam kepalanya.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Dimas benar-benar merasa bahwa dirinya tidak pantas untuk Maizara.
Maizara adalah wanita dengan keteguhan prinsip yang suci, wanita yang menjaga kehormatan dan harga dirinya mati-matian, sementara dirinya adalah pria yang pernah terperosok dalam lingkaran hubungan tanpa jiwa yang kotor. Pria macam apa dia yang berani menyandingkan tangannya yang penuh noda dengan jemari murni Maizara?
Namun, di saat yang bersamaan, Dimas sadar betul dia tidak bisa lari begitu saja. Pria itu tidak bisa dan tidak akan pernah sanggup pergi meninggalkan Maizara. Bukan hanya karena rasa cinta yang sudah mengakar terlalu dalam di jiwanya, melainkan karena dia harus bertanggung jawab sepenuhnya atas masa depan, kehormatan, dan kebahagiaan Maizara yang sudah dia janjikan di hadapan Romo dan seluruh keluarga besar.
Dimas menghembuskan napas panjang yang terasa membakar tenggorokannya. Pria itu memejamkan mata, membisikkan doa paling pasrah yang pernah keluar dari bibirnya: Ya Allah... jika memang aku tidak pantas untuknya, jadikanlah aku pria yang pantas demi memuliakan hidupnya.
Keesokan harinya, kurang dari dua puluh empat jam sebelum jadwal ijab kabul dilangsungkan di Pendopo Natakusumah.
Di dalam kamar pengantin yang sudah berhias tirai putih dan ronce air mawar, Mbak Dinar sedang membantuku mengecek kembali perlengkapan kain busana adat. Suasana di dalam kamar begitu tenang, hingga aku menghentikan gerakan tanganku yang sedang merapikan selendang.
Aku menatap pantulan diriku di cermin besar. Tatapanku dingin, datar, namun dipenuhi oleh ketetapan batin yang mantap.
"Mbak Dinar..." panggilku pelan.
"Iya, Mei? Kenapa? Ada payet yang lepas di kebayamu?" sahut Mbak Dinar tanpa menoleh, masih sibuk membongkar kotak perhiasan pengantin.
"Aku mau menunda dulu akad nikah besok."
Gerakan tangan Mbak Dinar seketika terhenti total.
"HAH?! MEMBATALKANNYA?!" sentak Mbak Dinar terkejut setengah mati. Wanita itu membalikkan tubuhnya secepat kilat, menatapku dengan mata membelalak lebar dan napas yang tertahan di dada.
"Mei! Kamu gila ya?! Besok pagi itu akad nikahnya! Janur kuning sudah melengkung di depan gerbang, pendopo sudah didekorasi, tamu-tamu VIP dari Jakarta dan kolega Romo sudah pada datang di Jogja! Kenapa tiba-tiba kamu bilang mau membatalkannya?!" bisik Mbak Dinar histeris dengan nada suara yang sengaja ditahan agar tidak terdengar sampai luar kamar.
Aku memutar tubuhku menghadap Mbak Dinar, menatap sepupuku itu dengan pandangan yang sangat tenang tanpa kejolak ketakutan.
"Aku tidak bilang membatalkannya untuk selamanya, Mbak Dinar," ralatku lembut namun tegas. "Aku cuma butuh menunda jadwalnya."
"Sama saja, Mei! Menunda di H-1 itu sama saja dengan bikin gempar dua keluarga besar!" seru Mbak Dinar panik, memegang kedua pundakku. "Kenapa, sih? Soal rekaman Kartika kemarin? Bukannya kemarin kamu sudah bilang kamu bisa terima dan maafkan Dimas?!"
aku menghembuskan napas pelan, menggenggam jemari Mbak Dinar yang gemetar.
"Bukan karena aku dendam atau tidak memaafkan Mas Dimas, Mbak," jelasku tulus, menyalurkan kedamaian di mataku. "Tapi karena aku merasa kami berdua melangkah terlalu cepat di tengah badai emosi yang belum benar-benar mengendap. Dimas merasa bersalah setengah mati dan merasa tidak pantas untukku, sementara aku masih membawa kelelahan batin yang menumpuk."
Aku menunduk tipis, meresapi setiap pendar kata di dalam dadaku.
"Kami tidak bisa mengikat janji suci seumur hidup hanya atas dasar rasa bersalah dari sisinya, atau rasa iba dan keterpaksaan dari sisiku. Pernikahan ini terlalu sakral untuk dimulai dengan fondasi yang retak," lanjutku mantap. "Aku hanya merasa kami perlu waktu sejenak untuk mengevaluasi diri, menata perasaan masing-masing, dan memastikan apa yang sebenarnya kami berdua mau dari hubungan ini."
Mbak Dinar tertegun kaku. Amarah dan kepanikan di wajah sepupuku itu perlahan-lahan luluh, berganti dengan sorot mata yang penuh rasa iba sekaligus takjub atas keberanianku.
"Mei... tapi Romo dan Papi Arjowibowo... mereka bisa mengamuk hebat kalau mendengar ini..." bisik Mbak Dinar cemas.
"Aku yang akan bicara sendiri pada Romo dan Dimas," jawabku tanpa keraguan.
Satu jam kemudian, sebuah pertemuan mendadak digelar di ruang dalam kediaman Natakusumah. Hanya ada Romo, Ibu, Papi, Mami, Dimas, dan aku. Pintu ruang dalam dikunci rapat dari dalam, menjauhkan pembicaraan ini dari jangkauan kerabat atau panitia acara.
Suasana di ruangan itu mencekam luar biasa. Romo duduk di kursi utamanya dengan wajah mengeras, sementara Dimas berdiri di sisi meja dengan raut wajah yang sangat pucat.
Aku berdiri di tengah ruangan, memandangi wajah-wajah orang tua yang kucintai, lalu beralih menatap manik mata hitam Dimas yang diliputi ketakutan luar biasa.
"Romo... Papi... Ibu... Mami... dan Mas Dimas," batukku pelan, memecah kesunyian yang kaku. "Aku memohon maaf yang sebesar-besarnya dari lubuk hatiku yang paling dalam. Tapi dengan kesadaran penuh dan tanpa tekanan dari siapa pun... aku meminta izin untuk menunda pelaksanaan akad nikah besok pagi."
Deg.
Kalimat itu meluncur jernih dan tegas. Papi Arjowibowo menghembuskan napas kaget, sementara Mami menutupi mulutnya. Romo membelalakkan matanya, cangkir teh di tangannya bergetar pelan.
"Maizara!" suara Romo berat dan bertekanan tinggi. "Apa-apaan ini, Nduk?! Besok pagi itu harimu! Kenapa kamu membuat keputusan sepihak yang bisa merusak nama baik dua keluarga besar?!"
Dimas melangkah satu tapak ke depan. Wajah pria jangkung itu memancarkan kepedihan yang teramat sangat, matanya berkaca-kaca menatapku.
"Mei..." suara Dimas parau, bergetar hebat di udara. "Apakah ini karena saya? Karena kebodohan masa lalu saya yang membuatmu tidak lagi sudi menerima saya sebagai suamimu?"
Aku menggeleng pelan, menatap Dimas dengan sorot mata paling lembut yang pernah kuberikan padanya.
Aku melangkah mendekati Dimas, berdiri tepat di hadapannya di hadapan para orang tua kami. Tanganku terangkat pelan, menggenggam jemari tangannya yang dingin.
"Bukan, Mas Dimas," bisikku tulus, suaraku mengalun jernih memenuhi ruangan. "Bukan karena aku membencimu, dan bukan karena aku tidak memaafkan masa lalumu."
Dimas menatapku bingung, air mata menggenang di sudut matanya. "Lalu kenapa, Mei? Tolong jelaskan pada saya..."
Aku menatap manik mata hitamnya lurus-lurus, menyampaikan seluruh isi jiwaku tanpa ada sekat kebohongan sedikit pun.
"Karena aku melihatmu terpukul oleh rasa bersalah yang teramat sangat, Mas," tuturku pelan namun mengena di ulu hati. "Aku melihatmu merasa tidak pantas untukku, dan aku melihatmu melangkah menuju akad besok hanya karena beban tanggung jawab dan rasa takut kehilangan aku. Sementara aku sendiri... masih berjuang meredakan gemuruh lelah di dalam dadaku."
Aku meremas jemarinya yang tegap.
"Pernikahan yang kutinggali tidak boleh berdiri di atas rasa bersalahmu, Mas Dimas," sambungku tegas. "Aku tidak mau kamu menjadi suamiku karena kamu merasa berutang penyesalan padaku. Dan aku tidak mau menjadi istrimu dalam keadaan hatiku masih terhuyung oleh badai. Kita berdua butuh jeda sejenak."
Romo dan Papi tertegun mendengar penjelasan yang begitu dewasa dari mulutku. Ketegangan di wajah Romo perlahan-lahan meredup, berganti dengan keterkejutan atas tingginya tingkat kedewasaan berpikir putri sulungnya.
"Jeda ini bukan untuk mengakhiri perahu yang sudah kita dayung sejauh ini, Mas," lanjutku dengan senyuman paling ikhlas di bibirku. "Jeda ini adalah waktu bagi kita berdua untuk mengevaluasi diri, menata perasaan kita masing-masing, dan meyakinkan hati kita secara utuh... apakah kita benar-benar menginginkan satu sama lain murni karena cinta dan rasa hormat, bukan karena paksaan keadaan atau rasa bersalah."
Dimas terdiam seribu bahasa. Air matanya menetes perlahan membasahi pipinya. Pria tegap yang biasanya selalu ingin mengendalikan segalanya itu kini menundukkan kepalanya dalam-dalam, meresapi setiap patah kata yang kuucapkan.
Untuk pertama kalinya, Dimas belajar menyerahkan kendali sepenuhnya padaku.
"Kalau... kalau itu yang kamu butuhkan untuk menenangkan hatimu, Mei..." bisik Dimas parau dengan suara yang patah namun sarat akan penyerahan diri yang utuh, "...saya akan hormati keputusanmu. Saya akan menunggu... berapa pun lama waktu yang kamu butuhkan sampai hatimu benar-benar siap dan yakin untuk menerima saya kembali."
Papi Arjowibowo menghembuskan napas panjang, menepuk bahu putranya dengan bangga, lalu menatap Romo.
"Romo Natakusumah..." ujar Papi tenang. "Anak-anak kita sudah menunjukkan kedewasaan yang jauh melampaui usia mereka. Jika Maizara dan Dimas merasa butuh waktu sejenak untuk memantapkan jiwa mereka sebelum mengikat janji suci, mari kita sebagai orang tua mendukung dan menjaga keputusan ini dengan bijaksana."
Romo memandangi aku dan Dimas secara bergantian, lalu mengangguk pelan dengan keikhlasan yang dalam. "Baiklah... jika itu keputusan kalian berdua demi kebaikan masa depan rumah tangga kalian."
Di tengah ruangan yang kini diliputi kedamaian dan keikhlasan itu, aku menatap Dimas yang masih menatapku dengan binar cinta dan penghormatan yang abadi.
Di bawah naungan sore Yogyakarta, sebuah kata mutiara mengalun indah di dalam jiwaku.
"Sebab terkadang, cinta yang paling tulus tidak diuji dari seberapa cepat ia mengikat janji di hadapan dunia, melainkan dari keberaniannya untuk memberi jeda demi memastikan dua jiwa benar-benar siap untuk berlayar bersama menuju keabadian."