NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Musuhku Sendiri

Jatuh Cinta Pada Musuhku Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

🔥CRAZY UP🔥

Alina Prameswari ingin membersihkan nama mendiang ayahnya yang dituduh menggelapkan miliaran rupiah oleh keluarga Mahendra. Untuk membongkar kebenaran, ia harus berhadapan dengan Adrian Mahendra, CEO dingin yang ia anggap sebagai musuh.

Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengungkap konspirasi di balik skandal perusahaan. Namun, ketika sandiwara menjadi pasangan mulai menumbuhkan perasaan, rahasia tentang kematian mantan tunangan Adrian justru mengancam menghancurkan segalanya.

Bagaimana jika pria yang paling ingin Alina jatuhkan justru menjadi orang yang paling sulit ia lepaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Selasa pagi, 21 Oktober 2026, Alina keluar dari studio Tebet saat lampu tangga masih mati di tanjakan kedua. Ia tidak menunggu lampu itu diperbaiki. Jas hitam polos, rambut diikat rendah, sepatu yang sama sejak minggu sebelumnya. Di dalam tas hanya ada identitas, pena, dan salinan perjanjian yang tidak ia biarkan terlipat. Tidak ada yang berubah dari penampilannya. Statusnya yang akan berubah, dan itu tertulis di kertas orang lain.

Lobi utama Menara memeriksa kartu dan perjanjian sebelum gerbang QR terbuka. Resepsionis tidak bertanya apa pekerjaannya. Di buku tamu, kolom perusahaan ia isi dengan namanya sendiri, bukan dengan nama Mahendra. Lift ke lantai dua puluh delapan ia tumpangi bersama dua karyawan yang tidak menyapanya. Mereka turun di lantai lain.

Lobi lantai dua puluh delapan terasa lebih formal dari biasanya. Sari sudah berdiri di dekat meja resepsi internal dengan dua badge dan satu amplop tipis berwarna abu-abu. Jam di dinding menunjukkan pukul delapan empat puluh ketika Alina berhenti di depannya.

Sari tidak tersenyum lebar. Ia mengangguk dan menyerahkan badge pertama. Badge kedua tetap di amplop.

“Badge konsultan eksternal,” katanya dengan nada yang sama seperti membaca peraturan gedung. “Berlaku terbatas. Lantai yang boleh Anda masuki: dua puluh delapan untuk data room dengan pendamping, tiga puluh untuk ruang baca terbatas, dan B2 untuk arsip lama hanya dengan izin tertulis dari Pak Dimas atau Pak Adrian. Lantai tiga puluh dua hanya dengan undangan. Lantai tiga puluh lima tidak. Pintu servis tidak. Lift barang tidak. Pintu darurat hanya untuk keadaan darurat yang sebenarnya.”

Alina menerima badge itu dan memasangnya di dada kiri. Logonya kecil. Namanya tertulis jelas: Alina Prameswari – Konsultan Eksternal. Badge kedua, kata Sari, adalah cadangan yang tidak boleh dibawa keliling. Cadangan itu tinggal di brankas kecil asisten, bukan di tas.

Sari membuka amplop. “Saya bacakan batas akses supaya tidak ada salah paham di kemudian hari. Tidak boleh membawa USB pribadi ke area terbatas. Tidak boleh memotret layar monitor tanpa izin tertulis. Tidak boleh menghubungi media terkait temuan internal sebelum diserahkan ke Pak Dimas. Setiap temuan baru harus diserahkan salinannya ke Pak Dimas sebelum dibawa keluar gedung. Ponsel boleh dibawa, tetapi rekaman audio atau video di area terbatas dilarang. Pelanggaran akan dilaporkan pada hari yang sama.”

Alina mendengarkan tanpa memotong. Ia menghitung larangan itu dengan jari yang tidak ia angkat, supaya tidak ada yang terlewat ketika nanti ia menulis ulang untuk dirinya sendiri. “Durasi badge?”

“Sesuai perjanjian kerja sama terbatas yang ditandatangani kemarin. Sampai dua puluh April dua ribu dua puluh tujuh, atau lebih awal jika salah satu pihak mengakhiri secara tertulis. Perpanjangan hanya dengan kesepakatan baru.”

Sari menutup amplop dan menyerahkan satu lembar salinan yang sudah diparaf. “Ini untuk Anda. Bukan souvenir. Kalau hilang, lapor hari itu juga. Kalau ada yang tidak jelas, tanya saya atau Pak Dimas. Jangan tanya satpam. Jangan tanya resepsionis di lobi utama. Mereka tidak punya wewenang menjelaskan status Anda.”

“Saya mengerti.”

“Selamat bekerja, Mbak Alina.”

Tidak ada jabat tangan. Sari menuntunnya menyusuri koridor menuju ruang baca terbatas di lantai tiga puluh, lewat lift yang hanya Sari yang menempelkan kartu. Meja kecil di sudut sudah disiapkan. Monitor menyala dengan folder yang diizinkan. Kursi masih kosong. Jendela berkerai. Tidak ada nama Alina di pintu.

“Tas tetap di sini,” kata Sari, menunjuk laci yang bisa dikunci dari luar oleh pendamping. “USB, kalau ada, tidak ikut masuk ke laci itu. Tidak ada USB di area ini. Ponsel boleh di saku, tidak boleh di meja saat folder terbuka, kecuali untuk panggilan yang saya atau Pak Dimas yang izinkan.”

Alina melepas jam tangan murahnya dan meletakkannya di samping, bukan ponsel. “Folder yang terbuka hari ini hanya draf yang sudah ditahan?”

“Hanya itu. Data room tidak dibuka hari ini. Kalau perlu dicocokkan ke arsip fisik, harus ada izin tertulis terpisah. Bukan pesan.”

Sari pergi. Alina duduk dan tidak menyalakan apa pun sampai Dimas datang.

Dimas masuk sepuluh menit kemudian, membawa buku catatan kulit yang sama seperti minggu lalu dan satu map tipis. Rambutnya belum sepenuhnya rapi. Ia meletakkan map di meja seperti orang yang meletakkan daftar belanja, bukan seperti orang yang membuka upacara.

“Hari pertama,” katanya. “Pak Adrian minta Anda melihat ulang baris Lazuardi di draf terbaru. Ada perubahan kecil dari Oscar semalam. Statusnya sekarang ‘dalam peninjauan internal’.”

Alina membuka folder. Penahan yang ia lihat Kamis sudah tidak berupa kotak sementara. Kalimat status menempel di ujung baris, lengkap, dan nama PT Lazuardi Mitra Logistik tidak dicoret. Angka yang ia hafal tidak bergeser. Ringkasan tetap Rp12,4 miliar. Lampiran tetap Rp18,9 miliar. Tidak ada vendor baru yang dimunculkan untuk menghibur mata. Perubahan kecil itu hanya mengunci kalimat yang kemarin belum final.

“Tidak dihapus,” kata Alina.

“Tidak,” jawab Dimas. “Dan tidak ditandai selesai. Oscar menambah satu catatan kaki: tidak untuk distribusi eksternal. Itu saja. Saya salin ke buku. Anda tidak perlu menyalin.”

Alina bekerja tanpa banyak basa-basi. Ia mencocokkan tanggal munculnya baris, status lama, dan status baru. Dimas menulis. Ketika ada satu keterangan yang ambigunya hanya soal ejaan “ditinjau” dan “peninjauan”, Alina menunjuk, Dimas menggarisbawahi, dan mereka tidak membangun teori di atas ejaan. Di luar pintu kaca, orang lewat dengan map. Tidak ada yang masuk untuk menyapa. Seorang analis berhenti setengah detik melihat badge di dada Alina, lalu meneruskan langkah ketika tidak menemukan alasan resmi untuk bertanya.

Pada pukul dua belas Dimas menutup folder dari layar.

“Makan,” katanya. “Bukan di ruang ini. Makanan tidak boleh di sebelah kertas yang masih diperebutkan orang. Kantin lantai dua puluh enam boleh, asal badge tetap terlihat dan Anda tidak membuka pekerjaan di meja orang lain. Atau Anda turun dan kembali pukul satu. Jangan keliling.”

Alina memilih turun. Di kantin ia duduk di ujung yang kosong, makan cepat, dan tidak menjawab sapaan samar dari orang yang hanya melihat badge lalu mengalihkan mata. Sekali ia hampir naik ke lantai tiga puluh dua karena lift yang ia tumpangi salah ditekan orang lain. Ia turun lagi di lantai tiga puluh tanpa mengetuk pintu siapa pun. Undangan tidak ada. Lantai itu bukan miliknya hari ini.

Menjelang siang Adrian lewat di koridor lantai tiga puluh. Ia berhenti sejenak di depan pintu kaca, melihat Alina sedang menandai baris di layar dengan pena yang tidak menyentuh monitor, lalu melanjutkan langkah tanpa masuk. Tidak ada ketukan. Tidak ada perintah tambahan.

Di ruang kerjanya di lantai tiga puluh dua ia membuka catatan pribadi. Kalimat yang ia tulis pendek.

“Badge terpasang. Batas dibacakan. Kontrak aktif. Bukan awal yang hangat. Hanya awal yang jelas.”

Ia menutup buku itu sebelum Sari masuk dengan jadwal sore. Tidak ada rapat yang membutuhkan konsultan eksternal. Ia tidak menciptakan alasan untuk memanggil Alina naik.

Sore harinya Alina menyelesaikan catatan pertama: satu halaman berisi posisi baris, kalimat status, dan kalimat “tidak untuk distribusi eksternal”. Tidak ada kesimpulan tentang siapa yang memindahkan uang. Dimas memeriksa, mengangguk, dan menyimpan salinan di map yang tidak ikut ke luar.

“Besok kita lanjut,” katanya. “Jangan tinggal di gedung setelah jam enam tanpa pemberitahuan. Lift setelah jam itu dicatat satpam, dan nama di badge Anda akan terlihat seperti pelanggaran kalau tidak ada izin.”

“Saya tidak berniat tinggal.”

Alina melepas badge saat keluar dari area terbatas dan memasukkannya ke dalam dompet, di saku yang terpisah dari kartu identitas. Salinan aturan dari Sari ia lipat sekali, tidak lebih. Di lift menuju lobi ia menatap pantulan dirinya di pintu logam. Konsultan eksternal. Bukan karyawan. Bukan tamu. Bukan pacar. Hanya orang yang terikat kontrak enam bulan dengan laki-laki yang kemarin masih menjadi lawannya, dan hari ini sudah menjadi rekan kerja yang masih saling curiga.

Di luar Menara, udara sore Sudirman terasa biasa. Alina menaiki taksi menuju Tebet. Pengemudi mencoba percakapan tentang hujan yang tidak jadi turun. Alina menjawab singkat dan tidak menyebut nama gedung yang baru ia tinggalkan.

Di studio, lampu tangga berkedip sekali lalu mati lagi. Ia menempelkan salinan aturan akses di bagian dalam lemari, dekat meja lipat, di samping coretan angka 12,4 dan 18,9. Kertas Sari itu tidak ia hias. Tidak ada catatan tambahan di pinggirnya malam ini. Yang ia tulis ada di buku, terpisah.

“Hari pertama. Badge. Batas. Tidak ada sambutan. Hanya pekerjaan.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!