Ini bukan sekadar cerita tentang cinta beda kasta. Ini adalah perjalanan tentang sebuah nama besar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mulai bergerak
Bayu menarik sebuah bangku kayu kecil yang berada di sudut kamar mandi, lalu mendudukinya tepat di sebelah bak mandi besar tempat Mita berendam. Di bawah uap hangat yang memenuhi ruangan, Mita bersandar santai pada bantalan bak, sesekali menyesap minuman soda dinginnya sambil menatap Bayu lekat-lekat.
"Umur kamu berapa, Bay?" tanya Mita, memecah keheningan di antara gemercik air hangat.
Bayu menatap lantai marmer yang basah sebelum menjawab datar, "Hari ini pas dua puluh empat."
"Wow, ulang tahun...?" Mata Mita sedikit membelalak terkejut. Dia tidak menyangka malam pertama pelayan barunya bekerja justru bertepatan dengan hari kelahirannya. "Ada permintaan?" tanya Mita kemudian dengan nada yang melunak.
Bayu menyunggingkan senyum getir yang sangat tipis. "tidak ada ," kata Bayu pelan.
katakan saja bay kata mita...
Mita terdiam sejenak, meresapi kepahitan dari kalimat pria di depannya. "Keluarga?" tanya Mita lagi, mencoba menelisik lebih dalam.
Bayu hanya menggelengkan kepalanya perlahan tanpa mengeluarkan suara."Maaf..." ucap Mita tulus. Dia bisa merasakan ada duka mendalam yang sengaja dikunci rapat oleh pria itu.
"Masa lalu," kata Bayu menjawab tak kalah singkat, mengisyaratkan bahwa dia tidak ingin membahas kematian orang tuanya atau kebangkrutan keluarganya saat ini.
"Pacar...?" cecar Mita lagi, semakin penasaran dengan kehidupan pribadi pelayannya.
Bayu kembali menggelengkan kepalanya.
"Umur segini kamu enggak punya pacar?" tanya Mita heran. Dengan wajah tampan dan postur tubuh tegap yang dimiliki Bayu, seharusnya tidak sulit bagi pria itu untuk memikat hati wanita mana pun.
"Aku belum pernah pacaran," kata Bayu jujur. Sejak remaja dia terlalu fokus menikmati fasilitas sebagai Tuan Muda, dan setelah jatuh miskin, bertahan hidup adalah satu-satunya hal yang ada di otaknya.
"Teman wanita?"
"Banyak."
"Maksudku teman dekat," ralat Mita memperjelas pertanyaannya.
Bayu lagi-lagi hanya menggelengkan kepala. Rahangnya sedikit mengeras karena dia ingat bagaimana perlakuan orang-orang yang dulu dia anggap sahabat. Ketika dia bangkrut, tidak ada satu pun teman yang mau membantunya, kata Bayu dalam hati. Mereka semua menjauh seolah-olah kemiskinan Bayu adalah penyakit menular.
Bayu menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Mita. "Itulah kenapa tadi aku langsung menerima tawaran Anda tanpa tanya tentang pekerjaan apa yang akan aku lakukan setelah meninggalkan restoran," kata Bayu menjelaskan keputusan nekatnya di depan manajer tadi.
Baginya, Mita adalah satu-satunya orang yang memberikan uluran tangan, walau dengan cara yang tidak biasa.Mita menatap pria di hadapannya dengan pandangan yang kini dipenuhi rasa kagum yang samar. "Mau minum, Bay?" tanya Mita menawarkan.
"Boleh," kata Bayu santai."
Ingat, semua makanan dan minuman di rumah ini, kamu bebas ambil saja," ujar Mita ramah.
Bayu pun berdiri dan melangkah keluar dari kamar mandi menuju kulkas kecil di sudut kamar tidur. Dia membuka pintunya dan mengambil sekaleng kopi dingin untuk menyegarkan pikirannya yang mulai penat karena ujian mental ini.
Lalu dia kembali masuk dan duduk di samping bak mandi Mita. Dia membuka kaleng kopi tersebut dan meneguknya perlahan.
Suasana kembali senyap, hanya menyisakan uap hangat yang kian menebal. Di bawah pengaruh atmosfer kamar mandi yang begitu intim, walau bagaimanapun Bayu adalah pria normal berdarah muda. Mita tahu sesekali Bayu juga melirik ke arah tubuhnya yang hanya terbalut pakaian dalam di balik air yang jernih.
Dan sebagai wanita dewasa yang matang, Mita juga tahu... ada sesuatu yang mulai naik di balik celana kain yang dikenakan Bayu malam itu. Mita menyadarinya dengan sangat jelas dari sudut matanya, namun dia hanya tersenyum misterius tanpa berniat menegur, menikmati bagaimana pelayan pribadinya berjuang mati-matian menahan gejolak instingnya demi sebuah profesionalisme kerja.