Ia mengenal dunia ini sebagai permainan. Kini, setiap kesalahan bisa merenggut nyawanya.
Setelah meninggal saat mengejar quest rahasia, Lin Feng terbangun di dunia Eternal Heaven Online, game kultivasi yang telah ia mainkan bertahun-tahun. Pengetahuannya tentang peta, sekte, dungeon, dan alkimia memberinya bekal untuk bertahan. Namun, dunia ini nyata: tak ada tombol keluar atau kesempatan respawn.
Lebih buruk lagi, peristiwa mulai menyimpang dari ingatannya. Orang-orang yang dulu ia anggap karakter permainan memiliki kehendak sendiri, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Untuk bertahan dan mengungkap misteri dunia barunya, Lin Feng menempuh jalan alkimia—dari meracik pil sederhana hingga mengejar puncak yang disebut Pill Sovereign.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 - RODA YANG MENJERIT
Ibunya sudah bangun sebelum fajar.
Lin Feng mendapati semangkuk nasi hangat, sayur asin, dan telur rebus terbungkus kain di atas meja. Di sampingnya terletak bungkusan pakaiannya dan peta jalan. Ayahnya berdiri di ambang pintu, membawa mantel tipis yang telah ia sikat bersih.
“Jalan masih dingin pagi-pagi,” katanya. “Pakai ini.”
Lin Feng menurut. Rusuknya hanya terasa kaku ketika ia menarik napas terlalu dalam. Ia berjalan dari rumah ke pagar tanpa berhenti, lalu kembali. Ayahnya mengawasinya, tetapi tidak lagi memintanya duduk.
“Kau boleh berangkat,” putusnya. “Kalau sakitnya kembali, bilang kepada pedagang. Jangan diam hanya karena sudah membayar.”
Lin Feng memasukkan tiga keping tembaga ke kantong kecil setelah membayar dua keping untuk perjalanan. Ia membawa bekal dari ibunya, peta, baju ganti, dan roti kering. Semua barang itu terasa lebih berat daripada seharusnya karena ia tahu tak ada gudang untuk mengembalikannya jika salah membawa.
Ibunya merapikan kerah mantelnya. “Makan sebelum lapar. Jangan menunggu sampai badanmu gemetar baru ingat ada bekal.”
Lin Feng terdiam. Ia teringat suara ponsel yang bergetar di samping meja komputer, lalu wajah ibunya yang tak bisa ia lihat lagi. “Aku akan makan.”
“Dan tulis kabar kalau sudah sampai.”
“Aku tidak tahu harus mengirim lewat siapa.”
“Pedagang itu akan pulang lagi. Titipkan pesan kepadanya.”
Ayahnya menyelipkan sepotong kayu pipih ke dalam bungkusan. “Alamat rumah ini cukup. Kalau kau menemukan tempat kerja yang tetap, minta mereka menuliskan nama jalan atau tanda bangunannya.”
Lin Feng menerima kayu itu. “Terima kasih.”
“Jangan berterima kasih dulu. Pulanglah kalau tidak ada pekerjaan.”
“Baik.”
Ia membungkuk sedikit kepada keduanya. Gerak itu membuat ibunya mengerutkan dahi, seolah ingin menariknya ke dalam rumah lagi. Namun kereta dagang menunggu di jalan, dan kali ini Lin Feng tidak ingin berangkat tanpa memberi tahu siapa pun.
Gerobak itu ditarik dua keledai berbulu cokelat. Muatannya tertutup kain terpal dan diikat dengan tali tebal. Pedagang yang ia temui di pasar sedang mengencangkan simpul di bagian belakang. Seorang penumpang lain, lelaki kurus dengan keranjang bambu di pangkuan, duduk di antara karung. Ia tampak lebih sibuk menjaga keranjangnya daripada memperhatikan Lin Feng.
“Datang tepat waktu,” kata pedagang. “Naik dari sisi kiri. Jangan menginjak tali.”
Lin Feng membayar ongkosnya. Pedagang itu menggigit salah satu keping, memeriksanya sekilas, lalu memasukkannya ke kantong pinggang.
“Gerbang timur,” kata Lin Feng. “Dua keping.”
“Sudah kubilang begitu.”
“Dan tempat turun?”
“Di luar gerbang, dekat kios air. Aku tak akan menunggu sampai kau hafal kota.”
Jawaban pedagang itu tidak kasar, hanya batas yang jelas. Lin Feng naik ke papan belakang, duduk di atas karung yang ditutupi kain, lalu mengikat bungkusan kecilnya pada tiang samping. Ia memeriksa simpulnya sendiri dua kali.
Ibunya berdiri di jalan bersama ayahnya. Lin Feng mengangkat tangan. Ibunya membalas, ayahnya hanya mengangguk. Saat gerobak mulai bergerak, ia merasakan tarikan pada rusuk dan refleks memegang sisi tubuhnya.
“Kalau perlu turun, bilang,” ujar pedagang dari depan. “Aku tidak membawa tabib.”
“Rasanya masih bisa kutahan.”
“Menahan sakit bukan tujuan perjalanan.”
Lin Feng menelan jawaban yang hampir keluar. Ia bersandar pada karung dan membiarkan jalan bergerak di bawah roda.
Dusun Sungai Abu perlahan tertinggal. Rumah-rumah kayu berubah menjadi kebun, lalu ladang kecil yang dibatasi batu. Asap dari tungku naik lurus sebelum angin pagi membawanya ke samping. Lin Feng mencoba mencocokkan jalan dengan peta. Garis yang digambar di kertas melewati sebuah jembatan, tetapi pedagang membelokkan gerobak ke jalur berbatu sebelum sungai terlihat.
“Jalannya bukan lewat sana?” tanyanya.
“Jembatannya rusak setelah hujan. Kalau roda jatuh di celah, kau bisa menghabiskan setengah hari mengeluarkan gerobak.”
Di peta, jembatan itu hanya garis pendek. Lin Feng memasukkan kertasnya kembali ke dalam bungkusan. Catatan tentang jalan timur dipakai gerobak sudah ada, tetapi tidak menyebut kerusakan jembatan. Peta itu membantu, namun hanya selama seseorang memperbaruinya.
Jalur memutar membawa mereka melewati dusun lain yang tidak pernah ia lihat di peta game. Beberapa rumahnya berdiri dekat bukit berwarna kemerahan. Di tepi jalan, seorang perempuan mencuci kain di saluran air, sementara seorang anak berlari membawa ayam yang meronta. Pedagang saling menyapa singkat ketika berpapasan.
Lin Feng sempat mengenali bentuk bukit dari ingatan permainan. Di peta, daerah itu hanya ruang kosong di antara dua titik penting. Kini ia tahu ruang kosong itu berisi rumah, ladang, dan orang-orang yang punya urusan sendiri.
Menjelang tengah hari, gerobak berhenti di dekat pohon besar. Pedagang memberi keledai air dan memeriksa roda. Penumpang di sebelah Lin Feng membuka keranjangnya untuk memastikan isi di dalam tidak rusak. Ada beberapa benda tanah liat yang dibungkus jerami.
“Barangmu aman?” tanya Lin Feng.
“Kalau pecah, aku kehilangan uang perjalanan.” Lelaki itu merapikan jerami. “Aku membawa cangkir dan mangkuk ke rumah singgah dekat kota. Mereka membayar sedikit lebih baik daripada kios di dusun.”
“Kenapa tidak langsung menjualnya di kota?”
“Karena aku punya saudara di rumah singgah itu. Mereka butuh barang, aku punya barang. Kalau dijual di kota, aku harus membayar sewa lapak dan menunggu pembeli.” Ia menatap Lin Feng. “Kau mau ke kota untuk apa?”
“Mencari kerja.”
“Pekerjaan apa?”
“Belum tahu. Mungkin di toko bahan obat.”
“Pernah bekerja di toko obat?”
“Belum.”
“Pernah menyortir bahan?”
Lin Feng teringat dua jenis rumput di kebun Wu Shun. “Belum juga.”
Lelaki itu mengangkat alis, lalu kembali menata keranjang. “Setidaknya kau jujur.”
Pedagang memanggil agar semua naik. Jalan setelah pohon itu lebih terjal. Di satu bagian, roda kanan tergelincir di tanah lembek. Keledai-keledai menarik, tetapi gerobak tak bergerak. Pedagang turun dan meminta penumpang menjauh dari roda.
Lin Feng turun perlahan. Ia ingin membantu mendorong, tetapi ketika mendekati sisi gerobak, pedagang menunjuk keranjang kecilnya.
“Kau pegang ini. Jangan mendorong dengan rusukmu.”
“Aku bisa—”
“Kalau kau bisa, kau tidak akan berjalan seperti orang tua sejak pagi.”
Lin Feng memegang tali muatan dan menjaga keranjang tanah liat agar tidak terguncang. Pedagang dan seorang kusir lain mendorong dari belakang. Setelah beberapa kali usaha, roda terbebas. Lumpur memercik ke celana Lin Feng, tetapi rusuknya tidak semakin sakit.
Mereka kehilangan waktu hampir satu jam.
Saat matahari mulai turun, pedagang memutuskan berhenti di rumah singgah kecil di dekat jalan. Ia tidak ingin melewati lereng gelap dengan muatan penuh. Biaya bermalam tidak termasuk ongkos gerobak. Lin Feng memeriksa kantongnya: tiga keping tersisa. Ia membeli semangkuk kuah sayur seharga satu keping dan menyimpan dua untuk keadaan darurat.
Makanan itu tipis, tetapi hangat. Ia menghabiskannya perlahan, lalu mengambil bekalnya untuk besok. Perjalanan belum selesai, dan kota masih berada di balik perbukitan.
Di tempat singgah itu, pedagang mengikat keledai di bawah atap dan memeriksa kaki mereka. Penumpang lain memastikan jerami keranjangnya tetap kering. Lin Feng duduk dekat dinding, peta terbuka di pangkuan. Jalur yang mereka tempuh tidak mengikuti garis lurus di kertas, dan ia belum tahu berapa jauh jarak yang tertinggal.
Ia melipatnya kembali.
Besok ia akan melihat gerbang kota dengan matanya sendiri—jika roda tidak kembali tenggelam dan tubuhnya sanggup menahan perjalanan.